NovelToon NovelToon
Mengandung Anak Teman Sekelas

Mengandung Anak Teman Sekelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

[SEKOLAH]

Raline baru saja tiba di sekolah dengan mengendarai ojek online. Ia melepas helm, merapikan sedikit rambutnya dan langsung pergi menuju gedung sekolah.

Ia memeluk buku catatan milik Nisa, teman sekelasnya, untuk dikembalikan setelah ia menyalin semuanya semalam.

Ketika akan menaiki tangga, ia melihat Faiz yang akan turun dari lantai atas, berpapasan dengannya. Matanya langsung bisa menangkap wajah pemuda itu yang terlihat memar-memar, sadar bahwa Faiz juga terluka seperti Kaisar.

Faiz tersenyum lebar begitu melihatnya, walaupun sedikit terlihat meringis ketika otot-otot wajahnya tertarik oleh senyum.

"Pagi, Lin," sapanya hangat sembari turun mendekati Raline.

"Pagi," balas Raline, matanya terus menatap wajah pemuda itu.

"Muka lo kenapa?" tanya Raline, pura-pura tak tahu apa yang terjadi.

Faiz menyentuh wajahnya yang memar, lalu tersenyum lebar lagi seolah bukan apa-apa. "Ah, ini cuma karena kebentur doang semalam," jawabnya, bohong. "Gapapa kok, besok juga udah sembuh."

"Kebentur?" tanya Raline, mimik wajahnya menunjukkan ia tak percaya.

Faiz mengangguk. "Ho'oh. Biasalah gue agak ceroboh kalo jalan. Hehehe..."

Raline mangut-mangut seolah percaya, tapi kemudian tangannya terangkat dan menepuk bahu Faiz dengan keras.

Plak!

Plak!

"Khhh!"

Faiz langsung mengerang tertahan, tubuhnya refleks membungkuk sambil memegangi bahunya yang baru saja dihantam Raline. Wajahnya yang semula berusaha terlihat tegar kini memerah padam, menahan perih yang luar biasa.

"Aduh, Lin! Pelan-pelan dong!" ringisnya dengan suara serak, napasnya memburu pendek-pendek.

Raline melipat tangan di depan dada, menatapnya dengan satu alis terangkat. "Katanya cuma kebentur, kok malah kayak remuk badan lo. Padahal cuma gue tepuk bagian bahu doang."

Faiz terdiam, tertangkap basah. Ia mencoba kembali tegak, tapi rasa nyeri di bahu dan rusuknya, akibat perkelahian semalam yang ia sembunyikan, membuatnya gagal tampil keren. Ia menyengir kuda, kali ini terlihat jauh lebih tulus sekaligus pasrah.

"Kalo mau ngibul tuh pinter dikit," kata Raline. "Lo bukan kebentur, kan? Tapi lo berantem."

"Yah, ketauan deh. Iya deh, gue ngaku," aku Faiz jujur sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Raline menghela napas panjang, lalu berjalan naik melewati pemuda itu. Faiz cepat-cepat mengikuti dan mensejajarkan langkahnya di samping Raline.

"Ngapain lo masih sekolah? Kenapa gak istirahat aja di rumah sampai luka lo sembuh?" tanya Raline tanpa menoleh, langkahnya pelan seolah memberikan kesempatan untuk Faiz bisa mengobrol dengannya sambil berjalan.

"Mana bisa," jawab Faiz. "Emak gue galaknya minta ampun. Kalo gak sekolah, ya ditambah lagi dipukul pake sapu lidi."

"Mungkin emak lo gedek sama lo yang nakal. Karena lo sering kayak gini, jadinya dia pikir lo itu kuat, gak ngerasain sakit meski babak belur."

"Hahaha!" Faiz tertawa, tapi kemudian meringis lagi. "Iya juga ya. Artinya gue cowok yang kuat. Keren, kan?"

Raline memutar bola matanya. "Keren apaan? Yang ada di mata gue malah lo kekanak-kanakan, berantem buat hal-hal yang gak perlu."

"Ih, kata siapa? Berantem itu sebagai pembuktian kalo kita kuat sebagai cowok. Itu termasuk keren loh." Faiz terdengar bangga.

"Kata kalian emang keren, tapi buat gue nggak. Apalagi berantem cuma gara-gara masalah cewek, itu juga gak ada sangkut pautnya langsung sama kalian. Cuma gara-gara masa lalu cewek, bikin hidup menderita gitu. Punya musuh seumur hidup. Gak penting amat."

Langkah Faiz terhenti. Ia lalu bertanya, "Dari mana lo tau kalo kita berantem gara-gara masa lalu cewek?"

