NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: tamat
Genre:Akademi Sihir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Karma itu ada

" Jadi kau habis mengutuk seorang yang menghina kaum kita? " Ulang William kepada sosok gadis yang berbalut selimut.

Selepas pertemuan tadi, Wiliam langsung membawa gadis tersebut ke rumah yang ia huni saat ini rumah yang begitu besar dan hanya lelaki tersebut yang tempati.

Lelaki tersebut tampak tidak jauh berbeda dari di dunia sihir dan satu lagi, hatinya menghangat kala melihat foto yang di pajang di Ruang keluarga yang lebar tersebut foto keluarga baru seorang kaka tingkatnya

" Kamu bahagia ka jadi Manusia? " Tanya Evelyn dengan nada sendu. Wiliam meletakkan cokelat panas yang ia buat di meja " Bahagia sangat " Sahut Wiliam

Buliran air mata mengalir deras dari pelupuk mata gadis tersebut, ia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Membuat Wiliam dengan peka mengelus punggung gadis tersebut

" Dunia ini begitu kejam bila kita tidak kuat!, kamu itu terkuat yang pernah ada di Akademi sihir jadi kuatlah di dunia ini! " Kata Wiliam membuat gadis tersebut mendongakkan kepalanya. " Tapi aku bodoh! "

" Kamu tidak bodoh, kamu hanya salah langkah dan salah langkah itu bisa kamu perbaiki!. " Jelas William ia menarik kursi makan lalu ia menaruh bobotnya.

" Gini, ibarat nya kamu adalah gambaran yang sempurna tetiba sang penggambar salah mewarnai rambut kamu menjadi ungu. Dan apa langkah yang harus di lakukan sama penggambar tersebut? " Tanya Wiliam

" Mengganti ulang lukisannya dan melukis yang lebih sempurna! "

" Nice kamu sangat pintar kitapun harus seperti itu, ganti dirimu yang dulu menjadi lebih baik! " Kata Wiliam penuh semangat

Tatapan Evelyn merendah,

" Apakah aku bisa? "

" Bisa sangat! "

" Ajari aku! "

" Pastinya adik manis! " Evelyn terperangah dengan tindakan Wiliam yang menjawil hidung nya, membuat Evelyn terhanyak mendapat kan perilaku tersebut ia jadi teringat oleh sosok Martin walaupun dingin sosok tersebut. Membuat dirinya nyaman,

sementara itu, Quenza di hinggapi oleh beribu-ribu ketakutan ia menatap wajahnya di cermin di kamar nya ia menggeleng kan kepalanya seolah menegaskan bahwa apa yang dikatakan gadis itu hanyalah omong kosong belaka

Namun ingatan, mengingat kan nya dengan sumpahan seorang penyihir yang dimana dirinya pernah. Membuat wanita itu tersakiti dan membuat wanita itu menyimpan dendam dan mengutuk anak satu-satunya,

" Kalau sampe benar gimana?, kutukan itu? Aku harus apa? " Tanya Quenza penuh ketakutan ia mencoba untuk menghampas semua ketakutan nya namun tidak bisa.

Tetiba perutnya bergelonjak, membuat dirinya merasa tidak nyaman ia mengelus perutnya itu yang teramat rasa sakit sekali.

" Martin!.. Pelayan! " Pekik Quenza ia meremas piyama yang ia kenakan, seoalah ada sesuatu yang menusuk-nusuk perutnya.

" Ya nyonya " Kata pelayan rumahnya yang bergegas masuk, ia terbelalak saat melihat sebuah cairan kental berwarna merah berbau amis tersebut yang mengalir dari. Kemaluan Quenza hingga kebetis,

" Akhh!!, sakitt sakitt " Pekik Quenza meremas piyama nya

" Nyonya, kenapa? " Tanya pelayan tersebut tergagap-gagap ia begitu ngeri melinao darah tersebut. " Tolong sakit.. Tolong! " Pekik Quenza tubuhnya bergetar penuh kesakitan

" Baik Nyonya! " Dengan sabar para pelayan. Menggotong tubuh wanita tersebut lalu, membaringkan nya di ranjang.

" Bersihkan Darahnya! " Titah Quenza sembari memeluk perutnya yang terasa sakit.

Sebagai seorang bawahan mereka, menuruti apa kemaun wanita tersebut sementara yang lainnya menelefon dokter keluarga. Tetiba tubuh Quenza menegang matanya melotot tajam membuat semua pelayan bergedik ngeri melihatnya,

Tubuh tersebut melayang dengan sendirinya seolah ada, yang menariknya Quenza bergumam " Akhh. Tolong! "

Brukk!

" Akhh! "

" Nyonya!! "

Tubuh tersebut terbanting begitu saja, hingga keluar dari jendela. Kamarnya Quenza terbanting keluar dari kamar yang di depan jendela itu adalah kolam renang, ia meraung kesakitan para pelayan bergegas mendekati nya namun seolah tidak ada yang bisa menyentuh nya setiap di sentuh tubuh nya terapung ke atas.

" Sakit.. Sakit.. Kalian perkerja tidak becus bawa saya ke kamar! " Pekik Quenza sembari berusaha untuk bangkit, saat ingin bangkit sebuah tarikan. Membuatnya terjatuh ke dalam air

" Nyonya! " Pekik semuanya

" Telepon Tuan Muda! " Yang lainnya bergegas menelepon Martin sementara yang lainnya berusaha, mengambil Quenza yang dimana tubuh nya seret air kolam renang.

" Akhh. Sakit!! "

Tetiba air di kolam renang tersebut, masuk ke dalam perut nya hingga perutnya membesar Quenza menggeleng kan kepala nya ia meraba perutnya yang membengkak hingga baju yang ia kenakan robek.

" Ngga!! " Pekik Quenza bagaikan orang kehilangan akalnya.

" Perutku!, kenapa??.. Ngga nggaa!! " Akhirnya matanya terpejam

" Nyonya, nyonya sadar! " Kata beberapa pelayan yang bergegas mengambil tubuh tersebut dari kolam renang. Dengan hati-hati. Menaruhnya di kamarnya kembali,

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!