NovelToon NovelToon
Menantang Langit Yang Busuk

Menantang Langit Yang Busuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: KuntilTraanak

Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.

Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.

Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18—Pertarungan l

Bai Luan menatap datar ke arah sekumpulan orang berjubah hijau yang berada tepat di bawahnya. Saat ini ia bertengger di atas bebatuan yang menonjol dari lereng bersalju, posisinya lebih tinggi dari kelompok tersebut, membuatnya dapat melihat mereka dengan jelas.

Sementara itu, kelompok berjubah hijau itu berdiri tersebar, tiga orang di arah barat, lima orang di arah timur, dan pria bertudung yang berdiri di dekat wadah berbentuk telur besar berisikan darah. Beberapa dari mereka tampak sibuk membunuh binatang yang telah di tangkapnya, beberapa juga terlihat sedang waspada karena merasakan kehadirannya.

Pria itu tersenyum sinis. Ia mengangkat sedikit tudung hitamnya, memperlihatkan sebagian wajahnya, lalu melirik tajam ke arah sosok burung putih besar yang berada tidak jauh dari sana hingga tatapan mereka bertemu. Tatapannya tenang, tetapi jelas menunjukkan bahwa ia sedang mengamati dengan serius. Dalam satu pandangan saja, pria itu sudah bisa memastikan bahwa burung putih besar itu bukan binatang biasa. Dari ukuran tubuhnya, bentuk sayapnya, dan cara ia berdiri dengan tenang di tengah udara dingin, pria itu langsung tahu bahwa burung itu merupakan binatang tingkat tinggi.

“Akhirnya datang juga mangsa yang lebih menggiurkan.” ujar pria itu seraya menjilat bibirnya, terlihat cukup senang dengan kedatangannya.

Bai Luan menyadari peringai tak menyenangkan yang di tunjukkan pria itu. Ia kemudian memberikan serangan berikutnya yang memunculkan puluhan bilah es tajam di sekelilingnya. Bilah-bilah itu melayang sesaat seolah menunggu perintah selanjutnya, sebelumnya akhirnya melesat cepat kearah pria bertudung itu dalam satu gerakan cepat.

Saat bilah-bilah itu menghantam area di sekitar pria itu, salju yang menumpuk ditanah langsung berhamburan ke udara seperti debu yang tertiup angin kencang. Namun, ketika salju itu perlahan turun kembali pada tempatnya, Bai Luan menyadari bahwa pria itu telah menghilang dari tempatnya.

Ia pun mengepakkan sayapnya dan mulai menjauh dari tempat itu. Namun sebelum ia sempat benar-benar menjauh, sebuah serangan cepat mengarah padanya dari samping. Serangan itu datang begitu tiba-tiba dan hampir tidak memberi waktu baginya untuk berpikir. Ia refleks memiringkan tubuhnya untuk menghindar, dan itu memang berhasil tetapi gerakan mendadak itu membuat salah satu sayapnya tidak sempat menghindar sepenuhnya. Serangan tersebut mengenai bagian sayap kiri atas, dalam sekejap keseimbangannya langsung hilang.

Tidak butuh waktu lama, tubuhnya pun jatuh dari langit. Ia menghantam daratan bersalju dengan keras, membuat salju di sekitarnya beterbangan dan meninggalkan bekas jatuh yang cukup dalam.

“Cih!" Desisnya pelan seraya melirik kearah sayapnya, dimana disana ia pun menjadi tahu bahwa serangan tak terlihat pria itu ternyata berupa jarum tipis kecil yang memang tak akan terlihat dari kejauhan.

Ia mengalirkan energi qi pada jarum itu dan membuatnya lepas dari sayapnya. Namun hanya beberapa detik kemudian ia merasakan perubahan pada tubuhnya. Sayap kirinya terasa berat, lalu perlahan mati rasa. Ia mencoba mengepakkannya, tetapi gerakannya tidak lagi seimbang. Ia pun menyadari bahwa ia sudah terkena racun yang ada dalam jarum tersebut.

Ia kemudian dengan cepat melompat mundur beberapa langkah di atas salju, menjaga jarak dari para praktisi berjubah hijau yang mulai menyadari keberadaannya dan segera bergerak mengelilinginya. Kini ia tak bisa pergi ke udara dan hanya bisa mengandalkan kemampuan bertarung jarak dekatnya yang tak seberapa.

Salah satu praktisi tingkat lima maju lebih dulu, mengayunkan pedang panjang yang dilapisi qi. Tebasan itu memanjang beberapa meter, membelah salju di tanah saat melesat ke arah Bai Luan. Hal itu membuat Bai Luan mengangkat satu sayapnya yang masih bisa bergerak, dan dalam sekejap lapisan es tebal terbentuk di depannya seperti perisai. Tebasan pedang itu menghantam dinding es dan memecahkannya menjadi serpihan, tetapi serangannya berhasil dihentikan.

