NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Perjamuan di Tepi Phinisi

Makassar menyambut Hana dengan terik yang lebih menggigit daripada Surabaya. Angin laut dari Pantai Losari membawa aroma garam dan ikan bakar yang khas, namun udara di sekitar lokasi pembangunan cabang ketiga "Ruang Temu" terasa jauh lebih panas karena ketegangan sosial. Di sebuah kawasan pemukiman nelayan yang padat, tepat di bawah bayang-bayang galangan kapal Phinisi yang sedang dibangun, langkah Hana terhenti oleh sekelompok pria yang berdiri bersedekap di depan pagar seng proyek.

Di tengah mereka, seorang pria paruh baya mengenakan kemeja sutra Bugis berwarna emas dengan kopiah hitam yang kokoh duduk di sebuah kursi kayu jati. Tatapannya tajam, sedalam palung laut Sulawesi. Itulah Daeng Malik, tokoh masyarakat yang suaranya bisa menggerakkan seluruh warga kampung nelayan ini.

"Selamat siang, Daeng," sapa Hana, membungkuk sopan dengan tangan tertelungkup di dada—sebuah gestur penghormatan yang ia pelajari semalam dari Laras.

Daeng Malik tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopi pahitnya perlahan. "Nyonya dari Jakarta. Saya dengar Anda membawa 'obat' untuk perempuan-perempuan kami agar mereka tidak lagi patuh pada suaminya. Apa benar begitu?"

Suara Daeng Malik berat dan berwibawa, membuat beberapa staf koperasi di belakang Hana tampak gelisah. Raka melangkah maju satu tindak, namun Hana memberikan isyarat tangan agar suaminya tetap di posisi semula. Ini adalah panggung diplomasi, bukan adu kekuatan fisik.

"Obat yang saya bawa bukan untuk pembangkangan, Daeng," jawab Hana tenang, matanya menatap langsung ke manik mata Daeng Malik tanpa rasa takut namun tetap penuh hormat. "Obat yang saya bawa adalah ilmu. Agar saat suami mereka sedang bertarung dengan ombak di tengah laut, istri-istri di sini tidak hanya bisa menunggu dengan cemas, tapi bisa membantu menjaga dapur tetap berasap lewat usaha mandiri mereka."

"Perempuan di sini sudah punya tugasnya, Nyonya. Mengurus anak dan rumah," balas Daeng Malik ketus.

Hana tersenyum tipis. "Dan jika ombak membawa suami mereka pergi selamanya, Daeng... siapa yang akan mengurus anak-anak itu? Apakah Daeng sanggup menanggung ribuan janda dan anak yatim sendirian? 'Ruang Temu' datang untuk menjadi sekoci, bukan untuk mengganti nakhoda."

Daeng Malik terdiam. Analogi 'sekoci' itu tampaknya menyentuh logika pelautnya yang praktis. Ia berdiri, melangkah mendekati Hana. "Anda bicara seperti orang yang tahu rasanya tenggelam."

"Saya bukan hanya tahu rasanya tenggelam, Daeng. Saya pernah berada di dasar samudra selama sepuluh tahun," bisik Hana.

Perjamuan itu berlanjut ke sebuah rumah panggung besar milik keluarga Daeng Malik. Di sana, Hana tidak menyodorkan proposal bisnis atau angka-angka statistik kementerian. Ia justru meminta izin untuk bertemu dengan para istri nelayan di dapur.

Selama tiga jam, Hana duduk di lantai dapur yang terbuat dari bambu, membantu mereka mengupas bawang dan menyiapkan sambal dabu-dabu. Di sanalah "Ruang Temu" yang sesungguhnya dimulai. Tanpa kamera, tanpa protokol. Hana mendengarkan cerita mereka tentang utang pada tengkulak ikan, tentang keinginan menyekolahkan anak hingga sarjana, dan tentang ketakutan mereka jika mesin perahu suami mereka rusak dan tidak punya biaya perbaikan.

