NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Dari Ibu Kota

Tambir anyaman di tangan Sukma merosot, menumpahkan belasan butir gabah ke tanah basah.

"Mampir ke rumah mertuaku?" Sukma mengulang kalimat Mak Karman. Nadanya datar, tapi otaknya langsung menyusun skenario terburuk secepat kilat. "Dua mobil?"

Mak Karman mengangguk panik. Tangannya masih mencengkeram daster Sukma.

"Iyo! Terus sing satu sekarang pindah parkir di depan warung pisang gorengmu sing Saiki dijaga Yu Nah. Perempuannya turun, duduk di sana. De'e nyuruh Kardi manggil kamu saiki."

Sukma melepaskan cengkeraman Mak Karman perlahan. Dia menepuk sisa debu beras di pangkuannya. Ndak ada waktu buat ganti baju. Ndak ada gunanya dandan menyambut tamu yang sengaja membagi pasukan untuk unjuk kekuatan di kampung orang.

"Biarin saja. Aku temui orangnya."

Lima menit kemudian, Sukma berdiri di ujung jalan tanah depan warung Yu Nah.

Pemandangan di depannya kelewat kontras. Sebuah sedan hitam mengkilap bermerek Eropa terparkir angkuh, memakan separuh jalan desa yang sempit. Sopirnya berdiri bersedekap di samping pintu, memakai kacamata hitam persis ajudan pejabat kementerian.

Dan di lincak bambu warung Yu Nah, duduk seorang perempuan paruh baya.

Baju sutra krem yang menempel di tubuh perempuan itu menolak menyatu dengan kepulan asap penggorengan pisang.

Postur duduknya salah total untuk ukuran warung kampung. Punggungnya terlalu tegak. Terlalu sadar posisi. Kakinya menyilang rapat. Hidungnya sedikit berkerut menahan bau terasi dan minyak jelantah, tapi wajahnya dipaksa tersenyum ramah.

Aroma parfum mahal, bau melati dan kayu manis, mengusir bau apek warung seketika. Itu bau ruangan ber-AC. Bau uang dari ibu kota.

Mata perempuan itu menangkap kedatangan Sukma. Senyumnya melebar.

"Ibu Sukma?" Suaranya renyah, sangat tertata, tanpa setitik pun logat daerah.

Sukma melangkah mendekat. Sandal jepit karetnya bergesekan dengan kerikil. Matanya menyapu kilat. Plat nomor sedan itu B 1145.

Waktu di jam dinding warung menunjukkan pukul delapan lewat seperempat. Cincin berlian melingkar di jari manis perempuan itu.

"Iya. Saya Sukma."

"Duduk, Ibu. Maaf merepotkan pagi-pagi." Perempuan itu menggeser tas kulitnya, memberi ruang di lincak. "Perkenalkan, saya Hartati. Sekretaris pribadi Nyonya Ratna dari Jakarta."

Nama itu memicu ledakan kecil di memori Sukma. Ibu kandung Sutrisno. Donatur wesel rahasia keluarga Priyanto.

Sukma duduk di ujung lincak, menjaga jarak aman. Dia sama sekali ndak repot-repot menjulurkan tangan untuk bersalaman, ndak juga menundukkan kepala canggung layaknya warga desa ketemu orang kota. Punggungnya ikut ditegakkan.

"Ada keperluan apa Nyonya Ratna sampai kirim utusan sejauh ini, Bu Hartati?" tembak Sukma tanpa basa-basi.

Hartati berkedip. Senyum tertatanya sedikit oleng. Jelas dia ndak menyangka istri tentara rendahan dari pelosok punya sorot mata setajam ini. Ndak ada raut silau harta atau ketakutan di wajah Sukma.

"Nyonya Ratna hanya ingin menitipkan pesan." Hartati merogoh tas kulitnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal berstempel bank. Dia mendorong amplop itu melintasi meja kayu, tepat ke depan Sukma.

