NovelToon NovelToon
Suara Yang Tak Pernah Terucap

Suara Yang Tak Pernah Terucap

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.

Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.

Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.

Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.

Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.

Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Keempat yang sangat kacau

Di halaman rumah itu, suara tok… tok… tok… terdengar berulang. Yuda berjongkok di dekat sebuah rangka bambu yang baru setengah jadi. Palu di tangannya naik turun memaku bilah-bilah bambu yang ia susun membentuk kerangka kandang ayam.

Tubuhnya bertelanjang dada. Hanya celana pendek yang ia kenakan. Kulitnya sedikit mengilap oleh keringat yang menetes dari leher hingga dada. Beberapa serpihan bambu berserakan di tanah di sekitarnya.

Pagi itu ia memang berniat menyelesaikan kandang ayam kecil di samping rumahnya. Namun suara mesin motor yang melambat di depan rumah membuat tangannya berhenti di udara.

Tok.

Palu itu tidak jadi turun.

Yuda menoleh ke arah jalan.

Seorang pengendara motor berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.

Seorang perempuan. Masih mengenakan helm dengan visor tertutup. Ia tampak seperti sedang kebingungan sambil melihat ponsel di tangannya.

Yuda mengerutkan kening sedikit. Refleks lamanya sebagai kurir langsung bekerja. Ia sangat familiar dengan gestur semacam itu.

Orang yang mencari alamat. Dan sering kali… hampir menyerah karena peta tidak jelas.

Yuda menancapkan palu itu ke celah bambu, lalu berjalan mendekat ke arah pagar. Langkahnya santai saja, meskipun keringat masih menetes di pelipisnya.

Ia berhenti beberapa langkah dari motor perempuan itu. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung bertanya dengan nada biasa saja.

“Cari siapa, Mbak?”

Pandangan Nazwa masih terpaku pada layar aplikasi peta di ponselnya. Garis biru kecil di sana seolah menjadi jangkar yang menahan dirinya agar tidak semakin gugup.

Kalau ia mengangkat kepala sekarang… ia takut seluruh keberaniannya runtuh.

Namun sudut matanya tetap menangkap sesuatu. Sosok yang berjalan mendekat dari halaman rumah. Dan ketika pandangannya akhirnya sedikit bergeser…

Kepalanya langsung kosong.

Yuda.

Ia hanya mengenakan celana pendek. Bertelanjang dada, dengan keringat yang masih menetes dari pelipis hingga ke dadanya. Kulitnya sedikit berkilau terkena cahaya matahari pagi.

Nazwa langsung membeku di atas motor.

Semua rencana yang ia susun rapi semalam bersama Karin dan Sinta—kalimat pembuka, penjelasan, bahkan cara tersenyum—seketika buyar begitu saja.

“K-kenapa…?” batinnya panik.

“Kenapa Yuda gak pake baju?”

Pikirannya semakin kacau.

“Apa begini kebiasaan cowok kalo lagi gerah? A-atau apa?"

Tangannya mencengkeram setang motor lebih erat. Jari-jarinya bahkan sedikit memutih karena tegang.

Di tangan satunya, ponselnya perlahan meredup karena terlalu lama tidak disentuh.

“Kenapa, Mbak?” suara Yuda terdengar lagi.

“Cari rumahnya siapa?”

Langkahnya semakin mendekat. Sekarang jaraknya hanya beberapa langkah dari motor Nazwa.

Bau keringat samar bercampur aroma bambu yang baru dipotong ikut terbawa angin pagi. Bukan bau yang menyengat, tapi cukup jelas bagi Nazwa yang jaraknya sangat dekat.

Nazwa langsung menutup matanya rapat-rapat. Ia benar-benar tidak siap melihat pemandangan itu.

Tubuh Yuda memang tidak terlalu besar atau kekar seperti atlet. Namun jelas terlihat garis otot khas seseorang yang terbiasa bekerja fisik. Bukan otot yang berlebihan seperti instruktur gym yang sering ia lihat di media sosial.

Tubuh itu terasa… alami.

Proporsional.

Kuat dengan cara yang sederhana. Dan entah kenapa, bagi Nazwa justru terlihat sangat pas.

Pipi Nazwa langsung memanas di balik helmnya. Ia masih menutup mata beberapa detik, mencoba menenangkan diri.

Namun Yuda yang melihat pengendara itu hanya diam saja malah semakin bingung. Ia menggaruk tengkuknya yang basah oleh keringat.

“Mb…?” panggilnya ragu.

“Nyari alamat ya?”

Ia sedikit menunduk mencoba melihat layar ponsel yang masih dipegang Nazwa.

“Kalau mau tanya jalan, bilang aja, Mbak. Biasanya maps di sini suka ngaco.”

Ia berkata santai, sama sekali tidak menyadari siapa orang yang sedang berdiri di depannya.

Sementara di atas motor itu… Nazwa masih berusaha mengumpulkan keberanian.

Kalau terus menatap lurus ke bawah, rasanya kepalanya akan semakin panas. Jadi ia mencoba melihat ke arah lain.

