Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Mendadak
Pak Kepala Desa tampak terkejut dengan kabar mendadak itu. Namun, ia segera menegakkan punggungnya sembari mengangguk.
Sebelum melangkah bersama perangkat desa, pria tua itu kembali ke dapur sebentar untuk berpamitan.
“Jenara dan Ibu-ibu sekalian," katanya mantap, “teruskan saja kalian memasak. Saya harus menemui tamu penting, utusan dari Gubernur."
Jenara mengangguk hormat. “Baik, Pak.”
Pak Kepala Desa dan istrinya segera berjalan pergi
Dapur kembali dipenuhi suara minyak mendesis. Bola-bola gurih di dalam wajan mulai berubah warna menjadi keemasan. Permukaannya tampak renyah dan sedikit berpori.
Seran di sisi lain telah selesai menumbuk belalang tambahan. Ia meletakkan alu dan membersihkan sisa kotoran dengan cekatan.
Jenara pun mendekatinya. “Seran, tolong cicipi bola gurih yang sudah matang. Aku butuh penilaianmu.”
Beberapa ibu langsung memperhatikan dengan penuh minat. Sementara Jenara mengambil beberapa bola yang sudah berwarna keemasan, meniriskannya di atas anyaman bambu agar minyaknya turun. Uap tipis mengepul dari permukaan.
Jenara mengambil satu dengan sendok, membelahnya menjadi dua. Asap hangat keluar dari bagian dalam yang lembut.
Jenara meniup-niupnya dulu supaya tidak terlalu panas. Lalu, dengan keberanian yang ia kumpulkan sendiri, ia memasukkan sedikit ke dalam mulutnya.
Para ibu menatap tanpa berkedip saat Jenara mengunyah perlahan.
Beberapa detik terasa panjang, lalu matanya sedikit melebar. “Enak," kata Jenara jujur.
Bisik-bisik kecil terdengar. Jenara menatap setengah bagian yang masih di sendok. Ia meniupnya sekali lagi dan mengangkat tangan hendak menyuapi Seran.
Namun sebelum sendok itu sampai, Ranisya berseru. “Kak Seran, jangan dimakan belalang itu! Nanti Kakak bisa sakit!”
Tangan Jenara otomatis terhenti di udara. Peringatan dari Ranisya membuatnya berpikir ulang untuk memberikan hasil masakannya kepada sang suami.
Melihat kebimbangan di mata istrinya, tanpa diduga Seran malah menarik sendok dari tangan Jenara. Tanpa bicara, ia menyuapkan sendiri potongan bola gurih itu ke dalam mulutnya.
Jenara tercengang, begitu pula dengan Ranisya dan para wanita yang ada di dapur. Mereka hanya bisa menatap wajah Seran yang sedang mengunyah, menunggu reaksinya.
Situasi di dapur terasa menegangkan. Ketika Seran akhirnya selesai menelan, Jenara memberanikan diri untuk bertanya.
"Bagaimana rasanya, Seran?”
Seran menatapnya singkat sebelum menjawab, “Gurih dan renyah di luar.”
Jawaban itu sederhana, tetapi cukup membuat suasana berubah. Beberapa ibu langsung maju ke depan, percaya sepenuhnya pada penilaian Seran.
“Kalau begitu kami juga mau mencicipi, Jenara."
“Silakan Ibu-ibu," sahut Jenara tersenyum lega.
Ia membagikan beberapa bola goreng yang sudah agak dingin kepada para ibu. Satu per satu mereka mencicipi. Alhasil, wajah-wajah yang tadinya ragu berubah menjadi terkejut.
“Eh… ini enak sekali. Tidak terasa seperti belalang," puji para ibu di dapur.
“Bumbunya pas dan renyah," imbuh yang lain.
Kondisi dapur kini riuh oleh komentar kagum. Di tengah keramaian, Seran mendekat sedikit pada Jenara dan bertanya dengan suara rendah.
“Masih ada yang harus dikerjakan?”
Jenara menggeleng. “Tidak banyak. Tinggal menggoreng sisanya dan merapikan. Kau temani anak-anak saja, Seran. Biar aku yang selesaikan ini."
“Baik," jawab Seran langsung setuju.