"Nyonya sangat ingin bertemu dengan Bapak Sutrisno saat masa tugasnya selesai nanti. Nyonya berharap Ibu Sukma bisa membujuk suami Ibu untuk datang ke alamat yang ada di dalam situ. Ini sekadar tanda kasih sayang untuk anak-anak selama ditinggal tugas."

Sukma melirik amplop itu. Tebalnya ndak wajar. Ujung kertas merah menyembul sedikit dari lipatan yang terbuka. Pecahan seratus ribu. Lima lembar. Lima ratus ribu rupiah. Nominal yang sanggup membeli separuh petak sawah di Batu tahun 1991.

Tangan Sukma terulur. Dia mengambil amplop itu, melipatnya rapi tanpa mengintip isinya lagi, lalu memasukannya ke saku daster. Tenang sekali. Sama sekali ndak gemetar.

"Pesannya saya terima. Duitnya buat anak-anak makan juga saya terima," ucap Sukma datar. Matanya menatap lurus ke dalam pupil Hartati. "Tapi soal mau datang atau ndak, itu urusan Mas Trisno. Saya ndak berhak ngatur kaki suami saya."

Hartati terdiam. Jari tangannya meremas tali tasnya sendiri. Dia jelas kehilangan kendali percakapan.

"Baik. Kalau begitu, saya permisi dulu." Hartati buru-buru berdiri. Langkahnya setengah terseret menuju sedan hitam yang sudah dibukakan pintunya oleh si sopir.

Sukma tetap duduk. Matanya merekam pergerakan ban mobil itu sampai hilang di tikungan debu.

Lima ratus ribu rupiah. Nyonya besar di ibu kota itu sedang menyuapnya. Tapi mesin di kepala Sukma berteriak nyaring. Kenapa mobil ini mampir ke rumah Lasmi dulu?

Satu jam sebelumnya, di ruang tamu rumah bata keluarga Priyanto.

Lasmi terduduk kaku di kursi kayu rotan. Napasnya memburu. Matanya melotot tak berkedip menatap secarik kertas kecil persegi panjang yang baru saja ditinggalkan Hartati. Kertas tebal beraroma wangi. Kartu nama.

Di sebelahnya, Jamilah menggigit kuku jempolnya. Adik ipar Sukma itu mondar-mandir seperti cacing kepanasan.

"Duitnya mana, Bu?! Masa orang kaya raya dari Jakarta cuma ninggalin kertas beginian?!" sungut Jamilah kesal. Matanya liar mencari celah tas atau kresek yang mungkin disembunyikan Lasmi.

"Tutup mulutmu, Nduk!" desis Lasmi. Tangan keriputnya gemetar mengelus permukaan kartu nama itu seolah benda mati tersebut berlapis emas murni.

Hartati memang sama sekali ndak meninggalkan amplop uang sepeser pun di rumah ini. Perempuan kota itu hanya duduk lima menit, memandang sekeliling dengan tatapan jijik yang disembunyikan, lalu memberikan satu instruksi mematikan.

"Nyonya Ratna minta Ibu Lasmi menelepon nomor ini setiap akhir bulan. Laporkan semua kegiatan Sukma dan anak-anaknya. Kalau informasinya memuaskan, nominal wesel bulanan Ibu akan digandakan lewat jalur khusus."

Lasmi menelan ludah. Nominal wesel digandakan. Berarti sawah baru. Berarti gelang emas dua puluh karat untuk dipamerkan di arisan desa.

Tapi ada satu masalah besar. Lasmi, janda tua yang sumurnya saja masih pakai timba kerekan, seumur hidupnya belum pernah menyentuh gagang telepon.

"Jamilah!" Lasmi berdiri mendadak. Suaranya melengking memerintah. "Pinjam sepeda motor Joko saiki! Kita boncengan ke kecamatan!"

"Lha ngapain toh, Bu? Panas-panas begini?"