Ke pagar bambu di samping halaman. Ke pohon mangga yang daunnya bergerak pelan tertiup angin.

Namun sayangnya… pandangannya justru kembali tertarik pada sosok di sampingnya.

Matanya tanpa sadar melirik ke bahu Yuda yang mengilap oleh keringat.

Lalu turun ke dada…

lalu ke perut.

Nazwa langsung menelan ludah.

“Astaga…”

Perut Yuda tidak benar-benar besar seperti binaragawan. Namun garis ototnya jelas terlihat—sebuah bentuk sixpack yang samar.

Pandangannya hampir turun lebih jauh.

“I-itu apa?”

Matanya langsung membelalak. Ia menggigit bibir bawahnya. Pikirannya benar-benar kosong sekarang. Segala kewarasan yang ia kumpulkan sejak pagi terasa runtuh begitu saja.

Di sisi lain, Yuda yang berdiri di samping motor itu mulai merasa aneh.

Pengendara itu tidak menjawab.

Tidak bergerak.

Bahkan tidak berkata apa-apa sejak tadi.

Ia mengerutkan kening sedikit.

“Mb…?”

Yuda melambaikan tangannya pelan di depan visor helm itu.

“Denger gak?”

Tidak ada respons.

Akhirnya ia sedikit menunduk dan mencoba mengintip dari bawah visor helm yang tertutup itu.

Dan saat itulah ia melihat wajahnya.

Wajah yang sangat familiar.

Yuda langsung mematung.

“Loh…?”

Nazwa yang menyadari ia sudah ketahuan hanya bisa tersenyum kikuk di balik helmnya.

Senyum kecil yang canggung.

Sementara otak Yuda seakan berhenti bekerja beberapa detik. Baru beberapa detik kemudian kesadaran menghantamnya keras.

Ia langsung menegakkan tubuh dengan kaku.

“Astagfirullah hal adzim…” batinnya panik.

“Kok... gue terlalu berani gak pake baju di depan dia?”

Ia langsung merasakan panas menjalar ke wajahnya.

Tangannya refleks mengusap tengkuknya yang basah oleh keringat. Sekarang ia benar-benar berdiri setengah telanjang di depan perempuan yang selama ini terus terbayang di kepalanya.

Sementara Nazwa masih duduk di atas motor.

Helm masih terpasang.

Dan suasana di antara mereka tiba-tiba terasa sangat canggung.

Yuda langsung menyadari satu hal yang sangat fatal.

“Pantesan dia gak jawab apa-apa…” batinnya panik.

“Cewek yang super pemalu, lu malah nyamperin dengan kondisi kayak gini.”

Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

Tanpa banyak pikir, Yuda cepat-cepat membungkuk dan mengambil selembar tripleks tipis yang tadi berada di bawah kakinya—sisa bahan untuk kandang ayam. Ia mengangkatnya dengan cepat dan menahannya di depan tubuh bagian bawahnya seperti tameng darurat.

Sekarang posisinya benar-benar canggung.

Setengah telanjang.

Memegang tripleks.

Dan berdiri di depan Nazwa.

“A-aku gak nyangka kalau kamu tiba-tiba dateng sekarang, Wa,” ucapnya gugup.

Nada suaranya bahkan terdengar lebih tinggi dari biasanya.

“M-masuk aja yuk!”

Ia sedikit menggeser posisi tripleks itu, memastikan benda itu cukup menutup harga dirinya. Sekarang dia benar-benar terlihat seperti maling ayam yang baru saja kepergok warga.

Di sisi lain, Nazwa masih mematung di atas motor.

Mesin motornya bahkan sudah mati sejak tadi. Tangannya masih menggenggam setang, tubuhnya nyaris tidak bergerak sama sekali.

Beberapa detik hening.

Lalu akhirnya ia mengangguk pelan. Gerakan kecil yang hampir tak terlihat.

Melihat itu, Yuda langsung panik lagi.

“Sebentar! Tunggu ya!”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik. Dengan langkah cepat—hampir seperti lari kecil—Yuda ngacir masuk ke dalam rumah sambil tetap memegangi tripleks di depan tubuhnya.

Pintu rumah terbuka. Lalu tubuhnya menghilang ke dalam.

Tinggal Nazwa sendirian di halaman depan.

Beberapa detik berlalu. Baru setelah Yuda benar-benar menghilang dari pandangan, tubuh Nazwa seperti kembali mendapatkan kendali.

“Huuuuh…!”

Ia menghembuskan napas panjang dan keras di dalam helmnya. Dadanya naik turun cukup cepat.

“Benar-benar serangan mental yang melemahkan neuron otak…,” gumamnya pelan.

Tangannya naik menutupi wajah, meskipun helm masih menempel di kepalanya. Ia menggelengkan kepala cukup kuat beberapa kali. Seolah mencoba mengusir bayangan barusan dari pikirannya.

“Fokus, Nazwa… fokus! Bayangkan kejadian tadi tak pernah terjadi!”