Belum sempat ia bergerak, dua praktisi lain menyerang dari sisi kiri dan kanan. Mereka tidak memberi Bai Luan waktu untuk mengumpulkan energi besar dan terus menyerang bergantian, memaksanya terus bertahan serta mundur. Bahkan diantara mereka terdapat praktisi yang menggunakan teknik tebasan api, yang mana hal itu menjadi kelemahan terbesarnya.

Tanah bersalju di sekitar mereka sudah penuh bekas tebasan, lubang ledakan kecil, dan pecahan es. Bai Luan kemudian mengepakkan sayap kanannya dengan kuat, membuat angin dingin berputar di sekitarnya dan langsung membekukan permukaan tanah dalam radius beberapa meter. Para praktisi berjubah hijau itu segera mundur dan naik ke atas pepohonan, tetapi salah satu praktisi yang terlambat mundur kakinya langsung terjebak dalam lapisan es.

Dalam satu gerakan cepat, Bai Luan membuka paruhnya dan menembakkan tombak es panjang yang langsung menembus bahu praktisi tersebut dan melemparkannya beberapa meter ke belakang. Namun di saat yang sama, beberapa jarum tipis kembali melesat dari arah yang sulit dilihat.

Bai Luan memutar tubuhnya untuk menghindar, tetapi satu jarum tetap mengenai bagian pahanya. Ia langsung melompat menjauh, matanya menyipit mencari posisi pria bertudung hitam itu. Yang mana pria itu berdiri tegak diatas batu tempatnya bertengger sebelumnya, ia terlihat tidak bergerak sama sekali. Tangannya hanya sesekali terangkat, lalu jarum-jarum kecil melesat tanpa suara dan sulit di prediksi.

Seolah tak memberikannya waktu berpikir, tiga praktisi tingkat lima di depannya kembali menyerang bergantian dengan koordinasi yang rapi, memaksa Bai Luan tetap berada di tempatnya.

Meskipun begitu, sebagai binatang tingkat tujuh, Bai Luan masih jauh lebih kuat dari mereka dalam pertarungan langsung. Setiap kali cakar atau sayapnya mengenai lawan, praktisi itu pasti terpukul mundur atau terluka. Masalahnya bukan kekuatan, tetapi jumlah lawan dan racun yang terus memperlambat tubuhnya.

Disaat yang genting itu, tiba-tiba Di Xinyuan muncul menerobos kelompok itu dari arah timur. Ia memukul dadanya seraya mengaum keras, tubuhnya terlihat merah membara menandakan bahwa dirinya sedang dalam mode bertarung. Hawa panas langsung membuat salju disekitarnya mencair, bahkan beberapa diantara praktisi itu langsung mundur untuk menghindari perubahan suhu yang mendadak. Yang mana itu dapat menghancurkan organ dalam mereka jika tidak siap.

“Seharusnya kau bersabar sedikit, kak.” ucap Di Xinyuan diakhir kekehan kecil.

Kera itu kemudian memukul tanah dibawahnya, menciptakan getaran hebat yang kemudian membelah tanah itu dan memunculkan sebuah lava panas. Ia kemudian menyebarkan energi pada lava itu membuatnya terangkat keatas membentuk sebuah bola-bola kecil yang mengambang diudara.

Dengan senyuman lebar, ia langsung melemparkan lava itu pada para praktisi dengan membabi buta. Di Xinyuan tidak sempat memilih targetnya sesuai strategi Bai Luan, jadi ia menyerang semua orang yang mengenakan jubah hijau termasuk mereka yang berada di tingkat 4.

Di sisi lain, pria bertudung itu memasang ekspresi terkejut. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan langsung dipertemukan dengan dua sosok binatang dengan tingkatan yang tinggi. Senyuman lebar pun terpampang jelas di wajahnya, bahkan ia meneteskan air liurnya merasa bahwa ini akan menyenangkan.

Krek

Suara patahan ranting pohon membuatnya tersadar, tetapi sebelum sempat ia menengok, tiba-tiba seorang anak laki-laki menendangnya menggunakan kaki hingga ia terjatuh kebawah lereng dengan mendadak.

“KENAPA KAU MENENDANGNYA?! TUSUK! TUSUK!” Teriak Wuxu yang merasa bahwa Yuofan ini bodoh.

“AKU REFLEK!” balas Yuofan tak kalah ributnya.

1
Koplak
mulai seru nih
Koplak
pertama baca langsung tertarik💪
Nanik S
Cerita yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!