"Kita ke warung telepon! Aku mau belajar mijet tombol nomor iki saiki juga!" Mata Lasmi berkilat rakus. Di tangannya, selembar kartu nama wangi itu berubah menjadi senjata pembunuh yang siap diarahkan tepat ke punggung menantunya sendiri.

Dua kunjungan. Dua agenda. Hartati melempar tulang penuh daging untuk Sukma, tapi diam-diam memasang tali jerat di leher Lasmi untuk memata-matai. Nyonya besar itu sedang mengadu domba.

Udara perbatasan siang itu kelewat panas. Matahari membakar atap seng pos penjagaan sampai memuai berderit.

Sutrisno duduk melepas bot larsnya yang dipenuhi lumpur merah. Keringat sebesar biji jagung mengalir menuruni pelipis, meresap ke kerah kaus singletnya yang lepek.

Tangan kanannya menjepit sebatang kretek yang sudah terbakar separuh. Sementara jari kirinya memegang erat secarik kertas buram lecek seukuran telapak tangan. Bukan surat resmi. Ini pesan selipan dari kurir logistik tadi subuh.

Sutrisno mengisap rokoknya dalam-dalam. Matanya memicing menembus asap tebal, membaca satu kata sandi yang ditulis terburu-buru dengan pensil.

Kusumaningrum. Sutrisno mematung. Otot rahangnya menonjol keras. Detak jantung prajurit tempur itu mendadak memukul-mukul tulang rusuknya dengan tempo gila-gilaan.

Tahun lalu, saat dia nekat pergi ke Jakarta mencari alamat ibu kandungnya, dia mendengar nama itu disebut dalam sebuah rapat setengah tertutup di pendopo rumah mewah Nyonya Ratna.

Kusumaningrum bukan sembarang nama. Itu kode operasi kelompok elit yang sedang mengincar lahan proyek raksasa di Jawa Timur, yang melibatkan jenderal bintang dua.

Dan sekarang, nama itu muncul di pos perbatasannya. Dikirim oleh informannya. Berarti, keberadaannya di sini sudah diendus.

Surat perpanjangan tugas satu tahunnya kemarin bukanlah hukuman birokrasi biasa. Dia sedang disingkirkan dari Malang.

Langkah sepatu berat terdengar mendekati pintu pos.

"Sersan! Ada laporan masuk dari sektor timur?" Suara Komandan Peletonnya menggema.

Tangan Sutrisno bergerak lebih cepat dari kilat. Dia menyentuhkan ujung bara api kreteknya ke ujung kertas buram tersebut.

Api kuning langsung menjilat kertas, melahap nama Kusumaningrum jadi serpihan abu hitam. Sutrisno meremukkan abunya ke asbak besi, mengaduknya dengan ampas kopi.

"Aman, Komandan! Tidak ada pergerakan sandi apa pun!" balas Sutrisno lantang.

Dia berdiri tegap memberi hormat. Wajahnya datar seperti tembok. Dia mengambil keputusan paling berbahaya sepanjang karir militernya. Dia menyembunyikan informasi operasi tingkat tinggi dari atasan langsungnya.

Lek sampai ketahuan, Mahkamah Militer bakal mendakwanya pasal makar. Tapi Sutrisno butuh semua kepingan rahasia ini untuk melindungi keluarganya di Batu. Dia akan bertarung sendirian.

Malam kembali merajai Desa Sumber Brantas. Suara jangkrik bersahutan di luar jendela.

Sukma duduk bersila di atas dipan bambu. Anak-anak sudah tertidur pulas sejak satu jam lalu. Amplop berisi uang setengah juta rupiah itu sudah dia kunci rapat di dalam kaleng Khong Guan.

Di tengah keheningan yang mencekik itu, Sukma membangunkan "joglo spasialnya".

Ini bukan bangunan fisik. Ini ruang imajiner di dalam kepalanya. Sebuah metode analitis yang selalu dia pakai di kehidupan modern sebelumnya untuk membongkar laporan keuangan yang ruwet.

