Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang rawat VIP
Pukul 13:48, siang. Nadia akhirnya siuman. Matanya berkedip beberapa kali dan hal pertama yang dia lihat tentu plafon putih bersih yang jelas bukan plafon kamarnya.
Tangan kanannya bergerak untuk memijat kening yang terasa sakit. Sekilas Nadia melihat perban di bawah siku tangan kanannya itu.
"Aku...." matanya kembali menutup rapat. Saat itu juga Nadia mulai mengingat rangkaian kecelakaan yang dialaminya kemarin sore.
"Em... Eung..."
Suara seraknya itu didengar oleh suster yang berjaga. Suster itu pun segera mendekati Nadia.
"Dek Nadia! Dek Nadia sudah siuman."
Nadia belum merespon karena masih sibuk dengan berbagai hal dalam kepalanya.
"Dek Nadia bisa melihat dan mendengar saya?" Melambaikan tangan tepat di depan wajah Nadia.
Pada akhirnya Nadia merespon dengan mengangguk pelan.
"Dek Nadia merasa pusing atau mual?" tanya suster itu yang di respon lagi dengan gelengan kepala oleh Nadia.
"Bagus. Kondisi detak jantung normal. Dek Nadia sudah bangun." Suster itu segera menekan tombol untuk memberi tahu dokter bahwa pasien di ruang itu sudah siuman.
Nadia melirik sekelilingnya. Dan seketika dia mengerti saat ini dia berada di ruang VIP.
"Suster, berapa lama saya tidak sadarkan diri?"
"Belum 24 jam. Sekarang hampir jam dua siang."
"Ini... ini ruang VIP kan?" tanya Nadia ragu.
"Iya betul, dek Nadia sekarang di rawat di ruangan VIP rumah sakit Sentra Medika."
"Mengapa saya bisa di ruangan ini, Suster?"
"Tentang itu saya kurang tau. Ada baiknya dek Nadia bisa bertanya pada bagian administrasi. Kami hanya di perintahkan membawa dek Nadia ke ruangan ini setelah Dokter selesai melakukan tindakan pada beberapa bagian luka di tubuh dek Nadia."
Keningnya kembali mengerut, dia tidak pusing, hanya bingung dengan keadaan saat ini.
"Suster tahu siapa yang membawa saya ke rumah sakit?"
"Katanya sih yang membawa dek Nadia ke sini pemilik mobil yang dek Nadia tabrak kemarin sore."
Nadia mengangguk paham. "Korban lainnya dimana, Sus?"
"Korban?" Suster itu sempat bingung beberapa saat. "Oh korban yang ikut tabrakan juga?"
"Iya, Suster." Angguk Nadia penasaran.
"Oh semua korban juga di rawat di sini kemarin. Tapi mereka sudah pulang tadi pagi."
"Keadaan mereka seperti apa, Suster?"
"Mereka baik-baik saja. Tidak ada cidera serius. Hanya beberapa luka ringan saja."
Nadia menghela napas lega karena kecelakaan yang dia sebabkan tidak ada korban jiwa.
"Halo Nadia!" Sapa Bastian yang baru saja masuk ke ruangan itu. Bastian, dokter yang menangani Nadia.
"Iya, Dokter." sahut Nadia pelan.
Bastian mendekat. "Apa Nadia merasa pusing atau mual?"
"Tidak, Dokter."
"Bagus. Boleh saya periksa sebentar!" menyentuh kepala Nadia yang di perban.
Nadia tidak menjawab, dia hanya diam membiarkan dokter memeriksanya.
Bastian hanya memastikan luka di kepala Nadia tidak lagi mengeluarkan darah. Dia juga memeriksa apakah ada memar atau benjolan di area kepala, tengkuk leher belakang dan bawah mata Nadia.
"Nadia ingat apa yang terjadi kemarin?"
"Ingat, Dokter."
Bastian mengangguk. "Apa Nadia ingat kepala Nadia terbentur benda keras?"
Sebentar Nadia memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian sore itu. "Iya, dokter. Seingat saya, kepala saja sepertinya terbentur tiang listrik."
Bastian mengangguk. "Apa benturannya keras?"
Nadia menggeleng ragu. "Saya tidak ingat."
"Baiklah, tidak apa. Lalu, apa Nadia merasakan sakit atau nyeri di bagian kaki, tangan atau punggung?"
Nadia mencoba menggerakkan kakinya dan melakukan peregangan ringan pada punggungnya. "saya tidak merasakan sakit atau nyeri apapun, dokter."
"Baiklah, itu cukup bagus. Tapi, karena menurut keterangan saksi, tubuh Nadia terpental keras, saya menyarankan Nadia melakukan rontgen. Takutnya ada bagian luka pada tulang dan sendi. Juga CT-scan kepala, luka kepala Nadia dijahit dengan empat jahitan. Saya khawatir ada hal lain di kepala Nadia."
"Baik, dokter." jawab Nadia patuh.
"Suster, tolong tetap pantau Nadia. Jika dia mengalami muntah, atau pusing, segera panggil saya!"
"Baik, dokter."
"Nadia, saya permisi. Kita lakukan rontgen dan CT-scan satu jam kedepan."
"Berarti saya belum boleh pulang, Dokter?"
Bastian tersenyum ramah. "Belum. Kamu boleh pulang kalau sudah selesai pemeriksaan."
"Baik dokter."
Sebelum keluar dari ruangan itu Bastian menatap wajah Nadia yang tampak bingung. "Ada apa Nadia? Apa ada keluhan lain yang kamu rasakan?"
Nadia menggeleng cepat. "Saya hanya bingung, mengapa bisa di rawat di ruangan ini, Dokter?"
Bastian tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Tentang itu saya tidak tau. Nanti Nadia bisa langsung bertanya pada bagian administrasi."
Nadia terdiam. *Gimana bayarnya. Pasti mahal. Mana uang sudah menipis.
Setelah bastian pergi, Nadia mulai menanyakan beberapa pertanyaan pada Suster yang menjaganya.
"Suster, apa tagihan pengobatan semua korban kecelakaan yang saya sebabkan dan biaya perawatan saya, semua saya yang tanggung?"
"Soal itu saya juga kurang tau, lebih baik nanti dek Nadia tanya pada bagian administrasi langsung."
Oh tuhan, sepertinya semua uang yang aku tabung selama ini akan segera hilang. Ini baru berurusan dengan rumah sakit. Belum dengan kepolisian. Kecelakaan beruntun ini pasti melibatkan polisi kan? Ya ampun. Pemilik mobil itu pasti sudah melapor. Bagaimana ini?!
Bersambung...