Aqila Mahendra, seorang gadis cantik berusia 21 tahun. Dia merupakan seorang mahasiswi disebuah universitas swasta di kota Jakarta. Ia bisa dibilang sebagai mahasiswi yang berprestasi di kampusnya, hal ini bisa di buktikan dengan beasiswa yang ia dapatkan dari tahun ke tahun hingga ia sampai di semester akhirnya.
Kemulusan hidupnya di dunia pendidikan tak sama dengan kemulusan hidupnya di dunia nyata. Hidup menjadi korban broken home bukanlah keinginannya, namun takdir sudah menuliskan kisah hidupnya sebagai seorang korban dari keegoisan sepasang suami istri yang sudah tak lagi sejalan, apalagi ada orang ketiga yang hadir di pernikahan mereka.
Selepas perceraian sang ayah dengan bundanya, Aqila tinggal bersama sang bunda dan keluarga barunya. Disaat tinggal bersama sang bunda malapetaka pun terjadi di dalam hidup Aqila.
Mau tau malapetaka apa yang terjadi di hidup Aqila?
Yuk simak ceritanya sampai selesai ya. Happy reading guys..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Aqilla berjalan seorang diri menuju paviliun anggrek dimana Tita di rawat.
Ceklek! [Aqilla membuka pintu ruang rawat Tita].
Jelas terasa aura dingin di dalam ruang perawatan anak VVIP itu. Aqilla melihat jelas, Tania seperti sedang berdebat dengan Cella, dan tangan kanan Tania menempelkan ponselnya ditelinga kanannya.
Ia seperti sedang mendengarkan suara lawan bicaranya disambung teleponnya saat ini. Aqilla melangkah masuk mendekati ranjang Tita.
Tita yang semula berwajah sedih langsung berbinar melihat kedatangan sosok Aqilla.
"Tante Qilla," pekik Tita yang merentangkan tangannya begitu saja. Berharap Qilla akan menggendongnya ataupun memeluk tubuhnya yang sudah terlihat kurus digerogoti penyakit mematikan itu.
Aqilla mematap.sedih dengan kondisi Tita, tak perduli dengan pandanga Cella. Aqilla tetap berjalan menghampiri Tita. Ia memeluk erat tubuh gadis kecil itu. Ikut menitikkan sir mata ketika Tita menangis mengatakan rindu padanya.
"Tante darimana saja, Tita kangen," ucap Tita dalam pelukannya.
"Tante pergi sekolah ke luar negri sayang," jawab Aqilla sembari mengusap rambut panjang Tita yang rontok karena usapannya.
Mata Aqilla terbelalak dan menitikan air mata, melihat banyak rambut yang ada di telapak tangannya.
"Tita kangen digendong Tante, apa boleh, Tita di gendong?" Pinta Tita yang mengurai pelukannya.
"Boleh," jawab Aqilla yang bersiap menggendong Tita. Ia samam sekali tak perduli dengan pandangan kesal dan marah Cella yang berdiri disamping ranjang tidur Tita di sisi yang berbeda.
"Nia tolong pegangi infusannya ya," ucap Aqilla pada Tania.
"Sudah dulu anak mu minta di gendong calon istri muda mu," ucap Tania yang seakan memanas-manasi Cella yang diam tak berkutik di depan mereka.
Aqilla menggendong Tita sesuai keinginan Tita, usianya sembilan tahun tapi bobot tubuhnya tak seberat anak di usianya.
"Tante, Tita mau di gendong keluar, boleh?" Pinta Tita lagi pada Aqilla.
"Tita mau kemana?" Tanya Aqilla pada Tita.
"Taman," jawan Tita yang menatap manik mata Aqilla. Seakan menatapa seorang sosok ibu yang ia rindukan.
"Ok, siap Tuan putri, Tante akan gendong kamu sampai ketempat tujuan," jawab Aqilla yang mengiyakan setiap permintaan keponakannya itu.
Cella diam tak berkutik, ia tak berani melarang ataupun memancing keributan disaat Tita lebih memilih bersama Aqilla ketimbang dirinya. Ia membiarkan Aqilla membawa Tita pergi dan dia pun ikut pergi meninggalkan ruang rawat putrinya, bukan untuk mengikuti kemana Aqilla membawa putrinya pergi, tapi ia malah pergi untuk bertemu dengan teman-teman arisannya yang sangat suka menghabiskan uang suami mereka untuk menyewa jasa brondong pemuas hasrat mereka.
