Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Awal Dari Ujian
Pagi itu…
Seluruh murid dikumpulkan di aula utama akademi.
Ruangan besar itu biasanya dipenuhi suara latihan dan perintah, namun hari ini suasananya berbeda. Lebih padat. Lebih hidup. Murid dari berbagai tingkat berdiri dalam barisan panjang, membentuk deretan yang hampir memenuhi seluruh ruangan.
Suara bisikan terdengar di mana-mana.
Penuh rasa penasaran.
Penuh antisipasi.
Sakura berdiri di barisan paling belakang.
Seperti biasa.
Namun tidak seperti biasanya ia tidak menunduk.
Matanya terangkat.
Memperhatikan.
Mengamati.
Tidak lagi hanya berusaha menghilang.
Di depan seorang instruktur melangkah maju.
Langkahnya mantap.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Dalam waktu dekat…”
Suaranya bergema.
Jelas.
“…akan diadakan turnamen akademi di akhir semester.”
Hening.
Sejenak saja.
Lalu GEMURUH
Suasana langsung meledak.
“Serius?!” “Akhirnya juga!” “Tahun ini pasti lebih gila!”
Sorakan, tawa, dan bisikan bercampur menjadi satu.
Sakura sedikit terkejut.
“…Turnamen…?”
Ia belum pernah mengikutinya.
Ia bahkan belum pernah membayangkan dirinya berada di arena itu.
Namun sesuatu di dalam dirinya bergerak.
Instruktur melanjutkan,
“Turnamen ini akan menentukan peringkat… dan masa depan kalian di akademi ini, maka dari itu kalian semua harus mempersiapkan diri dengan sangat baik, karena semuanya akan hadir termasuk Keluarga Kerajaan Averion dan Keluarga bangsawan lainnya.”
Suasana langsung berubah.
Sorakan mereda.
Digantikan keseriusan.
Beberapa murid saling menatap.
Beberapa lainnya mulai menghitung kemungkinan.
“Semua murid wajib berpartisipasi karena semua yang kalian pelajari dan kalian latih akan dikerahkan semua di turnamen ini .”
Sakura menegang.
“…Semua…?”
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Ia tidak bisa menghindar.
Tidak bisa bersembunyi.
Tidak kali ini.
Di sisi lain ruangan Claudia berdiri dengan tenang.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Tatapannya langsung mengarah ke Sakura.
“Menarik…”
Bisiknya pelan.
Matanya menyipit.
Seolah menemukan sesuatu yang layak diperhatikan.
Setelah pengumuman lorong kembali ramai.
Percakapan terdengar di mana-mana.
“Claudia pasti menang lagi.” “Sudah jelas.” “Tidak ada yang bisa menandingi dia.”
Nama itu berulang.
Seperti sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan.
Sakura berjalan pelan.
Namun kali ini ia tidak merasa kecil.
Tidak seperti dulu.
Tangannya mengepal sedikit.
“…Turnamen…”
Kata itu terasa berat.
Namun juga menarik.
Sesuatu di dalam dirinya tidak menolak.
Malam hari.
Ruang alkimia.
Cahaya lampu berpendar lembut.
Sakura berdiri di depan meja.
Kaelen memperhatikannya dari kejauhan.
“Kau mendengar pengumuman itu.”
Sakura mengangguk.
“…Ya.”
Hening sejenak.
“Kalau begitu,” lanjut Kaelen,
“latihan kita akan sedikit berubah.”
Sakura menatapnya.
“…Lebih berat?”
“Lebih fokus.”
Jawaban itu singkat.
Namun tajam.
“Kalau kau ingin bertahan di turnamen…”
Tatapan Kaelen menajam.
“…kau harus bisa mengendalikan apa yang sudah kau miliki.”
Sakura menarik napas pelan.
“…Mengendalikan…”
Ia mengangguk.
Latihan dimulai.
Sakura berdiri.
Mengangkat tangannya.
