Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Mereka kembali saling berhadapan, penuh dengan permusuhan yang kental terasa.
"Saya tidak mau membuat masalah dengan anda tuan Alexander, lebih baik saya ke taman saja bermain dengan kedua anak saya, setelah itu saya akan pulang, bisa tunjukkan tempatnya? ". Ucapnya mengalah.
Percuma juga dia menekankan dirinya kepada hal yang seperti ini tidak akan ada gunanya apalagi ini dirumah orang.
Alex menghembus kan nafasnya kasar, beban di pundaknya terasa lebih berat karena harus menghadapi kenyataan jika kedua anak yang begitu dia sayangi adalah anak orang yang dia benci.
"Disebelah sana". Tunjuknya dengan tatapan kesal.
Erlangga hanya mengangguk pelan, dia berjalan mengikuti arahan yang ditunjukkan oleh Alexander barusan, dia sudah tidak mau berlama-lama bersama ketua mafia itu.
"Dasar menyebalkan". Sinisnya melihat kepergian Erlangga.
Dia ikut melangkah, pergi dari sana menuju ruang kerjanya untuk menyiapkan berkas kerjasama, hari ini dia akan pergi ke perusahaannya.
Sedangkan Wina yang berada dikamarnya kini menatap kearah bawah dimana disana ada Erlangga dan juga kedua anaknya sedang bermain pelan, walau anaknya masih sakit mereka terlihat ceria bertemu dengan ayahnya, hatinya gamang melihat itu.
"Aku tidak mungkin bisa bersama Erlangga, ini sudah cukup, aku tidak akan membiarkan keluarga mereka terus mengusik hidupku". Ucapnya pelan sambil terus mengontrol anaknya dari kamarnya.
"Itu kamar bunda, itu bunda ada disana". Tunjuk Wira ketika melihat ibunya berdiri di balkon kamar untuk memperhatikan mereka
Erlangga mendongkak melihat kearah atas, benar saja disana ada Wina yang sedang memperhatikan mereka dari atas.
Mata keduanya bertemu, Wina menatapnya dengan tatapan biasa saja, tidak ada binar cinta yang besar seperti pertama kali mereka bertemu, itu membuatnya seakan dipukul balu besar dan rasanya sakit sekali.
"Kalian mau kita utuh sebagai keluarga, ada bunda dan daddy? ".
Dia kini mencoba peruntungannya melalui kedua anaknya, dia ingin memiliki Wina, mungkin Wina akan luluh dan bersedia bersamanya demi kedua buah hati mereka jadi dia memanfaatkan hal itu.
Dia tidak sadar jika Wina mendengar apa yang dia ucapkan pada kedua anaknya tanpa berkata, hanya melipat kedua tangannya didada membiarkan apa yang akan dia katakan.
"Apa bunda mau? ". Tanya Wira dengan polos.
Tania menatap sang daddy dengan mata berbinar, sejak dulu impiannya ingin memiliki keluarga utuh, tapi terhalang semua keluarga sang daddy.
"Tentu saja Tania mau Dad, daddy kan tahu kalau sejak dulu Tania ingin keluarga kita lengkap, Tania punya bunda dan juga kakak, itu pasti seru sekali". Girang Tania dengan wajah cerah.
Hati Erlangga berdenyut nyeri mendengar pengakuan sang anak, begitu juga dengan Wina, dia jelas mendengar apa yang diucapkan sang anak barusan.
"Kamu bujuk bunda yah nak, kita bisa hidup bersama jika bunda kalian mau". Ucapnya sengaja mengeraskan sedikit suaranya agar Wina mendengar nya.
Dia ingi Wina tahu, keinginannya memiliki dirinya selama ini sama besarnya dengan beberapa tahun yang lalu, begitu juga dengan perasaan cintanya.
Wina melihat segalanya dari atas, kini dia tahu Erlangga sama saja dengan keluarganya yang memiliki ambisi yang berlebihan bahkan akan melakukan segala hal termasuk memprovokasi kedua anak mereka untuk membuatnya tunduk, melihat itu keputusannya memang sudah benar.