Ia menggigit bibir bawahnya, lalu menepuk pipinya sendiri. Berusaha mengumpulkan kembali kewarasan yang sejak tadi terasa tercerai-berai.

Karena satu hal yang ia sadari sekarang. Pertemuan yang ia bayangkan semalaman dengan penuh skenario romantis… justru dimulai dengan situasi paling kacau yang pernah ia bayangkan.

Nazwa menarik napas sekali lagi sebelum akhirnya menyalakan kembali motornya.

Mesin itu hidup dengan dengungan pelan.

Perlahan ia memutar setang dan memasukkan motornya ke dalam halaman rumah Yuda. Tanah halaman itu cukup luas, namun dipenuhi berbagai benda yang berserakan.

Beberapa batang bambu tergeletak di tanah. Ada juga potongan kayu, palu, dan paku yang tadi dipakai Yuda untuk membuat kandang ayam.

Nazwa mengendarai motornya dengan sangat pelan, berusaha menghindari semuanya.

Setelah melewati tumpukan bambu itu, ia melihat area yang lebih teduh di sisi halaman. Sebuah pohon mangga besar berdiri di sana. Daunnya rimbun, membuat bayangan sejuk di tanah.

Nazwa akhirnya memarkirkan motornya di bawah pohon itu.

Mesin dimatikan.

Suasana kembali hening.

Ia turun dari motor perlahan, lalu melepas helmnya. Rambutnya sedikit berantakan. Ia menatap spion dan merapikannya dengan tangan beberapa kali.

Namun pikirannya masih berantakan. Semua taktik yang ia susun semalam bersama Karin dan Sinta…

Gagal total.

Kalimat pembuka, senyum yang harus dipasang, bahkan harus membungkuk 70 derajat, semuanya sudah hancur bahkan sebelum ia mengucapkan satu kalimat pun.

Nazwa menatap rumah sederhana di depannya.

“Yaudah… terlanjur juga…,” gumamnya pelan.

Ia menarik napas panjang, lalu mulai berjalan menuju pintu rumah dengan langkah ragu.

Lantai terasnya dari semen polos yang sudah sedikit halus karena sering dipakai. Pintu rumah terbuka setengah karena terjangan Yuda yang ngacir sambil bawa tripleks.

Nazwa berhenti sejenak di ambang pintu sebelum akhirnya melangkah masuk. Kepalanya mengintip terlebih dahulu.

"Halo? Assalamualaikum?"

Ruang tamu rumah Yuda terlihat sederhana. Tidak besar, namun terasa rapi dan hangat.

Di sisi kiri ruangan terdapat sofa kecil berwarna coklat tua yang sudah sedikit pudar, namun terlihat bersih. Di depannya ada meja kayu sederhana dengan beberapa goresan halus di permukaannya.

Di sudut ruangan berdiri lemari kaca kecil berisi beberapa barang. Ada piala lama, beberapa foto keluarga, dan beberapa buku yang disusun rapi.

Angin alami masuk melalui ventilasi jendela kayu yang terbuka di sisi rumah, lalu keluar melalui pintu belakang yang tampak sedikit terbuka.

Semua terasa sederhana. Namun entah kenapa… juga terasa nyaman.

Nazwa berdiri agak canggung di tengah ruang tamu itu. Tangannya saling menggenggam tanpa sadar. Jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat.

Sekarang…

Ia benar-benar berada di dalam rumah Yuda.

1
mmmmuuuuu
sehat² dah para kurir
Writer_lynn
Tempat terbaik untuk merenung☺️
saya orang gila baru
perpustakaan memang semenenangkan itu
saya orang gila baru
"di di"/Slight/
saya orang gila baru
apakah namanya benar² rahasia/Sly/
saya orang gila baru
klo diganti "sudut bibirnya terangkat" pasti lebih bagus😌
Pengabdi Uji
km jutek jg kali jd org2 tktduan😭😭
Pengabdi Uji
ooohh si cewe di omelin bosnya ya
Pengabdi Uji
wkwk enggak lg ngulek itu bk. fashion show🤣
Mingyu gf😘
hahaha😆😆emang suka gitu kalau mengikuti maps yang banyak belokan
Mingyu gf😘
hayoo nazwa🤭🤭🤭
Mingyu gf😘
tapi perasaan kurir gak ada libur
Cecilia
ANJERRRRR NANGGUNG BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Shy//Shy//Shy/
total 1 replies
Cecilia
dia lucu banget sihh😭
Chimpanzini Sudah Hiatus: adekku kok. makanya lucu/Proud/
total 1 replies
Cecilia
aku jga mww
Chimpanzini Sudah Hiatus: wkwk author pun jga mau🤣🤣
total 1 replies
Cecilia
mari kita juluki romi si uler coklat
Chimpanzini Sudah Hiatus: mana boleh kek gitu
total 1 replies
Cecilia
BU LINA CANTIKKK BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Awkward//Awkward//Awkward/
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
cantik nya😍😍😍😍😍
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ya itu akan timbul alami ketika bertemu orang baik
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
senyuman formalitas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!