NovelToon NovelToon
The Fallen Angel

The Fallen Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Sudah Terbit / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:393.1k
Nilai: 5
Nama Author: Poetry Alexandria

Pada awalnya, kehidupan Keana Larson sebagai gadis remaja terbilang biasa-biasa saja. Namun, semuanya berubah ketika ia mulai mengenal cowok baru di sekolahnya yang bernama Gabriel Axton White.

Keana sadar, mungkin saja berdekatan dengan Gabriel bisa membuat kehidupannya jauh dari kata normal. Cowok itu punya rahasia besar yang tak boleh diketahui siapapun. Mengetahuinya sama saja mati. Tetapi, sudah terlambat bagi Keana untuk menghindar. Gadis itu justru jatuh cinta padanya.

Iblis dan malaikat. Keana tak menyangka harus terjebak di antara keduanya. Rentetan-rentetan kejadian buruk seolah takkan berhenti sampai gadis itu benar-benar mati.

Lantas, tahukah Keana kalau apa yang terjadi dengannya bukanlah suatu kebetulan semata? Dan bisakah ia mengubah takdir buruk yang telah digariskan untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poetry Alexandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-32- At School

Aku menghabiskan serealku dengan cepat. Pagi ini Dad yang mengantarku ke sekolah. Calvin tentu saja tidak akan menjemputku seperti biasa karena peristiwa kecelakaan kami kemarin dan mungkin saja, ia dan Karen akan kembali berpacaran mengingat bagaimana gadis itu menempel padanya seperti seekor lintah.

Selesai sarapan, aku naik ke kamar, membereskan buku-buku ke dalam tas ransel lamaku karena tas sandangku kemarin rusak. Salah satu talinya putus akibat ulah makhluk-makhluk jelek itu.

Aku berjalan ke cermin, mengikat rambut panjangku ke atas dan membiarkan poni panjangku menutupi sebagian dahiku yang tertutup plester luka. Hari ini aku mengenakan kemeja panjang berenda warna pastel dan celana jins cokelat tua. Setelah selesai bersiap, aku segera turun ke bawah.

Dad sudah menyelesaikan sarapannya. Keandra juga sudah rapi mengenakan jaketnya untuk bersiap ke sekolah. Hari ini salju tipis kembali turun. Kurasa musim dingin di Mineapollis akan tiba lebih awal karena suhu udara semakin dingin dan salju mulai sering turun membasahi jalan.

Kukenakan coat panjangku, lalu berjalan ke lorong depan untuk mengenakan sepatu. Keandra menyusul di belakang bersama Dad untuk ikut berangkat ke sekolah. Mom masih di dapur membereskan peralatan makan bekas kami sarapan tadi.

Selama perjalanan ke sekolah Dad tidak banyak bicara, ia hanya bertanya bagaimana dengan kegiatan club dramaku dan kujawab bahwa minggu depan nanti kami akan pentas.

"Kau pasti datang kan, Dad? Ini debut pertamaku tampil. Kuharap kalian mendukungku," kataku padanya, sedikit memohon karena kedua orangtuaku memang tidak terlalu menyukaiku mengikuti kelas drama.

"Yeah, bukankah setiap tahun kami selalu datang ketika kalian pentas. Bahkan, aku masih ingat waktu kau menari dengan kostum hijaumu yang lucu itu," gumam Dad sambil menahan senyum. "Sayang sekali, kami lupa merekamnya saat itu."

Aku mengerang. Itu adalah hal memalukan. Bagaimana aku hanya kebagian peran menjadi sebatang pohon dan harus menari-nari seperti teletubbies bodoh.

"Tentu saja ini berbeda. Aku menjadi Rosaline, Dad. Bukan lagi sebatang pohon menyebalkan," dengusku kesal.

Dad terkekeh. "Kurasa itulah kenapa kau mulai pandai berakting," sindirnya.

"Dad, kau mulai lagi. Ini bahkan masih pagi," gerutuku, lalu memasang earphone ke telinga---tidak ingin mendengar ocehannya yang pasti tidak menyenangkan untuk didengar.

