Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Selene Menuduh Elara Palsu
Imperial Palace Hotel belum benar-benar tenang setelah pengakuan Damian.
Suasana ballroom masih dipenuhi bisik-bisik panas.
Para wartawan bergerak cepat menulis berita.
Investor saling bertukar pandang.
Dan nama Elara Vasiliev kini menjadi pusat seluruh percakapan malam itu.
Bahkan penghargaan yang baru saja ia terima mulai terasa kalah heboh dibanding satu kalimat Damian:
“Setiap hari.”
Kalimat sederhana.
Namun cukup untuk menghancurkan harga diri keluarga Moretti di depan publik.
Dan Selene…
tidak sanggup menerimanya.
Wanita itu berdiri beberapa meter dari tengah ballroom dengan napas tidak stabil.
Tangannya gemetar.
Matanya merah.
Namun bukan karena sedih lagi.
Melainkan karena marah.
Sangat marah.
Tatapannya tak lepas dari Elara yang masih berdiri tenang di bawah sorot lampu ballroom.
Elegant.
Tenang.
Dipuji semua orang.
Dan itu terasa seperti racun di mata Selene.
“Dia mengambil semuanya…”
gumamnya lirih.
“Semua…”
Seraphina langsung memegang lengannya.
“Selene. Cukup. Kita pulang sekarang.”
Namun Selene menepis tangan ibunya.
“Tidak.”
Nada suaranya berubah.
Dingin.
“Belum selesai.”
DEG.
Seraphina langsung merasa tidak nyaman.
Ia mengenal tatapan itu.
Tatapan saat Selene mulai kehilangan kendali.
Di sisi lain ballroom, beberapa investor masih mengelilingi Elara.
“Nona Elara, pidato Anda luar biasa.”
“Anda benar-benar membawa warna baru untuk Vasiliev Group.”
“Kami berharap bisa bekerja sama lebih jauh.”
Elara tersenyum sopan.
“Terima kasih.”
Jawabannya tetap singkat.
Tenang.
Namun justru sikap itu membuat orang-orang semakin menghormatinya.
Karena di ruangan penuh orang haus perhatian—
Elara terlihat seperti seseorang yang tidak perlu mencarinya.
Dan itu membuatnya berbeda.
Damian memperhatikan semua itu dari kejauhan.
Dadanya terasa aneh.
Ada bangga.
Ada sesak.
Dan ada penyesalan yang semakin sulit ia abaikan.
Dulu…
wanita itu pernah berdiri di sampingnya.
Diam.
Setia.
Berusaha diterima.
Namun ia terlalu buta untuk melihat cahaya yang dimiliki Elara sejak awal.
Kini seluruh dunia melihatnya.
Kecuali dirinya dulu.
“Lihat wajahnya.”
Cassian tiba-tiba berdiri di samping Damian sambil membawa wine.
“Siapa?”
“Kau.”
Cassian tertawa kecil.
“Kau terlihat seperti pria yang baru sadar rumahnya berlian setelah rumah itu dibeli orang lain.”
Damian menatap dingin.
“Berhenti bicara.”
Cassian mengangkat bahu santai.
“Sayangnya kenyataan tidak ikut berhenti.”
Namun sebelum Damian membalas—
suara keras tiba-tiba menggema di tengah ballroom.
“SEMUA INI PALSU!”
DEG!
Seluruh ruangan langsung menoleh bersamaan.
Dan di sana—
Selene berdiri di tengah ballroom dengan wajah penuh emosi.
Matanya langsung tertuju pada Elara.
“Apa maksudmu?”
Seorang sosialita berbisik pelan.
Namun Selene melangkah maju.
Suara heels-nya menggema keras di lantai marmer.
Dan semakin ia mendekat—
semakin suasana ballroom berubah tegang.
“Selene…”
Seraphina langsung mencoba menahannya.
Namun terlambat.
Karena malam itu…
Selene sudah memutuskan menghancurkan semuanya.
Ia berhenti tepat beberapa meter di depan Elara.
Tatapannya tajam penuh kebencian.
“Kau pikir semua orang bodoh?”
Sunyi.
Tak ada yang bicara.
Para wartawan bahkan langsung mendekat membawa kamera.
Insting mereka langsung bekerja.
Skandal baru dimulai.
Elara menatap Selene tenang.
“Apa yang kau inginkan?”
Jawaban datar itu justru membuat Selene semakin terbakar.
“Kau bukan Elara yang dulu!”
Bisik-bisik langsung menyebar.
“Apa maksudnya?”
“Dia mulai lagi…”
Namun Selene tak peduli.
Ia menunjuk Elara dengan tangan gemetar.
“Wanita ini palsu!”
DEG!
Ballroom langsung pecah oleh gumaman kaget.
“Aku mengenalnya!”
