Ren Abraham, seorang anak laki-laki yatim piatu bertekad untuk menjadi kuat setelah desanya di hancurkan oleh para penyembah iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pendeta Merah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monokel Penilaian
Setelah beberapa saat pencarian, Ren akhirnya tiba di depan toko artefak yang Evan bicarakan waktu itu, itu adalah sebuah toko yang memiliki dua lantai, temboknya terbuat dari batu berwarna cokelat kehitaman, atap kayu yang di buat curam dengan cerobong asap yang terus mengeluarkan asap putih, jendela sederhana di tempatkan dengan rapi di kiri dan kanan pintu.
Ren masuk dan melihat banyak barang, semuanya di tempatkan saling berdekatan hingga membuat ruangan terlihat sempit, ada lemari khusus yang berdempetan dengan dinding dan rak di tengah ruangan untuk menaruh semua barang tersebut.
"..."
' Yah ini adalah toko artefak, sudah wajar jika jarang ada yang beli...'
Di tengah ujung ruangan, seorang pria yang merupakan penjual duduk di belakang meja kayu, di belakangnya terdapat pintu.
Karena tidak tahu apa yang harus dia beli, Ren memutuskan untuk melihat-lihat sebentar saja, si penjual yang melihatnya tidak mempermasalahkannya dan membiarkan Ren untuk melihat barang-barang yang dia jual.
Item sihir dan artefak di tempatkan di tempat yang berbeda, bahkan ada kertas yang di tempel berisi nama mereka.
' Pembuat api...apa bedanya dengan korek? '
' Batas penggunaan 6 bulan, cukup lama '
Salah satu perbedaan alat sihir dan artefak adalah batas penggunaan, alat sihir memiliki batasan sementara artefak tidak, mereka akan bertahan selamanya.
' Gelas racun, lentera sihir, belati listrik...'
' Monekel penilaian! '
Ren langsung mengambil monokel tersebut, dia tahu seberapa bernilai alat tersebut.
' Batas penggunaannya adalah 3 bulan, harganya juga terjangkau, 112 Fond '
Karena penasaran, Ren menaruh monekel tersebut di depan matanya, dia dapat melihat dengan jelas ukiran Rune yang ada di barang sihir di depannya, di tulis dengan bahasa Hersia kuno.
' Cahaya...serap...segel...'
' Aku mengerti, jadi lentera sihir ini bekerja dengan cara menyerap energi sihir lalu di simpan di dalam tempat khusus yang kemudian energi tersebut di ubah menjadi cahaya oleh Rune yang terhubung dengan tombol '
' Monekel ini sungguh luar biasa '
Harga 112 Fond untuk 3 bulan penggunaan memang sangat mahal bagi sebagian besar orang, daripada membeli barang mahal, lebih baik meminta seseorang untuk melakukan penilaian, jika orang yang di mintai tolong itu jujur tentunya.
Kekhawatiran akan di bohongi penilai yang membuat Ren tidak ragu untuk membeli monokel tersebut, dunia ini tidak kekurangan orang jahat.
' Botol pembersih air '
' Sarung tinju...'
Pada akhirnya Ren mengambil 4 barang, total dia menghabiskan 240 Fond, 112 Fond untuk monokel penilaian, 52 Fond untuk botol pembersih air, 70 Fond untuk sarung tinju, sarung tangan hitam yang memperkuat pukulan, dan 6 Fond untuk lentera sihir.
Setelah selesai melakukan transaksi, Ren keluar dari toko, kembali ke penginapan.
' Sudah tanggal 15 Juni, tanpa disadari sudah lebih dari dua minggu aku berada di kota ini '
' Jika tidak salah aku menginap pada tanggal 29 Mei...sudah 18 hari aku tinggal di penginapan nyonya Smir! '
' 12 hari lagi akan menjadi batas waktunya '
Sebuah kapal mewah mendekati pelabuhan, di atasnya terdapat bendera berwarna merah dengan lambang Avalonia, salah satu anggota keluarga kerajaan Avalonia datang ke Lonor!
Mengetahui salah satu anggota kerajaan akan datang, jalanan menjadi heboh, orang-orang berkumpul untuk melihat siapa yang datang.
Seorang wanita berambut merah turun dari kapal sambil di temani oleh beberapa kesatria sihir Avalonia, dia memiliki mata merah yang hangat, wajah cantik dan lembut.
Sebagai warga Avalonia, Ren tahu siapa wanita tersebut, dia adalah putri pertama Avalonia, Linesha von Avalonia.
Orang-orang mulai bersorak karena melihat sosok sang putri, Linesha hanya melambaikan tangannya sebelum akhirnya masuk kedalam kereta kuda yang dipersiapkan untuknya.
Sambil di kelilingi oleh kereta kuda lainnya, kereta kuda yang Linesha naiki pergi menjauh dari pelabuhan, kemungkinan besar mereka semua menuju ibukota.
Sementara orang-orang masih sibuk membicarakan Linesha, Ren melanjutkan kembali perjalanannya menuju penginapan.
••• •••
Setibanya Ren di penginapan, dia melihat nyonya Smir duduk di tempat biasanya.
" Ren, akhirnya kau datang, beberapa waktu sebuah surat datang untukmu "
Surat...Ren tidak peduli dari siapa surat itu datang, yang dia ingin tahu adalah bagaimana cara orang tersebut mengetahui keberadaannya.
