Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Orang Yang Sama
Di tempat yang lain.
Segerombolan anak-anak sedang dalam pembicaraan serius. Mereka semua sedang membicarakan Gavino, yang mereka kenal dari kawannya Alano.
Geng anak-anak ini, adalah geng yang tidak mau dianggap sebagai geng biasa.
Itulah sebabnya, mereka cepat tersulut emosi. Jika ada orang yang memanas-manasi. Sama seperti yang dilakukan oleh kawannya Alano, yang memang disuruh oleh Alano sendiri.
Awalnya, kawan Alano datang mengunjungi tempat mereka biasa nongkrong. Membicarakan tentang banyak hal, yang ujung-ujungnya memberitahu tentang Gavino.
"Loe ragu gak Bro, jika Gavino itu anak yang sombong. Hanya karena dia sudah bisa mengalahkan Alano."
Kawannya Alano, mulai membuka suara. Yang sudah membuat telinga mereka panas.
"Siapa Gavino? Aku tidak pernah mendengarnya."
"Ah, sayang sekali Kamu tak kenal jagoan baru di sekolahnya Alano. Tapi itu sih karena sebuah keberuntungan saja bagi dia."
Dengan kata-kata yang diucapkan, geng tersebut menjadi semakin penasaran. Dengan siapa yang sebenarnya dibicarakan oleh kawannya Alano ini.
"Boleh gak Gue tantangin dia?"
"Ah, jangan Bro. Bisa babak belur Kamu, sama seperti Alano." Kawan Alano kembali memprovokasi perasaan dan emosi orang-orang yang ada di depannya saat ini.
"Loe pikir Gue takut dengan anak yang bernama Gavino itu? Cihhh!"
Orang tersebut justru membuat ludah, seakan-akan meremehkan Gavino, yang belum dia kenal sama sekali.
"Beri tahu Gue, di mana bisa ketemu itu bocah!" kata orang tersebut, dengan pongah.
Kawan Alano tersenyum miring. Dia merasa sangat senang, karena usahanya untuk memanas-manasi orang ini berhasil. Bahkan, geng nya juga bisa dipastikan ikut serta dalam kegiatan orang tersebut. Karena orang yang tadi bertanya banyak hal tentang Gavino merupakan ketua dari geng tersebut.
Sayangnya, pada saat Alano melakukan apa-apa pada Gavino saat itu, orang ini dan gengnya sedang dalam proses pengawasan pihak kepolisian.
Jadi, mereka semua tidak bisa melakukan apa-apa. Untuk ikut bergabung dengan Alano, pada saat itu.
Tapi sekarang, mereka semua bisa melakukan apa-apa yang tidak bisa dilakukan oleh Alano. Mereka berpikir bahwa, mereka bisa melawan Gavino. Dan menganggap Alano hanya sedang apes saja nasibnya.
"Gue mau tantangin dia. Apa ada yang bisa dihubungi dia, untuk memintanya datang memenuhi undangan kita?"
Undangan di sini dimaksudkan untuk menantang Gavino, disebuah tempat yang sudah mereka tentukan. Sehingga mereka merasa menjadi tuan rumah yang mengundang lawan.
Dan begitulah akhirnya. Pagi ini, mereka menelpon Gavino. Memintanya untuk datang memenuhi undangan mereka.
Sayangnya, Gavino tidak menggubris undangan tersebut. Dia tidak menanggapi dengan emosi. Tapi hanya membiarkan mereka saja.
Yang tidak diketahui oleh Gavino adalah, sikapnya itu justru membuat lawan merasa geram. Sehingga merencanakan sesuatu yang bisa membuat Gavino merasa kapok nantinya.
*****
'Aku ingin melihat siapa yang tadi menelpon dan memberikan tantangan.'
( Ting )
( Aktifkan sistem informasi )
( Mencari data penelpon tak dikenal )
( Sedang memproses )
1%
15%
25%
35%
45%
60%
70%
80%
90%
100%
( Ting )
( Informasi didapatkan )
Sekarang, di dalam layar yang hanya Gavino saja yang bisa melihatnya, tampak jelas data diri dari orang tadi. Yang sedang melakukan panggilan telpon dengan Gavino.
Nama : Bronze
Umur : 18 tahun
Sekolah : DO
Kegiatan : Membuat kerusuhan
( Ting )
( Sistem informasi selesai )
Gavino menghela nafas panjang. Tenyata orang tadi memang tidak ada kerjaan.
