"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilau Palsu di Balik Debu
Kehidupan sebagai petugas kebersihan jalanan benar-benar mengikis fisik Rendra Wijaya, namun ternyata belum mampu mematikan benih kesombongan di dalam hatinya. Sore itu, udara kawasan SCBD Jakarta terasa menyengat. Rendra yang mengenakan seragam oranye khasnya sedang mengayunkan sapu lidi di sepanjang trotoar depan sebuah butik pakaian mewah impor. Matanya yang cekung sesekali menatap nanar ke arah deretan mobil sport yang terparkir rapi di sana, meratapi nasibnya yang kini berada di kasta terendah masyarakat.
Tepat saat Rendra hendak membersihkan tumpukan daun kering di dekat pilar gerbang butik, pintu kaca besar butik tersebut terbuka. Melangkah lah seorang wanita muda yang sangat cantik dan menawan. Wanita itu mengenakan gaun mini bermerek mahal, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, dan tangan kanannya menjinjing beberapa tas belanjaan dari butik tersebut. Auranya memancarkan kemewahan kelas atas, namun dagunya yang selalu terangkat tinggi menunjukkan tabiatnya yang angkuh dan arogan. Wanita itu adalah Valerie Mahendra, anak tunggal dari salah satu taipan properti terkemuka.
"Aduh, panas banget sih hari ini! Supir sialan itu mana lagi, kenapa belum jemput!" gerutu Valerie dengan suara cemprengnya yang ketus, menghentakkan kaki yang beralaskan sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter.
Saat Valerie sedang sibuk merogoh tas jinjing kulit buaya miliknya untuk mencari ponsel, sebuah bayangan pria bermotor matik tanpa plat nomor mendadak melaju cepat di atas trotoar. Dengan gerakan yang kilat, pria berhelm cakil itu menyambar tas jinjing mewah milik Valerie hingga tali tasnya putus.
"KYAAAA!!! JOPET!!! TAS Aku DICOPET!!! TOLOOONGG!!!" jerit Valerie histeris, paper bag belanjaannya berhamburan di atas trotoar sementara dia syok sampai kakinya lemas.
Rendra yang berada hanya beberapa meter dari posisi Valerie bertindak menggunakan insting lelakinya. Tanpa pikir panjang, Rendra melemparkan gagang sapu lidinya ke arah roda depan motor sang pencopet.
BRAAAKKK!
Gagang bambu itu sukses tersangkut di ruji-ruji roda, membuat motor pencopet itu hilang kendali dan jatuh tersungkur menghantam pembatas jalan. Pencopet itu panik, langsung melepaskan tas curiannya dan memilih kabur berlari menerobos kemacetan jalan raya, meninggalkan motornya begitu saja.
Rendra dengan napas memburu berjalan mendekat, memungut tas jinjing kulit buaya yang berdebu itu, lalu berbalik menghampiri Valerie yang masih terduduk syok di anak tangga butik.
"Ini tasnya, Mbak. Untung isinya gak ada yang jatuh," ucap Rendra dengan nada suara yang tenang, sembari menyodorkan tas tersebut.
Valerie mendongak. Niat awalnya yang ingin memaki karena mengira yang menolongnya adalah "tukang sapu kotor", langsung lenyap seketika dari tenggorokannya. Begitu Rendra menyeka keringat di dahinya, Valerie terpaku. Di balik seragam oranye yang kusam dan tubuh yang kurus itu, ketampanan garis wajah Rendra—rahang yang tegas, hidung mancung, dan mata elang khas mantan pengusaha sukses— masih memancar dengan sangat kuat.
Valerie menerima tasnya dengan tangan bergetar, matanya tidak berkedip menatap wajah Rendra. "K kamu... kamu petugas kebersihan di sini?" tanya Valerie, suaranya mendadak melunak, sebuah reaksi yang langka bagi seorang wanita arogan sepertinya.
Rendra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sengaja dia buat semenarik mungkin saat menyadari tatapan kagum dari wanita kaya di depannya. "Iya, Mbak. Saya cuma petugas kebersihan jalanan. Kalau begitu, saya permisi lanjut kerja dulu."
