Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janda???
Sebuah hubungan yang dikhianati oleh sebelah pihak tentu menjadi luka yang sulit untuk disembuhkan. "Entahlah, kamu kan tau sendiri gimana wataknya. Apalagi aku telah menghancurkan kepercayaannya."
"Tidak salahnya mencoba demi Rara." Sahut Adam.
"Dia bukan wanita yang akan mengorbankan perasaannya untuk anak. Dan Rara juga terlihat bahagia walaupun kami berpisah. Rara anak yang kuat, walaupun tidak banyak bicara."
Pembicaraan terputus saat Yuni datang menghampiri mereka. Dengan santainya Yuni duduk menyilangkan kaki sehingga belahan pakaiaanya memperlihatkan paha indanya.
Kedua pria tersebut menelan salivanya saat melihat pemandangan indah di depan mereka. Dengan pakaian tersebut Yuni benar-benar menampakkan keseksiannya.
Sementara di atas pasir kedua bocah duduk menghadap laut. "Gimana sekolah Kakak?" Tanya Rara memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Seperti biasa, setelah kejadian tante Yuni yang ngaku-ngaku intel, tidak ada lagi senior yang berani membulli para junior. Bi Inah titip salam, Bibi kangen sama kamu."
Rara tersenyum kecil mengingat sosok yang sangat baik menurutnya. "Aku juga rindu pada Bibi." Jawab Rara.
"Kalo libur, kamu main ke rumah aku. Apa Tante Yuni melarang kamu ke sana?"
"Mama gak larang, cuma aku lagi malas keluar rumah. Nanti deh, kalo aku gak ada kegiatan akan main ke rumah Kakak."
"Apa Mama dan Papa kamu akan balikan lagi?" Terlihat raut cemas dari Dika.
"Entah, itu urusan mereka."
"Apa kamu pernah berharap untuk mereka kembali?"
"Kakak udah kayak polisi yang lagi mengintrogasi tersangka. Aku gak tau bilang Kak, karena aku gak kepikiran untuk itu."
"Bantu aku dong Ra, dekatin Mama kamu sama Ayah aku."
"Kak, aku gak tau caranya gimana. Kakak aja yang super cerdas gak mempan. Abah apalagi udah angkat tangan duluan. Jalan satu-satunya hanya Ayah Kakak."
"Maksudnya? Ayah aku sendiri yang harus dekatin tante Yuni? Kalo itu juga gak ada cara Raaaa... kamu kan tau Ayah aku juga gak mau dekatin tante Yuni." Lagi-lagi Dika terlihat frustasi.
"Jujur aja ya Ra, selama kalian tinggal di rumah. Aku senang banget. Aku merasa seperti punya keluarga lengkap, seorang ibu dan juga seorang adik. Kamu tau Ra? Aku bahkan rela menunggu Tante Yuni teriak-teriak saat membangunkan aku. Padahal saat itu aku udah bangun. Walaupun selama ini ada Bibi, tapi apa yang tante Yuni berikan rasanya berbeda. Ra, mau ya jadi adik aku? Bantu aku menyatukan orang tua kita."
Rara terdiam menatap deburan ombak di laut. Permintaan Dika itu sangat sulit. Bagaimana mungkin menyatukan kedua orang jika mereka sendiri tidak ingin bersatu.
"Bibi bilang cinta akan tumbuh jika sering bersama, sekarang yang jadi masalahnya gimana kita buat mereka lebih sering bersama?" Dika kembali menyampaikan gagasan yang didapat dari Bi Inah.
"Kenapa Kakak gak minta langsung aja sama Mama?"
Pletakkkk...
"Awww, kenapa Kakak jitak aku? Belum juga reami jadi adim dah main jitak-jitak aja."
"Itu biar otak kamu encer, kamu lupa udaj berapa kali aku minta sama mama kamu?"
Rara tertawa sendiri mengingat perkataan Dika.
Tingkah keduanya tidak luput dari pantauan para orang tua. "Mereka terlihat seperti adik kakak. Apa mereka seakrab itu?" Tanya Dimas.
