NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Barter Nyawa di Ujung Fajar

Gempa tektonik hukum baru saja mengguncang fondasi kekuasaan di Jakarta. Penangkapan Hakim Agung Baskara di kediamannya—yang disiarkan langsung oleh seluruh stasiun televisi—menciptakan gelombang kejutan yang merambat hingga ke gang-gang sempit panti asuhan.

Namun, di balik kemenangan kebenaran itu, ada seekor predator luka yang sedang menyusun rencana pembalasan terakhir.

Adrian Baskara berdiri di tengah ruang tengah rumah mewahnya yang kini berantakan. Koleksi botol anggur mahal pecah berserakan di lantai, mencerminkan hancurnya reputasi keluarganya dalam semalam. Ayahnya diseret dengan borgol, ibunya jatuh pingsan, dan karier bedah sarafnya yang cemerlang kini tamat di bawah bayang-bayang malpraktik dan konspirasi.

"Xavier... Aisyah..." desis Adrian. Matanya merah, bukan karena tangis, tapi karena dendam yang membakar akal sehatnya. "Kalian pikir kalian menang? Kalian tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan."

Ia mengambil tas medisnya, namun kali ini isinya bukan alat bedah, melainkan suntikan berisi succinylcholine—pelemas otot yang mematikan jika tidak dibantu alat pernapasan. Ia tahu ke mana ia harus pergi. Ia tahu titik lemah Arkan yang paling fatal: Rahman Malik.

Di paviliun panti asuhan, suasana seharusnya damai. Namun, penjagaan Leo yang sempat terbagi untuk mengawal Arkan di pengadilan memberikan celah kecil. Hamdan sedang pergi ke apotek pusat, meninggalkan Rahman Malik sendirian di kursi rodanya di teras belakang, menatap pohon mangga yang sedang berbuah.

"Selamat sore, Tuan Rahman," sebuah suara familiar menyapa dari balik bayang-bayang.

Rahman menoleh. Ia mengenali Adrian, putra sahabat lamanya yang telah mengkhianatinya.

"Adrian? Apa yang kau lakukan di sini, Nak? Polisi sedang mencarimu."

"Polisi tidak akan menemukanku sebelum aku menyelesaikan urusanku," Adrian melangkah maju, tangannya menyembunyikan suntikan di balik saku jasnya. "Ayahmu menghancurkan ayahku. Dan putrimu menghancurkan hidupku.

Sekarang, biarlah Arkan memilih: Keadilan untuk ayahnya, atau nyawa untuk mertuanya."

Dalam satu gerakan cepat, Adrian menekan titik saraf di leher Rahman dan menyuntikkan dosis kecil penenang sebelum membawanya ke mobil yang telah ia siapkan di pintu belakang panti yang tak terjaga.

Arkan sedang berada di sel transisinya di Rutan Salemba pasca-sidang ketika seorang petugas sipir—yang ternyata adalah kaki tangan Adrian yang tersisa—melemparkan sebuah ponsel ke dalam selnya.

Ponsel itu berdering. Arkan mengangkatnya, instingnya langsung memberi sinyal bahaya.

"Dengar baik-baik, Xavier," suara Adrian terdengar dingin dan bergetar. "Aku memiliki Rahman Malik di sebuah gudang tua di pelabuhan Sunda Kelapa. Gudang nomor 14, tempat ayahmu dulu menyimpan senjata ilegalnya. Ironis, bukan?"

"Adrian! Jika kau menyentuhnya, aku bersumpah..."

"Diam! Aku tidak butuh sumpahmu. Aku butuh videomu," Adrian memotong. "Buat video pernyataan bahwa seluruh kesaksianmu tadi siang adalah kebohongan yang direncanakan oleh Aisyah dan Jaksa Hendra untuk menjatuhkan ayahku. Kirimkan video itu ke media dalam satu jam, atau aku akan menyuntikkan dosis fatal ke paru-paru Rahman. Dia akan mati dalam keadaan sadar, perlahan, tanpa bisa meminta tolong."

Sambungan terputus. Arkan meninju dinding selnya hingga buku jarinya berdarah. Ia terjepit dalam dilema iblis. Jika ia membuat video itu, ayahnya Aisyah selamat, tapi seluruh perjuangan mereka untuk membersihkan nama Rahman dan menghukum Baskara akan hangus. Jika ia diam, ia akan kehilangan pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.

Arkan tahu ia tidak bisa mengandalkan birokrasi polisi yang lambat dalam satu jam ini. Ia harus bertindak sendiri. Ia memanggil sipir muda yang bertugas di depan selnya, pria yang pernah ia bantu melunasi hutang rumah sakit ibunya beberapa bulan lalu.

"Rendy, aku butuh bantuanmu. Sekali ini saja. Bukan untuk melarikan diri selamanya, tapi untuk menyelamatkan Pak Rahman," bisik Arkan.

Rendy gemetar. "Tuan Arkan, itu bunuh diri bagi karier saya."

"Hidup pria jujur seperti Pak Rahman lebih berharga dari kariermu, Rendy. Buka pintu belakang rutan, berikan aku kunci motor. Aku berjanji akan kembali sebelum fajar menyingsing untuk menyerahkan diri."