Suara Selene meninggi.
“Dia dulu cuma wanita biasa yang selalu berusaha menyenangkan semua orang!”
Tatapannya semakin tajam.
“Dia bahkan tidak tahu cara bicara di depan publik!”
Beberapa orang mulai saling pandang.
Namun Elara tetap diam.
Dan diamnya terasa jauh lebih menekan dibanding teriakan Selene.
“Kau pikir memakai gaun mahal bisa mengubah siapa dirimu sebenarnya?!”
Selene tertawa kecil sinis.
“Kau hanya sedang berpura-pura menjadi pewaris hebat!”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat ballroom membeku.
Karena tuduhan itu—
menyerang identitas Elara secara langsung.
Seraphina langsung maju cepat.
“Selene, cukup!”
Namun putrinya justru menepis tangan sang ibu lagi.
“Kenapa harus diam?!”
Air matanya jatuh.
“Semua orang di sini tertipu olehnya!”
Tatapannya kembali pada Elara.
“Dia bukan wanita kuat!”
suara Selene bergetar marah,
“Dia hanya wanita menyedihkan yang kebetulan mendapat nama belakang Vasiliev!”
BRAK!
Salah satu wartawan bahkan hampir menjatuhkan kameranya sendiri karena tegang.
Semua orang menunggu reaksi Elara.
Namun wanita itu…
tetap tenang.
Terlalu tenang.
Dan itu justru membuat Selene terlihat semakin kacau.
“Apa kau selesai?”
Akhirnya Elara bicara.
Nada suaranya rendah.
Dingin.
Dan entah kenapa—
kalimat pendek itu langsung membuat seluruh ruangan diam lagi.
Selene membeku sesaat.
Namun egonya terlalu besar untuk berhenti.
“Kau pikir semua ini nyata?”
Ia tertawa sinis sambil menunjuk ballroom.
“Orang-orang ini hanya tertarik karena kau pewaris Vasiliev!”
Tatapannya menusuk.
“Kalau kau tetap jadi wanita miskin yang dulu…”
ia tersenyum kejam,
“…tak ada satu pun dari mereka yang akan melihatmu.”
DEG.
Beberapa sosialita mulai terlihat tidak nyaman.
Karena kalimat itu terdengar terlalu personal.
Terlalu penuh iri.
Dan terlalu memalukan.
Namun Elara hanya menatap Selene lurus.
Lalu perlahan…
tersenyum tipis.
Dan senyum itu membuat Selene mendadak gelisah.
Karena bukan senyum marah.
Bukan juga senyum terluka.
Melainkan…
senyum seseorang yang akhirnya mengerti sesuatu.
“Kau benar.”
DEG!
Semua orang langsung terkejut.
Bahkan Damian mengangkat kepala cepat.
Selene sendiri terlihat bingung.
“Apa?”
Elara melangkah pelan mendekatinya.
“Kau benar.”
Tatapannya tenang.
“Dulu aku memang wanita biasa.”
Sunyi.
“Kau juga benar…”
ia melanjutkan,
“…aku dulu terlalu sibuk berusaha diterima.”
Kalimat itu membuat Damian langsung menegang.
Karena tanpa sadar—
ia merasa ditampar.
“Tapi ada satu hal yang salah dari semua ucapanmu.”
Kini suara Elara berubah lebih tajam.
Lebih dalam.
“Perubahanku bukan palsu.”
Tatapannya lurus menembus mata Selene.
“Ini diriku… setelah berhenti hidup untuk menyenangkan orang lain.”
DEG!
Seluruh ballroom langsung sunyi total.
Beberapa investor mulai mengangguk pelan.
Beberapa wanita bahkan terlihat terpukul mendengar kalimat itu.
Karena terlalu nyata.
Terlalu jujur.
Selene tertawa kecil paksa.
“Kau hanya pandai bicara sekarang.”
“Mungkin.”
Elara mengangkat alis tipis.
“Karena akhirnya aku belajar bahwa diam tidak pernah menyelamatkanku.”
Kalimat itu menghantam lebih keras.
Dan Damian…
tak mampu mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Selene mulai kehilangan pijakan.
Ia bisa merasakan suasana ruangan berubah.
Orang-orang tidak lagi memandang Elara dengan curiga.
Mereka justru mulai simpati.
Dan itu membuatnya panik.
“Apa kalian semua tidak sadar?!”
Ia menoleh ke para tamu.
“Dia berubah terlalu cepat!”
Tak ada yang menjawab.
Selene semakin frustrasi.
“Orang seperti dia tidak mungkin tiba-tiba jadi pemimpin hebat!”
Cassian tiba-tiba terkekeh kecil dari belakang.
“Kenapa tidak?”
Tatapan semua orang langsung bergerak padanya.
