NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Angin dari Bali

Pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai pukul 09.00 pagi. Aditya menatap keluar jendela—pulau Dewata terbentang dengan langit biru yang kontras dengan kelabu Jakarta yang ditinggalkannya. Tapi ia tahu, di balik keindahan ini, sesuatu yang gelap sedang mengintai.

"Wangsa Angin," bisiknya.

"Menurut informasi Helios, mereka tinggal di sebuah desa tersembunyi di daerah Bedugul," Alesha membaca dari tabletnya. "Jauh dari wisata pantai. Mereka kultivator turun-temurun yang menjaga Tombak Angin sejak zaman Majapahit."

Maya mengangkat alis. "Sejak Majapahit? Itu lebih dari 600 tahun."

"Mereka lebih tua dari keluarga Pradipa," Kakek Wijaya—yang kali ini hadir secara fisik dengan kursi roda khusus—menimpali. "Aku pernah bertemu pemimpin mereka, 40 tahun lalu. Namanya Mpu Gde. Kalau dia masih hidup, usianya sekitar 90 tahun sekarang."

"Kakek kenal dia?"

"Kami bertemu di upacara adat. Waktu itu aku masih muda, dia sudah setengah baya. Dia orang yang bijaksana." Kakek Wijaya tersenyum mengenang. "Dan dia pembuat secangkir kopi terbaik yang pernah kuminum."

Mereka menyewa mobil menuju Bedugul. Jalanan berkelok naik ke pegunungan, meninggalkan keramaian Denpasar. Sawah bertingkat membentang di kiri-kanan. Petani dengan caping anyaman bambu melambai ramah. Udara semakin dingin, berkabut, dan berbau tanah basah.

"Wilayah ini terasa berbeda," kata Aditya.

"Kau bisa merasakannya?" tanya Kakek Wijaya.

"Energi di sini... lebih padat. Seperti di dekat ruang pelatihan Kakek Seno."

"Itu karena Wangsa Angin. Mereka membangun pura di atas titik energi alam. Selama 600 tahun, energi itu terpelihara oleh ritual dan tradisi mereka."

Maya yang menyetir mendengus pelan. "Kultivator lagi. Selalu soal energi dan tradisi."

"Kau sendiri sekarang kultivator."

"Aku kultivator darurat. Bedanya, aku tidak pakai jubah dan mantra."

---

Desa Wangsa Angin tersembunyi di balik hutan bambu. Gerbangnya berupa gapura batu berukir relief angin—spiral-spiral yang berputar seolah ditiup napas tak kasat mata. Begitu mobil berhenti, dua pemuda berpakaian adat Bali muncul dari balik gerbang. Wajah mereka ramah, tapi waspada.

"Selamat datang. Siapa yang kami terima?"

Kakek Wijaya mendorong kursi rodanya maju. "Aku Wijaya Pradipa, dari Jakarta. Aku datang untuk bertemu Mpu Gde."

Pemuda pertama menatap Kakek Wijaya, lalu menatap Aditya, Alesha, dan Maya. Matanya berhenti di liontin Aditya yang berkilau di balik kemeja.

"Liontin Surya," bisiknya pada rekannya. Lalu pada tamu-tamunya: "Silakan menunggu sebentar. Saya laporkan ke Mpu."

---

Menunggu di desa kultivator terasa seperti berada di dimensi lain. Rumah-rumah beratap rumbia berjajar di atas batu bata merah. Pura kecil berdiri di sudut-sudut. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, mata mereka bersinar dengan energi kultivasi yang sudah dilatih sejak dini.

"Anak-anak itu level 2 sampai 3," Aditya berbisik kagum. "Di usia mereka, aku masih cleaning service."

"Itu karena mereka berlatih sejak lahir," jawab Kakek Wijaya. "Keluarga Pradipa dulu seperti ini. Tapi setelah generasiku, tradisinya luntur. Terlalu sibuk dengan bisnis."

Pemuda tadi kembali. "Mpu Gde bersedia menerima. Ikuti saya."

Mereka diantar ke pura utama—sebuah bangunan batu hitam dengan ukiran naga dan garuda. Di pelatarannya, seorang pria tua duduk bersila di atas tikar pandan. Rambutnya putih semua. Matanya—sepasang mutiara abu-abu—menatap kedatangan mereka dengan tenang.

Mpu Gde.

"Wijaya," suaranya lembut tapi jelas. "Kau masih hidup."

"Masih, Mpu. Meski sudah dekat ke liang kubur."

"Semua manusia dekat ke liang kubur. Itu bukan pencapaian." Mpu Gde tersenyum, lalu menatap Aditya. "Kau yang membawa Liontin Surya."

Aditya menunduk hormat. "Saya Aditya Pratama, Mpu."

"Aku tahu. Angin sudah membisikkan namamu sejak kau pertama kali menyentuh liontin itu." Mpu Gde mengisyaratkan mereka semua duduk. "Dan kau datang dengan Tameng Bumi di ranselmu. Aku bisa merasakannya."

Aditya mengeluarkan Tameng Bumi. Perisai perunggu itu berkilau diterpa sinar matahari pagi. Mpu Gde mengangguk pelan.

"Jadi Kolektor sudah menyerahkannya."

"Kolektor memberikannya secara sukarela. Dia bilang dia lelah."

