NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pengkhianatan Sang Ayah Kandung

Denting lonceng peringatan di halaman belakang mansion Adhitama masih berdenging konstan, memutus semua keheningan malam dengan ketegangan yang pekat. Di dalam kamar utama, Alana berdiri terpaku dengan tangan yang meremas gaun putih gadingnya.

Mendengar nama Herman Wijaya disebut oleh Jefri melalui interkom, dada Alana terasa seperti dihantam batu besar. Ayah kandungnya sendiri—pria yang selama ini mengabaikannya dan menjadikannya tumbal pernikahan pengganti—kini nekat menyusup ke kediaman Adhitama seperti pencuri.

"Tuan Devano... ayah saya... tidak mungkin dia nekat melakukan ini sendirian," ucap Alana dengan suara yang bergetar menahan luapan emosi. Monolog batinnya berkecamuk, menyadari bahwa ayahnya pasti sudah sangat terdesak oleh kebangkrutan hingga kehilangan akal sehatnya.

Devano Adhitama tidak memberikan respons verbal yang cepat. Pria itu perlahan menggerakkan kursi roda elektriknya menuju meja kerja kecil di sudut kamar, mengambil sebuah pistol laras pendek berwarna hitam legam dari dalam laci yang terkunci. Tatapan mata elangnya menyipit pekat, memancarkan kilat dingin yang siap mengeksekusi siapa saja yang berani mengusik wilayah kekuasaannya.

"Jefri, kunci semua gerbang perimeter luar. Biarkan tikus tua itu mengira dia bisa melarikan diri dengan berkas-berkas itu," perintah Devano dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan otoritas mutlak.

Devano kemudian memutar kursi rodanya kembali menghadap Alana. Tangan besarnya terulur, mencengkeram pergelangan tangan Alana dengan tekanan dominan yang kuat, menarik wanita itu hingga berdiri tepat di sisi kursi rodanya. Sebuah sentuhan kekuasaan (power-play touch) yang menegaskan bahwa Alana harus ikut menyaksikan akhir dari kejahatan keluarganya sendiri.

"Ikut aku, Alana. Mari kita lihat bagaimana ayah kandungmu yang terhormat itu mempertaruhkan sisa nyawanya demi selembar kertas saham," desis Devano dengan seringai tipis yang kejam di sudut bibirnya.

Lorong menuju ruang bawah tanah mansion tampak remang-remang, hanya diterangi oleh pendar lampu darurat berwarna merah yang berkedip. Bau hangus sisa ledakan kecil pada engsel pintu besi pelindung masih tercium menyengat di udara, menciptakan atmosfer melodrama yang sangat mencekam.

Di ujung ruangan, di antara deretan rak arsip baja yang berantakan, Herman Wijaya tampak sedang mengosongkan isi sebuah brankas kecil dengan tangan yang gemetar hebat. Pakaian jasnya tampak kusut, dan wajah tuanya dipenuhi peluh dingin kepanikan. Di dalam dekapannya, terdapat seikat dokumen tebal berkop resmi Wijaya Corps yang berisi data aset rahasia yang telah disita oleh Devano.

"Berhenti di sana, Tuan Wijaya."

Suara bariton Devano yang dingin memotong kesunyian ruangan bawah tanah dengan telak, menggema di antara dinding-dinding beton yang tebal.

Herman Wijaya tersentak hebat hingga beberapa lembar kertas di tangannya terlepas dan jatuh berserakan di atas lantai. Pria tua itu berbalik dengan cepat, matanya membelalak sempurna saat melihat Devano duduk tenang di kursi rodanya dengan moncong pistol yang mengarah tepat ke dadanya, didampingi oleh Alana yang berdiri di sampingnya.

"D-Devano?! Bagaimana kau bisa tahu?!" teriak Herman dengan suara yang parau dan gemetar. Keangkuhannya sebagai seorang kepala keluarga Wijaya runtuh total dalam hitungan detik di hadapan sang tirani.

Herman kemudian beralih menatap Alana dengan pandangan mata yang berkilat penuh kemarahan yang manipulatif. "Alana! Kau anak tidak tahu diri! Kau membantu pria cacat ini untuk memiskinkan ayahmu sendiri?! Kau bersekongkol menghancurkan Wijaya Corps?!"

Alana melangkah satu langkah lebih maju, menatap langsung ke dalam manik mata ayahnya dengan sisa keberaniannya. "Ayah yang menghancurkan keluarga kita sendiri! Ayah membiarkan Siska memeras saya, Ayah menjadikan saya tumbal, dan sekarang Ayah datang ke sini sebagai pencuri! Berhenti menyalahkan orang lain atas keserakahanmu, Ayah!"

"Tutup mulutmu, Anak Sialan!" bentak Herman, siap melangkah maju untuk memukul Alana.

