Calypsa, seorang freelance video editor biasa di siang hari dan editor video deep web khusus geng mafia untuk menghikangkan bukti di malam hari. Ia ketahuan oleh clientnya, Cyrus ketua geng terbesar di Aethelgard. Namun, Cyrus bukan melenyapkannya, terapi merekrutnua untuk sebuah misi. Misi untuk membalas dendam kematian kakak laki-lakinya sekaligus misi cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain
Cyrus meminta Calypsa datang pukul enam sore keesokan harinya, dua jam lebih awal dari jadwal biasanya.
Ia tidak memberikan penjelasan lebih dari itu melalui Voss yang menyampaikan pesannya. Calypsa datang tepat waktu dengan membawa laptopnya sendiri sebagai cadangan dan pertanyaan-pertanyaan yang sudah ia susun rapi dalam kepalanya malam sebelumnya.
Tapi, ketika ia tiba di lantai dua gudang Wraithgate, ruang kendali utama lebih sepi dari biasanya dan Voss mengarahkannya bukan ke ruangan kerja Cyrus melainkan ke bagian belakang lantai dua yang belum pernah Calypsa masuki, sebuah koridor pendek yang berakhir di sebuah pintu kayu yang lebih besar dari pintu-pintu lain di gedung ini.
"Dia di dalam." ujar Voss singkat, lalu berbalik pergi tanpa penjelasan tambahan.
Calypsa mengetuk pintu.
"Masuk."
Ruangan di balik pintu itu adalah sesuatu yang tidak Calypsa perkirakan sama sekali. Bukan ruang kerja, bukan ruang rapat. Lebih menyerupai ruang tengah sebuah hunian, dengan sofa yang sudah agak usang di satu sisi, meja makan kayu kecil yang mampu menampung empat orang, dapur mini di pojok, dan satu jendela besar yang menghadap ke arah barat sehingga cahaya matahari sore masuk dari sana dengan sudut yang hangat dan keemasan.
Di atas meja makan itu terdapat dua piring dengan makanan yang masih mengepul.
Cyrus berdiri di samping dapur mini dengan lengan baju yang digulung ke atas, menutup sebuah kotak makanan kosong. Ia menoleh ketika Calypsa masuk, dan untuk pertama kalinya Calypsa melihat pria ini dalam cahaya yang berbeda dari lampu-lampu ruang kendali yang selalu kebiruan. Cahaya sore dari jendela besar itu jatuh tepat pada setengah wajahnya, membuat garis rahangnya terlihat lebih hangat dari biasanya.
Lebih manusiawi.
"Duduk." ujarnya, mengangguk ke arah meja.
Calypsa tidak bergerak selama satu detik. "Ini bukan pertemuan kerja?"
"Ini juga pertemuan kerja." jawab Cyrus, berjalan ke meja dan duduk di salah satu kursi. "Tapi orang perlu makan. Duduk."
Calypsa menimbang situasi ini selama dua detik lagi, kemudian memutuskan bahwa menolak makan malam yang sudah terhidang adalah hal yang terlalu kaku bahkan untuk standarnya, dan duduk di kursi di seberang Cyrus.
Makanannya sederhana. Nasi, semur daging, dan sayuran yang dimasak dengan cara yang tidak berlebihan. Calypsa tidak bertanya siapa yang memasak atau dari mana. Tapi aromanya membuat perutnya mengingatkan dengan cukup keras bahwa ia hanya makan biskuit dan kopi sejak pagi.
Mereka makan dalam diam selama beberapa menit pertama.
"Anda sudah memutuskan." ujar Calypsa akhirnya, meletakkan sendoknya sejenak. "Tentang W?"
"Aku sudah memutuskan." konfirmasi Cyrus, tanpa berhenti makan. "Tapi aku ingin tahu pendapatmu dulu."
Percakapan yang mengikutinya berjalan sepenuhnya profesional untuk waktu yang cukup panjang. Strategi, jalur komunikasi, cara mengontrol informasi yang sampai ke W. Calypsa berbicara dengan kepala yang dingin dan Cyrus mendengarkan dengan cara yang selalu membuat Calypsa merasa setiap kata yang ia ucapkan dianggap serius.
Tapi di sela-sela itu, ada hal-hal kecil yang tidak masuk dalam kategori profesional.
Cyrus bertanya apakah makanannya cukup atau perlu tambah. Calypsa menjawab cukup dan secara tidak sadar menambahkan bahwa semurnya lebih baik dari yang ia perkirakan. Cyrus mengatakan resepnya dari almarhum ibunya yang selalu bilang bahwa memasak dengan api kecil dan sabar adalah satu-satunya cara yang benar.
