"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Seharian ini hari Rea berjalan dengan tidak baik. Gara-gara kejadian di kamar artis tadi, pekerjaan Rea jadi kacau. Ia bahkan mendapat komplain dari tamu karena lupa mengganti handuk yang sudah kotor.
"Yo opo kon ki, kerjo ra bener ngono?" (Kenapa kamu tu, kerja kok nggak bener.) Di ruang HK office, Hana langsung mengintrogasi Rea. Sebelumnya kerja Rea selalu baik dan teliti. Baru kali ini Rea kena komplain.
"Mikirno masmu, po o?" (Mikirin abngmu, ya?)
Rea hanya mampu menjawab pertanyaan Hana dengan tatapan sendu. Hana pun bisa mengerti apa yang Rea rasakan, karena mereka berasal dari keluarga yang sama-sama tidak punya.
"Mengko melok aku, yo!" (Nanti ikut aku, ya!)
Rea menatap bingung, penuh tanya.
"Wes lah, gak sah bingung ngono. Melok wae." (Udahlah, nggak usah bingung begitu, ikut saja.) Hana menaik turunkan alisnya seakan menggoda Rea.
Mereka kembali kerja sampai jam pulang tiba. Seperti kata Hana, Rea harus ikut dengannya.
"Kita mau ke mana?" Rea masih belum tahu ke mana Hana akan mengajaknya.
"Pokok e rasah kakean cangkem kon. Manut wae, mesti uenak," jawab Hana, sembari mengemudikan motornya, dengan membonceng Rea. (Pokoknya jangan banyak omong, ikut saja, pasti enak.")
Rea tak lagi banyak bicara. Ia hanya diam sebagai penumpang, menurut ke mana supir akan membawanya.
Motor matic milik Hana berhenti di sebuah rumah makan Lamongan di pinggir jalan. Bukan warung Lamongan biasa, ini adalah warung Lamongan terkenal dan banyak dikunjungi orang-orang besar.
Rea turun dari motor, ia melepaskan helm yang sejak tadi menjadi pelindung kepalanya.
"Ke sini?" tanya Rea tak percaya.
Hana mengangguk yakin.
"Kamu punya duit?" Jujur Rea ragu, sebab ia tahu kondisi Hana sebelas dua belas dengannya. Apa lagi di tanggal tua begini.
Dengan bangga, Hana mengeluarkan lembaran uang dari dalam tasnya. Ia mengibaskan tiga lembar uang seratus ribuan ke depan muka Rea.
"Aku oleh tip, makane kon tak traktir. Ben gak mumet mikirno mbakmu sek koyo bedhes."
Rea masih tak percaya. "Kayaknya nggak usah deh, duitnya kamu simpan aja. Katanya mau ganti ban motor yang sudah halus."
Rea tak ingin membuat orang lain susah karena masalahnya. Ia cerita dan didengar saja sebenarnya sudah sangat berterima kasih, tak perlu orang lain ikut merasakan kesusahannya.
"Uwes, ra usah koyo ngono. Ayo mlebu!" Hana manarik tangan Rea, memaksa masuk warung Lamongan yang begitu terkenal.
Hana bahkan meminta Rea agar tak sungkan memesan. Uang tiga ratus ribunya pasti cukup untuk membuat mereka kenyang dan puas.
"Ayo makan, kamu pasti sudah lapar, iya, kan?" ujar Hana, meski berbahasa Indonesia, tapi logat jawa timurnya masih begitu kental terdengar.
Rea tak mengelak. Ia mengangguk saja, karena memang ia lapar. Biasanya ia hanya bisa menahan laparnya karena setelah pulang kerja ia tak makan lagi.
Rea dan Hana begitu menikmati makan yang mereka pesan. Hana memesan menu ikan kakap bakar dan Rea ikut saja menu yang Hana pesan.
Saat asyik makan sembari mengobrol, ada keramaian rombongan datang. Mata Rea tertuju pada rombongan itu. Seketika Rea menunduk saat ia beradu pandang dengan seseorang yang sebelumnya bertemu.
"Kon ngopo?" Hana menyadari sikap Rea.
"Enggak kenapa-kenapa," elak Rea.
Ia pun lanjut makan dengan berusaha mengabaikan rombongan yang mengambil duduk di sebelah Rea.
"Re, nanti kalau sudah ada info kerja kamu tak kabari. Aku sudah bilang ke sepupuku yang kerja di restoran Cina, katanya kalau malam rame, jadi dengar-dengar mau cari orang lagi, siapa tahu kamu cocok." Sembari makan Hana bercerita.
"Tapi kamu sudah bilang kalau aku maunya part time?"
"Uwes, wes mudeng dek e."
Rea mengangguk saja. Untuk saat ini, kerja tambahan apa pun selama bisa diatur dengan jadwal kerjanya di hotel akan Rea ambil. Ia benar-benar butuh uang.
Mendadak meja di sebelah Rea menjadi ramai, karena ada yang menyadari kehadiran artis terkenal di rumah makan ini. Hana yang tadinya hanya fokus pada kakap di piringnya, ikut mencari tahu melalui pandangan matanya.
"Ono opo, Re?"
Rea menggeleng. "Nggak tahu, artis mungkin."
"Oh ... artis siapa?"
Rea mengangkat kedua bahunya. "Udah buruan habisin, kita pulang besok harus masuk kerja lagi."
Hana mengacungkan jari jempolnya sebelum lanjut makan menghabiskan kakap pesanannya.