NovelToon NovelToon
Prince Of The Wind

Prince Of The Wind

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan dari Perbatasan

Taman istana dipenuhi cahaya pagi. Bunga-bunga bermekaran rapi, tertata sempurna seperti lukisan. Air mancur di tengah taman mengalir tenang.

Namun—tidak ada suara lain. Tidak ada tawa. Tidak ada percakapan.

Hanya satu orang—Lein.

Ia duduk di bangku batu, menatap kosong ke arah kolam. Tangannya menyangga dagu.

“Membosankan sekali.”

Bisiknya pelan.

Angin berhembus ringan, menggerakkan rambutnya. Namun tidak cukup untuk mengusir rasa sepi itu.

Di dalam istana—semua orang sibuk. Sementara dia—hanya menunggu. Hari demi hari.

“Kalau seperti ini terus…”

Ia menghela napas panjang.

“Aku bisa gila.”

Sunyi kembali. Hanya suara air yang terdengar.

Beberapa saat berlalu. Lein memejamkan mata. Membiarkan pikirannya kosong. Mencoba—melupakan rasa bosan itu.

Namun—tap.

Sebuah suara kecil terdengar di belakangnya. Namun cukup untuk membuatnya membuka mata.

Belum sempat ia menoleh—sebuah suara terdengar.

“Kalau bosan…”

Lein langsung berdiri. Matanya tajam ke belakang.

“Kamu bisa latihan denganku.”

Reyd berdiri di sana. Seolah kemunculannya tidak aneh sama sekali.

Lein sedikit terdiam. Lalu menghela napas.

“Jangan muncul seperti itu. Aku hampir kaget.”

Nada suaranya datar.

Reyd mengangkat bahu.

“Kamu tidak menyadari kehadiranku, ya.”

Lein menyilangkan tangan.

“Karena aku tidak mengira ada orang yang mengganggu.”

Reyd tersenyum tipis.

“Kejam juga kamu.”

Lein tidak membalas. Namun matanya tidak lepas dari Reyd.

“Kamu sudah selesai latihan?”

Reyd mengangguk pelan.

“Untuk hari ini sudah.”

Sunyi sejenak. Angin kembali berhembus. Kali ini—lebih nyaman. Tidak sepi seperti sebelumnya.

Lein kembali duduk. Kali ini—ia tidak sendirian.

Reyd berdiri di sampingnya.

Beberapa detik—tidak ada yang bicara.

“Lebih baik.”

Bisik Lein pelan.

Reyd melirik.

“Apa baiknya?”

Lein memalingkan wajah sedikit.

“Tidak terlalu membosankan sekarang.”

Jawabnya singkat.

Reyd tersenyum tipis.

 

Taman masih tenang. Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga yang menenangkan.

Lein duduk diam. Reyd berdiri di sampingnya. Tidak ada percakapan. Namun suasana itu—sudah cukup.

Untuk beberapa saat, dunia terasa jauh dari masalah.

Namun—langkah cepat terdengar.

Seorang prajurit muncul dari balik lorong, napasnya sedikit terengah.

“Pangeran Kedua!”

Suaranya lantang.

Reyd langsung menoleh. Tatapannya berubah serius.

“Ada apa?”

Prajurit itu berlutut cepat.

“Kami membutuhkan bantuan Anda!”

Lein berdiri. Ekspresinya ikut berubah.

“Apa yang terjadi?”

Prajurit itu menelan napas.

“Di perbatasan kerajaan—muncul monster sihir.”

Sunyi sesaat. Angin terasa berhenti.

“Jumlahnya meningkat. Mereka mencoba memasuki wilayah kita.”

Tatapan Reyd mengeras.

“Sejak kapan mereka muncul?”

“Beberapa saat yang lalu.”

Prajurit itu menjawab cepat.

“Pasukan sudah dikerahkan, tapi—”

Ia ragu sejenak.

“Mereka bukan lawan yang mudah.”

Reyd tidak berkata apa-apa. Namun keputusannya sudah jelas.

Ia melangkah maju.

“Aku akan ke sana sekarang.”

Nada suaranya tegas. Tidak ada keraguan sedikit pun.

Prajurit itu langsung menunduk.

“Terima kasih, Pangeran Kedua!”

Lein memperhatikan. Namun tangannya mengepal pelan.

“Kamu baru saja selesai bertarung.”

Ucapnya pelan.

Reyd berhenti sebentar.

“Aku tahu.”

Lein melanjutkan.

“Kondisimu belum pulih sepenuhnya.”

Sunyi. Angin berhembus pelan.

Reyd akhirnya menoleh sedikit. Tatapannya tenang.

“Kerajaan lebih penting dari sekadar cinta.”

Jawabnya singkat.

Lein menatapnya.

“Jangan mati, ya.”

Akhirnya hanya itu yang keluar.

Reyd tersenyum tipis.

“Aku tidak akan mati.”

Tanpa menambah apa pun—ia berbalik.

Lein tetap berdiri di taman. Menatap punggung Reyd yang semakin jauh.

Angin kembali berhembus. Namun kali ini—tidak terasa menenangkan.

“Yah, sepi lagi.”

Bisiknya pelan.

1
Protocetus
Min belum kontrak min?
Mr. Wilhelm
Ini beda penulis sama novel² sebelumnya, kah?

soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?

what happen?
Apin Zen: Gk om, Setiap novel pakai editor.
Soalnya malas revisi, meski dikit juga sih yang baca tapi seru nulis novel fantasy, hehe.
total 3 replies
Mr. Wilhelm
Keknya mending dihapus narasi yg sebelumnya deh, soalnya hampir sama dengan dialog ini.
Mr. Wilhelm
Emmm harusnya Ayahnya kan yg pewaris dan Seyron jdi ahli waris?
Mr. Wilhelm
Keknya harus upload ulang, paragrafnya jdi jelek, langsung copas, kah?
Apin Zen: baca ulang lagi bab 1 nya Mr, apa masih kurang🤔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!