NovelToon NovelToon
Because I Love You

Because I Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka July

"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.

'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.

"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.

Hening sesaat.

'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33 Cincin

“Aku tidak suka kamu menerima pemberian laki-laki lain!” Ucap suaminya setelah berhasil melewati masa tesedaknya. Hermawan segera menghabiskan gelas keduanya untuk membersihkan sisa kue coklat yang menempal di mulutnya.

“Kenapa? Kamu bahkan tidak pernah memberikanku sesuatu apapun, selain memberiku makan tentunya. Kamu ingat saat aku meminta coklat padamu, kamu merebutnya karena itu dari Aulia.”

Dean melempar mukanya ke samping, ia tidak suka saat Hermawan melarang sesusuatu yang ia sukai, sedangkan Dean tidak pernah melarang Hermawan untuk melakukan apapun yang ia sukai termasuk kembali lagi pada Aulia cinta pertamanya yang sangat di cintai Hermawan.

Seandainya Dean punya alat untuk memutar waktu mungkin ia akan memutar waktu untuk berkenalan lebih dulu dengan Hermawan, agar laki-laki itu jatuh cinta padanya sebelum bertemu Aulia, atau memintah pada Tuhan agar dia tidak pernah tercipta di dunia ini, agar saat Sifa melahirkan ia tidak meninggal dan Edmond juga tidak pergi meninggalkanya sendirian.

Mungkin sebentar lagi Hermawan akan melakukan hal yang sama seperti yang orang tuanya lakukan padanya, Hermawan akan pergi bersama Aulia meninggalkan Dean sendirian.

Ini hanya soal waktu sampai laki-laki itu melakukanya, dan mau tidak mau Dean harus menerimanya, hanya sekarang Dean ingin merasakan kebahagaian bersama Hermawan lebih dulu sebelum laki-laki itu benar-benar pergi nantinya

***

“Ehem... Maafkan aku.” bisik Hermawan.

“Kamu selalu minta maaf.” jawab Dean, mengingat betapa seringnya laki-laki yang berstatus sebagai suaminya meminta maaf padanya hampir semua kesalahan yang Hermawan lakukan berkaitan dengan Aulia.

Hermawan menarik tangan kanan istrinya mengelus jari-jari itu dengan lembut, membuat Dean merasakan desiran hebat dalam dirinya, seperti ada aliran listrik yang mengalir dari tangan Hermawan, melalu jari-jaringa hingga sampai keseluruh tubuh, tapi Dean masih tidak mau menoleh melihat apa yang sedang Hermawan lakukan.

”Aku harap kamu menyukainya, walau aku terlambat menyadarinya.” laki-laki itu memasangkan sebuah cincin, tampak sebuah berlian kecil bertengger di jari manis istrinya, kemudian ia mencium tangan Dean dengan lembut.

Wanita itu hanya terdiam, tubuhnya membeku, ini melebihi dari yang ia inginkan, bahkan Dean tidak pernah berani bermimpi untuk itu semua. Air matanya mulai menetes bukan karena sedih, tapi karena terharu.

“Aku mohon jangan menangis, Pamam akan membunuhku.” bisik laki-laki itu kemudian menghapus air mata Dean dengan lembut, Hermawan bingung apakah istrinya tidak suka dengan cincin itu, ia bahkan tidak melihat sebuah senyuman di wajah Dean.

Dean hanya bisa menunduk sambil kepalanya berada pada dada laki-laki itu, keduanya hanya diam untuk beberapa saat sibuk dengan pemikiran masing-masing. Dean benar-benar berharap bahwa ini nyata, sekalipun ini mimpi Dean tidak ingin di bangunkan dalam waktu yang cepat.

”Aku, aku pikir aku jatuh cinta padamu.” gumam Dean pelan bahkan seperti berbisik tapi mampu di dengan oleh Hermawan.

“Aku juga.” balas sang suami sambil tersenyum, ia kemudian membelai rambut Dean dengan lembut, ”Jadi bisahkah kita batalkan perjanjian yang kamu buat, bahwa aku tidak boleh menyentuhmu? Kita sudah melangar semuanya sejak awal Dean, kita sudah melangarnya sebelum perjanjian itu di buat. Aku bahkan menyentuhmu saat pertama kali kita bertemu.”

Dean dan Hermawan sama-sama tersenyum mengingat kejadian itu, Hermawan memang menyentuhnya tepatnya menyeretya hingga Dean terjatuh.

