Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.
"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"
Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Aetherion Vaelastrasz
Pintu kayu tua itu berderit terbuka, menyingkap hamparan cahaya putih yang menelan sisa-saia debu sihir Sinmi. Dari balik ambang pintu, melangkah keluar seorang pria yang kehadirannya seolah membekukan waktu.
Rambutnya panjang menjuntai hingga pinggang, berwarna putih salju dengan gradasi biru es di ujung-ujungnya yang berpendar. Matanya yang sewarna langit fajar menatap lekat pada tubuh gadis yang tergeletak lemah di atas lumut.
Ia adalah Aetherion Vaelastrasz, Sang Penjaga Gerbang Cakrawala yang telah mengasingkan diri selama ribuan tahun hanya untuk menunggu momen ini.
Aetherion tidak membuang waktu. Ia segera mengangkat tubuh Elysianne dengan kelembutan seorang kakak. Begitu ia menyentuh kulit gadis itu, ia merasakan kekacauan frekuensi: sisa-sisa polusi London (Christina), trauma tubuh manusia yang rapuh (Sybilla), dan api Kayangan yang mengamuk.
"Kau telah menempuh perjalanan yang terlalu kotor, Tuan Putri," bisik Aetherion, suaranya seperti gema di puncak gunung salju.
Dengan satu hentakan kaki, Aetherion membangkitkan Kubah Absolut. Gelombang sihir murni berwarna perak meluas dari kuil, menciptakan perisai dimensi yang tidak akan bisa dilihat oleh mata merah Lysander, tidak bisa ditembus oleh pedang Adamant Cyprian, bahkan tidak bisa dilacak oleh indra kegelapan Erebus. Tempat ini kini hilang dari peta dunia.
Untuk menyelamatkan nyawa Elysianne, Aetherion membuat keputusan yang dingin namun perlu. Kekuatan emas di dalam tubuh gadis itu mengamuk karena jiwanya terbelah oleh tiga identitas yang berbeda.
Aetherion meletakkan telapak tangannya di dahi Elysianne. Cahaya biru es mengalir dari jemarinya, meresap masuk ke dalam pusat memori.
Kenangan tentang gedung-gedung tinggi, motor tua, aroma bunga di toko, dan kesedihan di London... semuanya ditarik keluar dan dilarutkan menjadi kabut hampa.
Rasa takut pada Count Felix, pernikahan paksa dengan Cyprian, dan dinginnya air danau Aethelgard... semuanya dihapus tanpa sisa.
"Lupakan penderitaan manusia ini," gumam Aetherion. "Jadilah cahaya kembali."
Seiring dengan hilangnya ingatan itu, tubuh fisik "Sybilla" mengalami evolusi drastis. Kulitnya yang pucat kini memancarkan pendar emas halus yang sehat. Rambut peraknya tumbuh lebih panjang, berkilau seperti benang-benang bintang. Tanda sihir di pergelangan tangannya yang tadinya tampak seperti tato luka, kini berubah menjadi perhiasan emas yang menyatu dengan kulitnya.
Gaun pengantin yang compang-camping itu hancur, digantikan oleh jubah tenunan cahaya yang dijahit oleh angin langit.
Beberapa jam kemudian, Elysianne membuka matanya. Tidak ada lagi keraguan ungu atau ketakutan manusia di sana. Matanya kini berwarna emas murni dengan pupil yang berpendar biru terang.
Ia duduk perlahan, menatap tangannya sendiri yang memancarkan kehangatan ilahi. Ia menoleh ke arah Aetherion yang berdiri setia di sampingnya.
"Aetherion?" suaranya jernih, penuh dengan nada surgawi yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Berapa lama aku tertidur di bumi yang rendah ini? Di mana ayah dan ibuku?"
Ia benar-benar telah melupakan Christina. Ia tidak ingat siapa itu "Cyprian" atau pria bermata ruby bernama Lysander. Baginya, kehidupannya di bumi hanyalah sebuah mimpi buruk yang baru saja ia lupakan saat terbangun di pagi hari.
