Andro yang tidak sepemikiran dengan keluarganya akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup di jalanan, lalu ia bergabung dengan genk motor yang berkuasa di daerah tempat tinggal barunya.
Sedangkan Julia yang seharusnya mengikuti ujian akhir nasional tapi harus menutup mimpinya untuk bisa lulus dari jenjang SMA karena ia terpaksa kabur dari rumah untuk menghindari ayah dan kakak tirinya yang sering melecehkannya.
Bagaimana bila Andro dan Julia dipertemukan? Mungkinkah mereka saling jatuh cinta, atau mereka malah saling menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
"Terima kasih sudah berkunjung ke restoran ini!" ucap Dexter sambil membukakan pintu restoran untuk pelanggan terakhir malam ini. Sesaat setelah pelanggan itu pergi, Dexter membanting buku menu yang sedari tadi berada di tangannya ke salah satu meja restoran.
"Ada apa?" tanya Vino yang terkejut mendengar suara bantingan buku menu itu.
"Sudah lebih dari 2 minggu, Andro tidak menemui atau menghubungi kita sama sekali!" seru Dexter, wajahnya terlihat kesal.
"Mungkin dia sedang sibuk dengan istrinya!" sahut Tian dari kejauhan. Dexter menghela nafasnya dengan kasar, lalu merogoh saku celemeknya dan mengeluarkan ponsel. Untuk sesaat, Dexter terlihat sibuk dengan ponselnya itu tapi kemudian ia seperti menelepon seseorang. Dexter mengulangi panggilannya karena panggilan sebelumnya tidak diterima oleh orang yang Dexter tuju itu, tapi lagi-lagi panggilannya tidak diterima.
"Dia tidak mengangkat telepon gue!" gumam Dexter.
"Siapa?" sambung Vino, tapi Dexter tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"BIMA!!!" teriaknya memanggil Bima yang berada di dapur. Tak lama kemudian Bima muncul dari balik pintu dapur.
"Ada apa?" tanya Bima.
"Lo sudah mengirim laporan bulanan pada Andro?" tanya Dexter.
"Sudah!" jawab Bima.
"Kapan?" tanya Dexter lagi.
"Beberapa menit yang lalu." jawab Bima lagi.
"Apa dia membalas pesan lo?" cecar Dexter. Bima mengangguk.
"Katanya, 'ya, terima kasih!'" ungkap Bima. Dexter terlihat kesal, ia melemparkan celemeknya ke lantai.
"Lo kenapa, Dex?" tanya Tian yang bingung dengan sikap Dexter.
"Gue menelepon Andro beberapa kali, tapi dia tidak mengangkatnya!" seru Dexter, ia terlihat sangat kesal.
"Mungkin Andro sedang sibuk ketika lo menelponnya." tukas Tian.
"Atau mungkin dia sedang di toilet!" sambung Vino. Tian menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan perkataan Vino.
"Tunggulah beberapa saat lagi, mungkin dia akan menelepon balik." saran Vino.
"AIISH! PERSETAN DENGAN SEMUANYA!" seru Dexter sambil berlalu dari hadapan teman-temannya itu.
"Mau ke mana lo?" tanya Tian.
"Ke apartemen!" jawab Dexter. Dexter keluar dari restoran diikuti dengan Tian dan Vino, mereka hendak pergi ke apartemen tempat tinggal Andro sebelumnya.
Tidak butuh waktu lama, Dexter, Tian, dan Vino sudah tiba di apartemen milik Andro itu. Mereka merasa curiga ketika melihat unit apartemen Andro itu dalam keadaan gelap.
"Tok! Tok! Tok!" Dexter mengetuk pintu itu perlahan, lalu menunggu beberapa saat, tapi tidak ada seorang pun yang membuka pintu itu.
"TOK! TOK! TOK!" Sekali lagi Dexter mencoba mengetuk pintu itu dengan lebih keras.
"Mereka sudah pindah seminggu yang lalu!" seru seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu unit apartemen yang berada disebelah milik Andro. Ucapan orang itu membuat Tian, Vino, dan Dexter terkejut, dan spontan membuat Dexter naik pitam.
"Bagaimana mungkin Andro pindah tanpa memberitahu kita dan berpamitan pada kita?" ucap Vino tak percaya.
"Gue sudah curiga saat dia menyerahkan restoran itu pada kita!" sambung Dexter.
"Tapi mengapa Andro memilih pindah?" tanya Tian. Sejenak suasana di antara mereka menjadi hening karena tidak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.
"Semua pasti karena nyonya besar!" ucap Dexter tiba-tiba. Vino dan Tian tersentak.