Dor!

Satu tembakan peringatan dilepaskan oleh Devano, pelurunya bersarang tepat satu sentimeter di samping sepatu kulit Herman, menghancurkan ubin marmer hingga pecahannya mengenai kaki pria tua itu. Herman seketika memekik ketakutan, menjatuhkan seluruh sisa dokumen di tangannya dan langsung berlutut di atas lantai dengan kedua tangan terangkat ke udara.

"Satu langkah lagi kau mencoba menyentuh milikku, Herman... peluru berikutnya tidak akan meleset dari kepalamu," desis Devano dengan suara serak yang sangat rendah, namun mengandung tekanan intimidasi yang sanggup menghentikan detak jantung seseorang.

Devano memberikan isyarat kepada Jefri yang langsung maju bersama beberapa pengawal berseragam hitam untuk mengunci pergerakan Herman Wijaya, merebut kembali seluruh dokumen aset yang sempat dicurinya.

"Tuan Besar, tim hukum dan kepolisian komersial sudah menunggu di atas untuk membawa tersangka," lapor Jefri sembari mengamankan berkas-berkas tersebut ke dalam kotak metalik.

Devano mengangguk pelan, menyembunyikan kembali pistolnya di balik jas. Pria itu memutar kursi rodanya, memberikan tatapan penghinaan terakhir pada Herman yang kini menangis histeris saat diseret keluar oleh para pengawal menembus tangga lorong. Busur kehancuran keluarga Wijaya malam ini resmi ditutup dengan kepuasan mutlak bagi para pembaca yang menantikan keadilan.

Setelah ruangan bawah tanah kembali sunyi, Devano menarik pinggang Alana dengan satu gerakan yang sangat posesif, memaksa tubuh wanita itu untuk kembali mengikuti kursi rodanya masuk ke dalam lift privat menuju kamar utama mereka.

Begitu pintu kamar ganda ditutup dan dikunci rapat dari dalam, ketegangan baru yang jauh lebih intim kembali mengunci kesadaran Alana di dalam remangnya ruangan.

Devano perlahan bangkit berdiri dari kursi roda elektriknya, postur tubuh tingginya yang tegap melangkah dengan pasti, memenjarakan Alana langsung pada dinding kaca besar yang menghadap ke arah taman belakang mansion.

Brak!

Devano menghantamkan telapak tangan kanannya di kaca tepat di samping telinga Alana, mencondongkan tubuh kekarnya yang besar hingga Alana bisa merasakan embusan napas hangat pria itu yang beraroma kayu cedar menerpa kulit wajahnya. Jarak mereka begitu rapat, memicu debar jantung Alana yang berpacu liar.

"Sekarang seluruh keluargamu sudah menerima hukumannya, Alana," bisik Devano dengan suara rendah yang sangat seksi di depan bibir mungil Alana yang bergetar hebat. Sepasang mata elangnya berkilat dengan kegilaan obsesi yang sangat pekat ekstrem. "Tidak ada lagi ayah, tidak ada lagi kakak tirimu yang bisa mengganggumu. Kau... sepenuhnya menjadi milikku sekarang."

Alana mendongak, menatap langsung ke dalam netra hitam pekat suaminya, meraba dada bidang Devano dengan jemari tangannya yang dingin untuk mencari topangan. "Terima kasih, Tuan Devano... Anda sudah membersihkan semua duri di hidup saya."

"Aku tidak melakukan ini demi kebaikanmu, Istriku," desis Devano posesif ekstrem. Jemari tangannya yang besar bergerak naik, mencengkeram rahang Alana dengan kekuatan yang pas, memaksa wajah cantik wanita itu mendongak mutlak menatapnya tanpa jarak.

"Aku melakukan ini untuk memastikan bahwa di dunia ini, kau tidak memiliki tempat bersandar selain di dalam pelukanku. Utang kepatuhanmu padaku sudah mencapai puncaknya, Alana. Dan malam ini... aku menuntut kepatuhan totalmu di atas ranjang ini, tanpa ada kata menolak."

Alana hanya bisa mengangguk pasrah, menarik napas pendek berulang kali seiring dengan tubuh kekar Devano yang semakin mengunci ruang geraknya di bawah keheningan malam metropolitan yang dingin sebelum layar perlahan menggelap fade to black.

Namun, di saat Alana mengira hidupnya akan tenang setelah kehancuran keluarganya, sebuah pesan teks misterius tiba-tiba masuk ke dalam ponsel pribadi Devano yang tergeletak di atas nakas, menampilkan sebuah nama pengirim yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu.

“Halo, Devano. Pengantin penggantimu sangat cantik. Apakah kau siap menyerahkannya kembali kepadaku? — Mantan Kekasih Alana.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!