Menjadi penyebab utama kecelakaan seorang wanita hingga berakhir buta, Yudha memutuskan untuk menikahi korbannya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Pernikahan yang dilandasi atas dasar kasihan, dengan rahasia yang ditutup rapat-rapat demi menjaga mental Kalila.
Keduanya bahagia, dan kepribadian Kalila berhasil membuatnya jatuh cinta hingga menjadikan wanita itu sebagai dunianya. Namun, sebaik apapun bangkai disimpan pada akhirnya akan tercium juga. Saat Yudha setengah mati mencintai istrinya, Kalila mengetahui bahwa Yudha adalah penyebab kehancuran dunia dan mimpinya.
Lantas, bagaimanakah pernikahan mereka? Mampukah Kalila menerima pria yang telah menghancurkan dunianya? Atau justru memilih pergi dan turut menghancurkan dunia Yudha?
......
Follow ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 - Teruslah Seperti Ini
"Apa? Hamil?"
Bak petir di siang bolong, lutut Papa Gian sempat lemas begitu mendengar jawaban putrinya. Sebuah kabar baik yang dia duga akan membuat Kalila menangis haru, nyatanya hanya duka. Ya, meski sang putri tak berada tepat di depan matanya, tapi suara Kalila dapat menjelaskan apa yang dia rasa.
"Iya, Lila mau jadi ibu ... berarti papa sudah tua dong."
Percayalah, dada Papa Gian sesak begitu mendengarnya. Kalila masih tetap sama, dia lupa siapa yang kini tengah dia ajak bicara. Jika pada orang lain mungkin bisa dia berpura-pura baik, tapi pada pria yang mengenal watak Kalila sejak bayi mana bisa.
Papa Gian paham betul putrinya tengah menangis, tapi sekeras itu berusaha terdengar bahagia. Entah karena tengah melindungi Yudha atau semata-mata ingin menjaga hati, Papa Gian juga tidak mengerti apa yang tersemat dalam pikiran putrinya saat ini.
"Hm, sudah tua memang ... dan putri kecil papa yang suka masuk kulkas sudah dewasa, cepat sekali."
Sama-sama membohongi diri, Papa Gian mengepalkan tangan seraya menahan air matanya susah payah. Satu-satunya hal yang mampu membuat pria itu menitikkan air mata adalah keluarga, terkhusus putri kecilnya yang kini sudah menjadi milik Yudha.
"Apa Kalila memang menginginkan anak?"
"Tentu saja, mana mungkin tidak," jawabnya seraya menghela napas pelan, masih dengan suara bergetar dan isak tangis yang begitu dia tahan.
"Bisa papa bicara lagi pada Yudha?" tanya Papa Gian memejamkan mata, kepalanya mendadak sakit, sungguh.
"Papa mau bilang apa? Katakan saja padaku, nanti aku sampaikan."
Sedikit banyak, Papa Gian paham jika sang putri memang melindungi Yudha, suaminya. Padahal, Papa Gian bicara sudah amat lembut dan tidak terdengar akan marah, tapi Kalila terlalu cepat berpikir buruk tentangnya.
"Nanti saja papa hubungi lagi. Jangan terlalu banyak pikiran, Sayangnya papa. Kita pikirkan jalan keluar terba_" Belum selesai Papa Gian bicara, putrinya telah bercetolah panjang lebar dan berkali-kali memanggil namanya.
"Papa dengerin aku, tolong jangan marah. Aku yang menginginkan anak ini, bukan Yudha yang memaksa ... beneran, papa percaya, 'kan?"
Agaknya firasat Kalila tetap kuat dalam menebak jalan pikiran papanya. Baru saja Papa Gian hendak bicara soal itu pada Yudha, tapi sang putri secepat itu ambil tindakan hingga Papa Gian hanya bisa menghela napas pelan.
Terpaksa kekesalan akan tindakan Yudha hanya bisa dia tahan. Padahal, setelah menikahi putrinya, pria itu sempat meminta agar Yudha berkenan menunda momongan jika bisa. Hanya saja, hendak marah juga tidak bisa lantaran dia tahu bagaimana kesalnya jika orangtua turut campur dalam urusan rumah tangga.
"Iya, Sayang, istirahatlah ... minggu depan papa sama mama ke Semarang, Kalila mau dibawain apa?"
"Bawa Kama saja, kangen mau pukul kepalanya," Kalila masih sempat bercanda, sudah tentu hal itu membuat Papa Gian semakin gusar saja.
Ketakutannya terlihat jelas di mata Kama, sejak tadi pria itu memantau sang papa yang tampak fokus bicara dengan Kalila. Jarak mereka cukup jauh, karena itu Kama tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
Sedikit sebal sebenarnya, padahal yang membawa berita baik itu adalah dirinya. Namun, ketika menghubungi Yudha harus menepi seolah takut sekali pembicaraannya bocor, seperti orang asing saja.
