Pernahkan kalian melihat angsa? Berenang dan menari dengan anggunnya di tengah sungai.
Tapi tahukah kalian? Di balik ketenangan tubuhnya di atas permukaan, Angsa berjuang mengayuhkan kakinya di dalam air agar dapat terlihat anggun di permukaan.
Begitulah hidup Gisella,
Tak ada yang tahu perjuangan hidupnya selama ini,
Pribadi yang selalu tersenyum riang di depan orang-orang, ternyata memiliki masa lalu yang kelam.
Bergumul dengan masa kecilnya yang selalu di rundung oleh teman-temannya, dan trauma masa kecilnya,
"Dasar anak pembawa sial!"
Ibunya sendiri mengatainya sebagai anak pembawa sial dan mengusirnya dari rumah.
Sang sopir membawa Gisella pergi dari rumah dan membuangnya di tempat antah berantah.
"Nak, kenapa menangis di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Gisella duduk menangis di pinggiran kebun.
Gisella kecil hanya menatapnya, lalu kembali meringkuk menangis pilu.
"Nak, ikut Emak mau?" tanya suara lembut itu lagi, mengulurkan tangannya kepada Gisella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33
Teng Teng Teng
Bel masuk berbunyi, dengan cepat, Ella mengembalikan bukunya dan meninggalkan meja tanpa melihat kanan kiri. Kevin yang juga hendak berlalu, tanpa sengaja melihat ke Ella yang terburu-buru sepertinya.
Dengan langkah panjang, Kevin berjalan kembali ke kelasnya. Itu cewek yang tadi di perpus, pikirnya saat melihat Ella masuk ke kelas yang sama dengannya.
Ella sudah menghempaskan dirinya di sisi Farah.
"Pasti keasyikan lagi ya," ujar Farah tertawa.
"Iya Far."
Selama sesi pelajaran, Ella tak pernah menoleh ke kiri atau ke kanan, dirinya fokus ke arah depan guru mengajar.
Dia tak menyadari kalau Kevin memperhatikannya.
###
"La duluan ya" ucap Farah begitu mereka sudah pulang sekolah.
Ella cuma membalas dengan melambaikan tangannya.Dengan berlari kecil, Ella menuju ke kantin untuk mengambil uang titipan kuenya yang memang setiap pagi dia antar.
"Siang Bu," sapa Ella tersenyum manis.
"La, duduk dulu," perintah Bu Tati sambil merapikan dagangannya.
Ella kemudian melangkah ke sebuah kursi dan duduk tak jauh dari warung Bu Tati.
Kevin yang juga menuju kantin mengamati apa yang dilakukan Ella. Ia lalu duduk tak jauh dari tempat Ella duduk, dan melanjutkan pengamatannya.
"La, ini minum dulu." Bu Tati menyodorkan es teh dan duduk di depan Ella sambil menyerahkan uang dagangan yang habis terjual.
"Makasih Bu" jawab Ella tersenyum senang.
"Besok Rabu, tambah ya La. Donat 50, lemper 50, sama kroketnya 50. Tapi masuk di dus ya," pesan Bu Tati.
"Pagi seperti biasa kan?" tanya Ella.
"Iya. Ada acara di kantor anak Ibu, La," jawab Bu Tati tersenyum.
"Iya Bu. Makasih ya, Ella pamit dulu" ucap Ella membawa wadah kue-kuenya, lalu berjalan dengan gembira dan acuh melewati Kevin begitu saja.
Kevin yang melihat semuanya sedikit terkejut. Haha dia jualan kue, ucapnya geli.
Sambil melangkah ke arah parkiran, Kevin cuma menggerutu. Ngapain gue ikutin dia ya. Cewek miskin, nggak level, batinnya.
Saat mengendarai motornya keluar dari gerbang sekolah, dilihat Ella sedang ngobrol dengan seorang pengemis. Tanpa sadar, Kevin kembali mengamati Ella. Dilihatnya Ella menyodorkan selembar uamg dua puluh ribuan dan berlalu menuju sebuah gang, lalu bayangannya hilang.
Miskin masih sok berbagi, batinnya tertawa kecil kemudian langsung tancap gas.
###
Hari ini, Ella dan Ima berangkat ke cafe lebih awal. Mereka sudah sepakat untuk menerima tawaran dari Ferry dan mengundurkan diri dari Cafe Balones.
Tok.. Tok..
"Masuk,"
"Sore Pak," sapa Ella dan Ima yang memasuki ruangan Dimas.
Dimas tersenyum menatap mereka.
"Silakan duduk," ujarnya.
"Sebelumnya kami minta maaf Pak, kami hendak mengundurkan diri dari cafe ini," ucap Ima menatap Dimas.
"Benar Pak, kami juga mengucapkan terima kasih. Selama kami kerja di sini, Bapak sangat baik kepada kami," sambung Ella.
"Kenapa kalian mau resign, coba berikan saya alasan?" tanya Dimas.
"Maaf Pak, kami rencananya akan membantu Kak Ferry membuka usaha cake & bakery," jawab Ella dengan tegas.
Dimas diam dan tersenyum melihat kedua bocah yang sudah ikut dengannya selama hampir dua tahun ini.
"Baiklah, saya tidak akan menahan kalian. Saya senang kalian bicara jujur. Ferry adalah teman baik saya, dia juga sudah rundingan dengan saya sebelumnya. Tapi kalian nggak bisa langsung resign ya, Bapak harus cari pengganti kalian dulu. Paling tidak satu minggu," jawab Dimas tersenyum.
"Baik Pak, terima kasih. Kami permisi kerja dulu kalau begitu," pamit mereka sambil berjalan keluar dengan hati lega.