"Oke, aku tidak bicara apa-apa," kata Dad kemudian sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

Aku mendesah seraya meletakkan ponsel ke pangkuanku. "Kau harus percaya padaku, Dad." Kutatap wajahnya lekat-lekat. "Kenapa kita tidak berdamai saja dan lupakan kejadian kemarin malam? Aku benar-benar tidak melakukan apapun."

Aku tahu ayahku masih belum mempercayaiku perihal kejadian melarikan diriku bersama Calvin malam itu. Sebagai orang tua, mungkin ia merasa khawatir aku terlibat masalah seperti remaja-remaja di luar sana. Apalagi, aku melarikan diri bersama seorang cowok. Tetapi, rasanya sangat menyebalkan jika ia terus-terusan mencurigaiku dan aku sedang tidak ingin berdebat dengannya dalam hal apapun.

Dad mengangkat bahu, lalu mengangguk-anggukan kepala. "Ya, ya, ya. Kau masih putri Dad yang manis dan menggemaskan, bukan?"

Aku tertawa. "Tentu saja."

Ia balas tersenyum. Tak berapa lama, kami sampai di depan sekolah. Aku segera melepaskan sabuk pengaman dan menyandang tas, lalu mencium pipi ayahku sebelum turun.

"Aku sayang padamu, Dad ..." ucapku dan berpaling pada Keandra yang duduk di belakang sembari mengedipkan mata. "Kau juga, Sweety. Bye!"

"Bye, Keana!" balas Keandra sambil tersenyum kecil.

"Ingatlah untuk selalu jadi gadis baik, oke?" pesan Dad waktu aku menutup pintu mobil.

"Akan kuusahakan, Dad," kataku, meringis.

Dad geleng-geleng kepala, kemudian membawa mobilnya meninggalkan gerbang sekolah.

Aku melangkah cepat menuju gedung sekolah. Salju tipis masih melayang-layang turun. Kurapatkan coat-ku karena angin berembus kencang. Mataku mencari-cari sosok Gabe di antara kerumunan anak-anak di lapangan parkir, tapi sepertinya tidak menemukannya.

Aku bertemu dengan Calvin dan juga Nick di koridor. Tangan kanan Calvin masih dibalut perban. Ia langsung tersenyum lebar ketika aku menghampirinya.

"Hai, Baby! Bagaimana kabarmu? Kau sudah baik-baik saja?" Ia bertanya, tangan kirinya merangkul bahuku.

"Ya, aku baik-baik saja," sahutku. "Apa kalian melihat Gabe?"

Calvin langsung melepaskan rangkulannya mendengar pertanyaanku. "Tidak bisakah kau menanyakan hal lain selain makhluk bersayap itu?" Ia menyeringai.

"Oke, maaf ..." aku nyengir. "Jadi, kalian melihatnya apa tidak?"

"Tidak. Aku tidak melihatnya dan kuharap tidak akan melihatnya lagi." Calvin memutar bola mata.

"Oh, aku tidak sependapat denganmu. Aku ingin melihatnya. Dia itu keren," sergah Nick dengan mata bersinar-sinar kagum.

"Dia akan membuatmu amnesia, Bodoh! Apanya yang keren?" tukas Calvin, cemberut.

"Dia bukan makhluk jahat, Calvin. Gabe itu baik," protesku.

Calvin menatapku sebal. "Kau selalu membelanya, Keana. Apa dia sudah menyihirmu agar kau tergila-gila padanya?"

"Kau selalu saja menyebalkan," gerutuku sambil mengembuskan napas keras-keras.

"Hei, aku punya kabar buruk untuk kalian. Ini mengenai mobil truk pamanku yang rusak." Nick menyela.

"Ah, ya. Bagaimana dengan keadaan mobil itu?" Aku benar-benar melupakan keadaan mobil paman Nick yang rusak.

"Aku sudah membawanya ke bengkel dan pamanku marah besar. Kurasa biaya perbaikannya akan membengkak dan pihak asuransi tidak mau menanggung semuanya."

"Jangan khawatir, Sobat. Aku akan membantu membayar biaya perbaikan itu," kata Calvin menenangkannya.