"Kami ingin membantu ibu-ibu membuat pengolahan abon ikan dan kerajinan tangan dari sisik ikan yang biasanya dibuang," ujar Hana sambil tangannya tetap lincah bekerja. "Hasilnya akan kita jual ke Jakarta lewat jaringan koperasi kita. Uangnya tetap milik Ibu-ibu, tapi sebagian kita sisihkan untuk dana darurat kesehatan warga."

Para wanita itu saling pandang. Selama ini, bantuan yang datang hanya berupa paket sembako yang habis dalam tiga hari. Penawaran Hana adalah tentang keberlanjutan.

Di ruang tamu, Raka sedang berbincang dengan Daeng Malik tentang konstruksi kapal. Raka menunjukkan desain interior kayu untuk kafe yang akan dibangun, yang menggabungkan elemen tradisional Bugis dengan sentuhan modern.

"Anak muda, istrimu punya lidah yang tajam tapi hatinya bening," ujar Daeng Malik pada Raka. "Dia tidak merayu kami dengan uang, tapi dia menghargai keringat kami."

Konflik yang semula terasa seperti bara api, perlahan mulai padam. Daeng Malik akhirnya memberikan restunya, bahkan ia sendiri yang memimpin upacara peletakan batu pertama secara adat Bugis.

Namun, tantangan di Makassar bukan hanya soal adat. Malam harinya, saat Hana sedang beristirahat di hotel, ia menerima kabar dari Maya di Jakarta.

"Hana, ada pergerakan aneh di Pondok Literasi Jakarta Timur," suara Maya terdengar cemas. "Beberapa orang yang mengaku sebagai kerabat jauh Mama Sarah datang dan menggugat status kepemilikan ruko itu. Mereka bilang Aris tidak berhak menyerahkannya padamu karena itu adalah harta warisan keluarga yang belum dibagi."

Hana mengurut pelipisnya. Masalah seolah tidak pernah berhenti mengejarnya. "Bukankah Aris adalah ahli waris tunggal, May?"

"Secara hukum, ya. Tapi mereka membawa surat wasiat lama yang diragukan keabsahannya. Ini sepertinya ada orang di balik layar yang membiayai mereka untuk mengganggumu. Aku curiga ini adalah sisa-sisa relasi bisnis Aris yang sakit hati padamu."

Hana terdiam sejenak. Ia melihat Raka yang sedang tertidur lelap di kursi sofa karena kelelahan setelah seharian di galangan kapal. Ia tidak ingin merusak momen kemenangan di Makassar dengan berita buruk dari Jakarta.

"Urus secara hukum, May. Jangan biarkan mereka masuk ke area ruko. Katakan pada mereka, tempat itu sekarang adalah milik yayasan sosial, bukan milik pribadi Hana Keiko. Jika mereka ingin menggugat, gugatlah masa depan anak-anak miskin di Jakarta Timur, bukan aku," perintah Hana tegas.

Esok paginya, Hana kembali ke lokasi proyek di Makassar. Ia melihat Dewi, yang ia bawa dari Surabaya untuk menjadi pelatih awal bagi para wanita di sini, sedang dikerumuni ibu-ibu nelayan. Dewi tampak sangat percaya diri, menceritakan bagaimana ia bangkit dari keterpurukan.

Melihat pemandangan itu, Hana menyadari sesuatu yang besar. "Ruang Temu" kini sudah menjadi sebuah organisme hidup. Ia bukan lagi tentang satu orang bernama Hana. Ia adalah tentang ribuan wanita yang saling menguatkan.

Hana berjalan menuju dermaga, menatap kapal Phinisi yang setengah jadi. Kapal itu sangat megah, dibangun tanpa paku, hanya dengan pasak kayu dan keahlian tangan yang turun-temurun.

"Hidup kita seperti Phinisi ini, Ka," ujar Hana saat Raka menghampirinya. "Banyak sambungan, banyak gesekan, tapi jika dirangkai dengan tujuan yang benar, ia bisa menyeberangi samudra yang paling luas."

Raka merangkul bahu Hana. "Dan kita baru saja melewati satu selat yang sulit di Makassar, Na."

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!