Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leon yang Mulai Terbiasa dengan Kegilaan
Mansion Vancort setelah badai pengkhianatan dan insiden pabrik kerupuk tidak lagi sama. Jika dahulu kediaman ini digambarkan sebagai istana kelam tempat sang Iblis mencabut nyawa musuh-musuhnya dalam keheningan, kini tempat itu lebih mirip laboratorium eksperimen sosial yang gagal. Aroma sisa minyak senjata dan cerutu mahal yang biasa menguar di ruang kerja Leon kini telah sepenuhnya kalah oleh sisa-sisa aroma minyak tawon, wangi martabak keju, dan deterjen sasetan.
Pagi itu, Leon Vancort duduk di kursi kerja mahagoninya yang mewah. Di hadapannya, tiga buah laptop militer berenkripsi berlapis sedang menampilkan diagram struktur organisasi Black Cobra yang tersisa. Namun, konsentrasi pria berusia tiga puluh tahun itu terusik oleh suara ketukan ritmis dari arah bawah mejanya.
Tok... tok... tok... kriet.
Leon menurunkan pandangannya. Di balik meja kerja seharga ratusan juta yang diimpor langsung dari Italia itu, muncul kepala Ailen dengan rambut yang dikuncir dua mirip antena serangga. Gadis itu sedang ngemil kerupuk jengkol langsung dari toples plastik besar.
"Mas Leon, sibuk nggak? Ini di bawah meja Mas adem banget, kayak ada AC rahasianya. Saya numpang ngemper di sini ya sambil nungguin tukang bakso malang lewat," ucap Ailen tanpa dosa, lalu menyodorkan sepotong kerupuk jengkol ke arah dagu Leon. "Nih, mau gak? Biar kalau Mas pas lagi interogasi musuh, bau mulut Mas bisa langsung bikin mereka pingsan tanpa perlu dipukul."
Jika ini adalah Leon yang enam bulan lalu, siapa pun yang berani membawa jengkol ke dalam ruang kerjanya akan berakhir menjadi umpan hiu di pelabuhan. Namun, Leon yang sekarang hanya menghela napas panjang. Ia mengambil kerupuk itu, memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri, lalu mengunyahnya dengan ekspresi wajah sedatar papan tulis.
"Ailen, di bawah meja itu ada kabel fiber optik untuk jalur komunikasi satelit klan kita. Jangan sampai terkena remah-remah kerupukmu," ucap Leon, suaranya terdengar sangat tenang—sebuah ketenangan dari seorang pria yang jiwanya sudah mengalami evolusi akibat paparan kegilaan tingkat tinggi.
"Aman, Mas! Remahannya sudah saya tampung pake daster," sahut Ailen bangga sambil menunjukkan lipatan dasternya yang penuh dengan bubuk kerupuk.
Pukul sepuluh pagi, Marco masuk ke ruang kerja untuk memberikan laporan harian. Sebagai tangan kanan yang terlatih di akademi militer Eropa, Marco biasanya masuk dengan postur tegak, tatapan tajam, dan dokumen yang tersusun rapi.
Namun pagi ini, Marco masuk sambil menenteng sebuah papan gilasan kayu tradisional dan seember pakaian basah.
"Lapor, Tuan Besar," ucap Marco dengan wajah sekaku patung lilin. "Sistem pertahanan perimeter Sektor Utara telah diperbarui. Namun, ada masalah kecil mengenai alokasi anggaran logistik untuk minggu depan."
Leon mendongak dari laptopnya. "Masalah apa, Marco?"
"Nona Ailen meminta agar setengah dari anggaran pembelian granat asap dialihkan untuk membeli sabun cuci piring literan dan mesin pembuat busa sabun raksasa. Beliau berargumen bahwa membuat musuh tergelincir massal karena busa sabun jauh lebih hemat biaya dan ramah lingkungan daripada merusak paru-paru mereka dengan asap belerang," lapor Marco dengan nada suara yang benar-benar lempeng, seolah ia sedang membacakan laporan pembelian tank tempur.
Leon mengetuk-ngetukkan penanya di atas meja. Ia berpikir selama tiga detik. "Bagaimana menurut analisis taktismu, Marco?"
"Secara teoritis, jika lantai dasar markas dilapisi cairan sabun dengan tingkat viskositas tinggi, mobilitas pasukan taktis Black Cobra akan berkurang hingga 80 persen karena mereka akan sibuk menyeimbangkan tubuh. Risiko kerusakan material akibat peluru nyasar juga menurun drastis," jawab Marco dengan analisis ilmiah yang sangat serius.
"Baiklah. Setujui permintaan Ailen. Beli sabun cuci piringnya. Ambil dari anggaran operasional tim Alpha," perintah Leon.
Ailen yang masih berada di bawah meja langsung bersorak. "YAY! Hidup Mas Leon! Nanti tim Alpha saya kasih bonus gosok punggung gratis pake sabun baru!"
Marco mengangguk hormat. "Dimengerti, Tuan. Saya akan segera menghubungi distributor sabun lokal."
