NovelToon NovelToon
Rebirth Of The Duke'S Daughter

Rebirth Of The Duke'S Daughter

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Petualangan / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Pelangizigzag

Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.

NO PLAGIAT!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Past History at Domania

Situasi alam yang tidak menguntungkan, tempat yang dirasa kurang aman, hingga waktu yang rasanya kurang tepat.

Adalah perpaduan yang pas untuk memancing kepanikan Dewa Domania, Dewa Dominosh untuk menghancurkan segalanya. Tidak menutup fakta, sejak awal ia bukanlah seorang dewa yang baik pada penghuni negeri pimpinannya sendiri yang kini sudah disulap menjadi kerajaan. Dewa Dominosh dikenal sebagai Dewa bertangan dingin, namun demi istri dan calon anaknya yang akan segera lahir, ia sanggup menahan semua perbuatannya sejak memutuskan menikah. Dia berjanji untuk bersikap lebih baik sebagai calon ayah.

Benar, kan? Seburuk apapun seseorang, pasti ia akan rela berubah demi orang yang dicintai.

Saat ini dewa kemarahan itu tengah bergelut dengan pikirannya. Mulai kalut. Seolah alam semesta ikut menghukumnya dengan kejadian buruk yang saling tumpang tindih, seperti karma. Jika selama ini Dewa Dominosh sering murka pada manusia, maka kali ini Tuhan yang bertindak seperti itu terhadap dirinya. Bahkan sekarang Dewa Domania bahkan tak sadar saat tirai dibelakangnya terbuka pelan. Seseorang datang dengan kepala menunduk.

"Bayi Anda sudah lahir, Tuan Besar Dewa Dominosh," ucap seorang wanita pertengahan tiga puluhan. Dialah yang membantu proses kelahiran putri pertama Dewa Dominosh.

"Bagus, tapi aku memerlukan bantuan lainnya."

Wanita itu bergeming, "Ada apa Tuan Besar?"

Dewa Dominosh bergegas dan mengacak-acak isi rak ketiga dari sudut ruangan. Setelah menemukan surat yang ia cari, segera dewa tersebut menghampiri pelayan yang berdiri bingung di depan pintu. Ia menyerahkan surat berpita perak tersebut.

"Jika terjadi sesuatu pada Domania, segeralah bawa Putri Catherine pergi ke istana Erosh. Serahkan surat ini pada raja Aldebaran."

"Putri Catherine?"

"Nama putriku," jelas Dewa Dominosh singkat, padahal wanita itu belum menyebutkan jenis kelamin anaknya. "Saat kau tiba di Eroshvent, kau tak perlu menjelaskan apapun dan serahkan saja putriku langsung pada Kaisar. Semuanya sudah ku tulis dalam surat ini. Jaga putriku baik-baik."

Wanita itu mengangguk hormat, bahkan untuk memandangi paras junjungannya saja ia tak berani.

"Kau bisa pergi."

Menunduk semakin dalam, wanita itu segera berlalu dari ruangannya.

Tak lama apa yang ditakutkan Dewa Dominosh terjadi. Tanah sempat bergoyang, namun Dewa Dominosh tetaplah dewa, dalam sekejap ia dapat mengembalikan suasana aman yang sempat terancam.

"Dewa Armor," desis Dewa Dominosh setelah menyadari aura yang baru saja memasuki kawasannya. Dewa bersurai keperakan layaknya cahaya bulan itupun menggebrak meja kerjanya hingga terbelah menjadi dua lalu bergegas bangkit dari duduknya menuju halaman istana.

"Serahkan putrimu padaku, Dominosh!"

Kemarahan yang sudah ditahan Dewa Armor sejak tadi kini berada di ubun-ubun saat melihat orang yang ingin dihabisinya berada di depan mata. Hanya Dewa Armor —mungkin— yang berani menghadapi Dewa Dominosh saat ia memiliki rasa marah yang sama.

"Siapa kau? Lagipula kau adalah tamu, maka bersikaplah sopan," sarkas Dewa Dominosh sambil melirik banyaknya pasukan yang dibawa Dewa Armor ke tempat tinggalnya. "Katakan, apa masalahmu."