Tapi malam ini, dia ndak sedang menghitung angka. Dia sedang menyusun ulang potongan-potongan plot novel sialan yang menjebaknya ini.

Sukma memejamkan mata. Ingatannya dipaksa bekerja ekstra keras.

Alur utama novel: Sutrisno ditarik tugas ke luar pulau. Anak-anak ditelantarkan di desa. Dan Sukma Ayu yang asli... mati.

Napas Sukma tersendat. Matanya tiba-tiba terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang gelap.

Mati diseruduk sapi peliharaan mertuanya sendiri. Itu tertulis jelas di bab-bab awal novel. Sukma Ayu yang asli disuruh Jamilah ngarit rumput di lahan sengketa.

Lalu tiba-tiba seekor sapi jantan berbobot setengah ton milik pak kades mengamuk seperti sapi gila, menghimpitnya ke dinding bata sampai tulang dadanya hancur. Diceritakan sebagai kecelakaan tragis.

Tapi logika Sukma menolak keras. Sapi yang diikat tambang ganda ke pasak kayu ulin ndak mungkin tiba-tiba lepas sendiri. Simpul mati ndak bisa terbuka oleh tandukan kepala hewan peliharaan yang katanya sudah dikebiri.

Kecuali... ada orang yang sengaja melepaskan simpul tambang itu.

Jantung Sukma berdetak gila-gilaan. Keringat dingin merembes menembus daster batiknya. Tangannya gemetar meremas selimut.

Kalau sapi itu sengaja dilepaskan, berarti Sukma Ayu yang asli ndak mati karena sial. Dia dibunuh.

Kandidatnya langsung bermunculan di kepala Sukma. Lasmi? Perempuan serakah itu punya motif menyingkirkan menantu pengganggu agar akses uang weselnya bebas hambatan. Juga bisa sendirian menguasai harta hasil jerih payah Sutrisno.

Joko atau Jamilah? Pasangan suami istri tukang intip itu butuh modal besar dan memandang Sukma sebagai tembok tebal penghalang warisan.

Prapto, atau Ningsih, mereka menganggap keberadaan Sukma Ayu dan Anak-anaknya itu beban tambahan yang akan menghabiskan jatah mereka di rumah besar keluarga Priyanto, apalagi memang cuma Prapto yang turun ke sawah.

Atau justru... ada seseorang yang belum muncul ke permukaan? Seseorang yang menyuruh Hartati datang membawa mobil sedan hitam?

Untuk pertama kalinya sejak dia terlempar ke dunia novel 1990 ini, rasa takut murni merayapi sumsum tulang Sukma.

1
SENJA
heeeee ada bakat marketing unggul nih 🤣
SENJA
bener juga ngomonganmu git 🤭
Ai_Li
Saya mampir kak
INeeTha: Makasih Kaka, semoga suka dan baca sampai tamat🙏
total 1 replies
SENJA
kabur kan bisanya 🤣
SENJA
naaah iya
SENJA
waaah sutrisno tau 🤭
SENJA
ayoklah dilawan! 💪
SENJA
dua perempuan bau tanah yang jahat 🤬
SENJA
ini jahat banget udah tua juga🤬
SENJA
maruk semua weeeh 🤬
SENJA
wakakaa hayo sono apa lagi lakonmu? 🤭🤣
SENJA
apa ada kelainan ingatan ipul? masa udah lupa lagi kan baru ketemu 🤭
SENJA
astaga keluarga apaan ini 🤬
SENJA
bagussssss 💪
SENJA
hajar aja si parno ini ancen gateli tenan tuek iki 🤬
SENJA
hmmm ada rahasia toh 🤭🤬
SENJA
wakaaka beda konteks itu maj nyupang 🤣
SENJA
lu jangan mau disuruh suruh urus aja nak anak sama wati
SENJA
wah mana pendidik kabur lho 🤬🤣
SENJA
laaaah sok mendidik padahal kurang terdidik 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!