.
.
.
Di dalam aula Kuil Astraea yang sunyi, Aetherion berlutut di hadapan Elysianne. Rambut putih-birunya menyapu lantai perak saat ia menundukkan kepala dengan takzim.
"Goddess, waktu untuk meratapi mimpi manusia telah usai," ucap Aetherion, suaranya bergema seperti guntur yang tenang. "Erebus telah mengerahkan legiun bayangannya. Gerbang Langit Ketujuh mulai retak, dan para Dewa tidak bisa menahan kegelapan itu tanpa Cahaya Astraea yang kau bawa di nadimu. Kita harus kembali ke Kayangan... sekarang."
Elysianne berdiri. Gerakannya tidak lagi memiliki keraguan manusiawi. Ia menatap telapak tangannya yang memancarkan pendar emas murni, lalu mengangguk datar. "Bawa aku pulang, Aetherion. Tempat ini terasa... pengap."
Dengan satu lambaian tangan Aetherion, ruang dan waktu terlipat. Dalam sekejap, mereka berada di Balairung Astraea, pusat dari Kayangan yang terbuat dari kristal matahari dan awan abadi. Di sana, di atas takhta cahaya, duduk Dewa Aether dan Dewi Selene.
Suasana yang seharusnya penuh haru justru terasa membeku.
Dewi Selene berdiri, tangannya gemetar ingin memeluk putrinya yang sudah terpisah selama 19 tahun (di waktu bumi). Namun, saat ia melihat mata emas Elysianne yang jernih tanpa celah memori manusia, ia menghentikan langkahnya.
"Elysianne... kau... kau sudah kembali," bisik Selene. Ia mencari kilatan "Christina" atau kelembutan "Sybilla" di mata itu, namun ia tidak menemukannya. Yang berdiri di depannya adalah seorang Dewi Perang yang sempurna, dingin, dan sangat berkuasa.
"Hormat saya, Ayahanda, Ibunda," ucap Elysianne dengan nada yang sangat formal, seolah ia tidak pernah pergi ke bumi. "Aetherion mengatakan ada kotoran neraka yang mencoba menyentuh gerbang kita. Berikan aku perintah, dan aku akan memusnahkan mereka."
Dewa Aether menatap istrinya dengan tatapan penuh arti. Mereka berhasil menyelamatkan putri mereka dari Erebus, namun mereka menyadari satu hal: Aetherion telah menghapus sisi kemanusiaan Elysianne terlalu bersih. Putri mereka kini lebih menyerupai senjata daripada seorang anak.
Di tengah pembicaraan taktik perang, tiba-tiba sebuah suara raungan yang sangat jauh—seolah dari dimensi yang sangat rendah—terdengar di telinga Elysianne. Itu adalah raungan Pegasus Hitam milik Cyprian yang sedang mengamuk di lembah bawah.
Elysianne terhenti sejenak. Jantungnya berdenyut aneh, sebuah rasa sakit yang tajam namun samar, yang tidak seharusnya dirasakan oleh seorang Dewi tanpa memori.
"Ada apa, Putri?" tanya Aetherion waspada.
"Tidak ada," jawab Elysianne dingin, meski ia sedikit mengerutkan kening. "Hanya suara angin dari dunia bawah yang bising. Mari lanjutkan. Di mana posisi pasukan Erebus sekarang?"
Elysianne melangkah menuju balkon balairung. Di bawah sana, ribuan prajurit langit bersayap emas telah bersiap. Di tangan kanannya, ia memanggil Pedang Astraea, sebuah bilah cahaya yang sanggup membelah malam.
Ia tidak tahu bahwa di bumi, Cyprian sedang berdiri di reruntuhan kuil yang kosong, memegang sepotong kain dari gaun Sybilla, bersumpah untuk membelah langit jika itu perlu untuk membawa istrinya kembali.