Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Aku menatap langit siang yang cerah dari pinggir pantai, sinar matahari itu langsung menerangi wajah dan juga tubuhku yang sudah kelelahan karena pengasingan yang rasanya begitu menyakitkan dan bikin canggung. Beruntung akhirnya ada Luna yang mengajakku berbicara, setidaknya aku bisa meluapkan semua unek – unek di dalam hati yang kemungkinan bisa membuat aku merasa lebih baik.
“Meski kamu menyedihkan, tapi disisi lain kamu cukup berbakat karena bisa menunjukkan wajah frustrasi di bawah terik matahari. Biasanya orang seperti kamu akan mengurung diri dikamar dan tidak pernah lagi muncul ke permukaan” celetuk Luna memuji, eeh dia memuji kan? atau sebenarnya dia sedang mengejekku?
“Aku merasa terhormat” timpalku bangga meski dengan hati yang berdarah – darah
Sejenak aku dan Luna terdiam sambil memandangi birunya laut yang sama dan hebohnya teman – teman sekelas bermain di sekitar pantai yang masuk dalam jarak pandang, seketika aku tersadar Luna sudah cukup lama berdiri di sebelahku dan mengajakku mengobrol. Bukannya ini tidak baik untuk citra Luna? Aku pun kembali menoleh menatapnya dan dia menatapku dengan raut wajah keheranan.
“Ngomong – ngomong, kamu yakin mau berdiri di sebelah pria yang menunjukkan bakat berekspresi frustrasi dibalik sinar matahari ini?” tanyaku dan Luna pun tertawa, dia menghela nafas sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku itu.
“Habisnya aku gak bisa mengabaikanmu, dari tadi aku liat kamu cuma sendiri aja” jawab Luna, lalu dia menunjuk tempat bakar – bakaran yang masih terlihat bara apinya menyala.
“Gak bakal ada yang menyalahkan kamu loh kalau kamu ambil makanan di panggangan, tadi aku cuma ambil yang aku mau doang, jadi kamu bisa ambil sendiri yang kamu suka di panggangan itu” ucap Luna sambil berjalan meninggalkanku, dia melambaikan tangan sambil tersenyum seolah mencoba memberikan aku semangat.
“Oke, makasi” timpalku sambil membalas lambaian tangannya
“Luna! Coba sini dee~” seru cewek teman kelompokku, sialnya aku lupa nama cewek ini.
“Enak banget~” timpal teman cewek lainnya di sebelah teman cewek yang memanggil Luna, Luna pun terlihat berlari kecil mendekati mereka.
“Apa tuuh?” tanya Luna terdengar penasaran, di saat bersamaan aku melihat dua teman cowok yang tidak jauh dari mereka mengalihkan pandangannya menatap Luna dengan ekspresi wajah terpesona.
Mungkin beberapa orang akan bertanya kenapa aku tidak ikut Luna saja bergabung dengan mereka semua, toh pada dasarnya mereka adalah kelompok study tour-ku. Sebenarnya aku sudah beberapa kali mencoba untuk berinteraksi dengan mereka membahas tentang kegiatan dan jadwal study tour, tapi rasa – rasanya mereka semua masih berusaha untuk menghindariku. Tidak baik juga rasanya aku memaksa mereka untuk mengobrol denganku padahal sudah jelas mereka menolak, pada akhirnya aku memilih untuk menjaga jarak dengan mereka semua.
...Jadi ini bukanlah sepenuhnya salahku untuk menyendiri seperti ini...
Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya kami semua kembali masuk ke dalam bus untuk naik ke dalam kapal feri. Tidak butuh waktu lama sampai bus yang kami naiki sampai di atas kapal feri, setelahnya, perjalanan menyeberangi pulau pun aku lalui. Meski merasa lelah, namun aku terpaksa harus turun dari dalam bus untuk menunggu di kursi yang tersedia di dalam kapal karena ada larang penumpang menunggu di atas kendaraan mereka masing - masing. Mungkin karena demi keselamatan.
...Di sini masalahnya, keterasingan di atas kapal membuat aku semakin tertekan...
