NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:100.1k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 33

Masih POV Aabid yaa.....

Detik berselang menit pun akhirnya berganti, semua tampak diam, hanya suara denting jam yang terdengar.

Bu Asri dan Pak Harun saling menatap, sementara nenek tua di barisan orang dengan penampilan paripurna itu beberapa kali mendengus lalu membuang muka.

Raut tak suka begitu kentara. Dan aku, masih menikmati alur dan rasa berdesir di dalam sini, menunggu hasil yang mungkin justru akan menambah masalah sekaligus membuatku susah ke depannya nanti.

Begal, hotel, dan selina. Membayangkannya saja sudah membuat kepalaku berdenyut nyeri.

Setelah beberapa saat, terlihat Pak Harun menganggukkan kepalanya pelan.

"Jika memang ini keinginan selina, maka saya ridho dan ikhlas." Akhirnya jawaban terdengar dari pak Harun dengan mata yang berkaca-kaca dan diikuti wajah sendu dari Bu Asri yang ada di sebelahnya.

Seketika hawa panas menelusup masuk dan menjalar ke seluruh tubuhku, jika bisa aku jelaskan saat ini rasa bercampur seolah ingin buang air kecil pun air besar secara bersamaan aku rasakan sekarang. Apa aku benar-benar sangat tegang?

Aku melirik ke arah pria sok kaya dan sok berkuasa, bisa kulihat wajahnya pucat pasi sekarang, mulutnya menganga lebar.

Dalam hati aku berkata. "Lihat sekarang, akulah pemenangnya." Aku lalu menarik bibir tersenyum remeh sebagai pembalasan.

"Karena sudah sepakat, maka kita mulai ijabnya, Nak ...."

"Aabid, nama saya, Aabid Pradipta," sahutku saat penghulu mengerutkan dahi bertanya perihal nama padaku.

Semua menatapku. Kuharap tak ada yang tahu atau curiga meski nama Pradipta ada di dalam namaku.

Sekalipun keheningan menjeda, aku tetap berusaha tenang, bukan Aabid namanya jika tidak bisa segera menetralkan suasana.

Tanpa menunggu waktu dan untuk memutuskan pikiran semua yang ada agar tidak lagi fokus pada nama Pradipta maka dengan cepat aku mengulurkan tangan dan memberi isyarat pada penghulu untuk segera menyambutnya.

Entah apa yang kulakukan, aku bahkan tak pernah berpikir sebelumnya untuk menikah dengan cara seperti ini setelah gagal satu kali.

Tapi ... melihat Pak Harun dan Bu Asri, aku bisa mati berdiri, bahkan menyesal seumur hidup jika sampai tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka.

Pikiranku mulai melayang, berdebar, dan lain sebagainya merasuk secara bersamaan.

Sejauh inikah seorang Aabid mencintai keluarga baru yang bahkan baru satu Minggu dikenal? Argh... ini benar-benar di luar nalar.

Tujuan yang semula untuk melawan trauma terhadap radina di mana Bandung adalah tempat yang banyak mengukir kenangan, tapi sepertinya akan mengukir trauma baru yang justru lebih parah lagi.

"Ananda Aabid Pradipta, saya nikahkan engkau dengan ananda selina Ningtyas Binti Harun. Dengan mas kawin uang sebesar lima juta rupiah dibayar tunai."

Hentakan tangan penghulu menyadarkan aku dari lamunan, tak lantas kujawab, aku hanya mampu menatap ke kiri dan ke kanan, aku bingung harus menjawab bagaimana.

Namun, saat ekor mataku sampai di bangku sebelah, selina menatapku tajam.

"Sa-saya terima nikahnya...." Cepat aku menatap ke arah dinding di belakang penghulu.

"Selina Ningtyas binti Harun Aja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," lanjutku.

Penghulu menghela napas. Wanita di sebelahku pun sama. Sementara para tamu mulai menertawakan.

Dan aku mulai meraba sendiri, apa kesalahan yang sudah ku perbuat hingga mereka menertawakan ku sedemikian rupa?

Tak bisa menemukan akhirnya aku mencari jawaban dari wanita di sebelahku.

"Apa?" bisikku pada selina, kuangkat daguku sebagai bentuk penegasan.

"Aa' kok Harun aja?!" rengek selina padaku dengan raut sebal mulutnya cemberut pula. Menggelikan.

"Kamu kan bilang nama bapak kamu Harun Aja tadi?" Aku balik bertanya.

"Ish, Harun, Om," bisiknya padaku.

Aku tersentak ke belakang, jadi aku salah menyebut nama Pak Harun? Ini sungguh memilukan.

"Ehm." Aku hanya bisa berdehem untuk menetralkan suasana agar hatiku yang sudah sangat malu ini kembali tenang.

Terlebih saat kulihat Dimas mengiringkan senyuman seolah mengejekku.

"Kita ulangi lagi, ya, nak Aabid. Jangan tegang. Dengarkan saya baik-baik."

"Oke, maaf, saya terlalu bahagia jadi kurang sabar dan sedikit tegang." Aku memberi alasan.

Tangannya kembali terulur kali ini aku yang menyambut. Kudengar baik-baik ucapan penghulu.

Seharusnya aku sudah berpengalaman namun nyatanya ini lebih susah dibandingkan pernikahan yang pertama. Mungkin karena tak ada rencana.

"Ananda Aabid Pradipta, saya nikahkan engkau dengan ananda Selina Ningtyas binti Harun dengan mas kawin uang sebesar lima juta rupiah di bayar tunai!"

