NovelToon NovelToon
Detektif Kacau Balau

Detektif Kacau Balau

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mata-mata/Agen / Persahabatan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar Transit, Kopi Pahit, dan Badai Gurun

Pagi itu, suasana di kamar kontrakan berbeda. Meja makan yang biasanya dipenuhi catatan dan peralatan elektronik kini dipenuhi bungkusan. Ada koper berukuran sedang, ransel bertali kuat, kotak soto instan, dan beberapa buku panduan bahasa Arab yang sudah lusuh di sudut. Di samping koper, ada tumpukan paspor yang baru diambil dari agen, masih dengan kertas penutup transparan. Semua siap untuk perjalanan ke negeri yang hanya mereka kenal dari berita dan gambar di internet.

Tento menatap paspornya dan menekan-nekan halaman yang masih kaku. Ia membaca setiap stempel dari perjalanannya yang lalu – Singapura, Swiss, Jerman – dan membayangkan stempel baru yang akan menghiasi halaman berikutnya. “Ini seperti album kenangan,” katanya pelan. “Setiap stempel punya cerita, tapi kali ini ceritanya mungkin lebih rumit.”

Perikus duduk di lantai dengan kaki bersila, memasukkan paket kopi bubuk ke dalam tas kecil. Ia menghela napas berat. “Kopi bubuk ini harus diselamatkan. Aku tidak tahu apakah di Dubai ada kopi seperti ini. Ada, pasti, tapi rasanya belum tentu seperti di sini,” ujarnya sambil memeriksa persediaan. “Dan jangan lupa, aku membawa tasbih. Siapa tahu aku butuh menenangkan diri di tengah padang pasir.”

Maya datang membawa laptop dan sebuah amplop cokelat. Ia menyalakan laptop di atas meja dan menampilkan peta digital. “Aku baru saja mendapatkan pesan dari Nur. Dia setuju untuk bertemu kalian di sebuah kafe dekat rumah sakit. Ini foto tempatnya,” katanya sambil menunjukkan gambar bangunan batu dengan pintu lengkung dan lampu temaram. “Dia bilang jam operasional kafe itu unik – buka menjelang senja, tutup menjelang subuh. Tempat yang tepat untuk berbincang tanpa menarik perhatian.”

Tento mengamati foto itu. “Aku punya pertanyaan, Maya. Bagaimana kita tahu kalau Nur bisa dipercaya? Bagaimana kalau ini jebakan? Haris bilang ada penyusup.”

Maya menatap serius. “Setiap kontak punya risiko. Tapi aku memeriksa latar belakangnya. Nama lengkapnya Nur Maulidah, perawat asal Jawa Timur, pindah ke Dubai tahun lalu melalui program rekrutmen perawat. Dia pernah mengirim email ke yayasan yang dipimpin Profesor, mempersoalkan praktik rumah sakit yang aneh. Aku yakin dia jujur. Namun, tetap waspada. Gunakan kode jika perlu.”

Mereka masih ingat pesan misterius tentang Arman, orang yang mengaku wartawan tetapi diduga bekerja untuk White Lotus. Tidak ada informasi baru tentangnya, tapi bayangannya menghantui mereka. “Aku akan memeriksa siapa saja yang mungkin menyamar. Jangan percaya orang yang tiba-tiba mendekat,” kata Maya, menyerahkan amplop cokelat. “Ini berisi uang tunai, mata uang dirham, dan kartu SIM lokal. Kalian butuh ini untuk komunikasi di sana.”

Sore hari, mereka berkumpul di warung Pak Mulyono. Pak Mulyono menyiapkan mangkuk soto ayam, kali ini dengan tambahan kerupuk udang. Aroma rempah memenuhi udara. “Kapan kalian berangkat?” tanya Pak Mulyono sambil mengusap meja.

“Besok pagi,” jawab Tento. “Kita transit di Kuala Lumpur, lalu melanjutkan ke Dubai.”

“Wah, jauh sekali. Hati-hati di sana. Jangan lupa soto. Kalau ada soto di sana, coba kirim foto ke sini,” kata Pak Mulyono dengan logat khasnya. Semua tertawa.

