NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
​Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
​Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Kolam Sumsum Naga

​Jauh di bawah tanah Akademi Bintang Surgawi, tersembunyi dari hiruk-pikuk intrik faksi dan arogansi bangsawan, terdapat sebuah gua alami yang dilindungi oleh formasi tingkat Surga kelas atas. Udara di lorong menuju gua itu sangat panas hingga mendistorsi pandangan, memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah batu.

​Seorang diakon senior berpakaian anti-api khusus memandu Lin Tian menyusuri lorong tersebut. Keringat membasahi dahi sang diakon, padahal kultivasinya berada di Tahap Inti Emas awal. Di sebelahnya, Lin Tian berjalan dengan postur tegak dan napas yang teratur, jubah abu-abunya tidak menunjukkan tanda-tanda terbakar meski tidak dilindungi perisai Qi yang tebal.

​"Ini adalah batas yang bisa kucapai," ucap diakon itu dengan suara serak, menunjuk ke arah sepasang pintu perunggu raksasa yang memancarkan hawa panas ekstrem. "Di balik pintu ini adalah Kolam Sumsum Naga. Energi Yang murni di dalamnya sangat buas. Akademi telah memasang jimat darurat di dalam sana. Jika kau merasa meridianmu mulai meleleh, hancurkan jimat itu. Formasi akan menarikmu keluar."

​Sang diakon menatap Lin Tian dengan pandangan campuran antara kagum dan kasihan. "Jangan biarkan egomu membunuhmu, Nak. Tujuh hari adalah omong kosong yang bunuh diri. Jika kau bisa bertahan setengah hari saja di Tingkat 8, kau sudah memecahkan rekor."

​Lin Tian tidak menjawab atau berdebat. Ia hanya mengangguk singkat, sebuah gestur yang murni didasarkan pada efisiensi waktu, lalu mendorong pintu perunggu seberat puluhan ton itu dengan kedua tangannya. Pintu berderit terbuka, dan gelombang panas keemasan langsung menelan sosok Lin Tian.

​Pintu tertutup kembali dengan dentuman keras yang menggema di lorong.

​Di dalam ruangan tersebut, tidak ada dekorasi mewah. Hanya ada sebuah kolam melingkar berdiameter sepuluh meter, berisi cairan kental berwarna emas yang terus-menerus mendidih. Gelembung-gelembung meletup di permukaannya, melepaskan uap yang bentuknya menyerupai naga-naga kecil yang meliuk di udara.

​Inilah Kolam Sumsum Naga. Cairan ini bukanlah air, melainkan esensi spiritual elemen Yang murni yang diekstraksi dari Urat Bumi Kekaisaran dan dipadatkan selama ratusan tahun.

​"Secara logika kultivasi ortodoks, energi sedemikian buas memang akan menghancurkan wadah fana," analisa Lin Tian, berjalan mendekati tepi kolam. Ia melepaskan jubahnya, memperlihatkan otot-ototnya yang proporsional dan memancarkan kilau logam samar. "Tapi mereka lupa bahwa wadahku bukanlah kendi tanah liat, melainkan tungku peleburan alam semesta."

​Tanpa sedikit pun keraguan atau gerakan perlahan untuk menyesuaikan suhu, Lin Tian melompat langsung ke tengah kolam tersebut.

​TSSS!

​Cairan emas yang mendidih itu langsung bereaksi, merangsek masuk ke dalam pori-pori Lin Tian layaknya jutaan jarum api yang mencoba membakar organ dalamnya menjadi abu. Rasa sakitnya berada pada tingkat yang bisa membuat ahli kultivasi biasa menjadi gila. Kulit Lin Tian seketika memerah layaknya besi yang dibakar di dalam tungku pandai besi.

​Namun, mata Lin Tian tetap terbuka lebar, memancarkan ketenangan yang membekukan. Rasionalitasnya memisahkan kesadarannya dari rasa sakit fisik.

​"Tubuh Pedang Kekacauan, buka secara maksimal. Telan semuanya," perintah Lin Tian pada Dantiannya.

​Seketika, pusaran abu-abu raksasa terbentuk di dalam Dantiannya. Embrio Pedang Kekacauan yang melayang di tengah danau Qi beresonansi hebat, mengeluarkan gaya isap yang melampaui hukum fisika.

​Gejolak di dalam kolam berubah drastis. Energi Yang murni yang semula bertindak sebagai agresor penyerang kini ditarik paksa, diseret masuk ke dalam meridian Lin Tian. Benturan antara energi Yang keemasan dan Qi Primordial abu-abu menghasilkan suara gemuruh dari dalam tubuhnya layaknya guntur yang terkurung.

