Adiyanto Prasetyo, psikiater muda berprestasi. Ia dijuluki 'Dokter Cinta' karena metode pengobatannya yang unik, yaitu menggunakan 'CINTA' sebagai medianya. Ia ahli dalam melakukan pendekatan emosional dengan pasiennya, dan hampir semua pasiennya dapat sembuh dengan metode yang ia terapkan tersebut.
Meskipun ia ahli dalam 'percintaannya' dengan para pasien, namun ternyata Ia masih terjerat dengan kisah masa lalunya yang menyisakan kenangan buruk untuknya, bahkan karena hal itu akhirnya ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lainnya.
Suatu ketika ia dipertemukan kembali dengan wanita 'masa lalu'-nya dalam sebuah pekerjaan. Ia merasa sangat bahagia dan berharap untuk bisa bersamanya menata masa depan, namun wanita itu memberikan persyaratan untuknya, jika ia mampu menyembuhkan seorang pasien 'spesial' maka mereka bisa bersama di masa depan.
Mampukah 'Dokter Cinta' menyembuhkannya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya? Ataukah ada takdir lain yang akan terjadi di hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Dua
Dokter Adi meraih tangan Lia untuk mengambil pil berwarna putih itu dari tangannya. Ia membungkus pil itu dengan tissue dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Ia menatap kedua mata Lia dengan seksama.
"Obat ini bisa membantumu tertidur lebih nyenyak karena kamu butuh banyak istirahat agar pikiranmu menjadi lebih ringan." terang dokter Adi lembut. Lia hanya diam menatapnya tapi masih dengan sorot mata yang tajam. Wajahnya pun masih menampakkan ekspresi marah.
"Tapi kalau kamu tidak mau minum obat ini lagi, aku tidak akan memberikannya." ucapnya. Dokter Adi tersenyum lembut, ia mendekatkan wajahnya dengan telinga Lia.
"Mulai sekarang, aku yang akan memberikan obat secara langsung kepadamu jadi kalau ada orang lain yang memberikanmu obat tunggulah sampai aku datang karena aku yang akan meminumkan obat itu untukmu langsung dari tanganku ini." bisik dokter Adi pelan.
"Mengerti?" tanya dokter Adi. Lia mengangguk pelan.
Dokter Adi menatap kedua mata Lia, kini jarak di antara wajah mereka sangat dekat.
"Aku berjanji akan membantumu untuk sembuh, aku tidak akan berhenti berjuang untuk kesembuhanmu." ucapnya dengan suara berbisik. Lia hanya terdiam sambil terus memandangi wajah dokter Adi.
"Kamu percaya kan padaku?" tanya dokter Adi. Lia mengangguk pelan.
...
Dokter Adi memeriksa semua data dan catatan pemeriksaan Lia. Ekspresi wajahnya tampak sangat serius. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya.
"Masuk!" seru dokter Adi. Suster Rina masuk ke dalam ruang kerja dokter Adi.
"Dokter memanggil saya?" ucap suster Rina pelan. Sesaat dokter Adi hanya menatap suster Rina. Perlahan ia beranjak dari kursi kerjanya dan mendekati suster Rina.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu." ucapnya pelan.
"Tentang apa?" tanya suster Rina.
"Tentang Lia." jawab dokter Adi singkat. Suster Rina terdiam.
"Kurasa aku tidak bisa berhenti berjuang untuknya." ungkap dokter Adi dengan suara berbisik. Suster Rina tersentak.
"Kenapa?" tanyanya.
"Karena semalam aku berjanji padanya untuk terus berjuang demi kesembuhannya." aku dokter Adi.
"Lalu bagaimana janjimu denganku?" tanya suster Rina. Ia menatap dokter Adi dengan seksama.
Dokter Adi merogoh saku jas putih yang dikenakannya dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Ini." ucap dokter Adi pelan sambil menunjukkan sebuah bungkusan tissue. Suster Rina membuka bungkusan tissue itu perlahan, ia tersentak ketika melihat apa yang ada di dalam bungkusan tissue itu.
"Kamu yang memberikan ini pada Lia, kan?" tanya dokter Adi lembut.
"Iya!" jawab suster Rina tegas.
"Kenapa kamu melakukannya, Rin?" tanya dokter Adi lagi. Suster Rina hanya diam tetapi terus menatap dokter Adi.
"Kamu tahu kan kalau ini sebuah kejahatan?! Kamu tidak punya otoritas untuk memberikan obat pada pasien, Rin." terang dokter Adi, ia berusaha untuk tetap tenang.
"Aku tahu!" ucap suster Rina.
"Lalu kenapa kamu masih melakukannya?" Dokter Adi menatap kedua mata suster Rina seakan mencari jawaban dari pertanyaannya itu.
"Apapun akan aku lakukan untuk ini." jawab suster Rina.
"Apa semua ini karena sikapku pada Lia?" Suster Rina hanya diam.