Perikus menyendok kuah soto, meniupnya, lalu menyeruput. “Terima kasih, Pak. Soto ini akan kami rindukan. Dan, Pak, tolong doakan kami. Kami akan menghadapi hal yang sulit.”

Pak Mulyono mengangguk. “Tentu saja. Saja doakan. Ini bukan soal soto atau kopi. Ini soal kalian mencari kebenaran. Bismillah.”

Setelah makan, mereka kembali ke kontrakan untuk mengecek ulang semua perbekalan. Mereka memeriksa kamera, memastikan baterai penuh. Mereka menyiapkan beberapa pakaian longgar yang sesuai dengan budaya setempat. Tento menggulung hoodie hijau tua yang menjadi ciri khasnya dan memasukkannya ke dalam tas. “Aku akan membawa ini. Mungkin aku butuh di malam hari,” katanya.

Maya membantu mereka memasang aplikasi enkripsi di ponsel. “Gunakan aplikasi ini untuk komunikasi internal. Ini akan menghapus pesan setelah dibaca. Jangan gunakan aplikasi umum. Dan ingat, jika ada yang menanyakan data, jangan jawab. Jika situasi berbahaya, ada tombol darurat di aplikasi ini yang akan mengirim sinyal ke server.”

Malam itu, Perikus duduk di depan laptop, menonton video tutorial bahasa Arab. “Marhaban,” katanya mencoba mengikuti pengucapan, suaranya agak berat. “Terima kasih artinya syukran, kan?”

“Ya, syukran,” jawab Tento sambil menulis beberapa kata di buku catatan. “Dan ‘maaf’ itu ‘afwan’.”

“Aku juga belajar bahasa tubuh,” kata Perikus serius. “Katanya, jangan menunjuk dengan jari telunjuk, tapi dengan seluruh tangan. Dan jangan memakai sepatu masuk rumah.”

“Tidak hanya di sana, di sini juga begitu,” balas Tento. Mereka tertawa, kemudian kembali fokus belajar. Setiap kata baru yang diucapkan terdengar asing tetapi sekaligus mengasyikkan. Mereka tahu bahasa bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa menjadi jebakan jika salah ucap.

Ketika jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, mereka akhirnya mematikan lampu. “Besok perjalanan panjang,” kata Tento sambil berbaring. Di luar, hujan gerimis tipis turun, menimbulkan suara halus di atap seng. Rasa cemas bercampur antusiasme memenuhi hati. Mereka tidak tahu apakah bisa tidur, tetapi mereka memejamkan mata, memaksakan diri untuk beristirahat.

Keesokan paginya, mereka tiba di Bandara Juanda di Surabaya. Terminal keberangkatan dipenuhi penumpang membawa koper warna-warni. Antrian check-in mengular. Di layar informasi, nama-nama kota asing bergantian muncul. Mereka berdiri di antrian, memeriksa kembali tiket, paspor, dan surat-surat. Aromaterapi bandara bercampur bau roti panggang dari kafe terdekat.

Seorang pria berdasi mendekat, membawa kamera dan kertas. “Maaf, apakah kalian dari Yayasan Joko Karin?” tanya pria itu. “Saya wartawan. Boleh minta wawancara singkat?”

Tento dan Perikus saling pandang. Kepala mereka serentak teringat pesan tentang Arman. “Maaf, kami sedang tergesa,” jawab Tento, mencoba menghindar. “Kami harus segera boarding.”

“Satu pertanyaan saja,” desak pria itu. “Bagaimana pendapat kalian tentang pemerintah yang menolak tuduhan kalian?”

Perikus menoleh, melihat logo di kartu pers pria itu. Ia tidak mengenali media itu. “Kami sudah menyampaikan di konferensi pers kemarin. Silakan tonton rekamannya,” katanya sopan namun tegas.

Pria itu tersenyum tipis. “Baiklah. Selamat jalan.” Ia melangkah menjauh, menekan tombol kamera seakan mengambil foto. Tatapan matanya sempat bertemu dengan mata Tento, memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan. Setelah pria itu pergi, mereka menarik napas lega.

“Itu Arman?” bisik Perikus.