"Dia sudah lama lelah. Aku senang akhirnya dia memilih jalan yang benar." Mpu Gde menatap satu per satu. "Kalian datang untuk Tombak Angin."

"Bukan untuk mengambilnya, Mpu," Alesha menyela. "Kami datang untuk memperingatkan. Sang Pengumpul mengirim Putra Senja. Mereka akan menyerang dalam tiga hari."

"Aku tahu."

Semua terkejut.

"Mpu... sudah tahu?" tanya Aditya.

"Angin memberitahuku lebih dulu dari telepon genggammu, Nak." Mpu Gde terkekeh. "Kami sudah bersiap. Tapi aku menghargai kedatangan kalian. Itu menunjukkan niat baik yang tidak dimiliki oleh pencari pusaka sebelumnya."

Aditya dan Alesha bertukar pandang.

"Mpu," Aditya memulai, "kami tidak ingin ada pertumpahan darah. Putra Senja dipimpin oleh seseorang bernama Radit. Dia mantan murid Kakek Seno—penjaga ruang pelatihan keluarga Pradipa. Dia memilih jalan gelap, tapi Kakek Seno bilang masih ada jalan kembali."

"Kau ingin menyelamatkan musuhmu?"

"Aku ingin memberinya pilihan. Dia tidak harus mati."

Mpu Gde terdiam lama. Angin berhembus di antara pilar-pilar pura. Akhirnya ia berkata: "Dulu, 40 tahun lalu, aku bertemu Radit. Dia masih remaja. Matanya penuh keinginan, tapi juga penuh luka. Aku tahu dia akan jatuh ke jalan gelap. Tapi aku juga tahu dia masih bisa kembali."

"Lalu kenapa Mpu tidak..."

"Menghentikannya? Karena setiap orang punya jalannya sendiri. Radit harus menemukan jalannya sendiri—bukan dipaksa oleh guru, bukan dituntun oleh orang tua." Mpu Gde menatap Aditya. "Tapi mungkin kau bisa membantunya. Kau bukan gurunya. Kau musuhnya. Justru karena itu, kata-katamu mungkin lebih didengar."

---

Dua jam kemudian, setelah beristirahat dan menikmati kopi yang—benar kata Kakek Wijaya—adalah kopi terbaik yang pernah Aditya minum, mereka berkumpul di aula pertemuan Wangsa Angin. Kali ini hadir para tetua desa, pemuda-pemuda kultivator, dan seorang gadis remaja yang ternyata adalah calon pewaris Tombak Angin.

"Namanya Ayu," bisik Mpu Gde pada Aditya. "Cicitku. Levelnya 8, lebih rendah darimu. Tapi Tombak Angin memilihnya. Pusaka kami tidak diwariskan ke yang tertua atau terkuat—tapi ke yang didengar oleh angin."

Ayu menatap Aditya dengan mata besar yang penuh rasa ingin tahu. "Kakak yang bawa Liontin Surya?"

"Ya."

"Kakak bisa panggil perisai? Aku dengar Tameng Bumi bisa dipanggil."

"Bisa. Tapi hanya 30 detik."

"Itu keren. Aku belum bisa panggil Tombak Angin. Cuma bisa dengar bisikannya."

Aditya tersenyum. "Aku juga dulu tidak bisa apa-apa. Baru beberapa minggu ini belajar."

Pertemuan dimulai dengan khidmat. Para tetua mendiskusikan strategi menghadapi Putra Senja. Maya—yang ternyata sangat dihormati karena bekas Kopassus—memberikan insight tentang taktik militer yang mungkin digunakan musuh. Alesha menawarkan bantuan logistik dari Pradipa Group. Kakek Wijaya menceritakan pengalamannya melawan Sang Pengumpul.

Dan Aditya...

Aditya menceritakan tentang Radit. Tentang Kakek Seno. Tentang murid yang tersesat dan guru yang menunggu.

"Aku ingin coba bicara padanya," kata Aditya. "Sebelum pertumpahan darah terjadi."

Para tetua bergumam. Beberapa ragu. Beberapa terlihat skeptis.

Tapi Mpu Gde mengangkat tangannya. "Ini bukan hanya soal Tombak Angin. Ini soal siklus permusuhan yang sudah berlangsung puluhan tahun. Kalau ada kesempatan untuk memutus siklus itu—tanpa mengorbankan pusaka—kita harus mencobanya."

Ayu mengangguk setuju. "Aku tidak mau Tombak Angin diwariskan dengan darah di bilahnya."

---

Malamnya, Aditya duduk sendirian di pelataran pura. Bintang-bintang bertaburan di langit Bedugul yang jernih. Liontin di dadanya hangat. Tameng Bumi di sampingnya berkilau diterpa cahaya bulan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Helios:

"Putra Senja akan tiba lusa malam. Radit memimpin langsung. Aku akan di sana."

Aditya membalas: "Kau akan perkenalkan diri?"

"Mungkin. Kalau situasinya tepat."

"Kenapa kau sembunyi-sembunyi? Siapa yang kau takuti?"

Lama tidak ada balasan. Lalu:

"Bukan siapa. Tapi apa. Aku takut pada diriku sendiri. Sampai lusa."

Aditya menatap pesan itu. Teka-teki Helios semakin dalam. Tapi untuk sekarang, fokusnya adalah Radit dan Putra Senja.

Dua hari lagi. Dua hari untuk mempersiapkan pertahanan tanpa perang.

atau setidaknya, mencoba.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!