Raline langsung membeku. Langkah kakinya terhenti seketika di anak tangga terakhir. Jantungnya berdegup kencang karena sadar lidahnya baru saja terpeleset terlalu jauh.

"Sial!"

Ia merutuki kecerobohannya di dalam hati. Seharusnya ia tetap berpura-pura tidak tahu, tapi rasa kesalnya pada kelakuan Kaisar saat ia bercerita semalam membuatnya lepas kendali.

"Eh?" Raline menoleh pelan, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat menegang. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencari alasan yang masuk akal.

"Ya... ya nebak ajalah!" jawab Raline dengan nada suara yang naik satu oktav, tanda ia sedang gugup. "Emangnya cowok kayak kalian berantem gara-gara apa lagi kalo bukan rebutan cewek? Masalah sepele yang digede-gedein, kan?"

Faiz menyipitkan matanya, menatap Raline dengan penuh selidik. Ia melangkah satu anak tangga lebih tinggi agar bisa menatap mata gadis itu dengan sejajar.

"Gue nggak pernah bilang berantem gara-gara dendam perkara masa lalu cewek," potong Faiz pelan, suaranya terdengar lebih serius dari sebelumnya. "Apa lo tau dari seseorang diantara Kai sama teman-teman gue?"

"Atau mungkin..." Faiz tampak semakin curiga. "Lo punya hubungan sama salah satu dari kita selain gue, yang bikin lo tau tentang itu karena ceritanya?"

Raline meremas buku catatan Nisa di pelukannya semakin erat. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Ia tidak mungkin jujur bahwa ia tahu semuanya dari Kaisar yang telah menjadi suaminya. Bisa bahaya jika Faiz tahu hubungannya dengan kaisar.

"Gue bilang cuma nebak!" kilah Raline ketus sambil membuang muka, mencoba berjalan mendahului Faiz agar pemuda itu tidak melihat rona merah di pipinya karena panik.

Faiz meraih pergelangan tangan Raline, membuat gadis itu berhenti melangkah. Faiz pun beralih, berdiri di hadapan Raline, menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.

"Lin, jawab gue jujur," ucapnya, serius. "Apa lo punya hubungan sama salah satu dari kami?"

Raline terdiam, matanya menatap Faiz. Ia melihat tatapan pemuda itu, selain ingin tahu tapi juga terlihat ada kilatan cemburu yang begitu kentara.

Ia menghela napas dan melepaskan tangan Faiz dengan lembut.

"Gak ada," jawabnya, lebih lembut daripada tadi. "Gue gak ada hubungan sama salah satu dari mereka kok. Lagian, temen-temen lo gak ada yang menarik."

Faiz masih dengan ekspresinya, seakan tak percaya dengan apa yang Raline katakan.

Raline menyadari tak mudah membohongi Faiz dalam hal seperti ini. Ia pun ngantian meraih pergelangan tangan Faiz lalu menarik pelan.

"Udah, gak usah mikirin yang nggak-nggak. Mending sekarang ikut gue, kita obatin luka lo sebelum bel masuk," kata Raline, berusaha menghindari pertanyaan tambahan.

"Eh, tapi..."

"Udah..." potong Raline tegas sembari terus menarik tangan Faiz. "Kalo lo banyak tanya lagi, gue ogah temenan sama lo!"

Mendengar ancaman itu, Faiz langsung bungkam seribu bahasa. Ia membiarkan Raline menarik lengannya menuju UKS, meski hatinya masih menyimpan bongkahan rasa penasaran yang mengganjal.

Di koridor yang mulai ramai oleh siswa lain, Raline berjalan dengan langkah lebar, berusaha menutupi debar jantungnya yang belum juga melambat. Ia merutuki bibirnya sendiri.

Hampir saja! batinnya.

Jika Faiz sampai tahu ia tinggal satu atap dengan Kaisar, habis sudah reputasinya. Dan bukan tak mungkin antara kedua pemuda itu akan baku hantam gara-gara dirinya.

*****

1
Martha Dimas
lnjut thor
Nurul Hilmi
lanjut Thor, selalu menunggu karyamu
Lisdaa Rustandy: makasih
total 1 replies
deeRa
nyess kan bang-kai🤭
Martha Dimas
double up thor, mkin seru
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
kok judulnya beda ya thor
Lisdaa Rustandy: aku ubah kak🙏
total 1 replies
deeRa
Kai, aku bingung mau mendeskripsikan kamu Seperti apa.
😌
falea sezi
lama amat cerai nah laki oon gini nunggu lo nyesel kai
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double thor
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!