satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Lubang misterius
Satria yang melihat pertarungan itu berdecak kagum, kekuatan Harimau itu dan lelaki tua itu sama kuatnya, Lelaki itu dengan cepat bersiap saat melihat Harimau itu akan menyerangnya kembali, namun tiba tiba liontin yang ia pakai bersinar terang, Harimau itu mundur melihat cahaya merah itu, lelaki tua itu melihat liontin itu bersinar tersenyum, ia meraih sesuatu dari pinggangnya
" Tadinya aku ingin bermain main dulu dengan mu kucing besar, tetapi kini sudah tak ada waktu" ucap Lelaki
Dor
Grrrrrrrh
Harimau itu menggeram kesakitan, dan melarikan diri dengan membawa luka tembak, ternyata lelaki itu mencabut pistol dari pinggangnya dan langsung menembak harimau itu
" Pewaris Gelang Resi Wiratama ada di sini" lelaki itu berkata sambil melihat liontin yang bersinar . Satria yang mendengar itu menjadi kaget karena ternyata lelaki itu mencari pewaris Gelang Eyang Resi Wiratama, yang berarti dirinya.Ia diam di tempat sambil melepas semua bending yang melekat di kaki dan tangannya, bersiap jika lelaki itu menyerangnya
" Keluarlah, aku tahu kau berada di sini!" teriak lelaki itu, lelaki itu ternyata Harya, kepala keluarga Sutasoma yang mencari keberadaan Gelang Candra Kirana, milik Satria.
liontin penunjuk itu ternyata membawa Harya ke gunung Rajabasa, tepat di mana Satria sedang mencari tempat untuk melakukan tapa Brata pati geni
Satria diam di tempat, walau ia bisa melawan dengan kekuatan tenaga dalam, namun untuk menghadapi senjata api yang di pegang lelaki itu jelas ia belum bisa
Satria menggenggam bending yang ada di tangannya , jika kepepet ia akan melemparkan bending itu pada lelaki itu
Satria yang bersembunyi di balik semak belukar itu menghela napas panjang. Ia sadar, bersembunyi lebih lama lagi tidak ada gunanya. Orang tua itu sudah tahu keberadaannya, dan jika ia terus bersembunyi, justru akan terlihat pengecut. Dengan perasaan waspada yang memuncak, Satria perlahan melangkah keluar dari balik semak-semak, berdiri tegak di hadapan Pak Harya.
Begitu tubuh Satria terlihat jelas, tiba-tiba liontin yang melingkar di leher Pak Harya bersinar jauh lebih terang dari sebelumnya. Cahaya merah menyala itu berdenyut-denyut seolah-olah memiliki nyawa, menunjuk tepat ke arah dada Satria. Pak Harya menatap liontin itu, lalu menatap wajah Satria dengan pandangan yang tajam namun bercampur rasa lega dan serakah.
" ternyata benar kau di sini" gumam Pak Harya perlahan. Suaranya berat dan penuh tekanan. "Pewaris dari Resi Wiratama. Dan barang yang kucari itu, pasti ada padamu."
Satria tetap diam, tangannya erat menggenggam kedua bending pemberat yang ia lepaskan dari kaki dan tangannya tadi. Benda itu terbuat dari plastik tebal yang berisi pasir halus dan butiran timah kecil, cukup berat untuk digunakan sebagai senjata tumpul sekaligus penahan serangan.
"Aku tidak tahu apa yang Bapak maksud," jawab Satria dengan suara tenang meski hatinya berdebar kencang. "Aku hanya orang biasa yang sedang mencari kayu bakar."
"Jangan berlagak bodoh!" bentak Pak Harya, suaranya menggema di antara pepohonan. "Liontin ini tidak akan salah arah. Barang yang kucari, Gelang Candra Kirana, ada padamu. Serahkan padaku, atau kau akan mati di sini" ancam Pak Harya
" Aku tidak punya benda yang bapak maksud" sangkal Satria
"Rupanya kau memang keras kepala. Baiklah, jangan salahkan aku jika harus mengambilnya dengan paksa!" seru Pak Harya.
Wuuut
Pak Harya melangkah maju dengan kecepatan yang luar biasa.dan langsung menyerang menggunakan ilmu silatnya.
Rupanya ia ingin menangkap Satria. Tangan kanannya mengepal, diayunkan ke arah ulu hati Satria dengan tenaga yang terpendam.
wuuut
Plaaak
Angin berdesir kencang akibat pukulan itu. Satria yang sudah siap siaga segera mengangkat kedua tangannya yang memegang bending untuk menangkis.
suara Bending yang di pakai menangkis terdengar
Satria terhuyung mundur beberapa langkah karena kalah tenaga
"Bagus, ternyata kau berisi juga!" seru Pak Harya kagum sekaligus makin berapi-api. "Tapi lihat saja apakah kau bisa bertahan lebih lama!"
