"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALUR TERISOLASI SANG DOMBA KECIL
Keesokan paginya, SMA Elit Gava diselimuti oleh kabut tipis sisa hujan semalam. Koridor marmer sekolah yang megah tampak berkilau sepi saat Lyra Anya Cassandra berjalan dengan langkah kaki yang teramat lunglai menuju kelas Sepuluh-Empat. Wajah manis gadis itu tampak sangat lesu, dengan lingkaran hitam yang menebal di bawah sepasang mata cokelat jernihnya akibat semalam tidak bisa tidur memikirkan nasib Ryzan yang diseret paksa kembali ke asrama Taruna.
Kacamata bulatnya melorot di hidung bangirnya, dan tangannya meremas pelan ujung blazer seragamnya yang terasa terlalu dingin pagi ini.
Saat ia melangkah masuk ke dalam ruang kelas, atmosfer ramah yang biasa ia rasakan kini telah menguap sepenuhnya. Coretan di loker kemarin mungkin sudah dibersihkan oleh pihak sekolah atas perintah Elian, namun rumor jahat tentang dirinya justru semakin mengganas di kalangan siswa. Semua sahabat dekatnya Nadia, Febby, dan Dhea duduk di sudut kelas sambil menatapnya dengan pandangan menjauh dan penuh cemoohan yang tajam.
"Lihat deh, cewek parasit itu datang lagi. Mukanya sok melas banget, padahal di belakang suka nge goda senior donatur," bisik salah seorang siswi elite dengan lipstik merah muda mencolok, sengaja memperkeras suaranya agar didengar oleh Lyra.
Lyra tidak menjawab. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya sedalam mungkin, membiarkan rambut hitam panjangnya yang dikuncir kuda jatuh menutupi pipinya yang mulai merona merah padam karena menahan rasa malu dan frustrasi yang luar biasa. Ia berjalan menuju mejanya di sudut belakang kelas, merasa benar-benar terisolasi dan dibuang oleh dunia sosialnya. Sifat mandirinya yang biasa teguh kini mulai retak parah di bawah tekanan perundungan psikologis sistematis yang digerakkan Devan dari balik layar.
Di saat benteng pertahanan mental Lyra berada di titik paling kritis, sebuah langkah kaki yang tegap dan berwibawa mendadak berhenti tepat di samping mejanya.
Aroma parfum amberwood yang mewah, hangat, dan sangat maskulin seketika memenuhi udara pengap di sudut kelas, mengunci seluruh kesadaran Lyra dalam sekejap dan memberikan efek penenang instan pada dadanya yang bergemuruh cemas.
"Ikut aku ke ruang OSIS, Lyra. Ada dokumen beasiswamu yang perlu ditandatangani," ucap Elian dengan nada suara yang berat, rendah, dan teratur.
Pemuda itu berdiri tegak di samping meja Lyra, memperlihatkan postur tubuhnya yang jangkung dan berkelas. Jas seragam hitam SMA Gava miliknya terkancing sangat sempurna tanpa ada satu pun cela yang merusak penampilannya yang elite. Rambut hitamnya yang berpotongan comma hair tertata rapi menggunakan gel mahal, membingkai wajah simetrisnya yang pucat dan sangat tampan menawan bak seorang malaikat pelindung sejati yang turun dari surga untuk menyelamatkan hidupnya.
Seluruh murid di dalam kelas Sepuluh-Empat langsung terbungkam kaku, menatap interaksi tersebut dengan pandangan mata yang membelalak kaget dan penuh rasa iri yang mendalam.
"E-Elian...?" gumam Lyra dengan suara yang serak dan bergetar pelan. Kepalanya mendongak dengan cepat, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata hitam jelaga milik Elian yang tajam menawan namun menyimpan kegelapan mutlak yang pekat. Tanpa ada keraguan sedikit pun, Lyra langsung bangkit berdiri dari kursinya, meninggalkan ruang kelas yang penuh teror itu untuk berjalan di samping tubuh tegap Elian, sepenuhnya memandang pemuda sosiopat itu sebagai satu-satunya dewa penyelamat yang ia miliki di sekolah ini.
Sambil berjalan menyusuri selasar koridor yang sepi menuju ruang OSIS, Elian sengaja memperlambat langkah kakinya yang tegap agar selaras dengan langkah kecil Lyra. Wajah rupawannya tampak teramat tenang dan penuh wibawa. Ryzan Jonarland telah berhasil diisolasi total di asrama Taruna dengan hukuman berat, sahabat-sahabat Lyra telah menjauhinya akibat rumor manipulasi status, dan kini Lyra benar-benar sendirian di dunia ini tanpa memiliki siapa pun lagi untuk bersandar selain dirinya sendiri.
"Jangan dengarkan apa yang mereka katakan di kelas, Lyra," jawab Elian dengan nada suara yang melembut secara dramatis, tangan kanannya yang putih bersih bergerak pelan meraih jemari kurus Lyra dan menggenggamnya dengan kehangatan palsu yang teramat protektif. "Ingat janji semalam di gudang tua. Selagi ada aku di sini, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyakitimu. Aku akan menjaga seluruh senyuman manis milikmu dari dunia luar yang jahat ini."
Lyra tersenyum tipis dengan air mata yang hampir berlinang di sepasang mata cokelat jernihnya, menganggukkan kepalanya dengan patuh sebagai tanda bersyukur yang teramat sangat atas kebaikan malaikat di sampingnya.