Apapun yang terjadi nanti, dia tidak akan bersama pria itu, dia akan memberi batas yang tegas nantinya, dia tidak akan menghalangi Erlangga bertemu kedua anaknya tapi untuk dirinya harus ada batas yang tegas.
"Kami akan bicara dengan bunda nanti Dad, tapi Wira tidak akan memaksa bunda, biarkan bunda memilih, aku tidak mau bunda kembali merasa sakit seperti ketika bersama ayah Reno". Jawab Wira dengan bijak mendengar pembicaraan keduanya.
Erlangga langsung menoleh cepat kearah putranya yang kini menatap sang bunda dari tempatnya berpijak.
"Kenapa nak?, kamu tidak ingin punya keluarga utuh? ". Tanyanya dengan suara bergetar menahan emosi.
Dia tidak menyangka jika putranya akan berbicara seperti itu padanya, dia kembali memandang Wina yang tersenyum miring melihatnya dari atas sana.
Didikan Wina pada Wira sangat melekat, dia mengajarkan anaknya untuk tidak egois dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain tanpa melupakan dirinya sendiri dan inilah perbedaan mencolok tentang pola pengasuhan di keluarga mereka.
Erlangga hidup dilingkungan keluarga yang begitu menekan dan juga tingkat keegoisan yang tinggi, apalagi dengan besarnya Ego sebagai seorang Pria dan keluarga bermartabat, dan dia berharap itu tidak melekat pada putrinya yang tumbuh disana.
"Bukan tidak ingin Daddy!! , aku hanya ingin bunda juga bahagia, karena selama ini bunda selalu mengutamakan aku diatas segalanya, aku tidak mungkin egois dengan mengesampingkan keinginan dan kebahagian bunda dengan semua keinginanku". Jawab Wira dengan sendu.
Erlangga mematung dan duduk dengan kaku, dia merasa tertampar dengan perkataan sang anak barusan, dia berusaha memaksa Wina dengan keinginannya tanpa menyadari jika Wina sudah tidak ingin bersamanya, dia bahkan berusaha menggunakan anaknya untuk memaksa Wina.
Tania menunduk, dia sedih mendengar perkataan sang kakak, mereka memang ingin memeiliki keluarga utuh tapi hatinya juga setuju perkataan kakaknya itu karena dia begitu meyayangi sang ibu.
"Maaf Dad, yang dikatakan kak Wira benar, kita tidak bisa mengesampingkan keinginan bunda diatas keinginan kami, untuk apa kami bahagia jika bunda tidak, kami tidak ingin egois, Daddy pasti tahu bagaimana keluarga kita memperlakukan bunda selama ini".
Gadis cantik ini menunduk, selama ini dia jelas mendengar dan mengingat bagaimana keluarganya membahas tentang menjatuhkan dan menghancurkan sang bunda, dia diam bukan karena tidak tahu tapi dia berusaha untuk tidak bicara karena jika dia mengeluarkan suaranya untuk membela sang bunda dia pasti akan mendapatkan bentakan dan juga pukulan tanpa diketahui sang ayah.
Erlangga menghela nafas kasar, melihat anaknya yang sepertinya tidak bisa dia andalkan, dia hanya bisa pasrah tapi dia tidak akan mundur, dia harus mendapatkan Wina dan harus hidup bersama anak-anak nya, jika Wina bersama orang lain dia tidak akan bisa memiliki keluarga utuh dan anaknya akan ikut dengan ibunya.
Erlangga kembali melihat Wina yang melambaikan tangannya kepada kedua anaknya dengan mata berkaca-kaca, kini dia sadar jika Wina berhasil mendidik kedua anaknya dengan baik termasuk Tania yang belum lama bersamanya.
"Aku tidak akan menyerah Wina, aku tidak akan memberikan kamu kepada orang lain begitu juga dengan anak-anak, sudah cukup aku mengalah saat Reno meminangmu". Ucapnya dalam hati.
"Jangan kotori pikiran anak-anak ku Erlangga, kamu harus tahu batas, jangan sampai aku melarangmu bertemu dengan mereka karena kamu membawa dampak buruk pada pemikiran mereka". Ucapnya dengan datar dan tajam
certia cukup menarik🙏