Calypsa tidak menduga informasi itu akan keluar dari mulut pria ini semudah itu.
"Ibu saya juga bilang hal yang sama tentang memasak." ujarnya dengan nada yang biasa. "Saya tidak pernah punya kesabaran untuk menerapkannya."
"Apo pernah cerita tentang kamu."
Calypsa meletakkan sendoknya.
"Tidak banyak." Cyrus melanjutkan. "Tapi dia pernah menyebut bahwa adiknya sangat keras kepala dan sangat pintar . Dua hal itu dalam satu orang yang sama bisa menjadi sesuatu yang sangat mengesankan atau sangat menyebalkan tergantung situasinya."
Calypsa tidak bergerak selama satu detik penuh.
Kemudian sesuatu yang sudah sangat lama tidak terjadi terjadi. Sudut bibirnya naik.
"Itu terdengar sangat seperti Apo." ujarnya.
Cyrus menatapnya dengan ekspresi yang tidak ia sembunyikan kali ini, dan Calypsa memilih untuk tidak segera mengalihkan pandangannya seperti yang biasanya ia lakukan.
Piring-piring sudah kosong ketika Cyrus berdiri dan membawa semuanya ke dapur mini. Calypsa membantu tanpa diminta, mengambil gelas-gelas dan membawanya ke sisi wastafel kecil. Mereka bergerak dalam ruang sempit itu dengan cara yang tidak canggung meski jarak di antara mereka sangat minim, lengan Calypsa nyaris menyentuh lengan Cyrus ketika ia meletakkan gelas di sisi wastafel.
Nyaris.
Cyrus menyeduhkan kopi tanpa bertanya, dua cangkir, dan meletakkan keduanya di meja kecil di depan sofa. Ia mengangguk ke arah sofa itu.
"Masih ada yang perlu kita bicarakan." ujarnya.
Calypsa duduk di sofa. Cyrus duduk di sisi yang sama, tapi dengan jarak yang masih terjaga, cukup jauh untuk profesional tapi cukup dekat untuk membuat Calypsa sangat sadar akan jarak yang tepat itu.
Mereka membicarakan detail teknis selama beberapa menit lagi. Tapi percakapan itu mulai melambat, melambat, sampai akhirnya ada keheningan yang tidak diisi dengan apapun.
Calypsa menatap kopinya.
"Tadi malam." ujar Cyrus tiba-tiba, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. "Ketika kamu masuk ke ruangan saya dan menyampaikan laporan pertama tentang kemungkinan ada pengkhianat di dalam. Kamu tidak terlihat takut sama sekali."
"Saya memang tidak takut."
"Kebanyakan orang takut menyampaikan informasi seperti itu kepada orang yang tidak mereka kenal dengan baik."
"Saya bukan kebanyakan orang." ujar Calypsa, mengulang kalimat yang sudah ia gunakan sebelumnya kepada Voss.
Sudut bibir Cyrus bergerak naik sedikit. "Tidak." ujarnya pelan. "Kamu bukan."
Calypsa menoleh ke arahnya dan mendapati pria itu sudah menatapnya, dari jarak yang terasa lebih dekat dari sebelumnya meski tidak ada yang bergerak. Cahaya lampu ruangan yang kekuningan jatuh di sisi wajahnya, dan Calypsa menyadari untuk pertama kalinya bahwa di balik ketenangan yang selalu terkontrol itu, ada kelelahan yang sudah sangat lama disimpan, jenis kelelahan yang bukan dari kerja fisik tapi dari bertanggung jawab atas terlalu banyak hal sendirian dalam waktu yang terlalu panjang.
"Anda tidak tidur dengan benar." ujar Calypsa tanpa berpikir panjang.
Cyrus menatapnya sebentar. "Dari mana kamu tahu."
"Garis di bawah mata." Calypsa mengangguk pelan ke arah wajahnya. "Sudah ada sejak hari pertama saya di sini. Tapi makin dalam setelah laporan tentang pengkhianat."
Cyrus tidak menjawab. Tapi ia tidak memalingkan wajahnya juga.
"Ini terlalu besar untuk ditanggung sendiri." ujar Calypsa, dan ia tidak tahu persis mengapa kalimat itu keluar, karena bukan itu yang ia rencanakan untuk dikatakan. Tapi kalimat itu sudah keluar dan tidak bisa ditarik kembali.
