NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukti dari Mira

Tiga hari sejak insiden di jalan buntu.

Fiona tidak masuk sekolah.

Gurunya bilang dia sakit. Tapi Alessandra tahu lebih dari itu. Dia tahu Fiona sedang ketakutan. Ponsel terakhir yang menghubungkan Fiona dengan para preman itu sudah hancur. Tidak ada bukti. Tapi Fiona tidak tahu bahwa Alessandra tidak perlu bukti untuk menghancurkan seseorang.

Yang Fiona butuhkan adalah rasa aman. Dan Alessandra sengaja tidak memberikannya.

Biarkan dia merana, pikir Alessandra saat duduk di bangku taman, buku novel di tangan. Biarkan dia paranoid. Biarkan dia tidak bisa tidur. Itu baru awal.

"Vale!" Laras menghampiri dengan langkah tergesa-gesa. "Lo dengar? Fiona gak masuk tiga hari. Kata orang sih dia depresi atau gimana."

"Tidak heran," jawab Alessandra datar. "Kalah terus sama murid pindahan bisa bikin orang depresi."

Laras terkekeh. "Lo sadar diri banget, sih."

Mutiara yang menyusul dari belakang langsung duduk di samping Alessandra. "Eh, Vale. Gue dengar lo habis ngomong sama Mira, gadis kacamata yang sering di-bully itu?"

"Mira? Siapa?" Laras mengerutkan kening.

"Gadis yang sering di-bully sama Vega dkk," jelas Mutiara. "Katanya Vale pernah nolong dia di perpustakaan."

"Bukan nolong. Hanya berbicara."

"Ya, terserah. Tapi sekarang Mira jadi lebih berani. Dia bahkan mulai merekam setiap kali di-bully. Katanya dia mau lapor ke polisi."

Alessandra tidak berkomentar.

Dia memang tidak menyuruh Mira melapor ke polisi. Tapi jika Mira memilih jalan itu, itu haknya. Yang penting, bukti terkumpul.

"Vale..." Mutiara menatap Alessandra dengan mata serius. "Lo baik banget, tahu? Padahal lo bilang gak peduli, tapi lo peduli."

"gue tidak baik."

"Ya, lo bilang gitu terus."

"Karena itu fakta."

Mutiara menghela napas. "Terserah, deh. Tapi gue senang lo ada di sini, Vale. Sekolah jadi... lebih berwarna."

Lebih berwarna, ulang Alessandra dalam hati. Atau lebih berdarah?

Dia tidak menjawab. Hanya merapikan kacamatanya.

Jam istirahat kedua.

Alessandra sedang berjalan menuju perpustakaan ketika seseorang menghadangnya.

Mira.

Gadis kacamata keriting itu berdiri di tengah koridor dengan wajah pucat. Tangannya gemetar memegang sebuah USB drive kecil. Matanya berkaca-kaca bukan sedih, tapi gelisah.

"V—Valeria... aku... aku bisa bicara sebentar?"

Alessandra menatap Mira beberapa saat. Lalu mengangguk.

"Ayo ke perpustakaan."

Di perpustakaan, di sudut paling belakang dekat jendela, mereka duduk berhadapan.

Mira meletakkan USB drive itu di atas meja. Tangannya masih gemetar.

"Ini... ini rekaman dari pena perekam yang lo kasih ke aku."

"Iya. Aku lihat."

"Aku sudah kumpulkan selama dua minggu. Semua ejekan. Semua ancaman. Semua tawa mereka. Juga ada beberapa rekaman video dari ponselku saat mereka... saat mereka memukulku."

Mira menggigit bibir. Air mata mulai mengalir.

"Aku takut, Valeria. Aku takut mereka tahu kalau aku merekam. Tapi aku juga takut kalau aku diam terus, mereka akan... mereka akan..."

"Mereka akan semakin berani," selesaikan Alessandra. "Dan kau akan semakin hancur."

Mira mengangguk.

"Tapi sekarang, dengan bukti ini..." Mira menatap USB drive itu. "Aku bisa lapor ke polisi. Aku bisa... aku bisa membela diriku sendiri."

"Lalu kenapa kau gelisah?"

"Karena..." Mira mengusap air matanya. "Karena aku tahu mereka punya pelindung. Vega bilang suatu kali bahwa 'kakak Saskia' akan melindungi mereka kalau ada masalah. Mungkin polisi tidak akan berbuat apa-apa. Mungkin laporanku hanya akan berakhir di meja dan tidak pernah diproses."

Alessandra mengamati Mira.

Gadis ini tidak bodoh. Dia tahu sistem tidak selalu adil. Dia tahu pelaku yang kaya dan punya pengaruh sering lolos dari hukuman.