Pria itu mundur beberapa langkah, lalu memanggil 3G yang sejak tadi berdiri tak jauh dari pintu.
“Gatra, Giri, Gita. Ayo ikut Ayah ke kebun."
Ketiganya segera menghampiri ayah mereka. Seran menggiring Si Kembar Tiga keluar dari dapur, meninggalkan Jenara di tengah para ibu yang kini semakin antusias mencicipi dan belajar.
Para ibu masih berkerumun di dekat meja, masing-masing memegang sepotong bola gurih yang baru saja diangkat dari wajan.
Melihat makanan di depan mata, Rasmi yang sejak tadi memperhatikan mulai terlihat gelisah. Matanya mengikuti setiap gerakan tangan para ibu yang kembali mengambil tambahan.
Ia melangkah setengah maju. Namun sebelum sempat mendekat, Ranisya buru-buru menahan lengan ibunya.
Salah satu ibu yang melihat kejadian itu tersenyum ramah.
“Ranisya, sebaiknya kalian mencicipi juga. Ini rasanya enak sekali. Sungguh, tidak seperti yang kita bayangkan.”
Ranisya mengangkat dagu. “Tidak mau. Kami tidak akan menyentuh makanan yang berasal dari serangga menjijikkan.”
Tanpa basa-basi lagi, Ranisya menarik tangan Rasmi. “Ibu, kita pulang saja. Aku mau muntah melihat hasil masakan Jenara.”
Ucapan itu cukup keras, hingga terdengar jelas di telinga Jenara. Alih-alih marah, Jenara hanya fokus pada pekerjaannya. Ia terlalu lelah untuk meladeni sindiran Ranisya yang tidak ada habisnya.
Tangan Jenara beralih memeriksa panci kuah tempat bola-bola gurih direbus. Kuahnya bening kekuningan, dengan aroma bawang dan merica yang lembut. Beberapa bola rebus telah mengapung di permukaan.
Jenara mengambil sendok kayu, mencicipinya sedikit. Gurihnya pas, tidak terlalu asin.
Sementara itu, Ranisya sudah menarik Rasmi keluar dari dapur. Langkah mereka terdengar menjauh.
Tanpa menghiraukan kepergian dua perempuan yang membencinya, Jenara mengambil mangkuk tanah liat besar. Dengan hati-hati ia, menyendok beberapa bola gurih rebus beserta kuahnya, lalu menuangkan ke dalam mangkuk yang lebih kecil.
“Siapa yang mau mencicipi sup bola-bola rebus?"
Belum selesai kalimatnya, para ibu sudah mendekat lagi. “Kami mau."
Suasana kembali riuh. Sendok-sendok kecil berpindah tangan. Beberapa saat kemudian, terdengar pujian yang bertubi-tubi untuk Jenara.
“Yang ini lebih lembut, kuahnya juga segar. Kau telah berhasil mengubah belalang menjadi makanan lezat, Jenara," puji para ibu.
“Kalau begini caranya, kita tidak perlu takut lagi pada serangan belalang.”
Jenara tersenyum lega. Ketegangan yang sejak pagi menekan dadanya perlahan mencair. Setidaknya, usaha yang ia lakukan tidaklah sia-sia.
Tiba-tiba terdengar langkah cepat di luar. Seorang perangkat desa muncul di pintu dapur, wajahnya tampak tergesa.
“Jenara!” panggilnya.
Jenara menoleh. “Ya?”
“Kau dipanggil Kepala Desa ke rumahnya. Kau diminta menyajikan hasil masakanmu kepada utusan Gubernur," lanjut perangkat desa itu.
“Kedatangan Tuan Gubernur akan dipercepat tiga hari lagi. Jadi, utusannya ingin memastikan desa kita telah siap, termasuk menu makanan yang akan disajikan."
“Tiga hari lagi?” ulang Jenara, terkejut.
Perangkat desa mengangguk sebagai jawaban.
Jantung Jenara sontak berdegup lebih cepat. Tiga hari lagi Gubernur akan datang, artinya persiapan harus dilakukan dalam waktu singkat. Dan hasil olahan belalang ini, mungkin bisa menjadi uji coba menu baru untuk Sang Gubernur.
to, bagaimana dgn triplets?