“Aku tidak tahu, tetapi dia cukup agresif,” jawab Tento. “Mungkin hanya wartawan. Mungkin juga bukan. Tapi peringatan Haris tak boleh dianggap enteng.”

Setelah melewati pemeriksaan keamanan, mereka duduk di ruang tunggu. Di dinding, televisi menayangkan berita lokal: seorang pejabat tertangkap dalam kasus korupsi, sekilas menyinggung program kesehatan. Wajah Rina muncul di layar, berbicara di depan DPR tentang etika riset. Mereka memperhatikan beberapa detik. “Rina tidak pernah berhenti,” gumam Tento bangga.

Panggilan untuk boarding terdengar. Mereka berjalan melewati garbarata, memasuki pesawat dengan lambang maskapai internasional. Kursi mereka di barisan tengah. Mereka menaruh koper kabin, duduk, mengencangkan sabuk pengaman. Pramugari membagikan headphone, membisikkan petunjuk keselamatan dalam beberapa bahasa. Perikus memasang headphone, mencoba mendengarkan, tetapi matanya fokus ke jendela kecil yang memperlihatkan sayap pesawat.

Pesawat bergerak perlahan, lalu berakselerasi, menimbulkan getaran halus yang membuat perut seolah terangkat. Mereka saling menatap, kemudian tersenyum. Ini bukan penerbangan pertama mereka, tetapi setiap lepas landas selalu memunculkan sensasi campur aduk. Kota Surabaya mengecil, sungai tampak seperti garis tipis, sawah seperti potongan puzzle. Langit cerah, awan terlihat seperti gumpalan kapas.

Di penerbangan, mereka berbicara pelan. “Aku benci duduk di tengah, tidak bisa melihat awan,” keluh Perikus. “Dan aku tidak bisa merokok.”

“Ini untuk kebaikanmu,” jawab Tento. Ia membuka majalah penerbangan dan membaca artikel tentang gedung-gedung tertinggi di dunia. Burj Khalifa disebut, lengkap dengan foto menara yang menjulang seperti paku raksasa. “Kita akan melihat ini langsung,” katanya.

Seorang pramugari datang menawarkan minuman. “Teh atau kopi?” tanyanya dalam bahasa Indonesia dengan aksen asing.

“Teh tawar, tolong,” jawab Tento.

“Kopi,” tambah Perikus. “Yang kuat.”

Mereka menghabiskan waktu dengan menonton film, membaca, dan menulis catatan. Perikus mencoba mempelajari kartu frase bahasa Arab yang dibawanya. “Kayfa haluk?” bisiknya. “Apa artinya?”

“Itu menanyakan kabar,” jawab Tento. “Jika ditanya begitu, jawab ‘ana bikhair’ – aku baik.”

“Ana bikhair,” ulang Perikus dengan pengucapan yang lucu. Mereka tertawa, mengalihkan sejenak ketegangan perjalanan. Di antara tawa, mereka tetap memikirkan misi. Setiap lembar catatan di kepala mereka berisi nama, kode, jadwal, dan risiko.

Setelah beberapa jam, mereka mendarat di Kuala Lumpur International Airport untuk transit. Bandara ini lebih besar, dengan lorong-lorong panjang, toko bebas pajak, dan makanan dari berbagai negara. Mereka berjalan melalui pemeriksaan transit, mencari layar yang menampilkan gate berikutnya. Waktu transit dua jam memberi kesempatan untuk meregangkan kaki.

Mereka duduk di kursi dekat jendela besar yang menghadap landasan. Pesawat dari berbagai maskapai datang dan pergi. Di depan mereka, seorang gadis kecil berlari mengejar kakaknya. Seorang ibu muda menenangkan bayi. Suara pengumuman dalam beberapa bahasa berbaur dengan suara mesin. “Bandara ini seperti pasar global,” ujar Tento.

“Aku lapar lagi,” gumam Perikus. Mereka mencari restoran cepat saji halal, memesan nasi lemak dan teh tarik. Perikus menatap rendang daging yang terhidang. “Ini enak, tapi tidak seperti soto.”