"Kau benar," ucap Alessandra akhirnya. "Lapor ke polisi mungkin tidak cukup. Tapi ada cara lain."

"Cara lain?"

"Publikasi."

Mira mengerutkan kening. "Maksud kamu..."

"Kau punya rekaman suara dan video. Kirim ke media. Ke jurnalis. Ke influencer yang peduli isu bullying. Biarkan publik yang menghakimi. Tidak ada pelindung yang cukup kuat melawan opini publik."

Mira membelalak. "T—tapi... itu bisa merusak nama sekolah..."

"Sekolah? Alessandra High School?" Alessandra merapikan kacamatanya. "Pemilik sekolah tidak akan diam jika tahu ada bullying sistemik di sekolahnya. Dan jika publik tahu, pemilik sekolah akan terpaksa bertindak."

Mira terdiam.

"Tapi... aku takut... mereka akan balas dendam..."

"Siapa yang akan balas dendam? Saskia?" Alessandra tersenyum kecil. "Saskia hanya kuat karena dia punya kakak laki-laki populer dan wajah polos. Jika publik sudah tahu siapa dia sebenarnya, dia tidak akan berani melakukan apa pun."

"Bagaimana kamu bisa yakin itu?"

"Aku punya informasiku sendiri."

Alessandra tidak berbohong. Kinan sudah mengumpulkan banyak data tentang Saskia tentang masa lalunya yang tidak jelas, tentang hubungannya dengan jaringan perdagangan organ, tentang kemungkinan keterlibatannya dalam hilangnya Allegra.

Tapi itu belum saatnya diungkap.

"Untuk sekarang," lanjut Alessandra, "fokus pada bukti bullying. Itu yang paling aman untuk kau ungkap. Jangan sentuh hal lain. Biarkan polisi atau jurnalis yang menemukan sendiri jika mereka cukup kompeten."

Mira mengangguk pelan. Tangannya yang gemetar mulai tenang.

"Val..."

"Apa?"

"Terima kasih. Aku tidak tahu harus membalas budi lo bagaimana."

"Kau tidak perlu membalas apa pun."

"Tapi—"

"Lakukan satu hal untukku."

"Apa saja."

"Jaga dirimu. Jangan biarkan mereka menghancurkanmu lagi. Kau lebih kuat dari yang kau kira."

Mira menangis lagi. Tapi kali ini bukan karena takut. Tapi karena... untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, seseorang percaya padanya.

Malam itu, di rumah Sunjaya.

Alessandra sedang membaca di kamar Allegra ketika ponselnya, ponsel baru yang diberikan Kinan khusus untuk komunikasi rahasia bergetar.

Pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

"Valeria Allegra, aku tahu siapa kau sebenarnya. Bukan hanya murid pindahan biasa. Tapi sesuatu yang lebih besar. Kita perlu bertemu. Jangan takut, aku bukan musuh. Besok, jam istirahat kedua, di atap gedung olahraga. Datang sendiri. — A"

Alessandra menatap layar ponselnya.

"A."

Aldric?

Atau orang lain?

Dia tidak tahu. Tapi rasa penasarannya tergelitik.

Seseorang yang tahu aku bukan sekadar murid pindahan biasa.

Seseorang yang tahu ada yang lebih besar di balik semua ini.

Mungkin... seseorang yang bisa memberiku jawaban.

Dia menghapus pesan itu dan mematikan ponsel.

Besok, jam istirahat kedua, atap gedung olahraga.

Aku akan datang.

Tapi bukan karena tidak takut.

Karena aku penasaran.

Di ruang tamu rumah Sunjaya, Saskia sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Di layar, sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal:

"Target masih hidup. Gagal. Kerja sama berakhir."

Saskia menggigit bibir bawahnya. Matanya menyipit, penuh kebencian.

"Valeria Allegra... kau lebih menyusahkan dari dugaanku. Tapi tidak masalah. Aku punya rencara cadangan."

Dia menghapus pesan itu, berdiri, dan berjalan ke kamarnya dengan senyum tipis.

Senyum yang sama seperti saat dia menonton Mira di-bully.

Senyum yang sama seperti saat dia memberi perintah pada Vega.

Senyum yang sama seperti saat dia memeluk Hendra Sunjaya dan berpura-pura menjadi putri yang baik.

Tapi untuk pertama kalinya, di balik senyum itu... ada kegelisahan.

Karena dia tahu.

Valeria Allegra yang sekarang... berbeda dari Valeria Allegra yang dulu.

Dan dia tidak tahu cara menghentikannya.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!