Adam dan Yuni mengangguk serentak membuat Dimas terkekeh dengan kelakuan kedunya. Diam-diam Adam memperhatikan Yuni dibalik kaca mata hitamnya. Ada rasa yang lain muncul saat melihat Yuni, rasa ingin menyentuh dan memiliki seutuhnya. Adam tau ada rasa yang berbeda yang dirasakan hatinya saat ini. Dia tidak mau gegabah mengingat sosok wanita di depannya sangat keras kepala dan susah ditaklukkan.
"Aku mau nyamperin Rara dulu ya." Dimas pergi meninggalkan Yuni dan Adam.
"Jangan melewati batasmu Dam, jangan karena aku seorang janda, kamu bisa kurang ajar begitu." Yuni berucap datar dengan pandangan ke arah laut.
"Apa aku terlihat seperti laki-laki brengsek di matamu? Jika iya, mungkin sekarang aku sudah melakuakan lebih dari kemarin. Ditambah dengan pakaianmu itu, kamu sungguh terlihat menggoda untuk setiap lelaki. Kau mengatakan aku kurang ajar, tapi kau menggodaku dengan pakaianmu. Bahkan mantan suamimu sendiri bernafsu menidurimu." Adam membalas Yuni dengan jawaban yang tidak kalah tajam.
Adam melepas kaca mata dan jaketnya. "Pakailah!" Adam meletakkan jaketnya di sisi Yuni.
Adam menatap Yuni dengan tatapan membunuh, sangat tajam sampai seorang Yuni yang tidak pernah melihat Adam seperti itu merasa ketakutan. "Ini terakhir kalinya aku melihatmu memakai pakaian seperti itu. Jangan sampai karena ulahmu semakin memperkuat anggapan orang tentang janda seorang penggoda."
Yuni merasa hancur, harga dirinya benar-benar tercabik oleh perkataan Adam. Selama mereka berteman, Adam tidak pernah marah sampai mengeluarkan kata-kata tajam seperti itu. Adam pribadi yang supel serta hangat dalam berteman dengan siapa saja.
Adam masih menatap Yuni yang enggan menatapnya. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. "Mama kenapa pakai jaket Om Adam?" Tanya Rara yang baru datang dengan Dika juga Dimas.
"Ouh, Mama seperti masuk angin nih." Bohong Yuni. Sementara Dimas tersenyum melihat tingkah Yuni yang membohongi anaknya. "Aku kan udah bilang, pakaian Mama gak sesuai umur." Sahut Rara kembali.
Yuni tidak lagi membalas perkataan anaknya. "Tapi menurut aku, Tante cantik, cuma salah momen." Sahut Dika.
"Maksudnya?" Rara jadi ikut penasaran dengan ucapan Dika.
"Baju seperti itu biasanya untuk orang yang liburan setelah menikah." Jawab Dika santai.
Uhuuk...uhuuk....
"Dika, jangan membuka situs yang bukan-bukan!" Adam tersedak dengan jawaban putranya.
"Yah, kalo cuma itu Dika juga tau, Rara juga tau cuma dia gak bilang."
Kedua bapak-bapak tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Hari semakin siang, terik matahari membuat mereka memilih untuk pulang.
"Kami langsung pulang ya." Ucap Adam pada Dimas, sementara Yuni tidak berkata apa-apa.
Dimas dapat merasakan ada yang tidak beres diantara mantan istri dan temannya tersebut. "Aku juga langsung pulang ya." Pinta Dimas.
"Hati-hati Pa." Jawab Rara.
Yuni langsung masuk ke kamarnya setelah mereka pulang. Hati dan pikirannya benar-benar kacau saat ini.
"Ayah kenapa sama tante Yuni?" Tanya Dika saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Tidak apa-apa."
"Aku udah besar Yah, tingkah Ayah dan tante Yuni sudah cukup menjelaskan kalo ada yang tidak beres antara Ayah dan tante Yuni."
"Entahlah, Ayah hanya kurang suka dengan pakaiannya."
Dika tersenyum kecil, "Akhirnya ada peluang juga." Batin Dika. "Apa Ayah sudah mulai jatuh cinta? kalo iya, aku sarankan supaya Ayah buru-buru sebelum Om Dimas mendapatkan tante Yuni duluan. Dan Ayah akan menyesalinya seumur hidup."
***
Like...
Komen...
Vote...
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