"Baguslah, sudah ada Aqilla yang bisa merawat anak penyakitan Dito, sebaiknya aku tak perlu membuang waktu ku di sini. Lebih baik aku bersenang-senang. Dito sudah tak perkasa lagi, anaknya sudah penyakitan, ahhh... lengkap sudah tak ada yang baik di pernikahan ini kecuali harta Dito." Gumam Cella yang di dengar oleh Bi Lastri, saat ia mengambil tas brandednya yang ia letakkan di atas meja sofa.
Di taman Aqilla banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya menempuh pendidikan di luar negri, membuat Tita terkagum-kagum padanya. Aqilla menyemangati Tita untuk segera sembuh, agar bisa menjadi dirinya sebagai seorang Dokter, bukan seperti dirinya dari sisi yang lain.
"Iya Tita akan cepat sembuh agar bisa seperti Tante jadi Dokter." Ucap Tita yang terus memeluk tubuh Aqilla.
"Baiklah kalau begitu, bolehkah Tante cukur rambut indahmu ini, untuk mengobati mu bersama Tante Tania?" Tanya Aqilla pada Tita.
Tita terdiam menatap manik mata Aqilla, ia sungguh berat untuk memangkas rambut panjangnya yang dulu sangat terlihat indah, tidak seperti saat ini, terlihat tak terawat dan rontok juga patah-patah.
"Aku mau Tante saja yang menyukurnya apa boleh?" Jawab Tita.
"Tentu boleh, apapun mau mu akan Tante turuti seperti biasanya. Hummm," balas Aqilla yang kemudian mencium pipi Tita yng terlihat tirus.
"Kalau begitu, bolehkah Tante mulai malam ini menemani ku tidur di rumah sakit?" Pinta Tita lagi dengan wajah penuh harap.
"Ok cantik, apapun mau mu sayang, Tante akan turuti," jawab Aqilla yang membuat Tita memeluknya.
Tita bersorak dan tersenyum senang mendengar Aqilla mau menemaninya tidur di rumah sakit.
"Kau memang cocok menjadi ibu pengganti untuk keponakan ku Qilla, aku harap kau mau melupakan dendam mu dan memulai hidup mu yag baru dengan Dito dan Tita." Gumam Tania yang duduk di samping Tita. Ia menjaga tiang infus Tita yang ia bawa agar tidak terjatuh, karena saking senangnya Tita berloncat-loncat di pangkuan Aqilla.
Hari pun semain terik, Aqilla dan Tania membawa Tita kembali ke ruang rawatnya. Ternyata makan siang Tita sudah datang.
"Wah, ternyata ada yang harus makan dan minum obat nih," ucap Aqilla yang meletakkan kembali Tita di ranjang tidurnya.
"Iya, makanannya baru saja datang, Non Tita mau disuapin Bibi sekarang?" Tanya Bi Lastri yang datang mendekat dengan membawa nampan berisi makanan dan obat untuk Tita.
"Tita mau disuapin Tante Qilla Bi," jawab Tita yang malah milihat kearah Aqilla.
"Ok Tuan putri, Tante akan suapin Tita maem tapi harus habis ya. Minum obat dan tidur siang, nanti Tante akan tinggal Tita sebentar untuk bekerja, saat Tante kembali Tita sudah harus mandi dan dandan yang cantik ya." Ucap Aqilla sembari menerima nampan yang di sodorkan Bi Lastri.
"Ok Tante," jawab Tita bersemangat.
Bi Lastri nampak tersenyum dan berbinar melihat raut wajah ceria Tita yang telah lama hilang, semenjak Aqilla pergi dan suster pengasuhnya di pecat Cella yang termakan cemburu buta pada pengasuh itu.
tp dia sadar hanya Bram yg di cintai qila
kok kaya aneh gitu ya aq bacanya
bram kaya gitu masih mau saja
diminta untuk ninggalin wanitanya aja Masih pikir² ee masih mau aja sama bram
egois ingin memiliki tanpa mau berusaha dengan cara yg benar
mungkinkah dunia para bangsawan seperti itu di dunia nyata