NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Komedi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Perhatian Li Zhen kemudian teralihkan oleh suara langkah kaki berat yang menyeret tanah dari arah jalan setapak di ujung halaman. Rombongan Tetua Yao akhirnya kembali muncul dari balik kabut senja, kondisi mereka jauh lebih mengenaskan daripada sekelompok mayat hidup yang bangkit dari kubur.

Kesebelas tetua pengambil air itu memikul tong kayu raksasa mereka dengan tubuh yang membungkuk hingga nyaris menyentuh tanah. Wajah mereka dipenuhi oleh luka bakar baru akibat percikan air mendidih yang kembali menyiram punggung mereka sepanjang perjalanan dari lembah kematian.

Lidah Tetua Yao menjulur keluar layaknya anjing kehausan, matanya berputar-putar tidak fokus karena dehidrasi dan kelelahan otot yang melampaui batas kewarasan. Dia memaksakan kakinya untuk terus melangkah, meskipun setiap pijakannya terasa seperti menginjak ribuan paku berkarat yang panas.

"S-Senior Agung... air panas mendidih... sudah kami ambil kembali..." racau Tetua Yao saat dia mencapai halaman paviliun. Pria tua berjubah hijau zamrud itu langsung ambruk berlutut, membiarkan rekan-rekannya menurunkan tong kayu raksasa dari punggungnya dengan susah payah.

Sepuluh tetua lainnya langsung bertumbangan di atas tanah berlumpur, dada mereka naik turun dengan sangat cepat seolah berusaha menyedot seluruh oksigen di udara. Erangan kesakitan yang sangat memilukan keluar dari bibir mereka yang pecah-pecah, meratapi nasib tragis yang memaksa mereka berlari puluhan mil tanpa sihir.

Li Zhen melangkah santai mendekati deretan tong kayu yang masih mengepulkan uap panas berwarna keputihan tersebut. Dia mencelupkan ujung jarinya ke dalam salah satu tong, merasakan suhu air yang kali ini benar-benar mendidih dan siap melepuhkan kulit manusia normal.

Namun, pil esensi darah yang pernah dia minum telah membuat tubuhnya kebal terhadap suhu ekstrem, sehingga air mendidih itu hanya terasa seperti air mandi yang sangat hangat baginya. Li Zhen menarik tangannya perlahan, mengibaskan sisa air di jarinya dengan ekspresi wajah yang datar dan sulit ditebak.

Tetua Yao menatap wajah pemuda itu dengan jantung yang berdebar kencang, takut jika alasan konyol akan kembali digunakan untuk menolak hasil kerja keras mereka. Dia meremas rumput liar di dekatnya, bersiap menerima hukuman mati jika iblis bermulut sampah itu kembali menyuruh mereka berlari ke lembah.

"Suhunya lumayan, meskipun masih belum mencapai standar kesempurnaan yang aku inginkan dari pelayanan sebuah sekte besar," ucap Li Zhen dengan nada angkuh. "Tapi karena aku sudah tidak tahan dengan bau badanku sendiri, aku akan menerima air rendaman ini untuk sementara waktu."

Mendengar persetujuan yang sangat merendahkan itu, Tetua Yao dan rombongannya menghembuskan napas lega yang panjang hingga mereka kembali menangis haru. Mereka merasa seolah baru saja mendapatkan pengampunan dari kaisar langit, tidak peduli bahwa harga diri mereka telah diinjak-injak hingga hancur menjadi debu.

[Ding! Target massal Tetua Pengambil Air mengalami sindrom ketergantungan mental dan kelegaan emosional yang menyedihkan. Mendapatkan +18.000 Poin Sampah.]

Li Zhen tersenyum miring melihat saldo poinnya yang terus bertambah tanpa henti, merasa bahwa kekuasaannya di sekte ini sudah sangat absolut. Dia menunjuk ke arah bak mandi batu meteorit raksasa itu dengan dagunya, memberikan perintah selanjutnya kepada para budak dewanya.

