Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dante: Sang Pemikir yang Mulai Gila
Jika Valerio adalah pedang yang menghunus dan Lorenzo adalah perisai yang kokoh, maka Dante De Luca adalah otak yang menggerakkan seluruh mekanisme klan. Sebagai anak bungsu dari kembar tiga, Dante selalu memiliki pendekatan yang berbeda terhadap dunia. Baginya, segala sesuatu adalah variabel dalam sebuah persamaan besar. Pengkhianatan, loyalitas, bahkan cinta, hanyalah data yang bisa dihitung peluangnya.
Namun, sejak fenomena di katedral itu, persamaan Dante mulai berantakan. Variabel bernama "Bianca" adalah anomali yang tidak bisa ia masukkan ke dalam rumus mana pun. Dan malam ini, di dalam ruang perpustakaan vila Tuscany yang berdebu, Dante merasa dirinya mulai kehilangan kewarasan yang selama ini ia agungkan.
Dante duduk di balik meja kayu oak besar, dikelilingi oleh tumpukan buku sejarah kuno, laporan intelijen, dan tablet digital yang menampilkan grafik gelombang elektromagnetik. Di depannya, Bianca (dalam tubuh Lorenzo) sedang duduk bersila di atas karpet Persia yang mahal, mencoba menyusun kepingan puzzle seribu potong yang ia temukan di gudang.
"Mas Dante, kamu kalau liatin layar terus matanya nggak perih apa?" tanya Bianca tanpa menoleh. "Sini lho, bantuin saya cari potongan gambar langit. Ini biru semua, pusing saya bedainnya."
Dante meletakkan tabletnya perlahan. Ia menatap kakaknya—sosok pria yang biasanya memancarkan aura dominasi—kini sedang sibuk mencari potongan gambar kecil dengan wajah sangat serius. "Lorenzo... maksudku, Bianca. Aku sedang mencoba memetakan pola serangan Isabella. Ini lebih penting daripada sebuah permainan anak-anak."
"Ih, ini bukan mainan anak-anak, Mas! Ini melatih kesabaran," balas Bianca. "Lagian, kalau Mas Dante tegang terus, nanti sel otaknya pada demo. Istirahat bentar kek. Sini, duduk di bawah."
Dante menghela napas. Entah mengapa, ia tidak bisa menolak permintaan itu. Mungkin karena rasa ingin tahunya yang ilmiah, atau mungkin karena aura tenang yang dipancarkan Bianca mulai merusak tembok logikanya. Dante turun dari kursinya dan duduk di seberang Bianca.
"Biru yang ini untuk bagian pojok kiri atas," ucap Dante sambil mengambil satu kepingan puzzle dan meletakkannya tepat di tempatnya hanya dalam satu detik.
"Wih! Jago banget! Kok bisa langsung tahu?" Bianca melongo.
"Matematika fraktal dan pengenalan pola visual dasar," jawab Dante datar. "Tapi Bianca, ada hal yang lebih mendesak. Aku sudah menganalisis rekaman CCTV katedral dan data dari kristal hitam itu. Secara biologis, kau adalah Lorenzo. Tapi secara neurologis, pola pikirmu sama sekali tidak sinkron dengan struktur memori yang seharusnya ada di otak itu."
Bianca berhenti memegang kepingan puzzle. Ia menatap Dante dengan tatapan yang dalam. "Mas Dante... kamu itu pinter banget. Tapi kadang orang pinter itu lupa kalau hidup itu bukan cuma soal pola. Hidup itu soal rasa. Kamu pernah nggak sih ngerasa sesuatu yang nggak bisa dijelasin pakai angka?"
Dante terdiam. Ia teringat bagaimana jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat melihat Bianca (dalam tubuh Lorenzo) tertawa lepas saat belajar Pargoy tempo hari. "Perasaan adalah reaksi kimia di otak untuk memastikan kelangsungan hidup. Tidak lebih."
"Masa sih?" Bianca mendekat, wajah Lorenzo kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Dante. "Terus kenapa kamu sekarang kelihatan bingung? Kenapa kamu rela duduk di lantai berdebu sama saya daripada di kursi empuk kamu? Apa itu juga bagian dari kelangsungan hidup?"
Dante merasa dunianya seolah berputar. Ia melihat mata kakaknya, tapi ia merasakan jiwa yang begitu tulus dan hangat di dalamnya. "Aku... aku sedang melakukan observasi partisipan. Aku butuh data tentang perilaku jiwamu agar aku bisa menemukan cara untuk mengembalikan kalian ke tubuh masing-masing."
Bianca tersenyum tipis. "Atau mungkin... Mas Dante cuma takut kalau saya balik, Mas bakal kehilangan temen ngobrol yang 'nggak masuk akal' kayak saya?"
Tiba-tiba, suara alarm di ponsel Dante berbunyi. Ia segera meraih tabletnya. "Ada gangguan pada sensor gerak di perimeter utara kebun anggur. Seseorang sedang mencoba masuk."
Bianca langsung sigap berdiri. "Isabella lagi?"
"Bukan. Pola pergerakannya terlalu rapi. Ini tim taktis kecil. Mungkin tentara bayaran." Dante segera berdiri dan mencabut pistol Glock-17 dari balik jasnya. "Tetap di belakangku."
Mereka keluar dari perpustakaan dengan langkah hati-hati. Vila itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan. Di lorong, mereka bertemu dengan Valerio yang sudah memegang senapan serbunya dan Lorenzo (tubuh Bianca) yang tampak sangat geram karena tidurnya terganggu.
"Dante, berapa orang?" tanya Lorenzo (tubuh Bianca) dengan nada memerintah.