Di dalam kapal ini tidak hanya murid kelas dan sekolahku saja yang naik, namun ada juga orang – orang random lainnya yang memiliki tujuan yang sama dengan kami. Sepanjang mata memandang aku bisa melihat ruang penumpang kapal, tidak satu pun di antara mereka yang duduk sendirian dengan wajah datar sepertiku. Beberapa orang juga terlihat memperhatikanku meski itu hanya sekedar menoleh hanya untuk menatapku yang sedang duduk sendirian, wajar saja karena aku yakin mereka tahu aku adalah anak SMA yang sedang melakukan study tour. Mungkin di dalam pikiran mereka berkata ‘Apa yang dilakukan anak SMA itu? ke mana teman satu kelompoknya?’
“Kamu sudah pernah ke Bali belum?” terdengar suara seorang cewek yang berada di sebelahku, aku pun menoleh dan cukup kaget melihat Luna duduk di sebelahku entah sejak kapan dia ada di sini.
“Eeh, belom pernah sayangnya, katanya di sana tempat yang menyenangkan” jawabku sedikit terbata, aku berpikir apa aku sempat melamun tadi sampai tidak sadar Luna mendekatiku.
“Sama sekali gak perlu disayangkan kok” timpal Luna sambil menghela nafas
“Iya juga sih” ucapku
“Jujur aku sangat bersemangat ke pulau itu, rasanya ingin segera melihat keindahan pantai di sana~” ucap Luna terdengar bersemangat.
“Pastinya” timpalku
Yah aku sangat setuju. Bagi para remaja SMA, pantai yang indah merupakan tujuan yang menyenangkan untuk didatangi meski panas matahari sedang menyengat. Tentu saja, meski mereka harus menghitam karena sengatan matahari tapi itu adalah bayaran yang sepadan untuk mendapatkan titik foto yang bagus, kan? Ngomong – ngomong...
“Luna, maaf soal semua ini” celetukku dengan penuh penyesalan, Luna yang sebelumnya menatap ke depan kini sedikit menoleh menatapku yang berada di sebelahnya dan kami bertatapan mata.
“Santai aja, aku melakukan ini karena aku mau” timpalnya, senang mengetahui Luna tahu kenapa aku meminta maaf padanya tanpa perlu aku repot – repot untuk menjelaskan.
“Syukurlah kalau begitu” ucapku sedikit merasa lega, saat itu aku kembali menatap ke depan di mana aku melihat teman kelompokku menoleh menatapku dan Luna hampir bersamaan.
Saat itu aku baru sadar aku duduk terlalu jauh dari teman satu kelompok, bahkan Luna sampai mengorbankan diri untuk duduk menjauh dari teman kelompoknya demi menemaniku. Tatapan datar mereka berempat pada kami pun terasa begitu terasa canggung, seolah mereka ingin mengatakan ‘Ngapain Luna dekat sama orang berbahaya seperti itu?’
“Eeh maaf ya~” Seru Luna sambil menarik lengan bajuku agar aku duduk lebih dekat dengan teman kelompok, aku pun tidak memberontak dan hanya terus mengikuti tarikan tangan Luna untuk berkumpul bersama mereka.
Sesampainya di sana aku tetap saja diabaikan, mereka asyik mengobrol masing – masing dan bersenang – senang. Tapi aku menyadari hal yang sedikit berubah dari kelompok ini, Luna seperti agak dijauhi oleh teman – teman yang lain. Mungkin hanya perasaanku saja, aku tidak percaya seorang ketua kelas yang populer seperti Luna akan dijauhi oleh teman – teman yang lain meski dengan alasan Luna terlihat beberapa kali mengajakku berbicara.
Empat puluh lima menit berlalu, bus pun turun dari kapal feri lalu melanjutkan perjalanan sampai ke sebuah restoran. Di saat ini aku tidak terlalu merasa tertekan lagi karena pak guru meminta kami semua untuk selalu bersama dengan teman sekelompok dan duduk di meja kami masing - masing, meski begitu aku tetap saja diabaikan dan hanya Luna yang beberapa kali mengajakku mengobrol ketika kami sedang makan.