"Aku juga, Nick. Maaf semua ini gara-gara aku. Aku akan membantumu, aku punya tabungan walau tidak banyak," timpalku sedikit merasa bersalah.

"Kau tidak perlu repot-repot, Keana. Aku bisa mengganti semua biayanya." Calvin tersenyum padaku dan kembali merangkul bahuku.

"Terima kasih, Calvin," kedua alisku terangkat curiga. "Itu tidak percuma, kan?"

Ia menyugar rambut cokelatnya dan menatapku dengan tatapan jenaka. "Cukup luangkan waktumu malam ini. Kita berkencan, oke?"

"Kalau begitu lupakan saja." Aku melepaskan diri dari rangkulannya.

"Hei, ayolah..." ia mendesak sementara Nick geleng-geleng kepala jengah.

"Kuharap aku tidak mengganggu kalian," suara mengalun Gabe terdengar dibelakang kami.

Aku spontan memalingkan wajah dan berseru antusias, "Gabe!"

Gabe menatap lurus pada Nick dan Calvin, lalu tersenyum padaku. Ia berdiri tegak mengenakan T-shirt putih ketat yang menonjolkan otot-otot bisepnya dibalut jaket kulit hitam yang tak diresleting. Gabe selalu saja tampan. Mata birunya menyorot hangat waktu bertatapan denganku.

"Kupikir kau sudah pulang ke kampung halamanmu, Gabriel." Calvin berkata sinis.

"Oh, aku masih punya sesuatu yang harus dilakukan. Urusan kita belum selesai," sahut Gabe sambil tersenyum penuh arti.

Calvin menyeringai. "Apa kau mau pamer soal kemampuan menghilangkan ingatanmu?"

"Itu salah satunya. Bisa kita mulai?" balas Gabe yang membuat wajah Nick memucat dan Calvin mengepalkan tinjunya.

"Apa kau benar-benar akan melakukannya, Gabe?" tanya Nick gemetar.

Gabe mengangkat bahu. "Ya, itu sesuatu yang mudah. Tapi, sebelum itu aku ingin bertanya pada kalian, darimana kalian mendapatkan kunci itu?"

"Aku tidak akan mengatakannya padamu," jawab Calvin.

Gabe mengangkat kedua alisnya dan bersedekap. "Aku akan memaksa kalau begitu."

"Silakan saja. Aku akan tetap bungkam." Calvin menantang dengan ekspresi angkuh.

"Calvin ..." aku menatap cowok itu. Lalu, berpaling pada Gabe. "Apa kalian tidak bisa akur sama sekali?"

Gabe dan Calvin balik memandangku, lalu Calvin mendengus. "Dia ingin membuatku amnesia, untuk apa aku akur dengannya."

"Sudah kukatakan kalau aku harus melakukannya," protes Gabe kesal.

"Kalau begitu bagaimana jika kita buat kesepakatan?" tanya Calvin sambil menyeringai lebar.

"Apa maksudmu?" Kedua mata Gabe berkilat.

"Aku akan mengatakan darimana aku mendapatkan kunci itu asal kau berjanji untuk tidak menghilangkan ingatanku."

Ekspresi Gabe mengeras. "Aku tidak bisa."

"Kalau begitu, aku akan tetap tutup mulut." Calvin mengendikkan bahu.

"Ini demi keselamatanmu, Brengsek!" geram Gabe, melototinya. "Apa kau ingin makhluk-makhluk jelek itu mengejarmu lagi?"

"Aku tidak mau." Nick yang menjawab.

Gabe menoleh pada cowok bertubuh kurus jangkung itu. "Anak pintar." Lalu, ia kembali menatap Calvin tajam. "Kita berkumpul sepulang sekolah, oke? Kuharap kau sudah menyiapkan mentalmu saat itu."

Calvin hanya memutar bola mata, acuh. "Kita lihat saja nanti."

Aku menatap ketiga cowok itu dengan jengah. Bel masuk berbunyi. Kami berempat segera berpencar menuju kelas kami masing-masing.