Pria itu berjalan santai mendekat.
“Terkadang orang paling kuat…”
ia melirik Elara sekilas,
“…adalah orang yang terlalu lama dipaksa merasa kecil.”
DEG.
Selene langsung menatap Cassian tajam.
“Kau membelanya?”
Cassian tersenyum santai.
“Aku hanya alergi pada drama murahan.”
Beberapa orang langsung menahan tawa.
Dan wajah Selene makin memerah.
“Cukup.”
Suara Seraphina akhirnya terdengar dingin.
Ia maju berdiri di depan putrinya.
Tatapannya tajam pada Elara.
“Maaf atas emosi Selene.”
Nada suaranya sopan.
Namun penuh tekanan tersembunyi.
“Dia hanya kesulitan menerima perubahan.”
Elara tersenyum tipis.
“Aku juga dulu kesulitan menerima penghinaan.”
DEG!
Kalimat itu langsung menusuk telak.
Beberapa sosialita bahkan langsung pura-pura minum wine agar tidak terlihat terlalu menikmati situasi.
Seraphina menegang.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
ia sadar mereka tidak lagi berhadapan dengan Elara yang dulu.
Wanita ini sekarang tahu cara menyerang balik.
Dan lebih berbahaya lagi—
ia melakukannya tanpa kehilangan kelas.
Selene mulai bernapas cepat lagi.
Karena semakin lama…
semakin jelas ia kalah.
Kalah elegan.
Kalah tenang.
Dan kalah dihormati.
“Damian…”
Suara Selene melemah.
Ia menoleh pada pria itu seperti mencari bantuan terakhir.
“Kau tahu dia dulu seperti apa…”
Ballroom kembali sunyi.
Semua orang kini menunggu jawaban Damian.
Dan pria itu perlahan berjalan maju.
Tatapannya jatuh pada Elara beberapa detik.
Lalu pada Selene.
“Aku memang mengenalnya dulu.”
Nada suaranya rendah.
Selene langsung terlihat berharap.
Namun harapan itu hancur di detik berikutnya.
“Dan justru karena itu…”
Damian menatap Elara dalam,
“…aku tahu dia tidak palsu.”
DEG!
Selene membeku.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
“Dulu dia selalu mengalah.”
Damian melanjutkan pelan.
“Selalu diam.”
Tatapannya semakin berat.
“Tapi bukan karena lemah.”
Kini seluruh ballroom benar-benar diam mendengarkan.
“Dia hanya terlalu baik pada orang yang tidak pantas mendapatkannya.”
BRAK!
Kalimat itu terasa seperti ledakan.
Karena semua orang tahu—
Damian sedang bicara tentang keluarganya sendiri.
Seraphina langsung menegang.
“Damian…”
Namun pria itu tak berhenti.
“Aku melihatnya berubah.”
Tatapannya tetap pada Elara.
“Dan perubahan itu nyata.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Damian tersenyum kecil pahit.
“Hanya saja…”
suaranya melemah,
“…aku terlambat menyadarinya.”
DEG.
Ruangan kembali dipenuhi bisik-bisik.
Dan Selene…
akhirnya benar-benar hancur malam itu.
Air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini bukan karena marah.
Melainkan malu.
Karena pria yang ia cintai…
baru saja memilih membela Elara di depan seluruh kota.
“Ayo pulang.”
Seraphina berkata dingin sambil menarik tangan putrinya.
Namun sebelum pergi—
Selene menoleh sekali lagi pada Elara.
Tatapannya penuh kebencian.
“Aku tidak akan kalah darimu.”
Elara menatapnya tenang.
“Aku tidak pernah menganggap ini kompetisi.”
Kalimat itu…
lebih menyakitkan dari penghinaan apa pun.
Karena artinya—
Selene bahkan tidak lagi dianggap ancaman.
Dan malam itu…
di depan seluruh elit kota—
Selene gagal menjatuhkan Elara.
Sebaliknya…
ia justru membuat semua orang semakin yakin bahwa Elara memang pantas berada di puncak.
d psahkn dr bayi,rbut soal hrta....
tp mga aja kmbaran elara bkln jd plindung buat elara jg,biar para msuh ga brani ngusik mreka lg...
tp ga ush mksa jg kaleee....seribu maaf jg ga bs mnyembuhkn luka elara d msa lalu...mndingn mnjauh smntra,biarkn elara tnang...toh kl jdoh jg ga akn kmna kan?????
kl sdar y sukur,kl ga ya wasalam.....🙄🙄🙄
Ayo cari ide lain yg lbih konyol.....😛😛😛
enth dpt uang dr mna smp bsa mndtangkn orng hbat,hnya untk mnjtuhkn elara....yg msti d tes tu bkn elara,tp dia sndri....kira2 otaknya udh pndah kmna????
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....