NovelToon NovelToon
Terima Kasih "Teman"?

Terima Kasih "Teman"?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Persahabatan / Romansa
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Arsyila

Shafa dan Juna. Dua manusia yang menamai hubungan mereka sebatas kata "teman".
Namun jauh di lubuk hati terdalam mereka, ada rasa lain yang tumbuh seiring berjalannya waktu dan segala macam ujian kehidupan.
cerita pertama aku..semoga kalian suka yah. see yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Arsyila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 33

David dan Maya mengantar Shafa ke tempat kerjanya setelah seharian bersama. Terlihat pengunjung cafe tersebut lumayan ramai.

"thanks ya.." ucap Shafa keluar dari mobil yang dikendarai David

"hmm...malam mau dijemput lagi gak?" tawar David. Hal itu tidak membuat Maya cemburu, karena tahu kekasihnya itu hanya mengkhawatirkan temannya.

"gak usah. Gue naik ojol aja" balas Shafa

"besok pagi jam tujuh an. Oke" ucap Maya

"hmmm...yaudah sana kencan lagi. Bye...."

masuk ke dalam cafe, Shafa bergegas ke lemari lokernya dan bersiap untuk bekerja. Namun sebelum memulai pekerjaan, Shafa naik ke lantai atas, akan meminta ijin buat besok.

Sesaat setelah sampai di depan pintu, ia mengintip sekilas ke dalam ruangan kantor Faiz yang terbuka sedikit. Tidak ada wanita itu. terlihat hanya ada Faiz yang sedang berkutat dengan ponsel di meja kerjanya.

"kak..." ucap Shafa setelah mengetuk pintu dan diperbolehkan masuk.

"kenapa?" Faiz menghentikan aktifitas pada ponselnya dan menatap tanya pada Shafa

"besok...aku mau ijin kerja"

"hm?"

"saudara aku besok tunangan. Jadi aku harus datang" Shafa sedikit berbohong.

Faiz tidak menjawab selama beberapa detik, hanya menatap Shafa yang terlihat gelisah.

"berapa lama?"

"besok doang kok kak.."

"hmmm oke." Faiz menyetujuinya yang membuat senyum cerah Shafa menguar. hal itu sontak membuat Faiz menatap lekat senyuman itu. Senyum yang beberapa hari ini tidak Faiz temukan dari Shafa ketika berhadapan dengannya.

"Makasih kak..." ujar Shafa masih dengan senyumnya

"kalau gitu aku kerja lagi ya..." Shafa berdiri dan akan kembali ke lantai bawah. Namun sebelum sampai pintu, Faiz kembali memanggilnya. Shafa menoleh dan mendapati Faiz sudah berada di hadapannya. seketika Shafa merasa terkesiap dan menatap gugup Faiz

"kamu lebih cantik kalau senyum kayak tadi" ucap Faiz

"hm?"

"nggak." lanjut Faiz tersenyum sembari mengelus pelan rambut Shafa yang kembali membeku di tempat.

mereka tidak menyadari jika Laras ada di undakan terakhir tangga dan melihat itu. Melihat senyum yang belum Faiz berikan padanya setelah dirinya kembali ke pelukan Faiz. Selama ini Laras hanya menemani Faiz bekerja agar tidak merasa jenuh di kosannya. Tanpa ada tindakan romantis seperti yang terlihat olehnya sekarang. hanya sekedar pelukan, ciuman dan desahan yang selama ini mereka lontarkan ketika bersama.

Shafa bergegas keluar dari ruangan Faiz dan berjalan dengan sedikit tergesa karena tindakan Faiz tadi. Ketika akan menyusuri tangga, ia berpapasan dengan Laras yang pura pura tidak melihat kejadian di ruangan Faiz.

Sedikit menundukkan kepala dan tersenyum tipis, Shafa kembali berjalan ke arah pantry cafe.

"yang barusan kesini katanya mau resign?" tanya Laras ketika sampai di ruangan Faiz dan mendekat ke arah meja kerja.

"hmmm" gumam Faiz yang kembali sibuk dengan ponselnya

"harus ada penggantinya dong? Udah bikin pamflet loker?" Laras mencoba duduk di pangkuan Faiz yang menerima perlakuan Laras dengan tangan yang otomatis dia kaitkan pada pinggang besar Laras

"belum.."

"kenapa? Mau aku bantu buat bikin pamfletnya?" Laras mengalungkan tangan di leher Faiz.

"gak usah. Nanti aja" ucap Faiz menoleh ke arah Laras yang berjarak sekian centi dari wajahnya.

"padahal aku mau bantu kamu. Gak enak kalau diam terus gak ada kerjaan."

"tugas kamu melayani aku"

Senyum Laras terbit, secepat itu pula kedua belah bibir mereka saling bertautan, menimbulkan decakan desah pada ruangan itu.