Pelajaran biologi berlangsung lambat sekali. Kami melakukan penelitian fotosintesis pada tumbuhan lumut yang rasanya merepotkan karena aku kurang memperhatikan sementara Becca terus mengoceh dan menginterogasiku kemana aku pergi bersama Calvin malam itu, Liz di belakang kami ikut menyimak.

Aku mengatakan padanya bahwa aku pulang ke rumah karena harus mengambil tasku. Mereka kelihatan tidak percaya dan menatapku aneh. Aku cuma mengangkat bahu dan bilang bahwa ada rahasia yang tidak bisa aku ceritakan pada mereka.

"Kau jadi misterius sekali." Becca mengeluh waktu kami membereskan peralatan penelitian kami karena jam pelajaran sudah berakhir.

Aku menangkupkan tanganku ke depan wajah. "Sori, aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tapi, aku akan jujur jika sudah waktunya," kataku.

Liz dan Becca cuma mengangguk kecil, walau sinar mata mereka terlihat penasaran.

Ketika waktu istirahat tiba, aku bertemu lagi dengan Calvin dan Nick waktu akan ke kafetaria. Jeremy tidak kelihatan, mungkin ia sedang bersama Emilly di sana. Lalu, terdengar suara gemuruh anak-anak di ujung koridor yang membuat perhatian kami teralihkan.

Calvin, Nick dan aku setengah berlari menuju sumber kegaduhan tersebut. Tubuh mungilku berhasil menerobos kerumunan yang berdesak-desakan, sementara Calvin dan Nick mendorong beberapa anak ke samping agar bisa lewat untuk melihat pemandangan yang luar biasa mengejutkan terjadi.

Di tengah kerumunan, berdiri Sharon, Demi dan Karen sedang mengeroyok Ashley yang dalam keadaan tak berdaya. Sharon menyiram saus tomat ke wajah gadis itu dan Karen menambahkannya dengan mayonais. Lalu, Demi ikut memecahkan telur busuk di atas kepala Ashley dengan kasar.

"Proud to be slut, huh? Enjoy your breakfast, Bitch!" teriak Sharon dengan ekspresi jijik.

Semua anak-anak berseru tertahan. Banyak yang merasa terkejut kenapa Ashley dibuli begitu rupa oleh Sharon, Demi dan Karen yang notabene adalah teman segeng-nya. Ashley yang malang terduduk di lantai, menangis sembari menunduk. Ia sama sekali tidak melawan saat Sharon dengan kejam melempar kembali telur busuk ke kepala gadis itu.

"Here your dessert!" Sharon menjejalkan dengan paksa sepotong sosis busuk ke dalam mulut gadis itu.

Ashley terbatuk-batuk, lalu muntah ke lantai. ia menatap Sharon dan dua temannya dengan tatapan memohon. Air matanya terus mengalir.

"Wow!" seru Calvin di belakangku.

Aku menoleh menatap cowok itu. Calvin dan Nick terkekeh-kekeh seolah sedang menyaksikan tontonan seru.

"Hentikan, Sharon!" suara Dalton menggelegar di tengah koridor. Cowok bertubuh tegap dengan rambut pirang itu menyeruak di antara kerumunan dan dengan cepat menghampiri Ashley yang masih terduduk tak berdaya di lantai, lalu membantunya berdiri.

"Lihatlah, siapa yang datang!" sindir Sharon sambil menyeringai. Kedua matanya berkilat marah. "Ini semua balasan untuk gadis murahan itu! Dan kau, tunggu saja. Aku juga akan membalasmu!"

"Sharon, aku tahu kau marah. Kupikir kemarin semuanya sudah jelas. Aku benar-benar menyesal. Lampiaskan kemarahanmu padaku, jangan ke Ashley. Dia ..."

"Dia sahabatku, Bajingan! Dan kau telah merusak persahabatan kami!" potong Sharon emosi. Wajahnya merah padam. Matanya berapi-api saat menatap Dalton dan Ashley.

"Aku minta maaf, Sharon ..." ucap Ashley terisak. Keadaannya sudah kacau balau dari atas kepala sampai ujung kaki.