"Pantas saja dia cari gara-gara," gumam Gavino, yang sedang berjalan bersama dengan Dante dan Lorenzo.
"Kenapa Gavin?" tanya Lorenzo, yang mendengar gumaman tidak jelas Gavino.
"Eh gak. Gak ada apa-apa kok," sahut Gavino cepat. Dia tidak mau jika temannya itu ikut terlibat dalam masalahnya.
Pluk!
"Jika ada apa-apa, bicara ya!"
Dante menepuk pundak Gavino, dengan memberikan sebuah pesan.
Gavino hanya bisa tersenyum, dan menganggukkan kepalanya. Mengiyakan perkataan Dante. Dia tidak mau jika, dianggap sombong. Sehingga tidak mau meminta tolong jika ada sesuatu yang terjadi.
*****
Pada saat jam istirahat sekolah.
Gavino sedang berjalan menuju ke arah perpustakaan sekolah. Ada Bianca dan juga Lorenzo, yang ikut bersama dengannya juga.
Dari arah belakang, beberapa meter dari jarak mereka bertiga, ada Dante dan Cardi, yang berjalan dengan Madalena. Mereka bertiga membicarakan tentang Alano.
"Kamu gak dengar kabar Alano Dante?" tanya Cardi, yang membuat Madalena ikut melihat dengan tatapan serius.
"Kenapa dia?" tanya Dante datar.
Sebenarnya dia sudah tidak ingin mendengar atau melihat keberadaan Alano. Dante merasa tidak perlu lagi berhubungan dengan mantan temannya itu.
"Dia sudah ada luar kota, lalu kenapa harus kita urusi lagi?" tanya Madalena, yang memang ada benarnya juga.
"Dia ada di luar kota sana. Tapi antek-anteknya kan masih banyak di sini."
"Terus?" sahut Madalena ingin tahu, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Cardi saat ini.
"Aku dengar, ada salah satu geng yang dia hubungi. Sebenarnya bukan dia sendiri yang menghubungi. Tapi kawannya."
"Tau dari mana Kamu?" tanya Dante, yang mulai tertarik dengan pembicaraan mereka bertiga ini.
Karena mereka bertiga ini adalah, mantan temannya Alano juga. Pasti sedikit banyak tahu, bagaimana karakter seorang Alano selama ini.
"Jadi, menurutmu bagaimana?" tanya Dante, yang ingin tahu, apa yang sudah diketahui oleh Cardi.
"Sepertinya si Piere, masih ada hubungan dengan Alano. Aku curiga, jika dia adalah kaki tangan dan mulut untuk Alano. Yang menghubungkan semua rencana Alano pada geng lain."
"Hemmm... terus-terus?"
Seperti biasanya, Madalena semakin antusias untuk mendengarkan berita ini. Karena dia memang sangat senang, jika ada sesuatu yang dia pikir itu adalah sebuah tantangan tersendiri.
"Ya... Kamu tahu sendiri kan, bagaimana Alano. Dia tidak mungkin menyerah begitu saja. Pasti akan membuat rencana lain, untuk bisa membuat lawannya mencari hancur. Meskipun bukan dia yang menghancurkannya secara langsung."
Dante masih terdiam, dan belum memberikan tanggapan. Dia berpikir bahwa, apa yang dikatakan oleh Cardi memang benar.
"Ya. Aku setuju dengan pendapat Kamu Cardi. Tapi kita juga tidak ada bukti. Tidak bisa asal tuduh juga," ujar Dante mengingatkan.
Sejak dia berteman dengan Gavino, dia memang lagi gegabah. Sama seperti waktu masih bersama dengan Alano dan gengnya.
"Terus, apa yang bisa kita lakukan sekarang?" tanya Madalena sok tahu.
Padahal, dia tidak pernah memberikan sumbangsih ataupun pemikiran yang benar. Dari segi apapun. Dua hanya sebatas tim hore, jika itu diibaratkan sebuah pertandingan bola atau basket.
Tapi demi menghormati teman, Cardi dan Dante hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Tanda jika mereka juga tidak tahu, apa yang harus mereka lakukan. Untuk menghadapi geng Alano yang hanya sebatas bayangan saja.
Karena yang akan maju, bukan Alano dan kawan-kawannya. Tapi hanya geng lain, yang mengunakan rencana dan taktiknya Alano. Dan itu juga atas permintaan dari Alano juga.