Hiaaaaat
wuuut
Pak Harya melancarkan serangan demi serangan dengan jurus-jurus yang rumit dan mematikan. Ia menggunakan gaya silat yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan, setiap pukulan dan tendangan mengandung tenaga dalam yang cukup untuk merobohkan pohon besar sekalipun.
Satria terus bergerak mengelak, sesekali menangkis atau membalas serangan dengan bending yang ia pegang.
Saat Pak Harya melancarkan serangan tangan kosong, Satria menangkisnya dengan bending yang tebal dan berat, sehingga serangan yang seharusnya bisa mematahkan tulang, hanya terasa seperti benturan benda keras.
Plaaak
Plaaaak
Plaaaak
Suara benturan terdengar terus menerus. . Satria terus bergerak memutar, memanfaatkan kelincahannya untuk menghindari serangan mematikan Pak Harya. Kadang ia melompat tinggi, kadang merunduk rendah, sesekali melemparkan ayunan bending ke arah kaki atau tangan lawannya untuk mengganggu keseimbangan.
" Kurang ajar!' Pak Harya menjadi kesal karena serangannya tak satupun mengenai tubuh Satria
Pertarungan berlangsung cukup lama. Stamina Pak Harya yang sudah mulai menurun seiring usia, mulai terlihat. Napasnya mulai memburu, sedangkan Satria masih terlihat lincah dan segar, meski keringat membasahi seluruh tubuhnya. Berkali-kali Pak Harya melancarkan serangan pamungkasnya, namun selalu bisa diantisipasi dan ditahan oleh Satria menggunakan bending pemberat itu.
Melihat kemampuan bertahan Satria yang melebihi perkiraannya, amarah Pak Harya semakin memuncak. Ia sadar, jika terus bertarung dengan ilmu silat saja, ia tidak akan bisa mengalahkan pemuda itu yang memiliki keunggulan stamina dan kelincahan.
" Sudah Cukup"
Tiba-tiba, Pak Harya melompat mundur menjauh dari jangkauan serangan Satria. Dengan gerakan kilat, tangannya meraih pinggangnya dan mencabut kembali pistol yang tadi ia gunakan untuk menembak harimau itu. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengarahkan moncong senjata itu tepat ke arah dada Satria.
" Mati kau!"
DOR!
Suara tembakan yang keras memecah keheningan hutan.
Satria yang sudah mengantisipasi melempar salah satu bending yang ada di tangannya tepat ke arah peluru yang melaju ke arahnya.
Pyaaaar
bending yang di lempar Satria pecah berantakan Pasir halus dan debu dari Bending berhamburan ke segala arah, menciptakan awan tebal yang langsung menutupi pandangan di area itu.
Satria memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri ia berbalik badan dan berlari sekencang-kencangnya menjauh dari tempat itu, masuk semakin dalam ke kawasan hutan yang lebat.
"Jangan Pergi Kau!" raung Pak Harya di balik awan pasir itu.
Satria yang berlari ke hutan sempat terlihat oleh Pak Harya, ia segera mengejar jejak Satria. sambil berlari mengejar, sesekali pak Harya menembakkan peluru ke arah depan, berharap bisa mengenai satria
DOR!
DOR!
DOR!
Satria berlari zig zag untuk menghindari tembakan pak Harya
Namun, semakin ia berlari, medan yang dilaluinya semakin sulit. Jalan setapak yang tadinya ada, kini hilang tertutup semak belukar dan bebatuan besar. Hutan di bagian atas ini semakin gelap dan sunyi, menimbulkan perasaan takut yang samar di hati Satria.
Hingga akhirnya, tanpa di sadari ia berada dekat dengan sebuah lubang yang dalam
Lari Satria menalmbat saat melewati lubang itu tetapi menjadi kesempatan untuk pak harya
mengangkat kembali pistolnya, kali ini dengan posisi yang lebih siap untuk menembak tepat sasaran.
DOR!
Suara tembakan meledak tepat saat Satria berusaha melompat ke samping untuk menghindar, namun masih sempat menyerempet betis kaki kanannya.
Cesss!
Rasa panas yang menusuk terasa di kakinya. Darah segar langsung membasahi celananya. Rasa sakit itu membuat keseimbangan tubuh Satria terganggu. Ia terhuyung mundur, tidak sadar bahwa di belakangnya terdapat sebuah lubang besar yang tertutup semak belukar tipis.
"Arghhh!" teriak Satria saat tubuhnya kehilangan pijakan.
Tanpa sempat berpegangan pada apa pun, tubuh Satria terjatuh masuk ke dalam lubang yang dalam itu.
Pak Harya segera mengejar tetapi tubuh Satria sudah masuk kedalam lubang itu dan tak terlihat lagi
" Sial, gelang itu malah terbawa masuk!" geram Pak Harya, dengan langkah kesal ia meninggalkan tempat itu kembali ke perguruan Naga Hitam