"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 balasan
Bab 31 Balasan
•••
Sehari setelah kejadian kemarin.
Zayn baru saja terbangun dari tidurnya.
Namun, ia kaget tak ada seseorang disampingnya.
Varisha.
Ia mencari wanita itu.
“Kemana dia?” Zayn terlihat panik. Sebab, tadi malam ia menyuruh Varisha untuk tidur diatas ranjang.
Ia langsung bangun terduduk, dan ia kaget melihat punggung mulus Awalnya ekspresinya biasa saja. Seseorang yang hanya mengenakan handuk sedang duduk di sofa membelakangi dirinya.
Ia hapal bentuk tubuh itu.
Varisha.
Mendadak perasaannya jadi lega.
Melihat pemandangan ini membuat hatinya berdesir.
Ia sudah pernah menikmati tubuh itu, namun jantungnya tetap berdetak kencang.
Perasaan apa ini? batin Zayn yang tidak mengerti dengan dirinya.
“Ngapain loe?”
Varisha kaget. Ia sedang mencoba membuka perban di kaki kirinya. Ia baru saja selesai mandi barusan. Handuk yang ia kenakan hanya sebatas diatas lutut saja.
“Gue gak suka lihat tubuh loe,”
ucapan Zayn tempo hari terus saja berputar di benaknya. Sontak, Varisha mencoba mencari kain untuk menutupi tubuhnya.
“Sini biar gue bantu.”
Varisha kaget.
“Aku bisa sendiri, mas.”
“Gak usah ngebantah!” Zayn langsung duduk bawah kaki Varisha.
Varisha tentu saja heran dengan sikap baik Zayn yang mendadak. Pria itu langsung menyentuh kakinya dan membuka perban tersebut secara perlahan.
Awalnya ekspresinya biasa saja.
Namun saat lapisan perban dibuka perlahan.
Ia terdiam.
Kulit di sekitar betis Varisha tampak membiru keunguan. Ada bekas luka lama yang memanjang di sisi kaki. Sedikit bengkak.
Varisha tak mau melihat lukanya. Ia tak suka melihat kakinya. Zayn yang melihat itu melihat ekpresi Varisha yang tak biasa.
“Aku saja!” Varisha pun menarik kakinya.
Namun, Zayn seolah tak mau melepaskan kaki Varisha.
Tatapan mereka saling bertemu.
“Aku bisa sendiri, mas. Lebih baik kamu urus dirimu sendiri dan hidupmu.”
“Diam.” suara Zayn jadi dingin dan menakutkan.
Varisha berusaha menarik kembali kakinya. Namun, malah dicengkeram oleh Zayn.
“Akh!” Varisha jadi merasa kesakitan.
“Kan, gue udah bilang ‘diam’.
Akhirnya, Varisha hanya bisa diam saja. Zayn sibuk merawat lukanya. Ekpresi pria itu begitu aneh sekali, tatapannya mendadak sedih dan dingin.
“Meski, kau tak peduli. Aku tetap ingin memberitahumu. Bahwa, hari ini aku aku akan pulang ke Indonesia.” ujar Varisha sesaat Zayn berhasil Menganti perban kakinya.
“Loe gak boleh pulang.”
“Kenapa?”
“Gak usah banyak tingkah. Kalau gue bilang gak boleh ya gak boleh.” Zayn bangkit dari duduknya.
“Mau mu apa sih, mas? Kalau kau gak suka sama aku, jangan tahan aku disampingmu. Biar aku yang jelaskan semuanya sama ayah dan ibu. Tenang saja, nama baikmu akan tetap aman.” Varisha berusaha bangkit dengan susah payah.
Zayn jadi kesal, “loe gak boleh pergi!”
“Aku tetap mau pergi.” Varisha sudah berdiri. Namun, Zayn malah mendorong tubuhnya hingga kembali jatuh ke sofa.
“MAUMU APA HAH?! AKU BUKAN BONEKA APALAGI PEMBANTU. AKU TAU AKU HANYA CEWEK MISKIN YANG PINCANG. JADI, LEPASIN AKU!!” teriak Varisha sudah tak tahan lagi.
“LOE GAK BOLEH PERGI TITIK.” Zayn langsung mengendong tubuh Varisha. Membuat ikatan rambutnya terlepas begitu saja.
“Lepasin aku mas!” Varisha memberontak.
“Nggak akan. Loe itu milik gue, selamanya milik gue.” Zayn malah menjatuhkan tubuh Varisha diatas ranjang.
Zayn langsung keluar kamar dengan cepat. Melihat hal itu, Varisha langsung turun perlahan dan mengambil pakaiannya.
Ia harus mengakhiri hubungan yang tidak sehat ini.
Saat sedang merapikan koper. Mendadak Zayn masuk dengan membawa sebuah tali.
“Loe gak bisa pergi!” Zayn mengangkat tubuh Varisha kembali keatas ranjang. Mengikat kedua tangannya di setiap sisi tiang ranjang.
“Kamu jangan gila, Zayn!” Varisha mencoba memberontak.
“Panggil aku ‘mas’ bukan Zayn. Aku ini suamimu.”
Varisha tersenyum menyeringai, “suami? Sejak kapan kau menganggap dirimu itu suami?”
Ia sudah muak bersikap sabar selama ini. Toh, percuma saja.
“Lepasin, mas!” teriak Varisha.
Namun, Zayn seolah tak peduli. Ia langsung keluar kamar setelah berhasil mengikat kedua tangan Varisha.
“Ini adalah balasan atau apa yang loe lakuin sama gue dulu.” itulah perkataan Zayn sebelum ia benar-benar pergi.
“Balasan?” Varisha kaget.
To be continue…
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya