NovelToon NovelToon
Ketika Sinta Memilih Rahwana

Ketika Sinta Memilih Rahwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Perjodohan
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.

Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part *30

Saat sadar akan ulah tangannya, Wana langsung menarik tangan tersebut dengan cepat. Debar di hati sungguh bergolak luar biasa. Wana benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa gugup itu sekarang.

"Anu, maaf. Maaf, tidak sengaja. Ah, se-- sebaiknya aku ... itu, kembali ke dalam. Ka-- kamu bisa tetap di sini jika mau."

Wana langsung beranjak dengan langkah besar tanpa menunggu Sinta yang ia ajak bicara menjawab perkataannya terlebih dahulu. Jelas, dia sedang ingin melarikan diri sekarang. Mana sempat ia menunggu Sinta berucap lagi.

Sinta yang melihat hal tersenyum hanya bisa terdiam dengan tubuh agak kaku. Maklum, apa bedanya dia dengan Wana? Rasanya, tidak ada bedanya. Mereka berdua sama saja. Sama-sama sedang di landa rasa gugup akibat ulah mereka sendiri.

Wana yang berjalan cepat kini hampir sampai ke depan pintu samping rumah. Namun, saat tangannya ingin menyentuh gagang dari pintu tersebut. Pintunya malah terbuka duluan. Lalu, Danu muncul di sana dengan wajah yang sedikit terkejut.

"Tuan muda."

"Danu."

Mata tajam Danu langsung menangkap hal yang tidak wajar dari fisik Wana. "Tuan muda. Anda demam?"

"Demam?" Wana malah bertanya balik dengan nada bingung. "Apa maksud kamu? Aku tidak demam. Aku baik-baik saja."

"Tuan muda baik-baik saja? Tapi ... telinga tuan muda saat ini sedang merah. Apa benar tuan muda baik?"

Seketika, mata Wana sedikit melebar gara-gara ucapan Dabu barusan. Reflek, satu tangannya langsung menyentuh telinga. Gelagat tidak biasa langsung terlihat.

"Ma-- mana mungkin." Wana berusaha untuk menyangkal. Namun sayangnya, usaha itu semakin membuatnya terlihat tidak biasa. Seolah, dia benar-benar sedang tidak baik-baik saja.

Lalu, mata tajam Danu seketika menangkap sosok yang akhir-akhir ini cukup sering ia lihat. Bahkan mungkin, ke depannya, sosok itu akan selalu ada di dekat Rahwana.

"Dia .... " Danu berucap pelan. "Nona Sinta?"

Danu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Wana setelah mata itu benar-benar yakin, kalau yang ia lihat adalah Sinta. Dan, dia sama sekali tidak salah saat melihat.

"Tuan muda. Anda membawa Dewi bulan anda ke sini?"

Sontak. Ucapan itu semakin menambah merah telinga Wana yang baru saja akan terlihat normal. Mata Wana langsung menatap kesal pada tangan kanan kepercayaannya itu. Tak lupa, ketukan pelan di dahi ia layangkan.

"Ngomong apa kamu? Jangan sembarangan."

"Aduh ... tuan muda. Anda terlalu tega. Salah apa saya sampai anda harus memukul saya?"

"Kamu tidak merasa salah? Baiklah kalau begitu, bonus bulanan mu akan aku hilangkan sampai kamu sadar akan kesalahan apa yang telah kamu lakukan."

"Ya Tuhan. Tuan muda, jangan."

Wajah Danu langsung dia ubah seolah sangat menyesal sekaligus pasrah. Namun sesungguhnya, pria itu sama sekali tidak merasakan hal tersebut. Wana memang bos atau atasan tempat Danu bekerja. Tapi hubungan mereka sangat dekat. Mungkin, seperti teman barangkali.

Karena Danu adalah satu-satunya orang selalu berusaha untuk mengerti Wana. Kesedihan pria tersebut, luka, sakit hati, keluh kesah, dan segalanya. Danu selalu tau dan selalu ada di setiap momen itu.

Meskipun begitu, Danu masih sangat ingat di mana batasan antara dirinya dengan Wana. Dan, dia selalu menjaga batasan itu dengan sangat baik. Sementara Wana, pria itu juga melakukan hal yang sama.

"Jangan lakukan itu, tuan muda." Danu berucap lagi. "Saya tahu saya salah. Tidak akan bicara sembarangan lagi. Mm ... tapi untuk Dewi bulan milik tuan muda itu-- "

"Danu, jangan bercanda lagi."

Danu langsung membenarkan posisi badannya. "Baik, tuan muda. Tidak lagi."

Setelah mengerlingkan mata, Wana langsung beranjak melewati Danu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Danu sendiri langsung mengekori dari belakang.

"Tuan muda."

"Hm?"

"Nona Sinta beneran akan tinggal di vila ini?"

Wana langsung menghentikan langkah kakinya. Setelah itu, pria dengan tubuh tegap berdada bidang itu langsung memutar tubuhnya agar bisa melihat tangan kanan kepercayaannya itu.