"Jangan pura-pura tidak tahu!" sergah Dewa Armor berang. "Karena putri sialanmu itu, putri tertuaku gagal mendapat mandat menjadi pengantin kaisar selanjutnya. Aku tidak mengerti dengan pikiran Dewa Erosh, tapi tidak masalah...."

Dewa Armor tersenyum keji. "Sebab aku sendiri yang akan menghabisi nyawa putrimu itu dan mengembalikan hak yang harusnya untuk putriku."

"Dewa Besar Erosh memilih putriku sebagai pengantin Kaisar berikutnya?" senyum cerah Dewa Dominosh terukir sempurna. Sebuah keberkahan untuk Domania dan Otharium bila Catherine diperuntukkan bagi Javier.

"Simpan saja rasa senang mu itu sampai di dalam tanah. Aku akan membunuh putrimu sekarang!"

Ratusan bahkan jutaan pasukan Armor turun dari kuda membawa senjata dan mulai menyerang benteng besar milik Domania. Dewa kemarahan itu menggertakan giginya, murka. Wajahnya tidak menyisakan raut ramah dengan napas yang memburu. Pandangan pria itu bahkan dipenuhi api kemarahan.

"Hadapi aku sekarang!"

Dewa Dominosh menyerang Dewa Armor dengan cekatan. Satu lawan satu. Tubuhnya menerjang, menombak dengan tongkat esnya, dingin. Menggambarkan iklim Domania yang selalu membeku lebih dari sebelas bulan setiap tahunnya.

"Kau tidak akan menang hanya dengan tongkat mainan mu itu. Akan kutanya sekali lagi, serahkan putrimu sekarang atau semuanya akan berakhir menjadi abu," bisik Dewa Armor disertai seringaian keji.

"Sebelumnya langkahi mayat ku dulu."

Dan perang antar dua dewa kerajaan tak terelakkan.

Dewa Dominosh hampir kalah —karena bantuan dari Armovin semakin memenuhi halaman bentengnya dan membantu Dewa Armor— namun tatapannya pada pemimpin Armovin itu masih sama bengis, ia bahkan sempat tersenyum miring. "Sikap buruk mu ini bisa saja membuat dewa lain muak. Biar kuingatkan, Lady Sheraphina yang sekarang adalah permaisuri juga berasal dari Armovin. Kau tidak bisa serakah dengan menginginkan posisi permaisuri tiap generasi diserahkan pada Armovin. Di bawah kuasa Eroshvent, ada empat negeri lain yang jauh lebih hebat dari negerimu sendiri," ucap Dewa Dominosh menyeringai.

"Akan ku buat kau menghentikan omong kosongmu itu untuk selamanya," sahut Dewa Armor lalu menghempaskan pedang yang dipakai Dewa Dominosh. "Setelah kematianmu, anak perempuanmu akan menyusul."

"Benarkah, kalau begitu kau tidak bisa berbuat apa-apa setelah ini." Dewa Dominosh semakin terdesak. Dengan sisa tenaga, sang Dewa dari Domania itu menengadah, menatap langit yang semakin gelap dan berteriak dengan lantang. "Jika aku dalam kebenaran, tolong dengarkan aku langit! Dewa Dominosh ini mengutuk Calon Kaisar bahwa ia tidak akan pernah merasakan perasaan cinta kepada perempuan manapun. Setiap perempuan yang berusaha mendekatinya akan berakhir meregang nyawa dengan tragis. Hanya putriku yang pantas dan kebal terhadap hal itu. Putriku akan menjadi satu-satunya wanita yang dicintai Calon Kaisar dari awal pertemuan hingga akhir perpisahan mereka!"

Kemarahan Dewa Armor semakin tersulut. "Beraninya kau melakukan sumpah semenjijikkan itu!"

.

.

Sementara itu, Dewi Otharia dengan berberat hati menyerahkan bayinya kepada pelayan yang sudah diberikan tugas untuk menjaga Catherine. Ia terisak lemah. Rasa sakit pada sekujur tubuhnya pasca melahirkan masih terasa jelas namun demi menjaga keselamatan putrinya yang tidak berdosa, ia akan pasang badan dan berani mengorbankan apapun demi putri kecilnya walau itu harus dibayar dengan nyawa.