Dean memang tidak menjawab apapun hanya sebuah angguk lemah sambil mempererat pelukannya pada Hermawan, yang menandakan bahwa wanita itu juga menyetujui perjanjian itu di batalkan, Dean ingin terus memeluk suaminya seperti ini.

Dean sedikit menaikan alisnya saat telingahnya menangkap suara di dada Hermawan, Dean tahu itu apa, itu sama seperti suara jantungnya yang berdetak cepat dan Dean yakin jantung Hermawan sekarang berdetak lebih lepat dari pada jantungnya saat ini.

***

Wanita itu sudah duduk di dalam ruanganya yang sangat besar, terdapat juga beberapa orang di sana yang umurnya jauh lebih tua dari pada dirinya, dan ia sangat yakin bahwa tidak ada lagi orang yang lebih mudah dari pada dirinya di sana.

Dean mengingat rambutnya dengan rapi, ia mengenakan setelan pakaian kerjanya berwarna hitam, sebenarnya ia engan mengenakan pakaian formal seperti itu. Jika saja ia bisa memilih, Dean ingin mengenakan baju kaus kebesaran kesukaanya.

“Bailah kita mualai rapatnya sekarang!” suara Dean terdengar lantang.

Jhon tersenyum mengejek begitupun beberapa pemilik saham lainya. Dean mulai menjelaskan beberapa investor asing yang bersedia menanamkan modal mereka, bahkan jumlah investor bertambah dua kali lipat dari pada sebelumnya, bukan hanya dari luar bahkan juga dalam negeri.

Dean tersenyum puas mendapati wajah dari para pemengang saham tampak pucat dan berkeringat tidak terkecuali Jhon, ia tahu bahwa ia akan kehilangan sahamnya.

“Baikalah anda menang!” Jhon berteriak sambil mengepal kedua tanganya kuat, ia tidak menyangkah bocah kecil ini bisa mengalahkan dirinya, yang sudah jauh lebih dulu mengenal dunia bisni bahkan sebelum Dean lahir di dunia ini, ”Anda boleh mengambil semua saham saya!” sambil melempar beberapa berkas ke hadapan Dean.

Dean tertawa lepas melihat beberapa kertas yang berhamburan dan tergeletak diatas mejanya. Ia tahu itu adalah surat kepemilikan saham milik Jhon.

“Terimakasih Om Jhon, tapi saya tidak perlu sahan anda dan teman-teman anda. Saya tahu kalian semua adalah sahabat baik ayah saya. Saya tidak mengambil keuntungan untuk itu. Saya hanya ingin kalian seperti dulu, saat ayah saya masih hidup, kalian berkerja keras agar perusahaan ini terus maju, saya ingin kalian melakukan hal yang sama sekarang!”

Dean menatap satu persatu pemilik saham yang berada di sana, “Saya yakin Dad juga menginginkan hal itu.” Dean kemudian meninggalkan ruangan rapat di ikuti Lily.

“Jadi semua pilihan ada pada kalian. Dean, anak itu bahkan lebih pintar dari kita semua, dan ia juga jauh lebih bijak dari pada umurnya.” Zulfar membuka suarahnya. “Dan satu lagi, kalian harus tahu, Dean telah memimpin perusahaan ini sejak empat tahun lalu, jauh sebelum Edmond meninggal.” membuat semua orang tercengang tidak terkecuali Jhon, mereka tidak percayah bahwa Edmond telah percaya pada Dean jauh sebelum ia meninggal, Jhon mengakui kebodohannya selama ini.

***

“Lily!” Dean memangil sekertarinya tanpa menghentikan tanganya yang sibuk mengupas kentang.

“Ya, nona Dean,”

“Menurutmu aku akan bisa menghabiskan semua kentang ini?” Dean menunjuk sekarung kentang di tepi dapur perusahaan, kali ini ia tidak mengupas kentang di ruanganya karena Hermawan memarahinya waktu itu.

“Tentu saja nona, saya yakin anda akan bisa menmotong kentanya dengan benar.” Lily menjelaskan cara memotong kentang dengan benar. Lily bahkan dari tadi setia menemani bos mudanya, sambil mengobrol beberapa hal yang tidak ada hubunganya dengan pekerjaan, Dean juga meminta Lily untuk menceritakan pengalam pertamanya saat memasak.

Lily dengan antusias mengatakan bahwa ia belajar memasak saat usia delapan tahun, ibunya mengajarinya membuat kue dan cukup berhasil menurut Lily, setelah itu ibunya juga rajin mengajarinya memasak berbagai makanan.