Selesai makan, mereka kembali ke gate. Panggilan boarding kembali terdengar. Pesawat berikutnya terbang ke Dubai. Mereka memasuki kabin, yang kali ini lebih besar. Kursi berderet, layar monitor menampilkan peta rute perjalanan. Waktu tempuh tujuh jam. Mereka menyiapkan diri untuk duduk lebih lama.

Dalam penerbangan ini, lampu kabin redup setelah makan malam disajikan. Tento membuka laptop kecilnya untuk melihat kembali rancangan rumah sakit. Ia menunjukkan kepada Perikus. “Ini pintu masuk yang harus kita lewati. Dan ini jalan keluar alternatif jika terjadi sesuatu.”

Perikus menelan makanan, menatap layar. “Bagaimana kalau kita tersesat?”

“Kita sudah mempelajari peta. Jangan panik. Ikuti rencana, tetapi siap untuk improvisasi,” jawab Tento. “Dan ingat, kita punya Farid sebagai sopir. Dia bisa menjemput kita jika kita butuh.”

“Aku penasaran, apa yang membuat Nur akhirnya menghubungi kita?” tanya Perikus setelah menutup baki makan. “Apa yang dia lihat sampai merasa perlu melawan?”

“Kita akan tahu setelah bertemu,” balas Tento. “Mungkin dia melihat pasien yang tidak pulih, atau prosedur yang aneh. Atau mungkin dia menemukan formula. Tapi alasan pasti hanya dia yang tahu.”

Perbincangan terhenti ketika lampu kabin dimatikan. Hanya cahaya redup dari jendela yang menembus ruangan. Mereka mencoba tidur. Suara dengkuran halus dari penumpang lain terdengar. Kepala mereka bersandar, pikiran melayang ke gurun, gedung tinggi, rumah sakit, dan kemungkinan bahaya. Tidur tidak nyenyak, tetapi cukup untuk menyegarkan pikiran.

Pukul tiga dini hari waktu lokal, pesawat mendarat di Bandara Internasional Dubai. Mereka merasakan getaran halus saat roda menyentuh landasan. Suara pramugari mengucapkan sambutan dalam bahasa Arab dan Inggris. Pintu pesawat terbuka, udara hangat langsung terasa, berbeda dengan udara di Surabaya dan Kuala Lumpur.

Mereka berjalan melalui koridor berkarpet, melewati poster-poster yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Imigrasi penuh dengan penumpang dari berbagai negara. Antrean teratur, petugas mengenakan uniform tradisional putih dengan surban. Ketika giliran mereka, petugas memeriksa paspor, memindai sidik jari, dan menatap wajah mereka dengan cermat.

“Tujuan Anda?” tanya petugas dalam bahasa Inggris.

“Wisata dan bertemu teman,” jawab Tento tenang. Ia sudah menyiapkan jawaban. Ia tidak menyebut penelitian atau investigasi.

Petugas mengembalikan paspor setelah mencap. “Selamat datang. Selamat tinggal.”

Setelah melewati imigrasi, mereka mengambil koper. Bagian pengambilan bagasi luas, dengan layar monitor besar. Mereka menemukan koper mereka, lalu berjalan ke pintu keluar. Di luar, deretan orang memegang papan nama. Salah satunya bertuliskan “Farid”. Seorang pria berperawakan kurus, berjanggut rapi, memegang papan itu. Ia mengenakan pakaian kasual, celana hitam, dan kaus putih. Mata cokelatnya tampak lelah tetapi penuh perhatian.

“Assalamualaikum. Kalian dari Indonesia?” sapa pria itu dengan logat Arab yang halus.

“Waalaikumsalam,” jawab Tento. “Kau Farid?”

Pria itu mengangguk. “Aku Farid. Aku teman Haris. Aku akan mengantar kalian ke tempat aman. Ayo, mobilku di parkiran.”

Mereka berjalan keluar. Udara malam mengandung aroma campuran bensin dan pasir. Udara kering membuat tenggorokan sedikit kering. Di kejauhan, lampu gedung-gedung tinggi memancarkan kilau biru dan emas. Jalan raya lebar, mobil-mobil mewah melaju cepat namun teratur.

