Tak jarang persahabatan berubah menjadi cinta, begitupun yang dirasakan Kenzi dan Danti, sepasang sahabat yang harus memendam perasaannya, karena terjebak dalam friendzone. kesal, cemburu, marah terkadang mereka rasakan ketika salah satu dari mereka dekat dengan orang lain. Apakah Kenzi akan mengungkapkan perasaannya?atau akan terus bersembunyi di balik persahabatan?
Baca terus kelanjutan kisah "hujan kemarin " ya, dan jangan lupa untuk terus mendukung dengan cara like, comment, dan vote, terima kasih !
happy reading❤❤❤❤❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 33
Maya mengantarku pulang sore itu, dia ingin memastikan aku baik-baik saja, yah kejadian tadi membuatku hilang fokus, hingga aku lebih banyak berdiam diri, dan itu membuat maya khawatir dengan kondisiku.
"Dan.. lebih baik besok kamu minta izin dulu aja sama tanteku, setidaknya untuk menenangkan fikiranmu, besok aku juga Ada kuliah sampai sore jadi aku gak bisa nemenin kamu" usul Maya,
"aku baru aja masuk, masa udah izin may, gak papa kok aku udah baik-baik aja, kamu gak perlu khawatirin aku, kamu besok kuliah aja"
"udah tenang aja, nanti aku bilang tante, dia pasti ngerti kok,! " sebenernya memang aku butuh untuk istirahat, tapi aku tak mau membuat tante Maya kecewa, aku masih terbilang baru kerja disana.
"aku gak enak may, nanti takut tante mikirnya aku gak serius kerja di tempat tante " ucapku
"udah kamu gak usah khawatir, cuman Satu hari aja kok! " Maya terus meyakinkanku
"hmm-mmm baiklah, besok aku coba chat tante mu" akupun mengikuti Saran maya untuk istirahat satu hari.
"nahh gitu dong, jangan sedih lagi ya...! " ucap maya, aku hanya membalas dengan senyuman.
mobil maya terparkir di depan rumah ku, Kali ini Ia tidak turun, jadi hanya aku yang turun dari mobil
"makasi ya may...! " ucap ku sambil menutup pintu mobil maya
"sama-sama Dan...! aku langsung pulang ya! " aku mengangguk dan melambaikan tangan pada maya, mobil maya melaju meninggalkanku yang masih berdiri di depan halaman rumah.
kulihat ibu dan kedua adikku sedang bersantai di ruang tv, sesimple itu kebahagiaan mereka, kulihat mereka tertawa lepas melihat Salah satu acara di tv, rasa sakit yang baru saja ku alami seketika hilang melihat tawa mereka.
"ehhh ka danti udah pulang! " ucap Darrel ketika sadar dengan keberadaanku
"iya... baru aja pulang! " ucapku, aku segera mask dan mencium Tangan ibu, setelah itu aku bergegas ke Kamar, rasanya tubuhku lelah, kurebahkan tubuhku di kasur mataku menatap atap dengan kembali memikirkan apa yang Leo ucapkan tadi.
apa mungkin Leo masih mencintaiku, ahh danti bodoh sekali kamu jika berfikir seperti itu jelas-jelas Leo Sudah menolakmu batin dan fikiranku terus berkonflik memikirkan apa yang di ucapkan Leo tadi.
suara dering telfon memecahkan lamunanku, segera ku ambil ponsel dalam tasku,
ahhh kenzi?
Sudah lebih dari satu minggu dia tidak memghubungiku, terakhir dia mengatakan jika dia sedang sangat sibuk, sebagai mahasiswa semester 2 banyak tugas yang harus dia selesaikan, selain disibukkan oleh tugas-tugas, kenzi mempunyai peran penting si sebuah organisasi di universitasnya.
"*Hai Dan.... " Sapa kenzi di balik telfon, rasanya aku tak bisa menahan tangis mendengar suaranya
"Ha..i ken..." suaraku sedikit tertahan karna aku menahan tangis
"apa kabar?maaf aku baru menghubungi kamu ..." ucapnya ,
"ba-ik kamu sendiri gimana kabarnya? gak papa kok aku tau kamu pasti sibuk " aku benar-benar tak bisa menahan tangisku , aku ingin meluaokan semua masalahku pada kenzi , aku ingin menangis dalam dekapannya, melepaskan semua beban-beban dalam pundakku
"aku baik...Dan , kamu yakin kamu baik-baik aja?" aku tau kenzi mulai curiga karna mendengar suaraku
"aku baik kok, aku gak papa " aku masih berusaha menutupi kesedihanku
"gimana kamu disana?kerjaanmu lancarkan? aku disini sibuk banget Dan, ternyata jadi mahasiswa itu lebih sulit dari murid SMA he-he-he* " akup mendengarkan dia bercerita banyak, hingga aku sedikit lupa dengan kesedihanku, dia menceritakan hal-hal lucu yang terjadi di kampusnya, dari mulai teman, ibu kos , dan wanita-wanita kampus yang sering sekali mengirimi pesan singkat padanya .
