Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARIS TIPIS ANTARA HIDUP DAN MATI
Langit di sektor selatan malam itu sehitam tinta, hanya diterangi oleh lampu tembak dari truk militer yang mencoba menembus kabut tebal dan rintik hujan yang tak kunjung usai. Aroma tanah basah yang menyengat bercampur dengan bau bensin dari alat berat yang menderu keras, menciptakan simfoni kekacauan yang memekakkan telinga. Keyra mencengkeram tas medisnya erat-erat, sepatunya sudah terbenam lumpur pekat hingga mata kaki saat ia melompat turun dari kendaraan taktis pangkalan.
Di depannya, pemandangan itu mengerikan. Lereng bukit yang tadinya kokoh kini terbelah, menyisakan luka cokelat raksasa yang menimbun pemukiman warga di bawahnya. Suara tangisan histeris, teriakan komando para prajurit, dan dentingan sekop yang menghantam batu bersahutan di tengah kegelapan yang dingin.
"Keyra! Tetap di belakang tim SAR! Jangan berani melangkah masuk ke zona merah sampai saya nyatakan aman!" teriak Ghazali melalui radio komunikasi yang terpasang di pundak Keyra.
Ghazali sudah berada di barisan paling depan, mengenakan rompi pelindung dan helm tempur. Ia bahu-membahu bersama prajuritnya menggali gundukan tanah dengan tenaga manual karena alat berat belum bisa menjangkau titik terdalam yang labil. Cahaya senter dari helmnya menyapu reruntuhan, mencari tanda-tanda kehidupan.
"Tapi ada korban yang terjepit di bawah sisa atap itu, Kapten! Mereka butuh pertolongan pertama sekarang atau akan kehabisan oksigen karena tertimbun!" balas Keyra, suaranya parau karena harus berteriak melawan deru angin yang kencang.
Keyra tidak bisa hanya diam di posko medis sementara ia melihat seorang ibu menangis histeris menunjuk ke arah reruntuhan kayu yang miring. Dengan nekat, ia berlari melewati garis pembatas kuning, mengabaikan teriakan peringatan dari Bastian yang sedang sibuk mengurus tandu. Keyra merangkak masuk ke celah sempit di bawah sisa bangunan, tempat seorang pria tua terjepit kakinya oleh balok beton yang retak.
"Dokter... tolong... sesak..." rintih pria itu, wajahnya pucat pasi tertutup debu semen.
"Tenang, Pak. Bernapas perlahan. Saya di sini. Saya akan pasang infus dan penahan nyeri dulu agar anda tidak syok," ucap Keyra mencoba menenangkan, meski tangannya sedikit gemetar saat mencari pembuluh vena di tengah ruang yang sangat sempit dan tidak stabil itu.
Tiba-tiba, suara gemuruh rendah yang berasal dari perut bumi terdengar dari arah puncak bukit. Tanah di bawah lutut Keyra bergetar hebat, menjatuhkan butiran kerikil dari langit-langit darurat di atasnya.
"LONGSOOOR SUSULAN! SEMUA MUNDUR! EVAKUASI SEKARANG!" teriakan Ghazali menggema, penuh dengan kepanikan yang jarang ia tunjukkan.
Keyra mendongak. Di atas sana, massa tanah hitam mulai bergerak turun seperti gelombang raksasa yang siap menelan apa pun. Para prajurit berlarian mundur menjauh, namun Keyra masih terjebak di dalam celah. Ia tidak bisa meninggalkan pasiennya yang terpasang selang infus dan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Keyra! Keluar dari sana sekarang!" Ghazali muncul dari balik kegelapan, berlari kencang melawan arus tanah yang mulai meluncur. Wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan ketakutan yang murni bukan takut akan nyawanya sendiri, tapi takut akan nyawa gadis di depannya.
"Ghazali, jangan mendekat! Tanah di atas mulai runtuh!" teriak Keyra panik saat melihat retakan besar muncul di atas kepala Ghazali.