Kendati tidak bisa mendengar, tapi raut wajah sang papa dapat Kama baca. Belum sempat Papa Gian menjelaskan, suasana hati pria itu sudah buruk duluan. Sebelumnya Kama sempat berpikir tentang beberapa kemungkinan buruk yang akan terjadi pasca dia menerima kabar baik dari dokter yang menangani beberapa saat lalu.
"Kenapa, Pa? Ada masalah?" Basa-basi Kama bertanya sekalipun mulai menduga, kerutan di kening sang papa semakin membuat dia yakin saja.
"Kama, adikmu ...." Papa Gian memijat pangkal hidungnya. Jika dia mungkin bisa memaklumi, tapi Kama belum tentu.
"Kenapa?"
"Hamil."
"What? Jadi benar dugaanku dia hamil? Ck, kenapa bisa?"
"Dia punya suami, jelas saja bisa bodoh," jawab Papa Gian mengusap kasar wajahnya, hidup sedang berada di titik lelah dan dia memiliki putra seperti Kama.
"Bukan begitu, Pa, bukankah seharusnya Yudha tahu keadaannya? Lagi pula kenapa harus dibuat hamil, apa dia lupa pakai pengaman?" Kama tidak habis pikir, walau tahu Yudha memang suaminya, tapi jujur saja kali ini dia marah.
"Jangan tanya papa, Yudha tidak pernah bercerita soal itu," jawab Papa Gian memejamkan mata dan meletakkan ponselnya asal, pandangan pria itu tertuju pada figura yang berisikan potret Kalila kecil dengan mata indahnya.
"Iya juga, dan Papa tidak pernah tanya?"
"Astaga anak ini? Apa masalah itu penting, Kama? Mau pakai mau tidak, terserah dia." Seharusnya pembicaraan itu sangat tidak perlu diperpanjang, Papa Gian yang memang sakit kepala sejak tadi meminta Kama segera pergi demi bisa menenangkan diri.
"Tunggu, Pa ... kita masih_"
"Apa lagi? Kita tidak punya pilihan lain, tunda dan kornea untuk Kalila berikan saja pada yang lebih butuh, cukup."
.
.
Jika Papa Gian tengah dibuat terkejut dengan perasaan yang tidak bisa dia utarakan, di sisi lain Yudha dibuat terpaku dan terdiam seribu bahasa sejak Kalila memberikan ponselnya.
Dia tidak salah dengar, begitu jelas Kalila mengatakan jika dia yang menginginkan anak itu, bukan karena paksaan Yudha. Hal itu berbanding terbalik dengan faktanya, Yudha menghela napas pelan dengan bibir yang terasa seolah beku.
Ingin meminta maaf, sungguh dia ingin sekali. Tak hanya maaf, tapi Yudha juga ingin meloloskan ucapan terima kasih. Tanpa dia duga sang istri membela dan melindunginya walau mungkin saja setitik kecewa di hati Kalila benar-benar nyata.
"Kamu mau bilang apa?"
"Hm? Kamu tidak jadi tidur?" Yudha mengerjap pelan, pertanyaan yang tiba-tiba lolos dari bibir sang istri membuyarkan lamunannya.
Jujur, Yudha dibuat kagum dan tenggelam akan pesona Kalila. Bagaimana tidak, dia yang tadinya terlihat tak terima, mendadak berbohong pada papanya dan memutarbalikkan semua fakta entah kenapa.
"Bicaralah, kalau besok-besok kamu pasti lupa," tutur Kalila kemudian, dia memang tidak bisa memastikan bagaimana raut wajah Yudha saat ini.
Namun, yang dia ketahui tentang suaminya adalah pria banyak tanya. Aneh saja jika Yudha bungkam dan diam setelah dia bicara panjang lebar bersama papanya. "Kenapa kamu berbohong, Kalila?"
Kalila tersenyum tipis, nyaris tak terlihat dan raut wajahnya terkesan dingin. Kalila menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian menghembuskannya perlahan.
"Cukup aku saja yang marah, papa jangan sampai," ucap Kalila pelan yang membuat Yudha memerah, malu, bahagia dan salah tingkah bercampur jadi satu.
"Tapi seharusnya kamu jujur saja, aku bisa atasi andai papa marah, Kalila," jawab Yudha menatap lekat wajah sendu sang istri yang tampak sesedih itu.
"Terkadang, ada beberapa hal yang tidak perlu disampaikan kebenarannya dan akan lebih baik menjadi rahasia demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Yudha." Kalila bicara begitu tertata, dan anehnya begitu menusuk hingga membuat Yudha meneguk salivanya pahit.
"Aku tidak sedang berbohong, aku hanya melindungimu dari kemarahan papa dan juga Kama nantinya, itu saja," lanjutnya sebelum kemudian kembali menenggelamkan wajah di dada bidang Yudha, tidak lupa memeluk erat sang suami seolah lupa jika beberapa saat lalu mereka sempat bertikai.
"Terima kasih sudah jadi pemaaf, kumohon teruslah seperti ini, Kalila," bisik Yudha begitu lembut dan mendapat anggukan pelan dari sang istri.
.
.
- To Be Continued -
sukur🤣🤣🤣