Dean tersenyum lemah saat mendengar cerita itu, ia juga ingin merasakan itu, tapi sayang ibuhnya sudah meninggal bahkan sebelum Dean melihat wajahnya secara langsung.

Andai dulu Edmond mengizinkanya masuk dapur mungkin ia sudah bisa memasak walau sedikit, tapi Edmond selalu melarangnya. Terlebih lagi apapun yang di butuhkan Dean sudah tersedia tanpa ia memintanya, asisten rumah tangganya sudah menyediakan semuanya.

“Aku bosan!” Dean berteriak sambil meregangkan otot tanganya yang terasa kaku, membuat membuat Lily tersentak begitu juga para OB yang berada di sana, semuanya menatap Dean lalu segera kembali ke pekerjaanya saat Dean melirik mereka.

“Hei kalian!” Dean menunjuk gerombolan OB yang menatapnya dengan takut-takut “Goreng semua kentang yang aku potong, kemudian bagikan semuanya, dan berikan sepiring kentang ini pada Hermawan.” Dean memerintahkan “Suruh dia menghabiskan semuanya. Jika tidak, aku akan memecat kalian.” Dean tersenyum lembut, tapi senyuman itu tampak mematikan bagi yang menatapnya.

“Ba, Baik bu.” ucap salah seorang OB kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.

***

“Permisi pak Hermawan ini ada titipan.” OB itu berucap kemudian meletakkan sepiring kentang goreng dan sebotol saus diatas mejanya. Hermawan menutup mapnya ia segera mengarahkan mata pada benda yang di bawah OB tersebut.

“Kentang goreng? Dari siapa?” tanya Hermawan binggung, tampak kentang itu masih hangat.

“Da, dari nona Dean, beliau menyuruh anda menghabiskan semuanya.” jawab sang OB, lalu berlalu meninggalkan Hermawan yang tersenyum lembut, ia sangat senang menerimanya walau bentuknya tidak karuan.

From : Istri ku

Terimakasih kentang gorengnya.

Aku menyukainya.

Suamimu.

From Wawan

Sama-sama.

Dean tersenyum setelah membalas pesan singkat itu, “Baiklah aku tidak akan memecat siapapun. Terimaksih kalian sudah bekerja dengan baik. Hari ini kalian boleh berpersta, makan semua kentang itu dengan puas,” Dean bahkan tanpa henti tersenyum saat mengatakan itu semua, “Kamu tolong beli beberapa minumam sodah dan beberapa makanan ringan.” Dean menunjuk seorang OB yang berdiri tidak jauh darinya, ia membelikan beberapa lebar uang seratus ribuan dari dompetnya.

Semua OB disana tampak senang, tidak terkecuali Lily. Semua mengucapkan terimakasih, mereka tidak menyangkah Bos baru mereka sangat baik.

1
Katherina Ajawaila
waaaauuu, kejadian yg aneh aja 🙂
Wahyuni Yuni
Luar biasa
ICA
Menurut aku si hermawan nya ngg SEkejam itu sma si DEANNYA karna dean pun apa apa ngg bisa terkecuali si hermawan ada maki2 si deannya baru itu kejam flasback sma kejadian sebelum nya aja cara mereka ketemu smpai menikah kurasa masij normal aja nma jga orang yg ngg kita kenal tiba ajak nikah gimana perasaan klian ngg mingkin dong langsung akrab gitu aja
Hanifah Henny
paragrafnya buat sakit mata gk ada spasinya
Agle
Luar biasa
PANJUL MAN
suka skali ceritanya walaupun bacanya sambil kesal liat tulisannya tapi bikin penasaran
Nancy Bondan
Luar biasa
Fafaaa
👍🏻👍🏻👍🏻
Gita Risnawati
ko sakit yaa
Gita Risnawati
harus banget kya gitu ya dean??
Gita Risnawati
haduuhhh si wawan
Gita Risnawati
ko mau ya wawan masakin, nikahnya kan d jebak
Gita Risnawati
apa wawan gx penasaran sma dean sebenernya siapa yaa??
Gita Risnawati
gemes banget ama dean
Gita Risnawati
dean dean,...
Gita Risnawati
dean²,....
Gita Risnawati
haduh ada² aja dean
Gita Risnawati
baru baca 1 bab, kayaknya seru, jdi penasaran
FUZEIN
Dah tahu yg dtolong masa lalu...masih juga lupa dengan masa depan...wawannn ni..ishhh
Dewi Kurniawati
bagus walau akhirnya membosankan...🙇‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!