Ghazali tidak peduli. Ia melompat masuk ke celah sempit itu tepat saat bongkahan tanah pertama menghantam atap reruntuhan. Dengan kekuatan fisik yang luar biasa, Ghazali menempatkan tubuhnya di bawah tiang kayu penyangga utama yang mulai patah. Ia menahan beban itu menggunakan punggung dan bahunya, menciptakan ruang perlindungan bagi Keyra dan pasiennya.
Brak!
Kegelapan total kembali menyergap saat tumpukan tanah menutupi lubang masuk mereka. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara napas mereka yang terengah-engah di ruang sempit yang kini hanya setinggi satu meter.
"Ghazali... kamu tidak apa-apa?" bisik Keyra dalam kegelapan pekat. Ia bisa merasakan tubuh besar Ghazali yang menempel padanya, menjadi perisai hidup dari ribuan ton tanah di atas mereka.
"Saya... saya tidak apa-apa. Fokus pada pasienmu, Keyra. Selesaikan apa yang kamu mulai. Saya akan menahan beban ini selama saya bisa bernapas," suara Ghazali terdengar berat, ada nada menahan rasa sakit yang luar biasa yang ia coba sembunyikan.
Keyra meraba bahu Ghazali untuk memastikan posisinya, namun tangannya menyentuh sesuatu yang hangat, kental, dan basah. Bau amis darah segera memenuhi hidungnya. Sebuah pasak besi atau kayu tajam rupanya telah menembus pundak pria itu saat ia melindungi Keyra tadi.
"Kamu terluka parah! Darahnya banyak sekali, Ghaz! Kamu harus melepaskan tiang ini sedikit agar aku bisa mengobati lukamu!" tangis Keyra mulai pecah, air matanya jatuh mengenai pipi Ghazali.
"Jangan bodoh. Kalau saya lepas satu senti saja, kita bertiga akan rata dengan tanah sebelum sempat mengucap doa," Ghazali berbisik tepat di telinga Keyra, suaranya mulai melemah namun tetap tegas. Dalam kegelapan itu, ia mencari tangan Keyra dan menggenggamnya sejenak. "Selesaikan tugasmu, Dokter. Saya akan menjaga kalian tetap hidup. Itu janji saya... dan saya tidak akan melanggar janji lagi seperti pada Maya."
Di luar sana, suara teriakan Bastian dan tim SAR terdengar mulai menggali dengan panik menggunakan tangan kosong dan alat pemotong besi, mencoba mencari koordinat mereka. Menit-menit berlalu terasa seperti jam bagi Keyra. Ia harus melakukan prosedur darurat medis dalam kondisi ruang yang semakin menyempit karena tekanan tanah yang terus menekan bahu Ghazali.
"Ghazali, bertahanlah... kumohon bertahanlah demi aku..." gumam Keyra terus-menerus, sementara jemarinya yang berlumuran darah terus bekerja secepat mungkin.
Satu jam kemudian, seberkas cahaya senter yang sangat kecil menembus celah tanah.
"DI SINI! ADA RONGGA UDARA! MEREKA DI DALAM!" teriakan Bastian terdengar seperti suara malaikat bagi mereka.
Saat tim SAR berhasil membuka akses yang cukup luas, hal pertama yang mereka lihat adalah sosok Kapten Ghazali yang masih dalam posisi berlutut, wajahnya bersimbah peluh dan darah, namun bahunya tetap kokoh menahan tiang seberat ratusan kilogram demi melindungi Keyra.
Begitu Keyra ditarik keluar oleh Bastian, ia langsung berbalik arah, melihat Ghazali yang akhirnya ambruk tak berdaya saat beban tiang itu diambil alih oleh alat hidrolik SAR.
"GHAZALI!"
Keyra berlari memeluk pria itu saat ia dievakuasi ke atas tandu. Ghazali menatapnya dengan senyum lemah yang sangat tulus, matanya sayu seolah berkata bahwa ia telah menepati janjinya, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran di pelukan Keyra di tengah hujan yang mulai berhenti.
***
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....