Inilah bukti nyata dari kegilaan yang menular. Leon Vancort, sang predator dunia hitam, kini mulai melegalisasi taktik perang berbasis kebersihan rumah tangga di dalam organisasi mafianya.
Di tengah segala kekonyolan itu, Leon tahu ada hal krusial yang tidak bisa ditunda lagi. Ia membuka folder rahasia berkode "Gavrilov" yang berhasil diselamatkan Ailen menggunakan minyak tawon kemarin. File-file di dalamnya didekripsi secara perlahan, menampilkan foto-foto lama dan dokumen berbahasa Rusia serta Italia.
Leon memberi isyarat agar Ailen keluar dari bawah meja dan duduk di kursi di sebelahnya. Wajah santai Ailen perlahan berubah agak serius saat melihat lambang sayap elang perak yang sama dengan liontin kalungnya muncul di layar.
"Ini adalah berkas asli mengenai pembantaian klan Gavrilov dua puluh tahun lalu," Leon mulai menjelaskan, suaranya kembali ke mode bariton yang serius. "Ayahmu, Andrei Gavrilov, ternyata tidak hanya melarikan diri ke Indonesia untuk menyembunyikanmu. Dia menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar di sebuah pulau terpencil di perairan Maluku. Pulau itu bernama Pulau Elang Hitam."
Ailen mencondongkan tubuhnya, kerupuk jengkolnya sudah ia letakkan kembali ke dalam toples. "Pulau? Emangnya Ayah saya punya pulau pribadi, Mas? Kok saya ditinggalin di panti asuhan dalam kondisi miskin amat ya, sampe kalau mau makan ayam goreng harus nunggu lebaran?"
"Karena pulau itu bukan tempat wisata, Ailen," sela Leon sambil membuka sebuah peta digital tiga dimensi. "Itu adalah benteng penyimpanan terakhir klan Gavrilov. Di sana tersimpan cetak biru seluruh jalur pasokan senjata ilegal Eropa Timur, beserta daftar hitam para pejabat korup dunia yang pernah bekerja sama dengan ayahmu. Siapa pun yang mendapatkan data di pulau itu, bisa mengendalikan setengah dari roda pemerintahan dunia hitam."
Leon menatap Ailen dengan tajam. "Itulah alasan kenapa Black Cobra dan klan Moretti begitu bernafsu memburumu. Kau bukan sekadar pewaris darah; sidik jari dan retina matamu adalah satu-satunya kunci biologis yang bisa membuka gerbang bawah tanah di pulau tersebut."
Ailen terdiam. Beban sejarah yang begitu besar mendadak mendarat di pundak kecilnya yang terbalut daster stroberi. "Jadi... kalau mereka tangkap saya, mereka bukan cuma mau bunuh saya? Mereka mau pake mata sama jempol saya buat buka pintu itu?"
"Ya. Dan setelah pintu terbuka, mereka pasti akan melenyapkanmu," ucap Leon, tangannya bergerak menggenggam jemari Ailen yang mendadak terasa dingin. "Itulah kenapa aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Kita yang akan pergi ke pulau itu terlebih dahulu. Kita amankan data itu, lalu kita hancurkan bentengnya agar tidak ada lagi yang bisa memburumu."
Untuk mempersiapkan perjalanan ke Pulau Elang Hitam yang dipastikan penuh dengan medan berbahaya, Leon memutuskan bahwa Ailen harus memiliki stamina fisik yang lebih baik. Sore harinya, halaman belakang Mansion Vancort diubah menjadi jalur rintangan militer.
Leon berdiri di tengah lapangan dengan membawa peluit dan sebuah stopwatch, menyerupai pelatih kebugaran yang kejam.
"Hari ini, latihan ketahanan fisik. Kau harus berlari mengitari halaman ini sebanyak sepuluh kali, merangkak di bawah jaring kawat, lalu melakukan lompat rintangan," ucap Leon tegas.
Ailen berdiri di garis start, mukanya ditekuk cemberut. "Mas, saya ini bakatnya lari dari kenyataan, bukan lari putar-putar halaman. Males ah, capek."
Leon tersenyum tipis—sebuah senyuman yang jarang membawa kabar baik bagi musuh-musuhnya. "Marco, lepaskan target simulasi."
Guk! Guk! Guk!
Dari arah kandang belakang, muncullah Bono, seekor anjing pelacak jenis Belgian Malinois berukuran raksasa milik tim keamanan Vancort yang terkenal sangat galak terhadap orang asing. Bono dilepaskan tanpa tali kekang, dan matanya langsung tertuju pada daster stroberi Ailen yang melambai-lambai ditiup angin.
"WADUH! MAS LEON CURANG! ITU BUKAN SIMULASI, ITU ANJING BENERAN!!!" teriak Ailen histeris.