Tiga puluh menit berlalu, kami kembali menaiki bus untuk melanjutkan perjalanan hingga kami sampai di Denpasar pada siang menjelang sore hari. Di sana, kami turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Di sini kami bebas mau ke mana saja selama kami tetap bersama anggota kelompok, ada yang langsung menuju pantai, tempat perbelanjaan, atau hanya sekedar jalan – jalan keliling kota. Biasanya kelompok menentukan tujuannya dengan voting, namun bagiku terserah saja mereka mau ke mana karena mereka sepertinya lupa untuk meminta pendapatku.
Tujuan kami adalah mencari toko oleh – oleh terdekat, kami pun berjalan bersama menuju ke salah satu toko oleh – oleh. Di sana mereka semua terlihat begitu bersemangat untuk mencari benda yang akan mereka jadikan oleh – oleh untuk orang - orang di rumah mereka masing - masing, begitu pula denganku.
Aku berjalan mendekati salah satu etalase yang berisi gantungan kunci, begitu banyak gantungan yang terlihat menarik dan aku memilih satu yang akan aku berikan pada Vanya nanti saat aku pulang. Ketika hendak memilih hadiah oleh – oleh lain, aku melihat Luna berdiri dengan wajah serius menatap salah satu etalase. Dia hanya sendirian di mana keempat teman kami terlihat berkumpul sambil berdiskusi benda apa yang akan mereka beli, jarak antara mereka dengan Luna aku rasa sudah terlalu jauh untuk ukuran Luna yang tidak memiliki masalah dengan mereka. Ini sudah tidak bisa dibenarkan...
Saat di perjalanan tadi, Luna berkali – kali mengobrol denganku karena aku terisolasi dengan anggota kelompok yang lain. Aku sangat menghargai perasaan dan kepeduliannya, tapi... situasi yang terbangun ini memiliki permasalahannya sendiri yang harus segera diselesaikan.
Aku bergeser dikit demi sedikit untuk mendekati Luna agar tidak terlihat mencolok, tatapan mataku pun tertuju pada etalase yang sama dengan Luna dan berpura – pura aku juga sedang memilih benda di dalam etalase itu. Begitu sudah dekat, aku katakan padanya...
“Luna, bisa kita bicara sebentar?” tanyaku, Luna pun terlihat kaget dan sepertinya dia sempat melamun tadi.
“Ada apa?” tanyanya masih seperti biasa, aku mendekatinya agar aku bisa bicara dengan suara yang pelan.
“Aku harus pergi, makasi ya” bisikku padanya, seketika Luna kaget sampai dia berteriak mengatakan...
“Hah?! Kenapa be..” belum selesai kalimat Luna, aku langsung memberi gestur jari di bibir untuk memintanya agar tidak usah berteriak.
“Terima kasih sudah mau menghampiri dan berbicara padaku, berkatmu aku hampir melupakan realitas kalau aku ini adalah seorang penyendiri” kembali aku berbisik padanya dan perlahan ekspresi terkejutnya berubah menjadi datar menatapku
“Oh.. Senang mendengarnya” timpal Luna
“Tapi beberapa orang bisa jengkel karena hal itu” bisikku sambil memberi gestur mata yang tertuju pada belakang Luna, menyadari gestur itu Luna segera menoleh ke belakang dan kami menatap hal yang sama yaitu keempat teman kelompok kami yang memiliki jarak cukup jauh dengan kami.
“...Iya... Aku juga sadar akan hal itu..” agak bergumam Luna mengatakannya, dia kembali menatapku dan perlahan kepalanya tertunduk.
Teman kelompok hanya khawatir saat melihat Luna mengajakku untuk mengobrol dan terkesan Luna mencoba akrab denganku, mereka pasti merasa terganggu saat melihat Luna begitu peduli padaku... pada seorang pembuat onar dan juga penguntit Elma. Aku sangat bisa merasakan hal itu meski mereka tidak mengatakannya secara langsung, tatapan mata mereka padaku ketika Luna berada di dekatku yang sudah menggambarkan semuanya.