"Pergilah, Anne. Bawa Putri bersamamu menuju Istana Erosh lewat pintu belakang, berhati-hatilah aku mendoakan keselamatan kalian."

Pelayan yang sempat berunding dengan Dewa Dominosh tadinya, Anne segera mengangguk. Ia meraih tubuh mungil Catherine dan berlari sekuat tenaga hingga berhasil keluar dari dinding istana langit Domania.

Anne mendekap erat junjungan kecilnya, yang harus dijaga melebihi nyawanya sendiri. Hujan semakin deras hingga ia kesulitan menemukan jalan cepat menuju istana Erosh. Seluruh pakaiannya basah, walau begitu ia masih berusaha untuk membuat sang putri tetap hangat di dekapan nya.

Beberapa kali ia hampir tersungkur. Ujung gaunnya kotor dan lembap. Wanita itu tersenyum lega kala bangunan besar yang dimaksud Dewa Dominosh terlihat berdiri kokoh menjulang tinggi terpampang tak jauh lagi dari tempatnya berdiri.

Seorang pria dengan pakaian biru tua telah menunggu di depan gerbang dengan payung di atas kepala. Wajahnya datar. Tak goyah walau percikan air hujan mengancam kehangatan tubuh dibalik jubah tebalnya.

"Kaisar telah menunggu." Pelayan pria —kasim— yang membawa Putri Catherine mengangguk. Tudung tipisnya digantikan dengan kain kain tudung baru yang lebih tebal untuk memeluknya dari kedinginan udara malam. Pelayan lain sigap membawa pakaian baru untuk mereka. Menyelimuti Catherine lalu mengambil alih tubuh mungilnya.

"Kaisar memerintahkan Putri Chaterine untuk tinggal di kamar beliau untuk sementara hingga keadaan kembali stabil."

Setelah memasuki gerbang utama Istana Erosh, Anne tidak henti-hentinya terpukau. Mungkin memang benar bahwa Istana Erosh merupakan istana yang paling mewah di daratan Erosh.

Lorong yang panjang menyambut indra visual mereka saat pintu ganda yang tingginya hampir mencapai langit-langit ruangan dibuka lebar. Pria yang mengantarkannya tak mengatakan apapun, namun langkahnya yang lebar dan terkesan tergesa-gesa bisa disimpulkan bahwa keadaan saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk sekadar beramah tamah padanya.

Lagi. Pintu ganda yang terbuat dari kayu berukir menyambut wanita itu. Pintu dibuka, tampak Kaisar Aldebaran yang dulu hanya pernah didengarnya lewat pembicaraan para pengawal kini duduk dengan anggun. Berada jauh di depannya.

Pria berjubah biru disampingnya menunduk dalam penuh hormat. Lalu mengajak wanita itu untuk masuk setelah perintah disebut dari bibir Kaisar Aldebaran sendiri.

"Jika kau benar-benar membawa Putri Catherine, berikan aku bukti atas itu."

Pelayan sekaligus saksi atas kelahiran sang putri lantas merogoh saku kecilnya. Surat pemberian Dewa Dominosh diserahkannya kepada Kaisar Aldebaran tanpa cacat sedikitpun. Mengingat surat itu terpapar hujan bersamanya saat berlari menuju istana Eroshvent, pasti itu bukanlah kertas biasa.

"Sementara Putri junjungan mu akan ditempatkan di kamarku. Hanya malam ini aku mau bermurah hati demi Kaisar selanjutnya. Ingat, setelah keadaan kembali aman bawa dia ke kamar lain."

Pelayan itu mengangguk. Tak berani menatap kedua mata Kaisar Aldebaran secara langsung. "Hamba mengerti, Yang Mulia Paduka."

"Bagus. Kau bisa pergi."

.

.

Sementara itu bayi Chaterine sudah bisa membuka kedua matanya saat pintu balkon dibuka lebar dari arah luar. Dia sendirian. Karena berkah langsung dari dewa, Chaterine telah memiliki ingatan sejak bayi, usia dimana bayi lain bahkan belum mampu bergerak sedikitpun.

Dua orang pria dewasa turun dari kuda terbang yang mereka naiki. Itu yang Caithleen ingat. Mereka masuk mengendap-endap dan tergesa, menengok ke kanan dan kiri layaknya pencuri.

"Cepat bawa bayi itu, Stanley!"

Duke Stanley mengangguk. Ia meraup tubuh mungil Chaterine ke dekapannya. Chaterine kecil memiliki mata bulat dengan hijau yang cerah, sama seperti mata ibunya. Surainya berpendar indah bak cahaya bulan purnama seolah dengan gamblang mengatakan bahwa Chaterine bukanlah bayi milik orang biasa.

"Bagaimana jika dia kujadikan putriku, Yang Mulia? Anda tahu bahwa Duchess Azaleah baru saja mengalami keguguran dan belum memberikanku keturunan hingga sekarang. Para tetua sering mengatakan bahwa anak yang membawa keberuntungan bisa memberkahi suatu keluarga yang kemalangan," ucap Duke Stanley memohon saat matanya bertubrukan dengan manik hijau Chaterine yang indah. Menghipnotisnya.

Raja Peterson tampak berfikir. "Tentu. Sulit untuk membawanya tinggal di istana. Banyak yang akan bertanya-tanya. Kurasa cukup bijak jika kau menutupi berita keguguran istrimu dengan putri ini," sahut Raja Armovin logis.

"Tentu, hal sebesar itu tak akan saya lewatkan." Duke Stanley dan Raja Peterson menyelinap lagi. Di luar, kuda terbang milik Dewa Armor sudah menunggu. Ya, hanya menunggu sebab kekuatan besar layaknya kekuatan dewa tak akan mampu menembus dinding kamar kaisar.

Namun pihak Kaisar melupakan makhluk tamak lainnya. Raja dan Duke dari Armovin yang membawa Putri Chaterine yang asli pergi dengan identitas baru sebagai putri pertama Duke Stanley yang sebenarnya sudah mati membusuk di dalam kandungan.

.

.

Berjalannya waktu, saat berita kelahiran putri pertama Duke diumumkan, dihari yang sama dengan pertunangan bayi mungil Chaterine —atau sekarang bernama Mikayla— dengan putra mahkota Danial diadakan. Mereka bergerak cepat, takut jika Kaisar Aldebaran sampai mencium berita ini atau hal parah lainnya.

Kaisar Aldebaran bisa saja datang ke acara pertunangan bayi mereka.

Untungnya dewi keberuntungan berpihak pada Armovin. Acara tersebut berjalan dengan lancar tanpa hambatan sedikitpun. Setidaknya mereka merasa lega sebab mampu menghalau pergerakan Mikayla yang mungkin saja dapat membongkar segalanya mengingat kecerdasan gadis yang kini menatap semua orang dengan menantang di gurat hijau maniknya.

"Aku bukan putri Ayah, 'kan?" ucap gadis berusia dua tahun itu terus terang. Pipinya yang terlalu putih terlihat kemerah-merahan dan gembil. Menarik perhatian orang-orang untuk mencubitnya.

Namun Duke Stanley tak begitu menyayangi Mikayla. Baginya, Mikayla hanyalah perempuan kecil yang memiliki berkah sehingga Duchess Azaleah mampu hamil lagi dan melahirkan anak kandungnya. Putrinya. Setelah mengalami keguguran sebanyak lima kali.

Putri dewa memang diselimuti banyak berkah.

Dan Duke Stanley membalas jasa Mikayla dengan membiarkan gadis itu tinggal di kastilnya. Hanya itu, tidak termasuk kasih sayang ataupun perhatian lebih seperti yang sering ia curahkan kepada bayi Rosella.