Menutup mata.
Fokus.
Napas.
Aliran.
Ia mengingat sensasi sebelumnya, pergerakan halus di dalam tubuhnya.
Aliran hangat yang perlahan bergerak.
Ia tidak memaksa.
Ia menunggu.
Beberapa detik, tidak ada apa-apa.
Namun ia tidak panik.
Ia tetap tenang.
Dan perlahan
Sssst…
Angin kecil muncul.
Lebih stabil dari sebelumnya.
Tidak langsung buyar, Sakura membuka mata.
Ia tidak terkejut.
Tidak panik.
Hanya…
fokus.
“Pertahankan,” kata Kaelen.
Sakura mengangguk.
Angin itu berputar pelan di telapak tangannya.
Lemah.
Namun hidup.
Detik berlalu.
Sepuluh detik…
Lima belas…
Dua puluh…
Sakura menggertakkan gigi.
Keringat mulai mengalir.
Namun ia tidak melepaskannya.
Ia tidak memaksanya tapi juga tidak membiarkannya hilang.
Ia menahannya.
Menjaganya tetap ada.
“Bagus.”
Suara Kaelen pelan.
Namun cukup.
Cukup untuk membuat Sakura bertahan lebih lama.
Beberapa detik kemudian Angin itu akhirnya menghilang, Sakura langsung terengah, tubuhnya sedikit goyah.
“…Lebih lama…”
Ia menatap tangannya.
Ada rasa puas kecil.
Kaelen mengangguk.
“Perkembangan.”
Namun tatapannya tetap dalam.
Menghitung.
Menilai.
Hari-hari berikutnya latihan terus berlanjut.
Tidak cepat.
Tidak drastis.
Namun pasti.
Sakura mulai:
Menahan elemen lebih lama.
Memanggilnya lebih cepat.
Mengurangi rasa sakit.
Namun tidak selalu berhasil.
Ia masih gagal.
Masih kehilangan fokus.
Masih jatuh.
Namun ia selalu bangkit.
Setiap kali.
Tanpa kecuali.
Di sisi lain Claudia berdiri di arena latihan.
Tangannya terangkat.
Cahaya berkumpul.
Lebih terang dari sebelumnya.
Lebih padat.
Lebih tajam.
“Lagi.”
Ia menembakkan serangan.
BOOM
Dinding target retak.
Lebih dalam.
Lebih jelas.
Fuko berdiri di sampingnya.
Sedikit mundur.
“Kamu makin kuat…”
Claudia tidak menjawab.
Tatapannya dingin.
“…Masih belum cukup.”
Ia menutup matanya sejenak.
Dan di dalam pikirannya satu bayangan muncul.
Sakura.
Tatapan itu.
Perubahan itu.
“…Aku tidak akan kalah.”
Ia membuka mata.
Cahaya di tangannya muncul lagi.
Namun kali ini lebih tajam.
Lebih agresif.
Sedikit… tidak stabil.
Kembali ke Sakura.
Malam hari.
Langit gelap.
Angin berhembus pelan.
Sakura berdiri sendirian di luar.
Tidak di ruang alkimia.
Tidak ada Kaelen.
Hanya dirinya, ia mengangkat tangannya.
Menutup mata.
Mencoba lagi.
Aliran itu datang.
Lebih mudah.
Lebih alami.
Sssst…
Angin kecil muncul.
Lemah.
Namun stabil.
Sakura tersenyum tipis.
“…Aku harus lebih kuat…”
Angin itu berputar pelan.
Dan untuk pertama kalinya itu bukan karena dipaksa.
Tapi karena kemauannya sendiri.
Di kejauhan Kaelen berdiri dalam bayangan.
Mengamati.
“…Perubahan…”
Matanya menyipit.
Namun di dalam pikirannya perhitungan terus berjalan.
Turnamen.
Waktu.
Dan sesuatu yang lebih besar yang semakin mendekat.