“Sudah waktunya aku mundur dari kelompok” celetukku memecah keheningan, aku melihat Luna meremas tali ranselnya cukup kuat dan masih saja menunduk.
“...Iya sih, lagi pula mereka memang gak dekat sama kamu. Tapi aku berharap study tour ini bisa..” belum selesai Luna berkata, aku memotongnya.
“Kamu mungkin memang bisa jadi penengah antara aku sama mereka, tapi dalam prosesnya, yang bisa terjadi malah kamu yang akan dibenci oleh mereka” timpalku dan seketika itu Luna menatapku dengan tatapan yang terlihat sedih.
“Jalan terbaik adalah mengabaikanku agar kamu gak dibenci juga sama mereka” ucapku meneruskan kalimatku, Luna pun terdiam dan terus menatapku dengan ekspresi kecewa dan juga sedihnya itu.
“Aku tahu kamu gak mau melakukan hal itu, kan?” tanyaku, perlahan Luna kembali menundukkan kepalanya.
“I...iya.. memang...” jawab Luna terbata.
“Aku bisa pergi ke tempat lain sendirian tanpa masalah kok, lagian aku ini seorang serigala penyendiri dan sudah sangat terbiasa menghabiskan waktu sendirian” ucapku dengan senyum juga penuh semangat dan tidak lupa aku menunjuk diriku dengan jempol, aku harus tunjukkan padanya kalau aku akan baik – baik saja meski aku akan meninggalkan kelompok.
Hanya kata – kata itu yang terpikirkan olehku, mungkin ini hal terbaik yang bisa aku lakukan agar Luna tidak terseret bersamaku dan memecahkan semua masalah yang sedang berlangsung. Namun tiba – tiba Luna kembali menatapku dengan sorot mata yang tajam, wajahnya terlihat sedikit marah dan juga mencoba untuk mengintimidasiku.
“Sebagai ketua kelas, aku gak tega melihatmu pergi tanpa kelompok!” agak membentak Luna mengatakannya, aku menghela nafas dan tetap bersikap tenang tanpa emosi.
“Santai aja aku akan kembali pulang saat waktunya tiba~” dengan santai aku mengatakannya, aku tahu kekhawatiran Luna namun apa yang dia pikirkan itu hanya akan membuat dia terseret bersamaku ke dalam jurang bernama kesepian.
“Bukan itu masalahnya!!” kembali Luna membentakku, Yah... aku juga paham kalau meyakinkan cewek seperti dia tidaklah mudah terkhusus sugesti semacam ini.
“Terima kasih banyak, berkatmulah aku bisa punya kelompok dan bersenang – senang saat study tour. Aku bisa ikut memakan barbeku bersama kalian, mengikuti perjalanan menyeberang pulau, dan lain – lain. Tanpamu, mungkin aku hanya akan berdiam diri di salah satu kafe ataupun kios untuk sekedar bengong menunggu acara menyebalkan ini selesai, bahkan mungkin aku gak akan ikut acara ini sama sekali sejak awal” jelasku padanya, Luna pun terdiam dan perlahan ekspresi marahnya itu berubah lagi menjadi sedih menatapku.
“Karena itu, aku gak mau kamu ikut aku untuk masuk ke dalam jurang kesepian ini bersamaku dan menyia – nyiakan study tour ini hanya demi aku seorang” ucapku melanjutkan penjelasanku sebelumnya, perlahan Luna kembali menundukkan kepalanya.
Di kehidupanku sebelumnya, aku tahu Luna sangat menikmati study tour ini. Aku tidak ingin di kehidupan keduaku ini aku melihatnya mendapat pengalaman buruk yang menyakitinya, akan sangat tidak adil jika itu terjadi. Ini seperti aku memang berhasil menyelamatkan Elma dari jurang namun di saat bersamaan aku menjerumuskan Luna ke dalam jurang bersamaku, aku harus bertindak agar hanya aku yang perlu merasakan jurang kesepian ini.