Awalnya Duke sempat berfikiran begitu. Namun Mikayla tetaplah putri dewa yang dihilangkan jejaknya dengan bantuan Dewa Armor. Selain itu kecerdasan Mikayla mampu membuat malu Armovin sebab ia memiliki pengetahuan yang lebih luas dibandingkan tunangannya sendiri, Pangeran Danial yang akan mewarisi Kerajaan Armovin. Jika berita ini tersebar, tak akan sulit bagi Kaisar Aldebaran untuk menemukannya kembali.

Duke dan Raja berbincang serius secara empat mata. Hanya lilin yang berada di tengah-tengah mereka tampak menggeliat pelan karena tiupan angin malam.

"Kudengar Aldergo terkenal dengan kehebatan penyihir nya di seluruh daratan Erosh," ucap raja tenang. "Bawa saja Mikayla ke sana, mereka mampu menghapuskan hampir seluruh daya ingat seseorang."

Duke mengangkat wajah. Lalu menggeleng. "Apa tidak berlebihan? Maksud saya, upah yang dipinta penyihir itu bahkan mampu membuat kastil di perbatasan hutan Augoria."

"Tidak masalah, Stanley. Tak masalah. Pergilah besok pagi sebelum matahari terbit," ucap Raja mutlak. "Anak itu ... jika tidak disingkirkan dari Calon Kaisar, maka bangsa baru akan muncul di daratan Erosh ini."

Duke mengernyit. Ia tak pernah mendengar hal tentang itu. "Apa maksud Anda, Yang Mulia?"

"Kau harus mengetahuinya." kaisar mengganti posisi duduknya. Menunjukkan gestur tegak pertanda ia benar-benar serius. "Selain kebencian Dewa Armor padanya, kehadiran gadis kecil itu juga mengancam Armovin."

Duke terdiam.

"Aku pernah bertanya pada salah satu penyihir utama di Aldergo. Jika putra Kaisar yang diberkahi dengan kekuatan Dewa Erosh sang Rajanya para dewa, dengan putri kandung Dewa Dominosh dan Dewi Otharia bersatu, maka keturunan mereka bukanlah orang-orang biasa."

"Bukan orang-orang biasa?"

Raja Peterson mengangguk. "Mereka akan menjadi bangsa baru yang lebih kuat dari bangsa lain. Bangsa yang paling di berkati dengan umur tak berbatas. Lalu bagaimana dengan kita yang hanyalah manusia biasa? Kita tidak bisa menandingi mereka."

Duke seketika paham. Ia mendesis. "Tak bisa dibiarkan." pikirannya kalut, "Bagaimana jika kita bunuh saja gadis kecil itu?"

"Jangan gegabah, Duke. Membunuh gadis itu sama saja dengan kita mengibarkan bendera perang pada seluruh daratan Erosh. Bagaimanapun, Dewa Dominosh pasti mengetahui kematian putrinya dan nekad ke dunia manusia. Dewa tanpa alasan yang jelas tidak akan bisa turun ke bumi. Namun aku yakin bila membunuh gadis itu dilakukan, Dewa Armor sekalipun tak akan bisa membantu kita." Raja Peterson berpikir keras.

Duke of Stanley tak bisa tenang. "Lalu bagaimana dengan ... bangsa baru itu?"

"Karena dengan datangnya bangsa baru yang lebih kuat, manusia seperti kita lagi-lagi menjadi bangsa paling lemah." ucap Raja menggertakan giginya dengan amarah. "Kekuatan fisik kita jelas tak sebanding dengan mereka. Tapi ... mereka tak akan pernah bisa menandingi kecerdasan manusia dibandingkan bangsa lain."

Raja Peterson berdiri. Di wajahnya tak terukir sedikitpun rasa takut. "Kita akan mencegah kehadiran bangsa baru dengan menahan Mikayla disini. Selamanya." ucapnya final.

.

.

Dan keesokan harinya, Duke of Stanley bepergian bersama Mikayla menuju Aldergo. Banyak perbedaan antara kota Aldergo yang lama dan yang baru. Di sisi-sisi jalan masih banyak pedagang-pedagang yang menjajakan jualan masing-masing. Mikayla hanya celingukan saat Duke membawanya ke sini tanpa alasan yang jelas.

Ada yang tidak beres.