​Namun, hierarki Kekacauan tidak bisa digugat. Semua elemen harus tunduk pada akar penciptaan.

​Cairan emas itu diurai, didefragmentasi, dan dimurnikan oleh hukum Kekacauan. Energi buas itu kehilangan sifat merusaknya dan berubah menjadi bahan bakar murni yang tak berujung. Danau Qi di Dantian Lin Tian meluap, sementara Embrio Pedangnya terus menyerap dan memadat dengan kecepatan yang mengerikan.

​BUM!

Hanya dalam enam jam pertama, batas kultivasinya pecah.

Tahap Pendirian Yayasan Tingkat 9!

​Namun, Lin Tian tidak berhenti. Matanya terpejam. Ia memasuki kondisi meditasi terdalam. Tujuh hari ini bukan sekadar untuk menembus batas kecil; ini adalah waktunya untuk merangkai fondasi mutlak: Inti Emas.

​Sementara Lin Tian tenggelam dalam lautan energi, di dunia luar, badai politik di Akademi Bintang Surgawi terus berkecamuk.

​Di sebuah paviliun mewah milik faksi bangsawan dalam akademi, utusan Klan Huangpu dan Xue sedang duduk bersama dengan wajah gelap. Di seberang mereka, duduk seorang pemuda berjubah emas yang memancarkan aura luar biasa menindas. Di dadanya tersemat lencana Murid Inti Akademi.

​Ia adalah Huangpu Tian, kakak kandung mendiang Pangeran Ketiga, seorang jenius sejati yang berada di Tahap Inti Emas Tingkat 2.

​"Kepala Akademi secara pribadi melindunginya. Kita tidak bisa menyentuhnya di luar sana," ucap utusan Klan Xue dengan gigi terkatup.

​Huangpu Tian memutar cangkir tehnya hingga retak menjadi debu. Matanya memancarkan niat membunuh yang bisa membekukan ruangan. "Adikku dibantai seperti anjing. Jika klan kita tidak memenggal kepala bocah kampung itu dan menggantungnya di gerbang kota, pamor Klan Huangpu akan hancur di mata Kaisar."

​"Apa rencanamu, Tuan Muda Tian? Kepala Akademi mengatakan kita hanya boleh menggunakan Arena Hidup-Mati," utusan Klan Huangpu mengingatkan.

​"Aturan akademi sangat jelas. Seorang murid tidak bisa menolak tantangan Hidup-Mati jika tantangan itu diajukan dengan taruhan poin kontribusi yang setara atau lebih tinggi dari milik pihak yang ditantang," jawab Huangpu Tian secara rasional dan dingin. "Bocah itu memonopoli empat belas ribu poin. Klan Huangpu dan Xue akan menyatukan seluruh aset kontribusi fraksi kita di akademi untuk menyamai jumlah itu. Begitu dia keluar dari Kolam Sumsum Naga, surat darah itu akan menunggunya."

​"Tapi... Tetua Jin memprediksi dia tidak akan selamat dari kolam itu. Tujuh hari adalah hukuman mati," ragu utusan Xue.

​"Jika dia mati di dalam sana, itu adalah keberuntungannya," Huangpu Tian berdiri, jubah emasnya berkibar memancarkan Qi Inti Emas yang solid. "Tapi jika iblis kecil itu keluar hidup-hidup, aku sendiri yang akan mencabik-cabik tubuhnya di arena. Darah harus dibayar dengan darah."

​Waktu di dunia luar terasa berjalan lambat bagi mereka yang menunggu dalam dendam, namun di dalam Kolam Sumsum Naga, waktu kehilangan maknanya.

​Tujuh hari berlalu.

​Pintu perunggu raksasa di ruang bawah tanah itu tidak bergetar. Tidak ada jimat darurat yang pecah. Diakon penjaga yang berjaga di luar lorong terus menerus melihat ke arah pintu dengan keringat dingin. Secara logis, pemuda itu sudah mati meleleh tanpa sisa di dalam sana.

​Klang...

​Suara pelan dari mekanisme pintu berbunyi. Pintu perunggu raksasa itu perlahan terdorong terbuka dari dalam.

​Napas sang diakon tercekat. Ia bersiap menghadapi gelombang panas keemasan yang biasanya menyembur keluar, namun anehnya, udara dari dalam ruangan itu terasa sedingin es. Tidak ada uap panas, tidak ada cahaya keemasan.

​Sebuah sosok melangkah keluar dari kegelapan ruangan.

​Itu adalah Lin Tian. Ia telah mengenakan jubah abu-abu barunya. Kulitnya kini memancarkan rona yang sangat sehat, bagaikan batu giok murni yang tidak memiliki setitik pun kotoran fana. Matanya, yang dulunya tajam, kini memancarkan kedalaman layaknya langit malam tanpa bintang—tenang, hampa, namun bisa menelan segalanya.