**********

"ckkkk...Lo lagi Lo lagi" ujar Shafa ketika melihat David yang duduk di motor depan parkiran cafe.

"udah naik aja. Mumpung gratis" balas David sembari memberikan helm pada Shafa.

"Maya tau Lo jemput gue?"

"nggak." David menghidupkan mesin motornya dan mulai menjalankan motor ketika Shafa sudah duduk manis di jok motor.

"dihhh...gimana kalau dia cemburu pacarnya antar jemput cewek lain mulu"

"emang Lo cewek?" tanya David sedikit menolehkan lehernya ke belakang.

Shafa memukul punggung David

"tuh kan, mana ada cewek tenaganya kayak kuli gitu"

"ckkkk..." Shafa hanya membalasnya dengan decakan malas

"ortu Lo masih lama di kampungnya?"

"kayaknya sih iya..betah banget mereka disana. Katanya bapak gue juga jadi lebih sehat tinggal disana. Mungkin karena udaranya masih bagus kali ya. Gak kayak disini, banyak polusi" terang Shafa

"gak ada niatan buat kesana?"

"ada...cuma waktunya belum pas. Gue masih sibuk sama kerjaan disini. Kayaknya kalau gue nanti terlanjur nganggur, bakalan ke kampung dulu."

David mengangguk mendengar jawaban Shafa, namun dia merasa ada yang tidak beres. David beberapa kali mengecek ke arah spion motornya.

"yang belakang kayak ngikutin kita gak sih?" ujar David yang seketika membuat Shafa menoleh ke belakang

"yang mana?"

"motor di belakang.."

Shafa menoleh kembali ke belakang, ada beberapa motor di belakang mereka, namun Shafa merasa tidak di ikuti.

"perasaan Lo aja kali!! mungkin arahnya sama kayak ke rumah gue..."

David kembali mengecek ke arah spion motornya. dengan mengendikkan bahu, dia sedikit mempercepat laju motornya, berharap pikiran anehnya salah.

"thank you.." Shafa turun dari motor dan mengembalikan helmnya pada David.

"yakin besok mau datang?"

"hm?" Shafa menaikkan alis bingung

"bukannya elo ya yang tadi maksa dan bilang gue harus kesana. Aneh..." lanjut shafa

David tertawa mendengarnya.

"kesambet Lo? Bukannya jawab malah ketawa..."

"nggak..bukan gitu. Gue cuma...yaa,, khawatir mungkin?" Shafa masih menatap tanya pada David yang melipat bibirnya, ragu untuk melanjutkan ucapannya.

"tenang aja...kalau gak kuat, gue bakal bilang sama kalian."

"putus aja gak sih Shaf?"

"hah?"

"daripada nanti tambah sakit.."

Shafa tersenyum, ia mengerti David mengkhawatirkan dirinya.

"udah Lo tenang aja. Gue tahu kadar limit hati gue segimana. Kayak sekarang, gue lebih milih lepasin kerjaan karena hati gue udah gak nyaman sama situasi disana. sama halnya kayak hubungan gue sama Juna. Kalau sekiranya udah gak sehat buat hati gue, gue bakal lepasin kok. Tapi kita kan gak tau kedepannya gimana? Entah si Juna yang bisa ngelawan takdir dan beneran nepatin janjinya buat perjuangin gue, atau memang takdir yang ngalahin keinginan si juna." ujar Shafa

"atau.....bisa aja takdir gue yang melenceng jauh dari arah hidupnya si Juna...we never know" lanjut Shafa.

"so....kalau ada apa apa, gue janji buat kasih tahu kalian. Selama pertemanan kita beberapa tahun ini, gak pernah gue nyembunyiin apa apa dari Lo kan? Jadi percaya sama gue. Oke" sambung Shafa menepuk pelan bahu David.

"udah dewasa ternyata pemikiran teman gue.." David berujar sembari berdiri dari motornya dan mengusak pelan poni Shafa.

"ya gak ngerusak poni gue juga kali..."

"jenong ya Lo?"

Shafa kembali memukul bahu David tanpa henti yang dibalas tawa oleh David.

1
partini
5 th,,seh 5 th buanykkk bnggt yg bisa terjadi,,and then di sisinya di jadikan apa GUNDIK
partini
ga usah nangis be strong move on jangan pernah terlihat menyedihkan di depan orang yg ada di hatimu kalau bisa pergi jauh dulu
satu lagi bertarung dengan masa lalu tuh berat karena hampir semua masa lalu pemenang nya
CantStopWontstop
Terhibur banget!
Rukawasfound
Terharu, ada momen-momen yang bikin aku ngerasa dekat banget dengan tokoh-tokohnya.
Anthea
Meleleh sudah air mata menunggu update terbaru, thor~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!