Farid mengantar mereka ke kendaraan utilitas hitam. Interior mobil bersih, musik Arab mengalun pelan. Ia menyetir dengan tenang, sesekali bertanya, “Bagaimana penerbangan kalian?”

“Lancar. Sedikit sulit tidur,” jawab Perikus, menatap keluar jendela. “Kau tinggal di sini berapa lama?”

“Empat tahun. Aku dulunya sopir taksi, sekarang sopir pribadi di rumah sakit. Aku kenal rute. Aku bisa membantu kalian, tetapi kita harus berhati-hati. Ada banyak kamera, banyak penjaga. Kita tidak bisa sembarang bergerak,” jelas Farid, mata fokus ke jalan.

“Apa kau pernah melihat sesuatu yang aneh di rumah sakit itu?” tanya Tento pelan.

Farid menghela napas. “Aku bukan dokter atau perawat, tapi aku sering menunggu di area parkir. Kadang-kadang, tengah malam, mobil-mobil hitam datang. Mereka membawa boks kayu kecil. Petugas berseragam hitam menutup rapat. Mereka masuk ke basement. Tidak ada yang boleh masuk. Aku dengar bisikan, mereka menyebut project B19. Aku tidak tahu apa itu. Yang aku tahu, beberapa sopir yang terlalu penasaran tiba-tiba dipindahkan atau dipecat.”

Percakapan mereka terhenti ketika Farid memasuki jalanan yang lebih sempit. Mereka melewati pasar malam dengan lampu neon Arab, kios menjual parfum, kurma, dan kain. Mereka melintasi jembatan yang mengarah ke kawasan Deira, salah satu bagian lama kota dengan bangunan bata warna krem. Di sana, Farid berhenti di depan sebuah gedung apartemen kecil dengan pintu kayu berat.

“Ini tempat kalian menginap,” kata Farid. “Ini bukan hotel bintang lima, tetapi aman. Pemiliknya teman lama, orang Pakistan. Dia tahu sedikit, tapi dia bisa dipercaya. Dia tidak suka campur tangan urusan orang, dan tidak suka polisi.”

Mereka mengangkat koper, mengikuti Farid naik tangga kayu. Gedung itu beraroma rempah dan masakan kari. Mereka tiba di kamar kecil dengan dua ranjang, sebuah meja, kipas angin, dan jendela kecil. Farid memberi mereka kunci.

“Istirahatlah. Besok aku akan mengantar kalian ke rumah sakit. Aku akan mengenalkan kalian sebagai tamu yang ingin melihat layanan kesehatan. Aku sudah mengurus izin masuk. Tapi ingat, kita hanya punya waktu 30 menit untuk tur resmi. Setelah itu, kalian harus menemukan cara sendiri. Aku akan menunggu di parkiran belakang. Kalau ada masalah, kirim pesan dengan kata sandi ‘pulang malam’.”

Mereka berterima kasih. Farid pergi, menutup pintu. Mereka menghela napas lega, menaruh koper, dan merebahkan diri di ranjang. Perjalanan panjang akhirnya membawa mereka ke sini, tetapi misi baru saja dimulai.

Tento menatap langit-langit bercat putih, mendengar suara kipas berputar. Ia merasakan denyut jantungnya. “Ini terasa seperti bab baru,” katanya pelan.

Perikus memandang jendela, melihat kilau lampu kota yang temaram. “Bab baru dengan teka-teki baru,” sahutnya. “Siapa Arman sebenarnya? Apakah Farid benar-benar dapat dipercaya? Apakah kita bisa bertemu Nur tanpa diketahui?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara. Mereka belum punya jawabannya. Mereka hanya tahu esok hari akan menuntut keberanian, kecerdasan, dan sedikit humor untuk mengatasi ketegangan. Di luar, angin gurun bertiup lembut, membawa butiran pasir halus menempel di kaca. Mereka memejamkan mata, mencoba tidur di negeri yang asing. Namun, di lorong sempit di luar kamar, seseorang menjejakkan kaki pelan, berhenti di depan pintu mereka, lalu berjalan lagi. Suara langkah itu mengingatkan mereka bahwa mereka mungkin tidak sendirian. Keadaan ini pun berakhir dengan ketidakpastian itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!