"Kak Ferry, Pak Dimas nggak marah kami resign, tapi minggu depan," ucap Ella yang sudah siap didapur.
"Iya, Kakak juga sudah ijin sama Dimas buat narik kalian kok. Biar kalian punya kesempatan lebih besar. Nggak melulu jadi waiters. Cafenya juga lagi Kakak rapikan. Besok Minggu kita bisa ke sana meriksa dekor cafe, gimana?" tanya Ferry.
"Siap Kak," jawab Ella sambil mencuci perkakas dapur yang kotor.
###
Pagi hari, sekolah masih belum ramai. tetapi Ella sudah sampai di sekolah. Sebelum menuju ke kelasnya, Ella mampir ke kantin untuk menaruh kue-kue dagangannya.
"La, duduk dulu," ajak Bu Tati sambil menyodorkan teh hangat.
"Bu, jangan repot-repot. Ella tadi sudah minum. Ella juga bawa bekal minum," ucap Ella mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya.
"Sudah minum dulu, jangan ditolak," jawab Bu Tati tertawa.
"Besok jangan lupa ya pesanan Ibu," Bu Tati kembali mengingatkan.
"Pasti Bu," jawab Ella tertawa kecil sambil menghabiskan minuman yang dihidangkan Bu Tati.
"Bu, Ella ke kelas dulu ya," pamitnya berjalan meninggalkan kantin.
"Kue-kue ini berapa harganya, Bu?" tanya Kevin begitu Ella sudah berlalu.
"Oh.. Ini dua ribuan. Masih hangat, kalau nggak cepat pasti kehabisan." Bu Tati mempromosikan dagangannya.
Kevin membeli satu tiap jenis, dan kembali duduk di kursi nya. Dilihatnya kue-kue itu, kemudian dengan perlahan, ia menggigit salah satu kue.
Hmm.. Lumayan, batinnya.
Tanpa disadari semua kue sudah masuk ke dalam perutnya, kemudian Kevin membeli lagi dan menghabiskannya.
"Ini yang buat siapa, Bu?" tanya Kevin.
"Oh.. Itu Ella yang buat, anak kelas 11. Setiap hari dia nitip di sini," jawab Bu Tati sambil merapikan dagangannya.
"Dia buat sendiri? Bukan ibu atau saudaranya?" tanya Kevin.
"Hehe.. Dia buat sendiri Nak, dia yatim piatu," jawab Bu Tati tersenyum sedih
Kevin tercekat mendengar ucapan Bu Tati, yatim piatu, ucapnya dalam hati.
Setelah membayar semuanya, Kevin melangkah menuju ke kelasnya, dilihatnya Ella asyik membaca buku di mejanya.
"Woi.. Jangan berhenti di sini," terdengar suarah Farah yang terhalang badan Kevin saat hendak masuk kelas
Kevin cuma melirik sekilas ke arah Farah, dan berjalan acuh menuju kursinya.
"Kamu kenapa Far?" tanya Ella heran.
"Tau tuh, jadi jengkel sama anak baru itu," jawab Farah kesal.
"Memang kenapa?" tanya Ella bingung.
"Tadi dia berhenti tepat di pintu kelas, kan menghalangi orang masuk. Ya minta maaf kek, apa gimana kek, malah cuek jalan terus, kan nyebelin," oceh Farah kesal.
"Hahaha. Udah, gitu aja kok marah. Nanti cantikmu berkurang loh," goda Ella tersenyum.
"Haha.. Bisa aja kamu La," akhirnya Farah kembali tertawa.
"Pagi anak-anak" sapa Bu Yuniar, guru Matematika kelas 11 menyapa dengan suara datar di depan kelas.
Semua murid menjawab sapaan Bu Yuniar, kemudian kelas menjadi hening.
"Masukkan semua buku, hari ini kita te,s" ujar Bu Yuniar.
Banyak wajah cemas dan gelisajh tampak di wajah teman-teman sekelas Ella, tapi mereka juga tak berani bersuara. Bu Yuniar terkenal sangat killer, sehingga mereka bernafas pun harus dengan hati-hati.
Setelah membagikan soal ulangwn, Bu Yuniar berdiri memutari kelas. Matanya menjelajah di setiap sudut ruangan, sehingga murid-murid pun semakin gugup.
Ella sendiri tak memperdulikan kapan mau ulangan, karena Ella selalu belajar.
Setelah memeriksa jawaban ulangannya kembali, Ella maju dan meletakkan lembar jawabannya di meja Bu Yuniar.
"Sudah di periksa La," tanya Bu Yuniar dengan nada datar.
"Sudah, Bu," jawab Ella pelan.
"Ya sudah, kamu boleh istirahat," perintah Bu Yuniar.
Ella meninggalkan kelas dan berjalan menuju istananya yaitu perpustakaan sekolah. Kevin terus menatap kepergian Ella. Apa dia pintar, batinnya lalu kembali fokus mengerjakan ulangannya.
Kevin adalah orang kedua yang menyusul Ella, dan langkahnya membawanya ke perpustakaan juga.
Sepintar apa dia. Kevin yang termasuk anak pintar,yang selalu menduduki ranking satu seumur hidupnya, ia semakin penasaran dengan Ella. Orang tuanya yang harus kerja berpindah tempat membuatnya sering pindah dari satu kota ke kota lain. Dan kali ini, mamanya memutuskan dia untuk tinggal bersama opa dan omanya di Jakarta, daripada pindah sekolah terus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah teman teman mengejek Eh kakaknya juga ikutan ...
Tapi YG membuat Tambah sedih mama nya kok cuek Amat...