"Jangan hanya berbaring layaknya ikan mati, cepat tuangkan air panas itu ke dalam bak mandiku sekarang juga," titah Li Zhen tidak kenal ampun. "Dan pastikan tidak ada satu tetes pun air yang tumpah ke luar, atau aku akan menyuruh kalian menjilatnya sampai kering."

Para tetua pengambil air itu memaksakan diri untuk bangkit berdiri, menggunakan sisa-sisa energi terakhir mereka untuk mengangkat tong-tong kayu raksasa tersebut. Mereka berjalan tertatih-tatih mendekati bak mandi batu hitam itu, lalu mulai menuangkan air mendidih ke dalamnya dengan tangan yang gemetar parah.

Suara gemericik air panas yang membentur permukaan batu meteorit itu terdengar sangat nyaring, menciptakan kepulan uap putih yang langsung memenuhi halaman. Aroma belerang murni dari mata air lembah kematian menyebar di udara, mengalahkan bau keringat dan darah yang sebelumnya mendominasi tempat itu.

Kepala Sekte Zhao Wuji dan Tetua Lin hanya bisa menatap pemandangan itu dengan pandangan kosong, merasa bahwa dunia persilatan yang mereka kenal telah benar-benar kiamat. Pemuda tanpa kekuatan sihir ini telah membalikkan seluruh tatanan logika, mengubah penguasa menjadi pelayan dan artefak suci menjadi perkakas mandi.

Setelah seluruh air dari sebelas tong kayu itu dituangkan, bak mandi raksasa berbahan batu angkasa itu kini terisi penuh oleh air panas yang mengepulkan asap. Permukaan airnya beriak pelan tertiup angin senja, memantulkan cahaya matahari kembar yang akan segera tenggelam ke dalam kegelapan malam.

Li Zhen melangkah mendekati bak mandinya dengan senyuman puas, melepaskan ikatan jubah compang-campingnya yang sudah sangat kotor dan bau. Dia membiarkan jubah kasarnya itu jatuh begitu saja ke atas tanah merah, sama sekali tidak merasa malu bertelanjang dada di hadapan puluhan kultivator sakti.

Tubuh kurusnya yang pucat namun memiliki otot-otot padat berkat pil sistem kini terekspos di bawah cahaya senja. Para tetua sekte buru-buru menundukkan pandangan mereka, tidak berani menatap langsung tubuh pemuda yang mereka yakini sebagai perwujudan dewa kuno tersebut.

"Sekarang, kalian semua berbaliklah dan menghadap ke arah hutan, aku tidak butuh penonton saat aku sedang membersihkan diriku," perintah Li Zhen dengan suara lantang. Puluhan tokoh elit itu langsung memutar tubuh mereka serempak, berdiri kaku membelakangi bak mandi layaknya barisan penjaga istana yang sangat disiplin.

Li Zhen melangkah masuk ke dalam bak mandi batu meteorit itu, tubuhnya perlahan tenggelam ke dalam air mendidih yang langsung merilekskan seluruh otot-ototnya yang tegang. Dia mendesah panjang dengan sangat nikmat, menyandarkan kepalanya di tepi batu yang dingin sambil menatap langit malam yang mulai memunculkan bintang-bintang merah.

Botol sampo mawar fana di tangannya akhirnya dibuka, dan dia mulai menuangkan cairan merah muda itu ke rambutnya yang berantakan. Busa putih yang wangi mulai terbentuk di kepalanya, menciptakan kontras yang sangat konyol dengan suasana mistis dan magis di Benua Awan Surgawi ini.

Pemandian emas sang tiran bermulut sampah telah resmi dimulai, diiringi oleh keheningan para dewa yang berdiri menjaga di sekelilingnya dengan hati yang hancur lebur. Tidak ada satu pun buku sejarah di dunia kultivasi yang pernah mencatat penghinaan sehebat ini, dan Li Zhen sedang menulis aturannya sendiri di atas air mata mereka.

1
Juliet Espada
/Sob//Sob/
Juliet Espada
lucu
Irzad
👍👍
Irzad
bagus seru
king baca
👍👍
Andre
good
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!