"Andro tidak pernah meninggalkan kita sebelumnya." lanjut Dexter.
"Tapi, dia sudah banyak berubah!" tambahnya. Dexter menghela nafasnya dengan kasar.
"Jangan berburuk sangka dulu, Dex!" tegur Vino.
"Apa pernah Andro menghilang tanpa memberitahu kita sebelumnya?" sentak Dexter. Vino dan Tian terdiam.
Tian berbalik dan mendekati tetangga Andro yang memberitahu mereka tadi.
"Apa bapak tahu ke mana mereka pindah?" tanya Tian. Orang itu menggeleng.
"Orang itu tidak pernah memberitahukan kami apapun dari awal dia tinggal di sini sampai membawa kekasihnya tinggal di sini, dan sekarang pergi begitu saja!" ungkap pria berambut putih itu.
"Mereka tidak berpamitan?" Tian memperjelas. Pria itu kembali menggelengkan kepalanya. Tian dan Vino saling bertukar pandang.
"Gue benci nyonya besar!" ucap Dexter sambil berlalu dari hadapan Vino dan Tian.
...
"Trrrttt! Trrrrtttt! Trrrrttttt!"
Ponsel Andro yang berada di atas ranjangnya bergetar panjang, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Andro bergegas menghampiri ranjangnya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Ia tertegun ketika mengetahui bahwa Dexter-lah yang meneleponnya. Andro tidak menerima panggilan dari sahabatnya itu.
Ponselnya kembali bergetar panjang, panggilan masuk dari Dexter berulang kembali, tapi lagi-lagi Andro tidak menjawab panggilan itu.
"Maaf!" ucap Andro pelan sambil meletakkan ponselnya itu kembali ke atas ranjang lalu keluar dari kamarnya.
Tiba-tiba Julia yang baru saja masuk ke rumah langsung menghampiri Andro dengan tergesa-gesa sambil membawa secarik kertas.
"Kak!" seru Julia begitu tiba di hadapan Andro.
"A.. Ada apa?" tanya Andro yang terkejut dengan sikap istrinya itu.
"Ini!" ucap Julia sambil menyerahkan secarik kertas yang dibawanya itu. Andro menerima kertas yang ternyata sebuah brosur itu, lalu membaca informasi di dalamnya dengan cermat.
"Pengantar paket?" gumam Andro pelan. Julia mengangguk pelan sambil tersenyum lebar.
"Coba saja kamu lamar itu!" saran Julia.
"Apa menurutmu, aku bisa menjadi pengantar paket dengan motor seperti itu?" tanya Andro sambil menunjuk ke arah motor sportnya. Julia terdiam sejenak sambil memandangi motor milik suaminya itu.
"Kamu bisa menjual motor itu dan menggantinya dengan motor yang bisa digunakan untuk mengantarkan paket." ucap Julia pelan. Andro tersentak, ia menatap Julia dengan seksama.
"Tapi..." Andro tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia tidak ingin Julia tahu kalau motor itu pemberian dari Kovu, sepupunya yang kaya raya itu, ia tidak ingin mengungkap masa lalunya pada Julia. Andro menghela nafasnya perlahan.
"Baiklah, aku akan mengganti motorku dengan motor biasa!" ucap Andro pasrah. Julia memandangi Andro, dia sebenarnya tahu kalau Andro berat menjual motornya tapi suaminya itu selalu mengikuti apa yang diinginkannya tanpa ada sedikitpun penolakan, tapi itu tidak membuat Julia merasa senang.
...
Pagi-pagi sekali Andro berpamitan pada Julia karena akan mengganti motornya dengan motor yang cocok untuk mengantar paket.
"Aku pergi dulu!" ucap Andro pelan. Julia hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum lembut. Setelah Andro pergi, ia melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian. Hatinya bercampur aduk karena Andro benar-benar pergi untuk mengganti motornya.
Julia memperhatikan pakaian milik Andro yang hendak dijemurnya, tiba-tiba matanya tertuju pada label merek yang menempel di bagian kerahnya. Sebuah label dengan tulisan brand terkenal di dalamnya.
"Mengapa aku baru sadar dengan label ini?" gumam Julia pelan.
"Apa ini produk asli?" tanyanya pada dirinya sendiri. Sejenak, Julia hanya diam sambil memandangi label pakaian itu, tapi kemudian ia tersadar.
"Tidak mungkin ini barang asli!" ucapnya sambil menggantung pakaian suaminya itu dan mengambil pakaian Andro lainnya, tapi lagi-lagi, label dengan tulisan brand terkenal membuatnya tertegun.
...
Semangat lanjut!