"Apa maksudnya pertanyaan itu? Dia kan istriku. Masa iya dia gak tinggal bareng aku di sini?"

"Ah, iya saya tahu. Maksudnya ... anu, maafkan saya tuan muda. Saya hanya ingin memastikan saja. Dan sepertinya, nona Sinta benar-benar serius dalam memilih anda. Syukurlah. Apa yang saya takutkan selama ini tidak terjadi."

Wana terdiam. Dia tahu apa yang Danu maksudkan. Dia juga tahu kalau Danu hanya sedang mengkhawatirkan hatinya. Makanya pria itu bicara seperti barusan.

Wana lalu melepas napas berat secara perlahan. "Aku juga sempat takut, Danu. Tapi, sepertinya, dia memang serius akan pilihan yang telah ia buat. Dan sekarang, bahkan ia siap tinggal di sini dengan ku. Dia setuju tanpa penolakan saat aku menawarkan padanya untuk tinggal bersama dengan ku."

"Ini luar biasa," ucap Danu dengan nada pelan.

"Apa?"

"Ah, tidak, tuan muda. Tidak ada apa-apa."

"Hm ... oh iya, Danu. Sepertinya, aku harus mencari pelayan yang bisa diminta tinggal di rumah ini. Bukan hanya datang untuk memasak dan membersihkan rumah saja."

"Tuan muda ingin mencari pelayan?" Danu bertanya dengan nada sedikit bingung.

Anggukan penuh keyakinan Wana berikan.

"Iya. Tentu saja aku butuh pelayan sekarang. Karena, saat ini aku sudah punya nyonya rumah. Dan nyonya rumah ku itu butuh dilayani oleh pelayan. Gak mungkin nyonya ku melayani dirinya sendiri. Apalagi membereskan rumah ini dengan tangannya sendiri. Itu sungguh tidak mungkin lagi."

Danu terdiam sejenak. Pria itu semakin di buat sadar kini akan sikap dari tuan mudanya yang terlalu meratukan Sinta. Nona dari keluarga Wijaya itu ternyata punya posisi yang sangat spesial di hati tuan mudanya. Jauh lebih spesial dari apa yang selama ini Danu bayangkan.

"Mm .... Kalau untuk tinggal, bi Diah mungkin bisa, tuan muda."

"Bi Diah?" Ulang Wana dengan wajah sedikit memikirkan si pemilik nama.

Bi Diah adalah pelayan paruh waktu di vila tersebut. Selama ini, orang tua paruh baya itu hanya datang di pagi hari saja untuk membersihkan vila dan memasak. Setelah pekerjaan itu beres, bi Diah langsung pulang.

Itu bukan keinginan bi Diah. Atau, bukan juga karena halangan yang wanita paruh baya itu miliki. Melainkan, karena Wana yang tidak menginginkannya. Peraturan yang ia buat sendiri agar tempat tinggalnya tidak di huni oleh terlalu banyak orang. Apalagi orang yang baginya asing.

Tapi sekarang, seperti yang telah ia katakan. Karena dia sudah punya nyonya rumah, jadi dia harus mencarikan pelayan untuk melayani nyonya rumahnya dengan baik selama seharian. Karena itu, dia butuh pelayan yang bisa tinggal di rumahnya selama dua puluh empat jam. Tidak lagi butuh pelayan paruh waktu seperti sebelumnya.

1
Patrick Khan
rama kyk e ngerasa kehilangan shinta deh🤣🤣🤣kemaren kemaren ngapain aja lu
Anonim
Up nya yg banyak thor
Dew666
💄💄💄💄
Soraya
lanjut
Dew666
💝💝💝💝
Anonim
Greget banget cerita nya muter muter
Soraya
dikit banget thor updet nya
Dew666
🍎🍎🍎🍎
Anonim
Lama banget sih thor muter muter nya ,up nya tambahin donk thor pelit banget
Rani: hiks, terkena panah asmara aku. eh, panah ... apa yah? Aish, ya sudah lah. aku usahakan yan🤭
total 1 replies
Patrick Khan
risa itu guna nya apa sih🤔🤔🤔
Dew666
Up lagi dong 💝🍭
Anonim
Up nya yg banyakan napa thor pelit banget sih up nya ,bikin penasaran aja
Rani: hiks, maafkan aku. othor mu emang rada pelit ih. di balik kepelitan, ada perjuangan yang berjibun. wkwkwkwkwk... maklumin atuh
total 1 replies
Soraya
up lagi thor lanjut
Rani: sabar.... yah. sabar
total 1 replies
Patrick Khan
lanjut
Dew666
👄👄👄👄
perahu kertas
mampuskan lo
Anonim
Mampus kau rama,sok kepedean sih dasar pria egois
Soraya
perhatikan typonya thor lanjut
Rani: ah, iya. maaf kn aku yh.
total 1 replies
Dew666
😍😍😍😍
Soraya
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!