​Sang diakon melongok ke balik tubuh Lin Tian, melihat ke arah kolam di dalam ruangan. Kakinya seketika lemas hingga ia jatuh terduduk.

​Kolam Sumsum Naga yang telah bergejolak selama ratusan tahun itu kini tampak seperti danau mati. Cairannya tidak lagi berwarna emas mendidih, melainkan bening layaknya air sumur biasa. Semua energi Yang absolut dari kolam kekaisaran itu... telah dikeringkan hingga tetes terakhir.

​"K-Kau... apa yang kau lakukan pada kolam itu..." gumam sang diakon, akal sehatnya hancur.

​Lin Tian tidak melirik ke arah kolam. Di dalam Dantiannya, sebuah revolusi mutlak telah terjadi. Danau Qi yang ia kumpulkan tidak lagi berbentuk cairan. Cairan itu telah dikompresi tanpa ampun oleh energi kolam dan hukum Kekacauan, menyatu sepenuhnya dengan Embrio Pedangnya.

​Kini, di pusat Dantiannya, melayang sebuah bola energi padat seukuran kepalan bayi. Bola itu tidak berwarna emas seperti milik kultivator ortodoks, melainkan berwarna abu-abu gelap dengan permukaan halus yang menyerupai baja tempa. Permukaannya memancarkan kilatan pedang mikroskopis secara terus menerus.

​Bukan Inti Emas. Itu adalah Inti Pedang Kekacauan.

​Lin Tian secara teknis telah menembus alam Inti Emas Tingkat 1, namun kualitas kepadatan energinya membuat kategori alam fana menjadi tidak relevan lagi untuk mengukurnya.

​"Sumber daya yang lumayan," ucap Lin Tian datar, melangkah melewati diakon yang membeku itu menuju tangga keluar.

​Begitu ia tiba di permukaan tanah, di pelataran asrama Murid Inti, sekelompok murid dari Fraksi Darah Emas telah menunggunya dengan formasi setengah lingkaran. Di depan mereka berdiri seorang pemuda memegang sebuah amplop merah darah yang memancarkan niat membunuh tajam.

​Pemuda itu melemparkan amplop tersebut ke arah Lin Tian layaknya senjata rahasia. Lin Tian hanya mengangkat dua jarinya, menangkap amplop mematikan itu dengan santai, menghentikan momentum Qi-nya hingga nol.

​"Surat Tantangan Hidup-Mati!" seru utusan fraksi tersebut, suaranya menggema ke seluruh pelataran untuk menarik perhatian murid-murid lain. "Tuan Muda Huangpu Tian di Tahap Inti Emas Tingkat 2 menantangmu di Arena Utama akademi siang ini! Taruhannya adalah nyawa dan 14.500 poin kontribusimu! Aturan akademi mengatakan, tantangan dengan taruhan poin seratus persen tidak bisa ditolak!"

​Para murid yang berkerumun menahan napas. Baru saja keluar dari masa pengasingan, Lin Tian langsung dipaksa masuk ke tiang gantungan oleh fraksi bangsawan terkuat. Inti Emas Tingkat 2 adalah eksistensi yang berada di puncak rantai makanan murid akademi. Memaksa pemuda yang baru masuk akademi untuk melawannya adalah eksekusi publik berkedok duel yang disahkan aturan.

​Lin Tian membuka amplop darah itu dengan tenang. Matanya dengan cepat memindai tulisan di dalamnya, memverifikasi klausul taruhan poin tersebut.

​Logika pertempurannya kembali aktif. Ia baru saja menembus alam yang baru dan membutuhkan batu asahan untuk menguji kepadatan Inti Pedang Kekacauannya. Selain itu, belasan ribu poin tambahan yang ditaruhkan oleh pihak lawan adalah sumber daya gratis yang bodoh jika ditolak.

​Lin Tian melipat surat itu dan menyimpannya di balik jubahnya. Tatapannya beralih ke utusan fraksi tersebut, sedingin dewa kematian yang baru saja disuguhi daftar panen.

​"Katakan pada tuanmu untuk tidak terlambat," ucap Lin Tian datar, suaranya mengandung rasionalitas mutlak yang membuat lutut sang utusan tanpa sadar bergetar. "Aku benci membuang waktuku hanya untuk membersihkan sampah."

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayooooo naikkan kekuatan bantaaaaaaaiiiiii 👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe akhir nya bisa lebih kuat ada kesempatan 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayoooo terus kuat
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
cerita diawal dan alur ceritanya bagus👍👍
yos helmi
💪💪💪👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍😍😍😍💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪🙏
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣3🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪
yos helmi
💪💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!