"Eh, tunggu!" panggil Valerie cepat, bergegas berdiri demi menahan langkah Rendra. "Nama kamu siapa? Saya... saya Valerie. Saya benar-benar makasih banget ya. Ini, ambil uang ini buat imbalan!" Valerie mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dompetnya.
Namun, otak Rendra bekerja dengan sangat taktis dan licik. Dia tahu, kalau dia menerima uang itu sekarang, dia hanya akan dianggap sebagai tukang sapu biasa yang mengharap imbalan. Rendra ingin dinilai berbeda. Dia ingin memikat ego wanita kaya ini.
"Gak usah, Mbak Valerie. Saya menolong murni karena kewajiban sesama manusia, bukan karena uang. Nama saya Rendra," ucap Rendra dengan anggukan kepala yang sopan dan penuh wibawa, lalu berbalik pergi mengambil sapu lidinya kembali.
Melihat penolakan Rendra yang jantan itu, jantung Valerie berdegup kencang secara tidak wajar. "Gila, ganteng banget... dan dia punya harga diri tinggi meskipun cuma tukang sapu," batin Valerie dengan pipi yang mendadak bersemu merah. Sifat egois Valerie yang selalu ingin mendapatkan apa pun yang dia mau, seketika berubah menjadi rasa penasaran dan ketertarikan yang dalam terhadap sosok Rendra.
Sejak kejadian sore itu, dimulailah proses pendekatan yang membuat ego Rendra Wijaya melambung kembali ke langit tertinggi. Valerie yang sudah bucin dan terobsesi, mulai sering mendatangi area trotoar tempat Rendra bertugas dengan menggunakan mobil mewah beserta supir pribadinya.
Dua minggu kemudian, di sebuah taman kota yang agak sepi di pinggir area tugas Rendra, Valerie tampak duduk di bangku taman sembari menunggu Rendra menyelesaikan jam istirahat siangnya. Wanita kaya itu rela membawa sebuah kotak makan siang premium berisi daging wagyu buatan koki restoran bintang lima demi bisa makan bersama Rendra.
"Rendra, kamu makan ya. Ini saya sengaja pesenin lauk paling mahal buat loh. Badan kamu itu kurus banget, saya gak suka liatnya," ucap Valerie dengan nada manjanya yang agak blak-blakan dan dominan, menyodorkan kotak makan itu ke hadapan Rendra yang masih mengenakan seragam oranye.
"Kamu repot banget, Valerie. Padahal saya cuma makan nasi bungkus biasa juga sudah cukup," jawab Rendra, mencoba merendah untuk meroket, padahal di dalam hatinya dia bersorak girang bisa makan makanan mewah lagi.
Valerie mendengus manja, mengibaskan rambut indahnya. "Apa sih yang gak buat kamu? Pokoknya besok-besok saya bawain baju-baju baru juga buat kamu. Masa cowok seganteng kamu seragamnya kusam kayak gini terus."
Rendra menerima kotak makan itu dengan senyuman manis, namun di dalam benak batinnya yang picik, rasa sombong yang dulu sempat runtuh kini kembali bangkit bergelora dengan sangat hebat.
Rendra menatap Valerie yang sedang sibuk bercerita tentang kekayaan keluarganya. "Lihat kan? Aku tidak butuh Rania lagi! Elang Danuarta boleh saja mem-blacklist ku dari semua perusahaan, tapi takdir kali ini berpihak padaku!" batin Rendra dengan senyuman batin yang sangat pongah.
Rendra merasa yakin sepersen-persennya bahwa Valerie sudah tekuk lutut dan bucin setengah mati di bawah kakinya. Dia merasa ini adalah kesempatan hidup kedua dari Tuhan untuk bangkit kembali dan merebut status sosialnya yang hilang. Rasa bersalah dan ketakutan akan karma yang kemarin sempat menghantuinya, kini menguap tanpa sisa. Rendra merasa dirinya adalah pemenang sejati yang sebentar lagi akan menjadi menantu seorang taipan kaya raya, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kebaikan palsu sang wanita arogan, sebuah jerat neraka rumah tangga yang sesungguhnya sedang menanti untuk menerkam hidupnya bulat-bulat.
pst dapat cap pelakor😄🤭