Melihat kesungguhan di mata Arkan, Rendy akhirnya luluh. Dengan bantuan kegelapan malam dan kekacauan administrasi pasca-sidang besar, Arkan berhasil keluar dari rutan. Ia memacu motornya menuju pelabuhan Sunda Kelapa, luka di bahunya berdenyut hebat, tapi ia tidak merasakannya.

Aisyah, yang baru saja menyadari hilangnya ayahnya, menerima koordinat GPS rahasia dari Leo yang berhasil melacak mobil Adrian melalui CCTV kota. Ia tiba di pelabuhan hampir bersamaan dengan Arkan.

"Arkan!" teriak Aisyah saat melihat sosok pria itu turun dari motor dengan kemeja putih yang masih berdarah.

"Aisyah, jangan mendekat! Adrian bersenjata kimia," Arkan menahan bahu Aisyah. "Tetap di belakangku. Leo akan tiba dengan tim Brimob dalam lima menit, tapi kita tidak punya lima menit."

Mereka masuk ke dalam gudang yang gelap dan pengap. Di tengah ruangan, di bawah lampu gantung yang bergoyang, Rahman Malik terikat di kursi kayu. Adrian berdiri di belakangnya, memegang suntikan tepat di atas pembuluh darah leher Rahman.

"Kau datang, Xavier. Mana videonya?" tanya Adrian, matanya liar seperti binatang buas yang terpojok.

"Lepaskan dia, Adrian. Kau seorang dokter, demi Tuhan! Ingat sumpah Hippokrates-mu!" teriak Aisyah, air matanya jatuh melihat ayahnya yang pucat.

"Sumpah itu mati saat ayahku diseret seperti binatang!" raung Adrian. "Xavier, berlutut! Buat pengakuan itu sekarang di depan kamera ponselmu!"

Arkan perlahan berlutut. "Baik. Aku akan melakukannya. Tapi biarkan Aisyah mendekati ayahnya untuk memberikan pertolongan pertama. Dia kesulitan bernapas."

Adrian ragu sejenak. Kesombongannya sebagai dokter membuatnya ingin melihat Aisyah menderita lebih lama. "Silakan, Dokter Aisyah. Lihatlah betapa rapuhnya ayahmu di tangan putra seorang pengkhianat."

Saat Aisyah mendekat, Arkan memberikan kode mata yang sangat cepat—kode yang hanya mereka pahami setelah berbulan-bulan berkomunikasi lewat tatapan di ruang sidang.

Aisyah pura-pura memeriksa denyut nadi ayahnya, namun ia sengaja menjatuhkan tas medisnya, menciptakan suara keras yang mengalihkan perhatian Adrian selama satu detik.

CRAK!

Arkan melesat seperti anak panah. Meski bahunya terluka, ia menggunakan berat tubuhnya untuk menerjang Adrian. Mereka berguling di lantai semen yang kasar. Suntikan di tangan Adrian terlempar jauh.

"Kau menghancurkan segalanya!" Adrian memukul wajah Arkan dengan membabi buta.

Arkan tidak membalas dengan kekerasan mematikan. Ia mengunci gerakan Adrian dengan teknik submission yang efisien. "Aku tidak menghancurkanmu, Adrian. Keserakahan ayahmu dan dendammu yang menghancurkan kalian sendiri."

Sirene polisi meraung masuk ke area pelabuhan. Lampu biru dan merah menyinari dinding gudang yang berlubang. Pasukan Brimob merangsek masuk, mengamankan Adrian yang kini hanya bisa menangis tersedu-sedu di lantai, menyadari akhir dari segalanya.

Aisyah memeluk ayahnya yang mulai sadar.

"Ayah... Ayah tidak apa-apa?"

Rahman Malik menatap Arkan, lalu menatap putrinya. "Dia datang untukku, Aisyah... Dia kembali ke tempat ini untukku."

Arkan berdiri perlahan. Ia tidak melarikan diri. Ia justru berjalan menuju Jaksa Hendra yang baru saja tiba di lokasi. Arkan menjulurkan kedua tangannya, siap untuk diborgol kembali.

"Tugas saya selesai, Pak Jaksa. Silakan bawa saya kembali ke Salemba," ucap Arkan tenang.

Jaksa Hendra menatap Arkan dengan penuh rasa hormat. "Tindakanmu malam ini akan dicatat sebagai bentuk kerja sama yang luar biasa dalam keadaan darurat, Arkan. Kau mempertaruhkan remisi dan nyawamu untuk saksi kunci dan warga sipil."

Sebelum dibawa masuk ke mobil tahanan, Arkan berhenti di depan Aisyah. Cahaya fajar mulai muncul di ufuk timur pelabuhan, menerangi wajah mereka berdua.

"Kau menyelamatkan Ayah, Arkan," bisik Aisyah, menyentuh lengan Arkan yang terluka.

"Aku hanya membayar apa yang seharusnya kusembuhkan sejak dulu," jawab Arkan. "Aisyah, bersiaplah. Sidang akhir akan segera tiba.

Setelah itu... tidak akan ada lagi rahasia, tidak ada lagi borgol, hanya ada kita dan mawar-mawar itu.

Arkan masuk ke mobil polisi dengan senyuman yang paling tulus yang pernah ia miliki. Ia telah memenangkan pertempuran terbesar: bukan melawan mafia atau hakim korup, tapi melawan kegelapan di dalam dirinya sendiri.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!