Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
Waktu terasa berjalan sangat lambat di lorong rumah sakit malam itu. Suasana di sekitar terasa sunyi mencekam, hanya suara langkah kaki para tenaga medis dan bunyi alat kesehatan dari kejauhan yang sesekali terdengar.
Citra terus menangis pelan sambil menggenggam kedua tangannya erat. Bibir wanita itu gemetar sambil merafalkan doa di dalam hati, sejak tadi. Sementara pikirannya dipenuhi bayangan buruk tentang kondisi putranya.
Sementara Antonio berdiri tak jauh dari pintu ruang operasi dengan wajah tegang. Berkali-kali pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu melihat ke arah lampu merah yang masih menyala di atas pintu.
Sudah hampir dua jam berlalu.
Namun belum ada satu pun dokter yang keluar.
"Pa..." suara Citra terdengar lirih dan bergetar. "Darren pasti selamat kan...?"
Antonio menoleh menatap istrinya sesaat. Pertanyaan itu terasa begitu sulit dijawab.
"Aku yakin dia kuat," ucapnya pelan meski dadanya sendiri dipenuhi kecemasan.
Tidak lama kemudian langkah tergesa-gesa terdengar mendekat dari ujung lorong.
Seorang pria paruh baya datang bersama beberapa pengawal berpakaian hitam. Wajahnya tampak panik dan penuh kekhawatiran.
"Antonio!"
Antonio langsung menoleh.
"Leonard..."
Pria itu adalah Leonard Callister, kakak kandung Antonio sekaligus paman Darren.
"Aku baru dapat kabar. Bagaimana keadaan Darren sekarang?" tanyanya cepat.
Antonio menggeleng pelan dengan rahang mengeras.
"Masih di dalam."
Leonard langsung menatap pintu ruang operasi dengan wajah serius. Bahkan pria yang biasanya tenang dan berwibawa itu kini terlihat sulit menyembunyikan kecemasannya sendiri.
Citra kembali menutupi wajahnya sambil menangis.
"Aku takut kehilangan dia..." lirihnya.
Leonard menghela napas berat sebelum akhirnya duduk di kursi seberang.
"Tidak akan terjadi apa-apa sama Darren. Anak itu keras kepala, tapi dia kuat."
Namun baru saja kalimat itu selesai, lampu merah di atas ruang operasi tiba-tiba berkedip.
Pintu ruang operasi terbuka.
Seorang dokter keluar dengan masker yang masih menempel di wajahnya.
Antonio dan Citra langsung berdiri bersamaan.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Citra dengan suara gemetar.
Belum sempat dokter itu menjelaskan lebih jauh, suara langkah tergesa-gesa kembali terdengar dari ujung lorong rumah sakit.
"Antonio!"
Semua orang menoleh bersamaan.
Ternyata Bumi dan Anita datang bersama putri mereka, Selina. Wajah gadis itu tampak panik, sementara Anita terlihat sangat cemas.
"Kami baru dapat kabar soal Darren," ucap Anita cepat. "Bagaimana keadaannya sekarang?"
Citra langsung menghampiri sahabatnya itu dengan mata sembab.
"Dokter baru keluar..." suaranya terdengar lemah.
Sementara itu Leonard yang sejak tadi berdiri di dekat pintu ruang operasi langsung membuang muka begitu melihat kedatangan keluarga tersebut. Rahangnya mengeras tipis.
Entah kenapa ia memang tidak pernah menyukai Bumi dan Anita.
Menurut Leonard, pasangan suami istri itu terlalu pandai memainkan sikap dan keadaan. Di depan semua orang mereka terlihat baik dan tulus, tetapi Leonard merasa keduanya sangat manipulatif.
Apalagi mereka selalu berusaha mendekatkan Selina dengan Darren.
Leonard sangat tahu apa tujuan sebenarnya.
Harta dan kekuasaan keluarga Callister.
Untung saja Darren tidak pernah memberi harapan sedikit pun pada Selina. Bahkan pria itu selalu menolak mentah-mentah setiap usaha perjodohan yang dilakukan kedua keluarga.
"Bagaimana bisa kecelakaannya separah ini?" tanya Bumi sambil menatap dokter.
Dokter itu menghela napas sebelum akhirnya menjelaskan.
"Pasien mengalami benturan cukup keras di bagian kepala dan dada. Kami sudah menghentikan pendarahan besar, tetapi kondisinya masih kritis. Saat ini pasien masih belum sadar."
Wajah Citra langsung kembali pucat mendengar penjelasan tersebut.
"Apakah anak saya akan baik-baik saja, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Kami masih terus berusaha semaksimal mungkin."
Selina yang sejak tadi diam perlahan menoleh ke arah pintu ruang operasi. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Om... aku mau lihat Darren..." lirihnya.
Namun sebelum siapa pun menjawab, Leonard tiba-tiba bersuara datar.
"Belum boleh ada yang masuk."
Suasana di lorong rumah sakit kembali dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Selina menundukkan wajah pelan setelah mendengar ucapan Leonard tadi. Gadis itu terlihat kecewa, tetapi tidak membantah.
Sementara Anita mengusap bahu putrinya perlahan.
"Pasti nanti boleh lihat Darren kalau kondisinya sudah stabil," hiburnya pelan.
Leonard hanya diam sambil menatap pintu ruang operasi. Entah kenapa kehadiran keluarga Bumi justru membuat suasana hatinya semakin buruk.
Beberapa menit kemudian dokter kembali membuka suara.
"Kami sudah berhasil menangani pendarahan utama pasien, tapi kondisinya masih belum sepenuhnya aman. Benturan di bagian kepala cukup keras."
Kalimat itu membuat Antonio langsung menegang.
"Maksud dokter?"