"memang tak ada wanita yang kamu suka disana?" aku mencoba bertanya , meski aku berharapa jawabannya adalah tidak ada
"hmmm ada sih! dia cantik, pintar, cuman ......" pujian-pujian itu terdengar menyesakan dadaku,
"*cuman apa?" tanyaku sedikit sebal
"Dia terlalu sempurna untukku, ha-ha-ha" sikap insecurenya mulai lagi, padahal jika di lihat kurang apa lagi dia, ganteng, pintar, kaya ..dari SMA dia selalu menjadi idola
"sesempurna itukah? sampe bikin kamu seminder ini" ledekku , aku merasa kecewa ketika kenzi menceritakan wanita lain dengan begitu bersemangat .
"yahh....mungkin, tapi tenang disini aku gak nemuin sahabat sekonyol dan sebaik kamu" ucapannya terdengar begitu ringan, seandainya kenzi tau bahwa rasaku bukan hanya sekedar sahabat tapi lebih dari itu*.
aku masih asik berbincang melalui ponsel dengan kenzi, tiba-tiba terdengar suara ibu berteriak
"keluar...Danti tidak butuh kamu"
"ken..aku tutup dulu ya telfonnya, nanti aku telfon lagi" aku segera menutup sambungan telfonku, tanpa menunggu jawaban dari kenzi
"aku mohon tante, aku akan perbaiki semuanya!"
suara itu seperti aku mengenalnya, akuoun segera bergegas menghampiri ibu
"Leo....?" aku terkejut ternyata leo benar-benar datang menemuiku lagi
"Danti aku mohon kasih aku kesempatan" leo berlutut menyentuh kakiku, dan itu membuatku benar-benar terkejut.
"apan sih kamu Leo, ayo bangun !" kutarik tubuh Leo dari kakiku
"belum cukup apa yang sudah orangtuamu lakukan pada kami" ibu terlihat masih begitu kesal, dengan perlakuan orangtua Leo
"aku tau tante,tapi aku sama sekali gak bermaksud seperti itu, saat itu aku bingung, aku harus melanjutkan kuliah, demi cita-citaku, dan jika aku tak menuruti kata-kata mereka, bagaimana aku bisa kuliah?" ibu memasang wajah sinis dan tak perduli dengan permohonan leo , sedang aku masih mematung memandangnya, rasanya tak tega melihat leo se-memohon ini padaku.
"lalu kenapa sekarang kamu dateng?bukannya kamu masih kuliah?" Leo terdiam mendengar pertanyaan ibu, ia menunduk seperti memendam sebuah penyesalan
"hidupku tak pernah tenang tante, aku selalu teringat Danti, dan aku memikirkan kehamilannya, dia anakku tante, aku adalah ayah dari bayi yang di kandung Danti , dan setelah ketemu Danti pagi tadi, aku sadar tak seharusnya aku meninggalkan dia disaat seperti ini" aku begitu terharu mendengar ucapan Leo, ibu menatapku yang masih terpaku dengan air mata yang mengalir, kedua adikku menghampiri dan merangkulku, seakan ingin memberikan kekuatan pada kakaknya yang malang ini.
"yahh jelas, karna kamu lari dari tanggung jawab..."saat ini ibu menurunkan nada bicaranya, aku tau ibu bukanlah wanita yang pendendam, dan itu sangate menurun padaku, sejahat apapun Leo , aku tetap tak tega jika dia mengiba seperti ini
" aku akan bertanggung jawab tante!" aku tersikap begitupun ibu, kami saling berpandangan,
apa benar yang dikatakan Leo, dia sungguh-sungguh akan bertanggung jawab dengan kehamilanku
Hatiku seakan tak percaya dengan ucapannya,entah hidayah dari mana hingga Leo dengan berani berkata seperti itu
"bukannya kamu akan bertunangan?" tanyaku membuat ibu menaikan alisnya , dan membuka lebar kelopak matanya.
for agreath love
silent love
sama little violinist