"Aku tahu." ujar Cyrus, dengan nada yang terdengar seperti pengakuan yang jarang ia buat.
Keheningan mengisi ruangan itu selama beberapa detik. Di luar jendela, Aethelgard sudah gelap sepenuhnya, hanya ada sinar lampu jalan yang redup dan suara angin yang mengetuk kaca dengan ritme yang tidak teratur.
Kemudian, dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat disadari oleh keduanya. Cyrus mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas tangan Calypsa yang bertumpu di atas lutut.
Bukan gerakan yang tifak memiliki makna, tapi sebuah titik kontak yang sederhana antara dua orang yang sudah terlalu lama terbiasa tidak menyentuh apapun yang tidak terkait pekerjaan.
Calypsa tidak menarik tangannya.
Telapak tangan Cyrus hangat dan berat di atas punggung tangannya, dan Calypsa merasakan sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan, bukan deg-degan yang muda dan tidak terlatih, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu, semacam pengakuan yang tubuh berikan sebelum kepala sempat menyusul.
"Ini..." Calypsa memulai, tapi tidak melanjutkan kalimatnya.
"Aku tahu." ujar Cyrus pelan, dan kalimat itu mengandung pengakuan atas sesuatu yang belum satu pun dari mereka definisikan dengan kata-kata.
Calypsa menoleh ke arah Cyrus. Pria itu sudah menatapnya, dan di jarak sedekat ini, dengan cahaya lampu yang kekuningan dan keheningan malam yang menyelimuti ruangan kecil ini, tidak ada lapisan apapun yang tersisa di antara mereka.
Cyrus menggerakkan tangannya sangat perlahan, jari-jarinya menyusuri pergelangan tangan Calypsa ke atas lengannya, gerakan yang lebih merupakan pertanyaan daripada pernyataan. Calypsa menjawabnya bukan dengan kata-kata tapi dengan cara ia tidak mundur, tidak memalingkan wajah, dan membiarkan jarak di antara mereka berkurang dengan kecepatan yang mereka pilih bersama.
Ketika Cyrus akhirnya menyentuh wajahnya, ibu jarinya menelusuri tulang pipi Calypsa dengan cara yang sangat hati-hati, seperti seseorang yang menyentuh sesuatu yang tidak ingin ia rusak, Calypsa merasakan napasnya berubah ritme tanpa ia izinkan.
"Kamu boleh bilang tidak." ujar Cyrus, suaranya sangat pelan.
"Saya tidak bilang tidak." jawab Calypsa, sama pelannya.
Ciuman pertama mereka tidak dramatis. Tidak seperti di cerita-cerita yang Calypsa pernah baca, tidak ada yang menghantam dinding atau menjatuhkan sesuatu. Hanya dua orang dewasa yang sudah terlalu lama memendam sesuatu yang tidak sempat mereka beri nama, akhirnya memberi jalan.
Cyrus mencium Calypsa dengan cara yang mencerminkan siapa dirinya sebenarnya, perlahan, terkontrol, tapi dengan intensitas yang ada di baliknya yang membuat Calypsa menyadari bahwa ketenangan pria ini bukan karena ia tidak merasakan apa-apa, justru sebaliknya.
Calypsa meletakkan tangannya di dada Cyrus, merasakan detak jantung yang tidak setenang ekspresi wajahnya, dan merasa sedikit puas dengan ketidaksesuaian itu.
Ketika mereka akhirnya terpisah, tidak ada yang berkata apapun selama beberapa saat.
Cyrus menatap Calypsa dengan mata yang tidak lagi menyembunyikan apapun di baliknya, dan Calypsa memutuskan bahwa ini adalah ekspresi yang paling ia sukai dari semua ekspresi yang pernah ia lihat di wajah pria ini.
"Ini memperumit segalanya." ujar Calypsa akhirnya.
"Ya." setuju Cyrus, tanpa terlihat keberatan sama sekali dengan kenyataan itu.
"Kamu tidak khawatir?"
"Aku sudah khawatir tentang terlalu banyak hal selama ini." ujar Cyrus, ibu jarinya masih menelusuri garis rahang Calypsa dengan sangat pelan. "Ini bukan sesuatu yang aku ingin masukkan ke dalam daftar itu."
Calypsa menatapnya. Kemudian, dengan keputusan yang ia ambil sangat sadar dan tidak menyesalinya bahkan sedetik pun, ia membiarkan dirinya condong kembali ke arah Cyrus.
Dan kali ini tidak ada yang buru-buru berakhir.