"Enam orang. Bergerak dalam formasi delta. Mereka sudah melewati gerbang samping," jawab Dante cepat.
"Valerio, ambil posisi di balkon atas. Dante, kau jaga pintu belakang dengan Bianca. Aku akan memancing mereka ke ruang tengah," instruksi Lorenzo.
Bianca (tubuh Lorenzo) merasa adrenalinnya mulai naik. "Mas Lorenzo, saya harus ngapain? Masa saya cuma jadi pajangan?"
Lorenzo menatap tubuhnya sendiri. "Gunakan kekuatan fisikku. Jika ada yang mendekat, hantam saja mereka. Jangan coba-coba menembak, aku tidak mau kau melubangi tembok warisan bibiku."
Pertempuran pecah dalam kesunyian yang mematikan. Tim taktis tersebut menggunakan peredam suara, membuat suara tembakan hanya terdengar seperti kepakan sayap burung. Dante bergerak dengan presisi yang menakutkan. Ia tidak menembak secara membabi buta; setiap peluru yang ia lepaskan selalu mengenai titik vital musuh berdasarkan perhitungan sudut pantul dan jarak.
Namun, salah satu penyusup berhasil meloloskan diri dari pantauan Dante dan merangsek ke arah Bianca yang sedang bersembunyi di balik pilar.
"MATI KAU, DE LUCA!" teriak penyusup itu sambil menghunuskan pisau komando.
Bianca melihat kilatan perak itu menuju ke arahnya. Di saat terdesak, ia tidak menggunakan teknik beladiri mafia. Ia justru menggunakan insting "Mbak-mbak pasar" yang sedang berebut diskon. Ia menunduk, lalu melakukan gerakan menyapu kaki yang sangat tidak estetis namun efektif, disusul dengan hantaman siku sekuat tenaga ke arah perut lawan.
DUAK!
Penyusup itu terlempar ke arah meja pajangan porselen hingga hancur berkeping-keping.
Dante yang melihat aksi itu dari kejauhan sempat tertegun. "Efisiensi kinetik yang sangat... kasar, tapi berhasil."
Setelah sepuluh menit yang menegangkan, keenam penyusup itu berhasil dilumpuhkan. Valerio turun dari balkon dengan wajah dingin, sementara Lorenzo (tubuh Bianca) memeriksa mayat-mayat itu.
"Mereka bukan Rosanera," ucap Lorenzo sambil menunjukkan tato kecil berbentuk salib terbalik di pergelangan tangan salah satu musuh. "Ini adalah 'The Vatican Shadows'. Unit gelap yang bekerja untuk faksi radikal di dalam gereja. Mereka menginginkan kristal itu kembali, dan mereka ingin kita bungkam selamanya."
Dante duduk di kursi yang masih tersisa di ruang tengah. Ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut. "Gereja, Moretti, Rosanera... semua variabel ini mulai tumpang tindih. Kita terkepung dari segala arah."
Bianca mendekati Dante, menaruh tangannya di bahu Dante. "Mas Dante... jangan dipikirin semua sendirian. Kita kan satu tim. Mas punya otak, Mas Val punya senjata, Mas Lorenzo punya wibawa, dan saya... saya punya keberuntungan."
Dante menatap Bianca. Kali ini, ia tidak membantah. Ia merasa bahwa kegilaan yang ia rasakan—keinginan untuk melindungi Bianca lebih dari sekadar data penelitian—mulai terasa masuk akal.
"Kau benar," gumam Dante. "Keberuntungan adalah variabel yang paling sulit dihitung, tapi seringkali menjadi penentu kemenangan."
Dante berdiri, ia tampak lebih tenang sekarang. "Aku akan memecahkan kode dari naskah terakhir yang dicuri Isabella. Ada bagian yang hilang tentang 'Pengorbanan Jiwa'. Aku curiga Isabella ingin menggunakan kristal itu bukan untuk kekuasaan, tapi untuk memindahkan jiwanya sendiri ke tubuh yang lebih abadi."
"Hah? Maksudnya dia mau jadi vampir atau gimana?" tanya Bianca polos.
"Lebih buruk dari itu, Bianca. Dia ingin menjadi 'Ibu dari Segala Jiwa'. Jika dia berhasil, dia bisa mengendalikan siapa saja hanya dengan menyentuh kristal itu," jelas Dante.
Malam itu, di tengah reruntuhan porselen dan aroma mesiu, Dante De Luca menyadari satu hal. Ia mungkin mulai gila karena menyukai jiwa seorang gadis asing di dalam tubuh kakaknya sendiri. Tapi jika kegilaan ini adalah harga yang harus dibayar untuk memenangkan perang ini, maka ia akan menjadi orang paling gila di seluruh Italia.
"Dante," panggil Lorenzo (tubuh Bianca).
"Ya?"
"Berhenti menatap tubuhku dengan tatapan penuh nafsu intelektual seperti itu. Itu sangat menjijikkan."
Dante hanya tersenyum tipis—senyuman yang membuat Valerio dan Bianca merinding. "Maaf, Lorenzo. Aku hanya sedang menghitung peluang... peluang kita untuk tetap menjadi keluarga setelah semua ini berakhir."
Dante kembali ke perpustakaan, meninggalkan Bianca yang masih bingung. Di dalam hatinya, Dante telah mengambil keputusan: ia tidak hanya akan mengembalikan jiwa mereka, tapi ia juga akan memastikan bahwa siapa pun yang berani mengusik "anomali" manis bernama Bianca akan menghadapi kemurkaan seorang pemikir yang sudah tidak lagi peduli pada logika.