Tarissa terpaksa mengikat janji suci dengan Nafandra, bukan karena cinta, melainkan demi melindungi Keanu dari cengkeraman Keluarga Brawijaya yang kejam. Di balik pernikahan ini, Tarissa menyimpan dendam membara. Ia bertekad mengungkap kebenaran di balik kematian tragis Nessa, yang kecelakaan itu ternyata adalah pembunuhan berencana yang didalangi oleh keluarga suaminya sendiri.
Takdir mempertemukan Tarissa dengan sebuah buku harian milik Nessa. Lembaran demi lembaran mengungkap rahasia kelam dan misteri yang selama ini tersembunyi rapat di balik tembok megah Keluarga Brawijaya. Setiap kata yang Tarissa baca, membawanya semakin dekat dengan bahaya. Mampukah Tarissa mengungkap kebenaran dan membalaskan dendam Nessa, atau justru ia akan menjadi korban selanjutnya dari keluarga Brawijaya yang penuh intrik dan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Bab 32
Hari ini keadaan rumah sedang sepi, karena Pak Budiman dan Mbok Darmi pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan tentang kejadian di masa lalu. Kerangka itu sudah di pastikan adalah Kang Muis.
Di rumah hanya ada Tarissa, Keanu, Adelia, dan satpam. Bi Ani sedang pergi ke pasar di antar oleh Mang Dirman. Lalu, Mami Ayu sudah sibuk dengan kegiatan bersama temannya yang sosialita.
Tarissa dan Keanu menonton televisi di ruang keluarga sambil tiduran. Keduanya terjatuh tidur padahal belum ada 30 menit sejak mereka mulai menyalakannya.
Tidur Tarissa terusik ketika Keanu memukulnya. Dia pun terbangun. Wanita itu melihat putra sambungnya masih tertidur lelap. Lalu, dia pun pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Ketika dia menengok ke jendela yang mengarah ke gudang, Tarissa melihat Adelia berada di depan bangunan tua. Tentu saja perbuatan gadis itu mengandung curiga. Setelah minum, dia pun berlari ke arah gudang untuk melihat apa yang diperbuat sang pembantu di sana.
Berbeda dengan kemarin, kali ini Tarissa akan menyergap Adelia. Dia ingin tahu apa yang sedang gadis cari di gudang itu. Kenapa bulak-balik ke sana secara diam-diam.
Adelia terkejut ketika masuk ke dalam gudang yang sedikit berantakan. Ini menandakan kalau ada orang lain yang juga memeriksa keadaan gudang.
"Siapa orang yang sudah masuk ke sini? Kemarin lusa tidak seperti ini," ucap Adelia bergumam dengan pandangan mengedar ke segala penjuru.
Gadis itu berjalan menuju ke ruang kamar tidur. Betapa terkejutnya dia ketika melihat keadaan kamar yang benar-benar berubah. Mata Adelia terbelalak ketika melihat dinding yang kotor oleh bekas darah.
Air mata Adelia jatuh dari kedua netranya. Tangan gadis itu terulur menyentuh dinding bernoda darah.
"...." Adelia bergumam sambil menangis tergugu. Gadis itu tidak sadar kalau sejak tadi Tarissa memerhatikan dirinya dari belakang.
"Apakah kamu adiknya Narsih atau anaknya Narsih?" tanya Tarissa secara tiba-tiba di belakang gadis itu.
Tubuh Adelia terlonjak saking kagetnya mendengar suara yang tiba-tiba saja menyapa dirinya. Jantung gadis itu berdebar kencang seakan melompat keluar mulut.
Adelia membalikan badan, wajahnya semakin pucat pasi ketika melihat Tarissa yang berdiri menatapnya tajam. Dia spontan mundur beberapa langkah.
"Nyo-nya," ucap Adelia.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Tarissa.
"A-ku ... se-dang mencari barang," jawab Adelia gugup.
"Jangan coba-coba berbohong kepadaku! Aku tidak akan mudah kamu tipu. Apa hubungan kamu dengan Narsih?"
"Apa maksud, Nyo-nya? Siapa dia?" tanya Adelia yang kini mulai berkeringat.
"Jawab saja pertanyaan aku. Apa hubungan kamu dengan Narsih yang dahulu pernah bekerja di sini?" tanya Tarissa dengan nada tegas. Dia paling tidak suka jika bertanya malah balik bertanya.
Bola mata Adelia bergerak ke kanan dan kiri seakan tidak mau beradu pandang dengan Tarissa. Dia bingung harus mengatakan apa.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Tarissa lagi. "Narsih itu siapanya kamu? Kenapa wajah kamu ada kemiripan sama Narsih?"
Adelia kini menundukkan kepala. Lalu, berkata, "Kenapa Nyonya tanya hal itu kepadaku? A-ku hanya mencari sesuatu di sini."
"Kalau kamu mau jujur, maka aku akan membantu kamu," ucap Tarissa.
Mendengar itu Adelia langsung mengangkat kepalanya. Dia menatap Tarissa untuk melihat apa majikannya itu bersungguh-sungguh atau bohongan.
"Nyonya, janji mau bantu aku?" tanya Adelia dengan nada lirih. Bola matanya berkaca-kaca.
"Tentu saja kalau aku mampu, aku akan bantu kamu," jawab Tarissa.
"Bi Narsih itu adalah ibu kandung aku," ucap Adelia.
'Sudah ku duga,' batin Tarissa.
"Dulu ibu pergi bekerja ke kota dan aku tinggal di desa bersama kakek dan nenekku karena bapakku sudah meninggal saat aku berusia tiga bulan," kata Adelia memulai ceritanya.
"Ibu bekerja di rumah Tuan Bara Brawijaya selama tiga tahun. Biasanya setahun bisa pulang dua atau tiga kali. Namun, sejak tahun 2003 ibu tidak pernah pulang lagi," lanjut gadis itu.
"Karena tidak ada kabar apa pun dari ibu, kami memutuskan untuk mencari ibu ke kota. Tahun 2004 kami datang ke rumah ini. Tuan Bara memberi tahu kalau ibuku kabur sejak lama sambil membawa banyak perhiasan istrinya. Tentu saja kami sekeluarga shock." Air mata Adelia bercucuran.
"Kami pulang dengan membawa luka dan rasa malu. Namun, ketika di perjalanan pulang kami bertemu dengan Bi Utari. Sahabat baik ibu yang bekerja di rumah ini juga. Dia mengatakan sesuatu yang aneh. Katanya ibu tiba-tiba hilang begitu saja. Tapi, dia yakin kalau ibu tidak pernah mencuri perhiasan Nyonya Yuniar. Karena semua pakaian dan kado ulang tahun untuk aku masih ada di kamarnya."
Tarissa mendengarkan cerita Adelia dengan seksama dan merekam diam-diam. Karena dia merasa cerita ini bisa menjadi kunci untuk memecahkan misteri di rumah ini. Terutama hilangnya Bi Narsih.
"Kata Bi Utari, ibu sangat senang bisa membeli kado boneka dan sepatu untuk aku. Dia juga akan mengambil cuti ketika hari ulang tahunku dan berjanji akan mengajak ke Timezone. Kata Bi Utari, hari itu giliran ibu membersihkan kamar Nyonya Yuniar. Entah ada apa di kamar itu, karena saat ibu akan bercerita kepada Bi Utari, Pak Budiman memanggilnya," lanjut gadis itu sambil mengusap air mata yang terus saja keluar dari netranya.
"Sejak saat itu, ibu tidak pernah terlihat lagi," kata Adelia mengakhiri cerita tentang ibunya.
"Lalu, kenapa kamu sering pergi ke gudang ini?" tanya Tarissa.
"Ka-ta Nyonya Nessa, ada sesuatu di gudang ini. Dulu, Nyonya Nessa sering datang ke sini, katanya untuk mencari petunjuk tentang ibuku dan Kang Muis, juga Nyonya Yuniar," jawab Adelia.
"Beberapa hari sebelum Nyonya Nessa meninggal, dia bilang kalau ibuku itu bukan kabur dari sini, tapi sudah meninggal. Nyonya Nessa juga bilang kalau Nyonya Yuniar meninggal bukan karena bunuh diri, tapi dibunuh oleh seseorang," ucap Adelia.
"Sudah aku duga!" Tarissa mendesis. Bagaimana mungkin orang yang berjuang untuk sembuh dari penyakitnya dan mempunyai impian melakukan bunuh diri.
"Apa Nessa memberi tahu semua itu sama kamu secara langsung?" tanya Tarissa.
"Iya. Aku dan Nyonya Nessa sering bicara di kamar Den Keanu. Sambil mengasuh, dia bercerita. Begitu juga dengan aku. Aku memberi tahu semua yang diceritakan oleh Bi Utari," jawab gadis bersurai hitam legam.
"Apa kamu punya foto Bi Utari? Orang seperti apa dia?" tanya istri Nafandra lagi karena penasarannya.
"Aku punya foto Bi Utari dan para pegawai yang dulu bekerja di sini. Tapi, foto itu sudah aku kasihkan ke Nyonya Nessa," jawab Adelia.
Tarissa ingat dengan selembar foto usang zaman dulu yang terselip di buku harian milik Nessa. Dia lalu menunjukkan foto yang tersimpan di galeri.
"Apakah fotonya seperti ini?" tanya Tarissa sambil memperlihatkan kepada gadis itu.
"Iya. Ini foto yang sama seperti yang aku berikan kepada Nyonya Nessa," jawab Adelia.
Di dalam foto itu ada tujuh orang. Baru empat orang yang diketahui identitasnya oleh Tarissa.
"Apa kamu tahu siapa saja yang ada di foto itu?" tanya wanita cantik berambut lurus.
"Ya, aku tahu siapa saja mereka," jawab Adelia dengan semangat.
"Coba kamu sebutkan nama-nama mereka!"
***
kalo nafandra yg membunuh lalu motif'a apa...
sbnrnya yg dia cintai itu ya Tarissa, pake nduga2 lg
Ga cukup sekali bacanya,,
Misterinya dapat, romancenya juga dapet,,
Tengkyu, sehat selalu & hasilkan karya2 yg ga kalah bagusnya..