CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MAAF BILA ADA KESALAHAN WAKTU DAN TEMPAT.
Sequel dari DUKU MATENG
Latar tempat: Kashmir, India
Jakarta, Indonesia
Kecelekaan tragis yang menimpanya bersama Sang Suami tepat di hari pernikahan mereka, membuat statusnya sebagai istri berakhir.
Semua orang menyalahkannya, menganggapnya sebagai wanita pembawa sial. Dia di asingkan jauh oleh keluarganya, karena dianggap aib.
Semua warna yang ada didalam hidupnya sirna, berganti dengan Saree putih yang abadi. Sindur yang di dahinya ikut menghilang.
Tidak akan ada lagi pria yang mau menikahinya, sekalipun dirinya berstatus sebagai Janda Perawan.
Lalu apa yang akan terjadi, saat ada seorang pria datang dan menentang semua tradisi itu?
'PADA AKHIRNYA, HATIMU AKAN DI SEMBUHKAN OLEH SESEORANG YANG MEMILIHMU DALAM KONDISI APA PUN'
[NADARA NIKAM]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New Delhi
Helaan napas kasar kembali terdengar. Nadara mendudukkan dirinya diatas tempat tidur, kedua matanya menatap tas besar yang ada di lantai.
Hari ini rencananya dia dan Aryan akan pergi ke New Delhi. Entah kenapa jantung Nadara terasa berdetak lebih kencang, wanita itu menggulirkan kedua matanya ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi, Nadara yakin Aryan pasti akan datang sebentar lagi.
Wanita bersaree putih itu termenung, menatap kosong ke arah depan. Nadara memikirkan apa yang akan terjadi padanya saat dia kembali menginjakan kedua kakinya di New Delhi. Sudah satu tahun ini dirinya menjauh, dan kini keadaan yang memaksanya untuk kembali berurusan dengan masa lalunya.
Terlebih kali ini dirinya membawa seseorang, orang yang menawarkan kepercayaan padanya. Dia berharap Aryan tidak akan bernasib buruk saat bersamanya nanti.
Diambang pintu Salima dan Raviq hanya bisa melihat Nadara dengan wajah sendu. Terlebih Raviq, bocah laki laki itu menangis semalaman saat Salima memberitahunya kalau Nadara harus pergi sementara waktu.
Raviq tidak mau mengerti, bocah laki laki itu terus saja menangis di dalam pelukan Nadara. Namun setelah Nadara berusaha membujuk, dan menawarkan sejumlah mainan pada Raviq- akhirnya drama tangisannya terhenti, walaupun terlihat tidak ikhlas.
"Bibi Nadala?"
Raviq turun dari gendongan sang ibu. Sang bocah berlari kecil mendekat pada Nadara. Raviq mendudukkan dirinya di dekat sang bibi, di susul oleh Salima yang ikut bergabung dengan keduanya.
"Bibi jangan lama lama pelginya,"
Nadara menarik kedua sudut bibirnya, menatap lekat pada bocah tampan yang terlihat sudah berkaca kaca. Tangan Nadara terulur, menangkub kedua pipi Raviq dan menyeka kedua kelopak mata sang bocah.
"Janji Bibi tidak akan lama." gumam Nadara tidak yakin.
Namun wanita itu berusaha meyakinkan Raviq agar percaya, Nadara yakin Raviq akan mempercayainya, dan semoga saat dia sedikit ingkar nanti keponakannya ini tidak akan kecewa.
"Maaf aku tidak bisa menemani mu. Aku berharap Tuan Aryan akan selalu menjaga mu di sana nanti,"
Tatapan Nadara beralih pada Salima, kedua wanita itu saling berpelukan. Nadara menumpahkan air matanya di dalam pelukan sahabatnya. Begitu pula dengan Salima, ibu satu orang putra itu tidak dapat lagi menahan tangis. Salima menangis karena dia tidak bisa membantu Nadara kali ini.
Salima hanya bisa berharap, Aryan- pria yang dengan tegas menawarkan kepercayaan pada sahabatnya akan melindungi Nadara disana.
"Kalian baik baik di sini. Doakan aku agar semuanya berjalan seperti yang aku inginkan."
Salima mengangguk yakin, wanita itu menyeka air matanya- menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. Dia yakin kalau Nadara bukan wanita lemah, terlebih ada Aryan di sisinya.
"Yakinlah, Tuhan tidak tidur. Dia akan membantumu, membantu hambanya lewat tangan Tuan Aryan. Sekarang persiapkan dirimu, aku yakin sebentar lagi Tuan Aryan akan sampai!"
Salima bangkit, tangannya terulur- membantu tubuh lemas Nadara untuk berdiri. Kedua wanita itu keluar dari kamar, begitu pula dengan Raviq yang terlihat bingung melihat ibu dan bibinya.
Di lain tempat, Aryan terlihat menerawang ke arah luar. Saat ini dia dan Rama tengah menuju kediaman Salima, kedua pria itu menaiki mobil yang akan membawa Aryan dan Nadara ke kota- selanjutnya menuju bandara.
"Aku percayakan semuanya sama kamu, Ram. Kalau Papa atau Bunda nelpon, bilang aja aku baik baik aja. Jangan bilang kalau aku lagi ke Delhi, paham!"