Tanpa perlu diberi instruksi dua kali, Ailen langsung melesat lari dengan kecepatan yang melampaui rekor dunia lari cepat. Langkah kakinya begitu cepat hingga debu-debu di halaman belakang beterbangan. Ia melompati barikade kayu dengan sekali lompatan ala atlet parkour profesional, lalu merangkul pohon palem dan memanjatnya dalam hitungan detik saat Bono hampir berhasil menggigit ujung dasternya.
"Mas Leon! Panggil anjingnya! Nanti daster kesayangan saya robek!!!" jerit Ailen dari atas pohon palem sambil melemparkan buah palem kecil ke arah Bono di bawahnya.
Leon melihat stopwatch-nya dengan puas. "Waktu tempuhmu hanya empat puluh lima detik untuk separuh jalur rintangan. Sangat impresif, Ailen. Insting bertahan hidupmu memang berada di tingkat tertinggi jika dipicu oleh ketakutan terhadap robeknya daster."
Marco yang berdiri di sebelah Leon mencatat di papannya. "Metode pelatihan taktis Nona Ailen: Gunakan Bono. Efisiensi 200%."
Malam harinya, setelah Ailen selesai mandi dan mengganti dasternya dengan daster bermotif nanas (karena daster stroberinya terkena air liur Bono), mereka berkumpul di ruang makan. Karena Leon sudah mulai terbiasa dengan kegilaan Ailen, format makan malam mewah yang kaku kini telah runtuh sepenuhnya.
Meja makan panjang itu kini menyajikan menu lokal: sayur asem, sambal terasi, ayam goreng petasan, dan jengkol balado hasil request khusus Ailen ke koki mansion.
Leon, yang biasanya hanya menyentuh steak wagyu setengah matang atau salmon panggang, malam ini terlihat dengan santai menyendokkan sayur asem ke atas piring nasi putihnya. Ia bahkan tidak ragu untuk mengambil potongan jengkol menggunakan garpu peraknya.
"Mas Leon beneran doyan jengkol?" tanya Ailen, matanya berbinar melihat sang Bos Mafia makan makanan merakyat.
"Rasanya tidak seburuk reputasinya," jawab Leon dengan tenang setelah mengunyah potongan pertama. "Dan jika ini bisa membuatmu berhenti bersembunyi di bawah mejaku, aku bersedia memakannya setiap hari."
Ailen tersenyum lebar, wajahnya merona merah—kali ini bukan karena cemburu atau malu akibat suara kentut, melainkan karena rasa hangat yang menjalar di hatinya. Pria di depannya ini adalah seseorang yang mengendalikan hidup dan mati ratusan orang di luar sana, namun di sini, di meja makan ini, ia rela menurunkan seluruh gengsinya hanya untuk menyesuaikan diri dengan dunianya yang sekilas tampak konyol.
"Mas Leon," panggil Ailen pelan.
"Ya?"
"Nanti di Pulau Elang Hitam... kalau kita ketemu musuh yang banyak banget, Mas jangan lepasin tangan saya ya? Saya emang pinter lari, tapi saya cuma mau lari kalau Mas ada di samping saya."
Leon meletakkan garpunya. Ia menatap mata Ailen dengan ketulusan yang mutlak. "Aku tidak akan melepaskanmu, Ailen. Pulau itu mungkin adalah tempat di mana sejarah keluargamu dimulai, tapi bersamaku, itu akan menjadi tempat di mana masa depan kita dikunci dengan aman. Tidak akan ada Black Cobra, tidak akan ada Moretti yang bisa memisahkan kita."
Marco tiba-tiba berdehem dari arah pintu masuk, merusak momen romantis yang baru saja terbangun. "Maaf, Tuan, mengganggu makan malam jengkol Anda. Helikopter taktis siluman dan tim Alpha sudah siap untuk pemberangkatan darurat besok subuh menuju perairan Maluku. Semua paspor palsu dan identitas samaran Nona Ailen sebagai 'Pedagang Kerupuk Antar Pulau' sudah selesai diproses."
Ailen langsung tersedak kuah sayur asemnya. "Uhuk! Pedagang kerupuk antar pulau, Mas Marco?! Kenapa samaran saya nggak kerenan dikit sih, kayak agen rahasia boongan?"
"Itu adalah samaran paling logis mengingat apa yang terjadi di pabrik kerupuk kemarin, Nona," jawab Marco dengan wajah tanpa ekspresi sebelum membungkuk hormat dan pergi.
Leon hanya bisa terkekeh melihat wajah kesal Ailen. Ia mengacak-ngacak rambut Ailen dengan sayang. "Bersiaplah, 'Pedagang Kerupuk'-ku. Besok kita akan memulai petualangan terbesar kita."
Malam itu, di bawah atap Mansion Vancort yang kini telah bertransformasi, sang Iblis dan Gadis Semprulnya tidur dengan nyenyak. Mereka tahu badai besar menanti mereka di kepulauan timur, rahasia masa lalu akan terkuak, dan senjata-senjata akan kembali menyalak. Namun, selama mereka memiliki satu sama lain—dan persediaan sabun cuci piring yang cukup di dalam bagasi heli—mereka siap menghadapi kegilaan dunia apa pun yang menghadang di depan.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