"Kami khawatir akan terjadi pembengkakan di area otak. Untuk sementara pasien harus dirawat intensif dan dipantau ketat selama dua puluh empat jam ke depan."
Citra langsung menutup mulutnya menahan tangis.
"Ya Tuhan..."
"Selain itu ada beberapa tulang rusuk pasien yang retak akibat benturan keras di bagian dada," lanjut dokter tersebut. "Untungnya airbag kendaraan sempat mengembang, jadi dampaknya tidak lebih fatal."
Antonio mengembuskan napas berat sambil memejamkan mata sesaat.
"Kalau begitu... kapan kami bisa melihatnya?" tanyanya pelan.
"Setelah pasien dipindahkan ke ruang ICU."
Dokter itu kemudian meminta izin untuk kembali masuk. Tidak lama setelahnya pintu ruang operasi kembali tertutup.
Citra langsung terduduk lemas lagi.
Selina terlihat ingin mendekat untuk menenangkan wanita itu, tetapi langkahnya terhenti saat Leonard tiba-tiba berdiri dan menatap ke arah Bumi.
"Aku mau bicara sebentar."
Nada suara Leonard terdengar datar, tetapi cukup membuat suasana berubah tegang.
Bumi mengangguk pelan.
"Kita bicara di sana."
Keduanya berjalan menjauh dari lorong utama rumah sakit. Sementara Anita dan Selina saling berpandangan bingung.
Begitu tiba di area yang lebih sepi, Leonard langsung menatap tajam pria di depannya.
"Aku harap kalian tidak memanfaatkan keadaan Darren sekarang."
Kening Bumi langsung berkerut.
"Maksudmu apa?"
"Kau tahu maksudku."
Leonard tidak lagi berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Kalau hidupmu ingin tenang, aku peringatkan, jangan coba-coba menjadikan keadaan ini sebagai kesempatan untuk makin mendekatkan Selina pada Darren. Sampai kapanpun, Darren tak akan pernah jatuh cinta sama putrimu!"
Di luar dugaan, Bumi menyunggingkan senyum tanpa menatap Leonard.
"Seharusnya kamu fokus saja pada kesembuhan Darren. Jangan sampai nanti ucapan kamu malah berbalik pada diri sendiri." Balas Bumi, sambil melakukan gerakan hormat dengan meletakkan tangan kanannya di pelipis. Lalu pergi dari hadapan Leonard, masih dengan menyunggingkan senyumnya. Membuat Leonard mengepalkan kuat tangannya.
***
Hari demi hari berlalu dengan penuh ketegangan bagi keluarga Callister.
Selama lebih dari satu minggu, Darren masih belum juga sadar dari komanya. Tubuh atletis yang kini tengah terbujur lemah, dipenuhi alat medis, sementara monitor jantung terus berbunyi pelan di dalam ruang ICU.
Citra hampir tidak pernah pulang dari rumah sakit. Wanita itu selalu menunggu di sana sejak pagi hingga larut malam. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dan lelah dibanding biasanya.
Antonio pun sama. Meski tetap berusaha mengurus pekerjaan, pikirannya sepenuhnya berada di rumah sakit.
Darren adalah putra satu-satunya mereka setelah adik perempuan Darren meninggal saat dilahirkan.
Sementara itu Leonard dan sepupu-sepupu Darren datang silih berganti, untuk memastikan kondisinya, terus dipantau oleh dokter terbaik.
Hingga akhirnya pada pagi itu...
Monitor jantung tiba-tiba menunjukkan perubahan.
Kelopak mata Darren bergerak pelan.
Seorang perawat yang sedang memeriksa infus langsung membelalak kaget.
"Dok! Pasien sadar!"
Tidak lama kemudian beberapa dokter dan perawat segera masuk ke dalam ruang ICU.
Kabar itu langsung membuat Antonio dan Citra yang sedang menunggu di luar berdiri bersamaan.
"Darren sadar?" tanya Citra dengan mata langsung berkaca-kaca.
Perawat mengangguk cepat.
"Pasien baru membuka mata, Bu."
Tanpa membuang waktu, Antonio dan Citra langsung masuk setelah dokter mengizinkan.
Di atas ranjang rumah sakit, Darren terlihat membuka mata perlahan. Tatapannya kosong dan tampak kebingungan menatap langit-langit ruangan.
"Darren..." suara Citra langsung bergetar. "Sayang..."
Wanita itu menggenggam tangan putranya dengan penuh haru hingga air matanya jatuh lagi.
Antonio berdiri di samping ranjang dengan napas lega.
"Syukurlah..."
Namun beberapa detik kemudian, kening Darren perlahan berkerut. Tatapannya berpindah dari wajah Citra ke Antonio secara bergantian.
Sorot matanya terlihat asing.
"Kalian..." suaranya serak dan lemah. "Siapa?"
Seketika suasana di dalam ruangan membeku.
Wajah Citra langsung berubah pucat.
"Darren... ini Mama..."
Namun Darren justru terlihat semakin bingung. Ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Citra.
"Mama...?" gumamnya pelan seolah kata itu terdengar sangat asing.
Antonio langsung menegang.
"Darren, ini Papa."
Tatapan Darren kembali beralih ke arah Antonio. Tetapi tidak ada sedikit pun tanda pengenalan di wajahnya.
Pria itu malah terlihat panik.
"Siapa kalian?" tanyanya lagi dengan napas mulai memburu.
"Dan... siapa saya?"
Kalimat terakhir itu membuat Citra langsung membekap mulutnya sendiri menahan tangis.
Sementara Antonio mematung di tempat.
Dokter yang sejak tadi memperhatikan kondisi Darren langsung menatap serius ke arah keluarga Callister.
"Sepertinya pasien mengalami gangguan ingatan akibat benturan keras di bagian kepala."
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut