The Moon is a friend for the lonesome to talk to. Artinya, Bulan adalah teman bagi yang kesepian untuk diajak bicara.
Bulan, menjadi saksi dan pendengar bagi kebanyakan orang. Sama seperti gadis kecil berusia 4 Tahun yang harus menjalani dan menafkahi kehidupannya sendiri semenjak kedua orangtua angkatnya meninggal. Yang awalnya adalah gadis manja kini berubah menjadi gadis yang kuat dalam segala hal. Dia rela mati-matian menghilangkan sifat manjanya demi bisa bertahan hidup.
Dia tak tahu, jika dia adalah permata keluarga besar, kaya, dan berpengaruh yang hilang diculik oleh musuh keluarga. Keluarganya selalu mencarinya tanpa rasa lelah.
Ibu kandung dari gadis itu mengalami depresi berat, sudah tak bisa hamil, anaknya pun hilang dicuri orang, bahkan tak ada yang bisa menyembuhkannya selain sang anak yang sudah lama hilang itu. Sedangkan ayah kandung dari gadis itu hanya bisa pasrah akan kondisi istrinya, dia bahkan tak pernah merasa lelah hanya untuk mencari keberadaan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AGK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B. 30
Devian dan Miranda tiba di mansion Alexis untuk menjemput Vania. Disana dapat mereka lihat, bahwa sesungguhnya Alexis benar-benar sangat kaya. Mansion yang mereka datangi ini adalah mansion termegah, mewah, dan besar yang ada seantero Indonesia. Bahkan ini bukanlah mansion utama milik Alexis, ini hanyalah mansion biasa yang dia bangun untuk mendiang adiknya dulu, namun belum sempat diberikan dia sudah lebih dulu mendengar berita kematian sang adik.
Devian dan Miranda duduk di sebuah sitting room dengan sekitarnya yang memiliki desain mewah "Apa Alexis se kaya itu Mas?" tanya Miranda.
Devian mengangguk "Ya, perlu kamu tau, jika kekuasaannya berada jauh di atas kita. Tapi tenang saja, Mas akan berusaha agar persidangan kedua itu dapat dimenangkan oleh kita".
Miranda diam karena melihat kedatangan Alexis bersama Vania yang berada di gendongannya. Gadis kecil itu tampak cantik, imut, serta tubuhnya yang kian berlemak. Dapat Miranda tebak, jika Vania pasti meminum ASI dari Alexis dan itu membuat hati Miranda sakit.
Alexis tersenyum, lalu duduk dihadapan Devian maupun Miranda dengan Jordan yang berdiri disampingnya sambil menenteng sebuah koper kecil yang berisikan perlengkapan Vania.
Vania yang bersandar pada dada Alexis sontak mendongak, menatap Alexis "Mommy, mau ini" ucapnya menepuk-nepuk dadanya.
Alexis tersenyum melihat raut wajah Miranda yang terlihat berbeda "Ada tamu, sayang. Nanti ya? Kan Mommy sudah berikan sama Uncle Jordan" tangannya mengelus-elus punggung anaknya itu.
"Tapi banak tan?" tanya Vania ragu.
"Iya".
"Yacudah" Vania kembali menduselkan kepalanya ke dada Alexis tanpa memperdulikan Miranda yang berada di belakangnya.
Alexis menatap Miranda dan Devian bergantian "Koper ini berisikan perlengkapan G-...".
"Tidak perlu! Perlengkapan anak saya sudah ada" potong Miranda cepat.
Alexis tidak marah, dia hanya menatap Miranda dengan santai "Tapi tidak bisa, Gia sudah saya gantikan dengan skincare khusus dan itu sudah tidak bisa digantikan dengan perlengkapan yang saya siapkan. Jika anda menolak, maka saya tidak akan memberikan anak saya pada kalian" ucapnya santai.
"Mana bisa begitu?! Dia anak saya! Saya yang mengandung dan MELAHIRKANNYA!" teriak Miranda berdiri dari tempat duduknya.
Miranda ingin mendekat, namun Jordan segera menghalanginya "Harap menjaga sikap anda Nyonya".
Alexis duduk santai "Tuan Devian, bukankah keluarga anda sangat mengerti tentang peraturan hukum? Anda tau sendiri jika anak saya tidak ingin ikut dengan anda, namun saya membujuknya dan memberikan waktu padanya agar bersama anda. Jika begini, saya bisa saja tidak akan memberikan anak saya pada anda dan saya akan mengajukan banding pada persidangan kedua nanti".
Devian yang mendengar itu langsung menarik Miranda agar kembali duduk "Kamu apa-apaan sih Mas?!" protes Miranda.
"Diam!" tegas Devian.
Miranda sontak diam dengan pandangan yang sangat tajam menatap penuh ke arah Alexis yang nampak memberikan senyuman manis padanya.
"Maaf, tolong berikan Vania pada saya" ucap Devian.
"Say-...".
"Ndak mau Mommyyy! Huaaaaa!" teriak Vania memberontak ketika Alexis ingin memberikannya pada Devian.
"Ndak mau! Ndak mau! Mau cama Uncle Dadan caja!".
Jordan menghela nafas gusar "Yah kenapa Dadan sih Nona kecil? Jordan dong" protes Jordan cemberut.
"Ndak peduli! Pototna mau cama Uncle Dadan!" Vania terus memberontak hingga akhirnya Alexis memberikan Vania pada Jordan.
"Jangan nakal oke? Nanti Minggu depan Mommy jemput, oke?" Alexis mengangkat telapak tangannya, memberikan kode agar Vania bertos tangan dengannya.
Vania pun langsung menepuk tangan Alexis dengan tangan mungilnya yang berlemak itu "Ote! Dada Mommy!" Vania memanyunkan mulutnya, meminta agar Alexis menciumnya.
Alexis yang melihat itu, lantas terkekeh, gemas dengan tingkah anaknya ini.
Cupp!.
"Dadah sayangnya Mommy" ucapnya setelah mencium bibir sang anak.
***
Selama dalam perjalanan, Vania sama sekali tak mau lepas dari gendongan Jordan. Gadis kecil itu tak mau digendong oleh Miranda yang sejak tadi terus membujuknya.
"Sini sama Mama sayang" ucap Miranda untuk kesekian kalinya.
Vania memeluk erat leher Jordan "Ndak! Janan detat-detat! Belhenti di citu!" ucapnya.
Sialnya Jordan berusaha menahan kegemasan Nona kecilnya ini. Sungguh rasanya dia ingin membuang Nona kecilnya ini ke laut eh salah, maksudnya rasanya dia ingin menguyel-uyel pipi chubby itu.
Miranda akhirnya berhenti, hatinya sungguh terasa sakit mendapatkan penolakan dari anaknya sendiri. Rasa marah dan dendamnya semakin mendarah daging. Dia semakin membenci Alexis, wanita gila yang berani-beraninya mengambil anaknya darinya.
Sesampainya, Vania langsung disambut oleh Melody dan Evelyn dengan begitu hebohnya.
"SELAMAT DATANG KEPONAKAN KESAYANGANNYA AUNTY!" teriak Evelyn.
Vania menggosok telinganya dengan wajahnya yang kurang bersahabat "Ck! Belicik!".
Semuanya lantas terkejut, kecuali Jordan. Lelaki itu tahu jika itu adalah ajaran dari Alexis untuk keluarga ini.
"Gak boleh gitu sayang, itu gak sopan" tegur Miranda.
Vania mendelik "Diam! Citu Ndak Gia ajak!" jawabnya.
"Uncle, ayo te tamal! Gia mau cucu" rengek Vania.
Miranda yang mendengar itu lantas berbinar, segera dia merentangkan tangannya "Sini sama Mama, susunya sama Mama ya?".
"Maaf Nyonya, Nona kecil sudah memiliki susu yang harus dia minum. Miss Alexis tidak mengizinkan Nona kecil untuk meminum susu lain selain susu yang beliau berikan".
Senyum Miranda seketika memudar "Ck! Sialan!" umpatnya dengan sangat pelan.
***
Didalam kamar Vania akhirnya mau ditemani oleh Miranda sambil mengenyot Nipple dot yang berisi ASI dari Alexis. Miranda jengah, Jordan. Lelaki itu terus berdiri disisi ranjang memperhatikan keduanya dengan seksama.
"Kamu bisa keluar! Ngapain kamu disini?!".
"Maaf Nyonya, saya hanya melakukan tugas saya" jawabnya santai.
Miranda pun berdecak kesal "Ck!.
Brak!.
Pintu terbuka dengan kasar menampilkan Devian yang masuk dengan wajah memerah penuh amarah. Lelaki itu mendekat dan langsung mencengkram kerah kemeja Jordan.
"Ngapain kamu disini?! Keluar!".
Jordan dengan santai menurunkan tangan Devian yang mencengkram kerah kemejanya "Saya melakukan tugas saya, dan saya hanya mematuhi perintah dan peraturan yang Miss Alexis berikan" jawabnya sambil menepuk-nepuk kerah kemejanya.
Devian mengeram marah "Sialan! Kamu jangan macam-macam dengan saya! Ini adalah privasi keluarga saya! Jika kamu macam-macam, saya tak segan-segan membuat kamu menyesal!".
Mendengar itu lantas Jordan tertawa "Haha! Jangan sombong wahai Tuan Devian! Anda jangan berani meremehkan saya disini! Saya disini menjalankan tugas dan perintah yang diberikan oleh Miss Alexis!" jawab Jordan tegas.
Devian yang sudah kelewat emosi lantas maju dan langsung menghajar Jordan, namun nyatanya baru saja ingin memberikan satu pukulan, Jordan sudah lebih dulu menendangnya hingga dia terpental dan terduduk di atas lantai.
"Mas!".
"Devian!".
"Kakak!".
Teriak ketiga wanita ketika melihat Devian yang terpental sambil terbatuk darah.
Jordan langsung menggendong Vania yang terlihat biasa-biasa saja, gadis itu fokus dengan dotnya dan menatap keluarganya dengan santai.
"Sudah saya tegaskan Tuan Devian. Jangan main-main dengan saya. Kekuatan anda berada jauh dibawah saya. Ingat! Saya ini Jordan Henderson" Jordan menekankan namanya.
Evelyn seketika sadar, dia langsung mendekat dan berbisik "Kak, dia itu adalah atlet karate sekaligus pemenang tinju profesional antar negara. Dulu profesinya sebagai pembunuh bayaran hingga terhenti ketika bekerja dibawah perintah Alexis" ucap Evelyn menjelaskan.
Lantas Devian langsung menatap Jordan, pantas saja dia merasa tidak asing dengan wajah Jordan. Ternyata lelaki itu memiliki ketrampilan bela diri yang berada jauh di atasnya.
"Jangan pernah anda mengancam saya dengan semua anak buah anda Tuan Devian. Perlu saya tegaskan, jika di seputaran mansion ini terdapat banyaknya anak buah Miss Alexis yang sedang mengawasi kalian" tegas Jordan.
To be continued...
(Hai! Balik lagi sama sayaaa! Hehe jangan lupa tinggalkan jejak ya! Dadah!).