"Apa sedikitpun kamu tidak bisa percaya pada perasaan dan perkataanku, Rin?! Sudah kubilang kalau aku bekerja secara profesional, tidak ada sedikitpun rasa cintaku untuk Lia!" seru dokter Adi. Suster Rina menatap dokter Adi, matanya berkaca-kaca.
"Karena aku percaya pada ucapanmu makanya aku begini!" tukas suster Rina. Dokter Adi tampak terkejut dan bingung dengan ucapan suster Rina barusan.
"Karena aku percaya kalau kamu tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Lia makanya aku mengambil resiko ini." aku suster Rina.
"Mak.. maksudmu?" tanya dokter Adi. Ia bertambah bingung dengan ucapan suster Rina.
"Lia mencintaimu, Di!" seru suster Rina. Dokter Adi tampak terkejut.
"Dari mana kamu tahu?" tanya dokter Adi.
"Lia mengatakannya sendiri padaku. Aku melihat cara bicaranya, sorot matanya ketika mengatakan itu terlihat sekali kalau dia tulus. Aku belum pernah melihat ekspresi wajahnya seperti saat itu." ungkap suster Rina. Dokter Adi terdiam.
"Mungkin kamu akan mudah meninggalkannya karena kamu tidak memiliki perasaan apapun padanya, tapi aku takut dia akan terluka lagi. Aku memang tidak tahu sedalam apa lukanya, tapi aku tahu perasaannya sangat rapuh. Aku takut dia terluka lagi kalau kamu pergi tiba-tiba dari hidupnya." lanjut suster Rina.
"Aku hanya berusaha agar ia terbiasa lagi tanpamu sampai kamu benar-benar pergi dari sisinya." tambahnya.
"Rasanya sangat bahagia ketika dia bilang kalau dia menganggapku sebagai kakaknya. Aku tidak mau dia menderita lagi." Perlahan air mata suster Rina mengalir ke pipinya.
Dokter Adi menarik tangan suster Rina hingga tubuh suster Rina pun tertarik mendekat tubuhnya dan dengan lembut ia mendekap pujaan hatinya itu.
"Ijinkan aku tetap bersamanya sampai dia sembuh dan aku akan mengakhiri semuanya dengan baik." bisik dokter Adi.
"Perasaannya akan lebih dalam lagi padamu, bagaimana kalau nanti dia akan menderita lagi ketika kamu meninggalkannya?" tanya suster Rina dengan suara berbisik juga.
"Percaya padaku, aku akan menyelesaikannya dengan baik dan setelah itu kita akan memulai hidup baru bersama!" Suster Rina mendongakkan kepalanya menatap dokter Adi.
"Aku berjanji Lia akan menjadi pasien terakhir yang kurawat dengan cara ini." janji dokter Adi.
"Kamu ingin melihat Lia sembuh, kan?!" tanya dokter Adi. Suster Rina mengangguk.
"Aku berjanji akan membuatnya sembuh." seru dokter Adi. Perlahan tangan suster Rina melingkar di pinggang dokter Adi dan mereka saling berpelukan dengan mesra.
...
Lia memperhatikan suster Rina yang sedang melakukan pemeriksaan rutin pada tubuhnya.
"Ya! Semuanya dalam keadaan baik." seru suster Rina setelah selesai melakukan pekerjaannya pada Lia. Lia menatap suster Rina.
"Kamu harus sembuh ya, Lia!" Suster Rina menyemangati Lia. Lia mengangguk pelan.
"Suster.." panggil Lia pelan.
"Ya? Ada apa Lia?" tanya suster Rina lembut.
"Maafkan aku." ucap Lia pelan. Suster Rina duduk di ranjang Lia.
"Kenapa kamu meminta maaf?" tanyanya.
"Aku sempat berpikiran kalau suster yang sengaja memberikanku obat karena aku menyukai dokter." Lia menundukkan kepalanya, suaranya terdengar bergetar.
"Tapi semalam dokter bilang kalau dia memberikan obat itu agar aku bisa tidur dengan nyenyak." ungkap Lia. Suster Rina terkejut mendengar pengakuan Lia barusan.
"Maafkan aku sudah menuduh suster yang macam-macam." pinta Lia. Suster Rina terdiam, ia masih tampak shock mendengar ucapan Lia barusan. Bukan karena Lia menuduhnya, tapi karena ia baru mengetahui kalau dokter Adi menutupi kesalahannya itu.
"Padahal suster sudah sangat baik padaku, tapi aku malah berpikiran kalau suster berbuat jahat padaku." ucap Lia pelan. Suster Rina meraih tangan Lia dan menggenggamnya lembut. Lia menatap suster Rina, begitu juga dengan suster Rina. Sesaat mereka hanya saling memandang satu sama lain, tiba-tiba suster Rina memeluk Lia dengan erat.
"Maafkan aku." bisiknya pelan. Suaranya sangat pelan dan nyaris tidak terdengar.
...
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰
Salah satunya adalah:
Karakter dan sifat seseorang bisa dibentuk karena orang lain.
benci dokter Adi 😡