Setelah desanya di hancurkan, hanya sedikit orang yang mau mengirimkan surat kepadanya, pamannya, teman-temannya, Geri, Boris, dan Petru, tapi semuanya hanyalah orang biasa yang tidak mungkin bisa melakukan sesuatu seperti melacak seseorang.
Ren menerima surat dari nyonya Smir" Aku mengerti, terimakasih karena sudah menjaganya "
" Tidak masalah "
Setelah itu, Ren berpamitan dan langsung pergi ke ke lantai dua, masuk kedalam kamarnya.
Setelah mengunci pintu dan menaruh semua barang belanjaannya, Ren duduk di depan meja belajar, lalu membuka surat yang ada di tangannya.
" Eltman Eldwin... ternyata paman "
Senyuman terbentuk di wajah Ren, meskipun dia penasaran bagaimana cara pamannya mengetahui lokasinya, tapi hal itu tidak bisa mengalahkan rasa senangnya karena mendapatkan surat dari orang yang telah banyak membantunya.
' Aku sudah mendengar tentang kau yang di keluarkan oleh wali kelasmu, setelah mengetahui alasan dibalik nya, aku sangat marah! '
' Ternyata wali kelasmu itu melakukannya karena di janjikan mendapatkan promosi oleh seorang siswa berstatus tinggi '
" Seperti dugaan ku, dua anak laki-laki bangsawan waktu itu terlibat "
' Aku sudah melaporkan tentang hal ini kepada kepala sekolah, dia langsung memecat wali kelasmu dan mengusir dua anak laki-laki yang menjadi dalang di balik masalah ini, dia juga berkata jika kau boleh kembali ke akademi ini '
Ren menghela nafas" Jika saja paman mengirim surat ini saat aku belum mengetahui warisan Kaisar Pedang, aku pasti akan langsung setuju dan kembali ke akademi "
Berada di akademi tidak akan membantu tumbuh kembang Ren sekarang, dia ingin mencari warisan Kaisar Pedang yang lain bersama Evan.
' Jika kau tidak ingin kembali, aku tidak akan memaksamu, yang bisa membuat keputusan untuk hidupmu adalah dirimu sendiri '
' Jangan lupa kirim balasan, aku ingin tahu apa keputusanmu, Eltman Eldwin '
Setelah selesai membacanya, Ren melipat surat tersebut lalu menaruhnya di dalam laci, dia juga mengambil selembar kertas dalam prosesnya.
' Aku sangat berterimakasih atas tawaranmu paman tapi tidak, untuk beberapa alasan aku tidak bisa kembali ke akademi '
' Berada di akademi tidak akan membantuku untuk meraih impianku, dan kau tenang saja, berkat bantuan kapten Arent, kehidupanku disini menjadi sangat mudah '
' Sekali lagi terimakasih, salam dariku, Ren Abraham '
Ren memeriksa surat yang dia tulis sekali sebelum menyimpannya di dalam saku celananya, dia memutuskan untuk menyerahkannya ke kantor pos dalam perjalanan menuju desa Lestor.
Setelah itu, Ren mengeluarkan Oblivion, ransel, dan jaketnya dari dalam lemari.
Ren memasukkan semua ramuan, obat-obatan, dan barang-barang yang baru saja dia beli kedalam ransel, setelah itu dia memakai jaket cokelat nya, mengikat sarung pedang di pinggangnya, lalu memakai sarung tangan hitam yang memperkuat tinjunya.
Setelah semua selesai, Ren keluar dari kamarnya, pergi setelah mengunci pintunya.
Di bawah Ren melihat Lottie sedang mengobrol dengan nyonya Smir.
" Ren...apa kamu akan pergi ke guild? "
Tanya Lottie.
" Tidak, kenapa memangnya? "
"... K-karena aku ingin memintamu untuk mengirimkan surat kepada Evan "
Pipi Lottie memerah, membuat nyonya Smir yang melihatnya geleng-geleng kepala.
' Mungkinkah dia jatuh cinta pada Even setelah di selamatkan, sungguh gadis yang malang, orang itu licik dan dingin '
Evan juga terlihat seperti tidak tertarik dengan romansa, Ren merasa jika Evan sama sepertinya, hidup hanya untuk memenuhi ambisi.
" Jadi begitu, aku akan melewati guild, jika Evan ada disana aku akan memberikan surat mu padanya "
" Benarkah, kalau begitu tunggu sebentar! "
Lottie berlari menuju kamarnya untuk mengambil surat yang dia tulis untuk Evan.
" Hahh...usia gadis itu memang sudah memasuki masa dimana dia tertarik dengan romansa "
" Hahaha..."
" Lalu bagaimana denganmu Ren besar, bisakah kau memberi tahuku siapa gadis yang muncul di dalam mimpimu? "
" Aku tidak mengerti apa yang sedang nyonya bicarakan "
Ren mengalihkan wajahnya, mengingat kembali mimpi waktu itu membuatnya sangat malu hingga ingin melarikan diri.
" Ren, ini dia "
Lottie menyerahkan amplop surat yang sederhana, Ren mengambilnya lalu menaruhnya di saku bajunya.
" Kalau begitu aku pergi dulu "
" Berhati-hatilah "
" Ya! "
Setelah itu Ren keluar dari penginapan, pergi menuju guild untuk menyerahkan surat Lottie ke Evan.
' Semoga saja Evan ada di guild, jika tidak ada aku akan menitipkannya kepada orang-orang terdekatnya '