Rama mengangguk, pria itu tidak dapat membantah. Rama akan mematuhi ucapan Aryan kali ini, hanya kali ini saja- untuk yang kemarin dan besok Rama tidak tahu.
🌺 JP🌸
Nadara memilin saree nya, wanita itu bergerak gelisah di kursi penumpang yang dia duduki- membuat Aryan yang berada di sisinya menoleh. Pria itu menatap dalam pada Nadara, Aryan tahu apa yang sedang Nadara rasakan saat ini.
Khawatir
Saat ini mereka berdua tengah berada di dalam pesawat, sudah hampir take off. Aryan menghela napas pelan, tangannya terulur untuk meraih saree yang Nadara pilin sedari tadi.
"Tidurlah, setelah sampai nanti aku akan membangunkan mu,"
Nadara menoleh, kedua mata sayu wanita itu menatap pada Aryan. Entah karena lelah atau khawatir berlebihan, Nadara menurut- dia merebahkan kepalanya di pundak kokoh Sang Prince. Kedua matanya terpejam, tangannya mencengkeram erat jaket jeans yang di pakai Aryan.
Entah kenapa rasa trauma dan kilasan naas itu kembali menghantuinya. Sepanjang perjalan tadi sebenarnya Nadara sangat tidak nyaman, wanita itu terus saja bergetar- namun tidak menunjukannya pada Aryan.
Perjalanan Kashmir menuju New Delhi tidak terlalu lama, hanya menempuh waktu 1 jam 30 menit nonstop tanpa delay. Selama perjalanan, Aryan dan Nadara tidak mengalami hambatan apa pun. Kini mereka berdua sudah mendarat dengan selamat di New Delhi.
Nadara berjalan pelan, mengikuti langkah Aryan yang tengah menggenggam tangannya. Entah kenapa Nadara membiarkan tangannya di genggam erat oleh Aryan, tidak ada rasa tidak nyaman- karena itulah Nadara membiarkannya.
Nadara malah merasa terlindungi, dirinya merasa tidak lagi sendirian di tempat yang pernah memberikan kenangan buruk dan indah sekaligus.
"Kita akan kemana?"
Aryan menoleh sekejab, pria itu menatap Nadara yang sedari tadi terdiam. Apa mungkin Nadara merasa tidak nyaman dengan perlakuannya? tapi kenapa wanita ini tidak menolak genggamannya. Aryan menghela napas pelan, Sang Prince menelan salivanya berulang kali. Menekan gejolak perutnya yang meminta untuk di keluarkan. Tapi demi wanitanya, Aryan bertahan- dia mengabaikan denyutan di kepala dan gejolak di dalam perutnya.
"Apa kau lelah?" Nadara membalikan pertanyaan.
Nadara berkedip pelan saat melihat wajah Aryan yang terlihat tegang. Tangannya yang bebas terulur, menyentuh pipi Aryan untuk memastikan sesuatu.
"Wajah mu pucat, tubuh mu dingin. Apa kau baik-, Aryan kau mau kemana?!"
Belum sempat Nadara menuntaskan ucapannya, Aryan sudah berlari menuju arah toilet bandara. Untung saja sudut matanya cukup jeli, tanpa berpamitan pria itu pergi meninggalkan Nadara sendiri.
Aryan terlihat pucat, gejolak di dalam perutnya mulai membaik, setidaknya. Pria bertubuh besar itu menyandarkan tubuhnya di westafle, Aryan terengah, tangannya sibuk meraih sesuatu dari kantung jaketnya. Aryan meringis saat melihat benda kecil berwarna hijau, yang selalu menemaninya saat perjalanan.
"Cuma lo yang ngerti gue saat begini." Aryan mengusapkannya ke area perut dan dada, setelah merasa lebih baik dia bergegas keluar.
Aryan menghela napas pelan, dia kembali teringat pada Nadara yang tertinggal. Tubuh Aryan membeku, pria itu melipat bibirnya kala melihat Nadara sudah menunggunya di depan pintu toilet.
"Kau tidak apa apa?" Nadara bertanya dengan nada khawatir.
Aryan menggeleng cepat, pria itu segera menyembunyikan botol kecil yang ada di tangannya.
"A-aku tadi kebelet buang air kecil." kilah Aryan.
Pria itu segera keluar dari toilet, bahunya melemas saat melihat Nadara mengangguk paham. Aryan bersyukur sekali wanita itu tidak banyak bertanya, yang artinya Nadara tidak akan tahu kelemahannya.
"Kita akan kemana?" Aryan kembali mengulang pertanyaannya.
Napasnya masih terengah, dia menghentikan langkahnya sejenak saat tidak mendengar Nadara menyahut.
"Apa kau tidak keberatan, kalau kita segera menemui mereka!"
Aryan berkedip pelan, dia terdiam- namun perlahan kedua sudut bibirnya terangkat. Aryan mengangguk yakin, pria itu meraih jemari Nadara lalu meremasnya pelan.
"Ayo kita temui mereka!"
APA PUN UNTUK MU 😘😘
SEE YOU MUUUUAAAAACCHHH😘😘😘
akhirnya ada muka2 opa korea 😍😍😍
keluarga besar, jadi rumah harus besar, nampung banyak 🤭
nanti malah kena omel ya Ram 🤭🤣
dasar para manusia lucknut
pakai batubara sekalian aja lah