"Saya terima nikahnya Selina Ningtyas binti Harun dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Lancar, aku mengucapkan tanpa beban dan aku seolah terlahir kembali setelah rasanya mati selama beberapa bulan ini. Terlahir dengan sesuatu yang justru membuatku semakin gila ke depannya nanti.

Ku hembuskan napas kasar entah takdir atau karma yang kuterima saat ini, Mungkin hanya Tuhan yang tahu.

"Bagaimana saksi, sah?" tanya Penghulu pada mereka yang hadir dan para saksi.

"Sah," jawab semua yang ada di ruangan ini.

Lalu do'a dan sholawat pun dilantunkan, menyambut pasangan baru yang sama-sama tak bahagia. Aku tahu.

Kulirik ke arah selina, kutangkap sebuah kelegaan di wajah ayu nya namun juga luka.

Tatapannya bahkan hanya lurus ke depan ke arah meja di hadapan sekalipun lantunan sholawat terdengar membahana.

Ia lalu tersadar, lalu beranjak saat sang ibu memegang pundaknya menyuruhnya untuk berdiri mengikuti ku.

Bu Asri menuntun tangan selina untuk meraih tanganku, lalu mengecup punggungnya, lama, karena pengambilan foto perlu mereka lakukan untuk mengabadikan momen.

Hatiku berdesir hangat, kala kulitnya menyentuh kulitku, lalu merinding tak karuan saat bibirnya menyentuh punggung tanganku.

Bukan terpesona melainkan merinding kala teringat akan mama dan papa.

Ya, bagaimana jadinya jika mereka sampai tahu, bisa dibantai habis-habisan aku. Inikah yang dinamakan ingin bebas dari trauma, tapi menantang perkara baru?

Tidak, bukan itu maksud kedatanganku ke Bandung.

"Argh!"Hatiku kembali mengerang tapi tak bisa ku suarakan. Memuakkan.

"selina kau benar-benar ...." Tak berselang lama lelaki mata duitan itu berkata, tapi tak bisa menyelesaikannya.

Sorot kecewa dan kesedihan begitu terlihat sekarang.

"Mampus! Makanya jangan sombong," batinku berujar lalu tersenyum girang.

"Sekarang sudah jelas kan, siapa yang mengejar dan siapa yang menolak. Bapak saya hanya mengajarkan agama pada anak-anaknya, menjadi orang baik. Jadi jangan pernah lagi berpikir macam-macam. Bapak saya adalah bapak yang terbaik." Suara selina memecah keheningan.

Matanya berkaca-kaca, menatap ke arah sang nenek dan keluarga mantannya secara bergantian.

Ya, mantan, karena sekarang selina bukan lagi calon istri dari Dimas melainkan istri sahku, Aabid.

Entah apa yang terjadi dan disembunyikannya, tapi bisa kulihat dari sorot mata sendunya bahwa ia benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi.

Kurasa dia sedang berusaha memperbaiki nama baik orang tua yang terus diinjak mungkin.

"Semua biaya yang aku keluarkan setelah lelaki ini menggantikan posisiku tidak sejak itu pula semua menjadi tidak gratis selina! Kau harus membayarnya, paling lambat besok."

Dengan tidak tahu malunya dan amarah yang menggebu Dimas berujar pada selina.

Tubuhnya bergetar, si banci mau menangis di ketiak ibunya. Itulah yang pantas untuk lelaki seperti Dimas.

1
aliyya
makin rame aj nich,ayu udh dorong selina ampe kebentur dinding,jgn sampai Aabid melihat nanti makin g bisa d bebas in bpak lo ayu,tp gpp sich jd g ad yg berani bikin keluarga harun sakit hati lg,biar mereka kapok ,,,🤭❤️❤️❤️
bude gemoy
ayo....lanjut tambah greget.....
double up Thor 🙏
bude gemoy
up lagi thor.....😍😍😍😍😍
aliyya
wallpaper nya foto spa y,,,?
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
Danny Muliawati
mksih Thor lumayan banyak update nya😄
Reni Anggraeni
udah unboxing aja 🤭
aliyya
akhirnya udh bisa menyatu selina dan Aabid,besok selina mo d boyong ke jakarta am Aabid,selina harus kuat dan sabar nanti takut ketemu radina yg akan bt ulah bt balas dendam,,,(sotoy)🤭🤣🤣🤣
Intan Nurwulan
Up ka othor
Price Nada
lanjut Thor
aliyya
ceee ileyyyy,,,
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Anggraeni
up LG kk
Siti Siti Saadah
sudah memang buat jujur
Danny Muliawati
semakin seruuuuuu semangat thor
raditya Sujana
ceriganya terlalu bertelele kk, udah waktunya abaid bicara jujur berihal hatinya, jangan terlalu monoton,, tp aku ttp suka, ttp penasaran juga,, 10bunga deh buat kk biar daubel update nya💪💪💪💪kk
Intan Nurwulan
Knpa pd gengsi ya,coba saling jujur kalo mrk sdh mulai ada rasa. Jd gemezzzz😁
Reni Anggraeni
kak kok kmarin up 1 tok
Intan Nurwulan
Double up ka othor
Kharisma Afifa
ayo kang aabid segerah beraksi👍😄
Yus Marni
selalu tambah penasaran aku thor,lanjutt
Siti Siti Saadah
dibandingkan Selina trauma aabid lebih parah. meskipun dia seorang polisi dalam hal jiwa dia belum mampu mengelola traumanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!