Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenaga Kekasihku Seperti Gorila
"Baiklah, aku akan mengejar dirimu, Cintaku Sayang" batin Aren.
Tanpa pikir panjang Aren pun segera mengejarnya, ya, satu pasangan tersebut berlari larian di dalam rumah seluas lautan.
"Hah...hah.." wanita itu berlari sekencang mungkin, sesekali menghembuskan nafas di sela kegiatan larinya.
"SAYANG! JANGAN LARI! AYO BERHENTILAH! AKU YAKIN KAMU TIDAK SEKUAT ITU JIKA KAMU MENERUSKAN BERLARI!" di belakang dirinya, pria bule itu berteriak kencang dan terus mengejarnya.
Aren, ia akan berlari tanpa berhenti di tengah jalan sebelum mendapatkan kekasihnya yang sedang menghindarinya.
Grep
"Kamu, sudah aku tangkap!"
***
"Gula Aren! Ih lepaskan aku!" wanita itu menjerit histeris di pangkuannya Aren, tapi pria bule itu tak menghiraukannya, ia anteng memainkan rambut milik kekasihnya.
"Sayang, hm...aku baru saja menangkap dirimu" celetuk pria bule tampan itu.
"....." Cellsyia, terus saja memberontak dan mengabaikan Aren yang sedang berbicara itu.
"Oh, astaga! Cintaku, dirimu tidak bisa diam, hm?" tanya pria itu.
"Tidak bisa! Aku ingin turun dari pangkuanmu ini! Membuatku tidak nyaman!" jawab wanita itu tanpa menatap ke arah dirinya.
"Coba saja, kalau kamu bisa" kata Aren, mendengar hal itu Cellsyia mengangkat kepalanya, ia menatap tajam padanya.
"Kau meremehkan diriku, huh!? Aku bisa turun dari pangkuan ini" balas wanita itu.
"Silakan, turun" tantang Arsen, merasa ditantang wanita itu dengan brutal turun dari pangkuannya sehingga pria itu hampir kualahan.
"E...eh?" pria bule itu mencengkram erat pinggang ramping kekasih hatinya.
Satu orang berusaha lepas dari jeratan itu, sedangkan satu orangnya lagi mencegahnya agar korban yang baru ia tangkap tetap di atas pangkuannya.
Cellsyia memejamkan mata, dan hal demikian Aren berpikir.
"Mungkin kelelahan, ya? Jadi kekasihku memejamkan mata" pikirnya pria itu.
Dugaannya ternyata salah, wanita itu membuka mata dan warnanya entah mengapa tiba-tiba berubah menjadi merah, dan seketika Aren terkejut.
"Astaga! Mata merah itu!? Apakah kekasihku marah? Karena aku tidak membiarkannya turun dari pangkuanku?" batinnya pria itu.
Lalu secara mendadak Cellsyia menggerakkan lengannya, lalu mencekal erat kedua tangan pria bule itu, kemudian menyingkirkannya ke arah samping, tanpa perasaan ia membantingnya menggunakan bantuan kakinya, dan sofa berbunyi 'puk' yang terdengar pelan.
Bruk
"AAAA, SAYANG! KENAPA KAMU MEMBANTINGKU!?" Aren, pria itu berteriak tak terima karena ia pikir kekasihnya tak ada tenaga sama sekali namun nyatanya sekuat tenaga seorang pria pada umumnya.
"Kau kira aku ini lemah, huh! Lihatlah bahkan badanmu sebesar gorila pun, diriku bisa membantingmu dengan sekejap mata, cling" wanita itu berkata.
Tanpa sengaja Aren, ia melihat senyuman menyeringai dari sang kekasihnya dan membuatnya bergidik ngeri.
"Hahaha, kali ini kamu menang, Sayang. Tapi tidak untuk kemudian hari! Astaga! Menyeringainya pun mengerikan, ya? Ditambah warna matanya merah, seperti seorang Vampire saja!" batinnya pria bule itu berkata.
"Bagaimana, hm? Mau aku banting lagi?" mendengar perkataan yang terlontarkan dari mulut kekasihnya, Aren menggelengkan kepala dengan brutal.
"Maaf, aku tidak akan begitu lagi" mohon Aren.
"Please, jangan banting aku lagi, Sayang" pria bule itu memohon agar dirinya tak dibanting lagi seperti tadi.
"Banting lagi, ya?" Cellsyia, wanita itu mengerjainya sambil tersenyum tengil.
"Aaaa, jangan!" ucap Aren, saat kekasihnya akan mendekatinya dengan cepat dirinya langsung berlari dan menaiki anak tangga.
Cellsyia menahan tawanya.