Setelah berjalan cukup jauh karena letak tempat yang mereka kunjungi berada di puncak bukit yang tinggi, akhirnya mereka sampai. Sepanjang perjalanan Mikayla selalu menanyakan tujuan mereka datang kemari, namun Duke hanya mengatakan ada urusan penting yang harus dilihatnya. Bersama Mikayla. Dan hal tersebut mau tidak mau menyebabkan tingkat kecurigaan Mikayla meningkat karena selama ini Duke of Stanley bahkan tak pernah repot-repot mengunjungi kamarnya.

Pria paruh baya menyambut kedatangan mereka. Gelagat mencurigakan mereka dapat Mikayla tangkap dengan baik. Mikayla ingin lari, ia menggigit tangan Duke yang menggandengnya lalu berlari sekuat tenaga.

Namun dia salah. Sejak awal semua orang tidak ada yang berpihak padanya. Berpuluh-puluh pengawal telah mengepungnya dari berbagai sisi. Yang Mikayla ingat, tubuh kecilnya ditarik oleh Duke lalu kembali memasuki ruangan yang sempat ia tinggalkan.

"Sedikit sakit. Tapi kau akan aman setelah ini, gadis kecil," ucap pria paruh baya yang tadi dilihatnya. Di sebelah pria itu terdapat bola kaca yang kosong.

Setelahnya Mikayla tak mengingat apapun. Tidak ada selain rasa sakit yang teramat menjalar ke seluruh tubuh dan rasa sakit itu berpusat pada otaknya. Memukul ingatannya begitu keras hingga ia kembali membuka mata dengan sayu.

Mikayla tak memerhatikan apapun. Pandangannya berubah menjadi biru, ia sempat mengerjap dengan tubuh yang meluruh di lantai, samar-samar ia memandangi bola kaca yang sempat ia lihat kosong sebelumnya, kini terisi penuh oleh sesuatu yang berwarna hijau zamrud.

Keesokan harinya setelah kekuatan Mikayla cukup mumpuni untuk kembali ke Armovin, Duke pamit undur diri. Mereka tampak sangat akrab, namun Mikayla tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya tempat tidur dan tak ada hal lainnya.

"Mau kuberikan sesuatu?"

Mikayla mendongak. Ia mengernyit tatkala sinar matahari yang silau berada di belakang sosok Duke Stanley. "Tidak usah. Aku hanya butuh tempat tidur."

Duke terdiam. "Bukankah kau selalu menginginkan buku baru? Anggap saja itu hadiah—"

"Tidak perlu. Aku tidak suka membaca. Jadi, jangan buang-buang uangmu, Ayah."

Dan dari situlah sifat menyebalkan, bodoh, dan acuhnya Mikayla berasal. Duke sedikit menyesal, ia menghela nafas lalu menyusul Mikayla kecil yang berjalan lebih dulu.

Duke menguatkan hatinya. Ia melakukan ini untuk Armovin. Untuk tanah airnya.

1
Murni Murniati
kampret ini lama lama minta dikubur ini, apa tak sadar dia siapa, ini anak dewa dewi dia budak,apa tak sadar dia
Murni Murniati
kan dia udah dikasih dua kebebasan keinginan ini, jd kapan diminta
🌿wing2bo_27
Luar biasa
>AY<
cerita nya rumit, harus mengulang kata"nya supaya paham.
Ayu Mestari
Luar biasa
Yati Haryati
ceritanya terburu buru bgt min
Ayu Sari Murni
manggilnya adiden aja Thor susah q bacanya
ana azizah
bertele2
Hikam Sairi
baca
Dede Mila
/Proud//Joyful//Joyful//Joyful/
Inesya Qinan s
Luar biasa
Inesya Qinan s
Lumayan
Asmi Pandansari
aku mampir
Murni Dewita
sama2 penasaran kita mikayla/Grin/
Murni Dewita
mampir
Dang Antie
Luar biasa
Cancer👾
suka banget sama cerita, tapi epsonya sedikit heheh
Riska Mustikasari
putri tidur butuh make up baca dimana kak... kok ga ada aku cari
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Querido🦋
yakin ingin menghukum tahta tertinggi diatas raja hm?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!