"Tutup mulutmu!" bentak Sharon padanya.

Aku mendelik tak percaya menyaksikan pemandangan mengejutkan ini. Dalton kelihatannya berselingkuh dengan Ashley dan membuat Sharon marah besar. Semua anak-anak tampaknya sama terkejutnya dengan diriku. Pantas saja kemarin sore aku melihat Sharon bertengkar dengan Dalton, mungkin karena masalah ini. Dan hal ini membuatku paham kenapa Sharon menjadikan Gabe target pacar gadis itu selanjutnya. Huh, menyebalkan!

Sementara Calvin dan Nick masih terkekeh-kekeh dan bersiul-siul mengejek melihat pemandangan ini, seolah kegaduhan yang mereka lihat adalah sebuah hiburan.

"Kau dikeluarkan, Ashley! Jangan coba-coba tunjukkan batang hidungmu di depanku or i'm gonna kill you." Lalu, Sharon menatap tajam pada Dalton. "Get off my ass! I'm done with you, Asshole!"

Sambil menghentakkan kakinya keras-keras---diiringi sorakan riuh dari semua orang yang menyaksikan---gadis itu berbalik menerobos kerumunan di dekatku dengan raut sangat marah. Demi dan Karen menyusul di belakangnya. Karen sempat melihat ke arahku waktu ia berjalan melewati kami. Matanya yang tajam menatapku nyalang seolah memberi peringatan; You're next, Bitch!

🍁🍁🍁

1
R
still a good novel ✨
Just human
lanjut kak suka bgt sm critanyaa T_T
⒋ⷨ͢⚤ᴢᴜͥʟͣꜰͫ𝐀⃝🥀ଓεᵂᴵᴸᴰLionᏦ͢ᮉ᳟
oii authorr mana ini kelanjutan nyaa
⒋ⷨ͢⚤ᴢᴜͥʟͣꜰͫ𝐀⃝🥀ଓεᵂᴵᴸᴰLionᏦ͢ᮉ᳟: oii thorrr
total 2 replies
Muse
Cepat juga datangnya Messias ini, gak pake basa basi lagi...Keana pasti shock bgt...gak sabar nunggu next chapternya Kak Author...
Muse
aduuh Calvin kenapa itu, berubah jadi Demon kah ?
Muse
Ceritanya keren banget...romancenya dapet...tegangnya paling dapet dech...karakternya kuat kayak pas banget sama tokohnya. Tentu paling suka sama Gabe yang sweet bgt cara dia ngetreat Keana. Sama Calvin juga sebenarnya badboy yg brokenhome. Ceritanya rumit tapi bisa dijabarkan dengan baik...jadi enak bacanya ngalir aja...Goodjob kak Author 👍🏻👍🏻👍🏻
Muse
Akhirnya Keana ingat juga sama Gabe...
Muse
semoga Keana bisa hidup lagi...
Muse
Jangan mati donk Keana...
Muse
sayang sekali para angel kena jebakan...terus gimana sama Keana donk...
Muse
Gabe.. so sweet...
Muse
kok bisa sich Calvin ikut jadi member satanist...apakah ibunya Calvin wanita yg ditemui Gabe sama Raph di sarangnya Lucifer waktu itu yaa...
Muse
waduuuh itu kan pamannya Calvin...jangan² dia bukan kabur dari RS tapi diculik anak buahnya Lucifer...
Muse
kenapa mau sich Keana...Lucifer itu kan licik bgt...pilihan yang sulit memang dan sepertinya keluargamu juga akan dalam bahaya kalo kamu sampe mengingkari kesepakatan itu ...huftt dilema berat pasti...
Muse
Kasian Gabe...
Muse
Apa gak dihukum sama gurunya kok sering bgt ada pembullyan disekolah yaa...
Muse
Emang Gabenya mau sama kamu Sharon ?
Muse
kasian juga si Calvin padahal sepertinya dia tulus sama Keana...
Muse
campur aduk bacanya...ya tegang...ya ngakak...ya kaget...goodjob kak author...👍🏻👍🏻👍🏻
Muse
setiap part sungguh menegangkan...seruuuu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!